Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-11
Words:
748
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
25
Bookmarks:
1
Hits:
124

jadi, kapan?

Summary:

Sampai kapan Caelus harus menunggu Dan Heng menikahinya?

Notes:

kisah yang mungkin anda kenal....?

Work Text:

"Kalo kita nikah nanti, seserahannya tong sampah aja!" 

Celetukan tersebut seperti melambung tanpa arah di malam itu, dan kemudian dengan sengaja mendarat tepat di telinga Dan Heng. Satu buah pulpen hitam seharga tiga ribuan pun nyaris menjadi korban celaka dari kejadian ini.

"Ngga bisa begitu dong, Caelus." 

"Ngga apa-apa!" yang disebut namanya langsung memotong cepat. "Tinggal keluarga kamu sama keluarga aku kumpul di rumah, terus kita ucap janji nikah, terus kasih seserahan, udah! Abis itu, aku udah jadi milik kamu selamanya!" 

Kalimat tersebut diucapkan seperti mereka sedang kencan mesra sambil memikirkan dream wedding plan mereka. Padahal aslinya, mereka hanya sedang menumpang istirahat di depan sebuah minimarket. 

Satu kaleng soda dan satu kaleng kopi berdiri berdampingan di atas meja bundar kecil, bersamaan dengan tumpukan kertas-kertas yang harus Dan Heng kerjakan dengan segera sebagai staff administrasi di kantornya yang gajinya yang tidak seberapa itu. Malam sudah semakin lanjut, sepasang kekasih itu pun bahkan masih memakai kemeja kusut dan celana bahan cuci kering yang seharian itu mereka gunakan menembus debu dan asap jalanan. 

"Tapi jangan tong sampah dong, sayang. Nanti aku usahain seserahan yang bagus, ya?" 

Bibir Caelus malah maju satu senti. "Bilangnya begitu terus dari tahun kemarin." 

Dan Heng hanya bisa mengulum senyum pahit. Tangannya tak lepas menuliskan kalimat yang sudah tidak koheren di kepalanya sambil senantiasa merespon ke-asbun-an Caelus. 

"Maaf ya sayang. Aku usahain segera. Sabar sebentar, ya?" 

Caelus menghembuskan napas pasrah. Pasalnya ini bukan kali pertama Dan Heng mengucapkan janji tersebut. Mau protes juga hasilnya pasti akan sama. Lagipula dia sudah terlalu capek bekerja hari itu, apalagi pacarnya yang masih berkutat dengan tugasnya padahal jam pulang kerja sudah lewat tiga jam yang lalu. 

"Iya deh. Yang penting jangan lama-lama!" 

Dan Heng tersenyum, ia sangat bersyukur memiliki pasangan yang penyabar dan pengertian seperti Caelus. Tapi, dia juga memahami kekhawatirannya. Durasi hubungan yang sudah lewat lima tahun, ditambah usia yang hampir menginjak kepala tiga dalam kurun kurang dari dua tahun, sangat wajar jika Caelus begitu getol meminta kejelasan darinya. 

Meskipun demikian, Dan Heng mengulur pun bukan karena dia yang mau. Kalau saja Dan Heng berasal dari keluarga yang tajir melintir tujuh turunan, pasti Caelus sudah dia pinang sejak pandangan pertama. Namun sayangnya, dia hanya pekerja kantoran biasa. Terlalu miskin untuk disebut orang kaya, tapi terlalu kaya untuk disebut orang miskin. 

“Tapi sebenernya,” Caelus menambahkan, “Aku pengen kita cepet nikah biar nanti kita bisa belanja ke pasar bareng, terus disahutin “cie pengantin baru ya!” sama ibu-ibu yang jualan di pasar!”

Dan Heng terkekeh ringan mendengarnya. Impian Caelus sangat simpel, begitu sederhana. Jadi, Dan Heng harus berusaha lebih keras untuk bisa mengabulkannya.

Rencana menikah sebenarnya sudah dirancang sejak tiga tahun lalu. Dan Heng bukan orang yang banyak mimpi, ia hanya ingin menjadi realistis. Menikah bukan hanya soal dia dan Caelus yang mengisi urutan nomor satu dan dua dalam kartu keluarga yang sama. Tentu saja dirinya harus memikirkan bagaimana ia akan menghidupi Caelus nantinya. 

Runtutan biaya mulai dari awal pernikahan sampai perkiraan kebutuhan anak sudah dijabarkan di dalam benak Dan Heng. Hanya saja, semua itu masih disimpannya seorang diri. Caelus bahkan tidak tahu kalau rumah yang nantinya akan ditempati mereka berdua (atau bertiga, atau berempat, atau lebih banyak) sudah mulai dicicil Dan Heng. 

Tidak perlu jauh sampai ke sana, urusan vendor untuk menunjang pernikahan mereka pun sudah dipikirkan Dan Heng. Meskipun usulan Caelus adalah menikah yang sederhana, Dan Heng tidak mau. Minimal Dan Heng usahakan supaya acaranya tidak hanya kumpul keluarga yang ketambahan janji nikah.

Tapi, Caelus tidak perlu tahu. Caelus hanya perlu paham kalau Dan Heng sedang mengusahakannya. Caelus tinggal duduk manis sampai waktunya tiba untuk duduk di meja akad—meskipun sepertinya masih akan membutuhkan waktu yang lama.

Dan Heng butuh waktu. Tapi, di negara yang rasanya sedikit lagi akan hancur, ia berdoa kepada Tuhan manapun yang mendengarnya, supaya ia masih berkesempatan untuk menikahi Caelus lebih dulu sebelum bencana kemalangan itu terjadi.

"Jadi, sampai kapan kamu mau ngerjain itu di sini?" pertanyaan Caelus menarik Dan Heng dari lamunannya. 

Dan Heng menatapnya lembut, "Kamu mau pulang?" 

"Iya, dingin! Kayaknya besok harus mulai bawa jaket," ucapnya sambil menunjukkan gestur kedinginan. 

"Oke, nanti simpan satu di bagasi motor aku aja buat jaga-jaga." 

"Oke!” Caelus mengangguk setuju. “Oh iya sayang, nanti kalau lewat tukang martabak, kita mampir dulu ya. Mau beli buat sarapan besok." 

Baiklah. Urusan menikah biarlah jadi masalah Dan Heng di masa depan. Dan Heng yang sekarang mau menemani sang pujaan hati menjemput makanan favoritnya. Tidak lupa dengan pelukan mesra sepanjang perjalanan belasan kilometer itu. Rasanya, malam ini tidak sedingin itu, kok.