Work Text:
Sudah empat jam berlalu sejak pukul 7 pagi dan kepulangan Tribios dari Kallithea tak kunjung tiba juga. Hyacine merangkai-rangkai bunga yolanda dengan gusar sembari bolak-balik melihat jam yang terpatri di sebelah kanan pintu masuk toko bunga milik Tribios, Louloúdi. Sebentar lagi hampir pukul 12 siang dan ia bahkan belum sempat bersiap-siap untuk menghadiri acara seminar Profesor Anaxagoras yang akan diadakan nanti siang. Tak berapa lama setelah bolak-balik melirik jarum jam, ia putuskan untuk potong daun-daun pada batang bunga mawar yang terkapar di atas meja pajangan sambil mendesah kelewat keras.
“Sudah kubilang, biar aku saja yang jaga toko!” pekik Cipher dari ruangan yang dibalut kertas dinding bercorak bunga warna-warni sebelah kasa. Tak berapa lama, si pemilik empu menampakkan badannya ke depan Hyacine yang tengah merapikan bunga-bunga ke dalam gelas berisi air.
“Aku nggak ada kegiatan sampai sore. Biar kujaga tokonya sambil tunggu Kak Tribbie,” katanya sambil berkacak pinggang. “Kamu pergilah ke seminar atasanmu. Nanti dimarahin, lho!”
Hyacine lekas membersihkan sisa-sisa dedaunan dan meletakkannya ke dalam kantong beras untuk dibuang. “Tapi Kak Tribbie kok belum pulang, ya? Padahal janjinya jam 11 akan pulang.” Ia mendesah panjang sebelum berakhir menatap Cipher dengan alis yang bertaut.
“Nanti juga pulang sendiri.” Cipher mengibaskan tangannya di depan wajahnya, kemudian mengambil sapu yang terletak di tepian toko seraya bergerak membersihkan sisa dedaunan di lantai. “Kamu kayak nggak tahu Kak Tribbie saja,” lanjutnya.
Sekali lagi Hyacine menghela napas panjang. Baru ia hendak menjawab perkataan Cipher barusan, suara gemerincing bel dari atas pintu masuk tersebar ke dalam ruangan, bersamaan dengan terbukanya pintu masuk yang menghadirkan sosok pemuda bersurai gelap dengan tatapan mengedar ke sekeliling.
“Maaf, kami sedang siap-si…” Ucapan Hyacine dipotong cepat.
“Selamat siang, cari bunga apa? Silakan lihat-lihat.” Cipher tampilkan senyuman paling manis kepada pelanggan sambil layangkan tatapan sinis kepada Hyacine dari sudut matanya. Ia seolah berkata, rezeki yang datang terlalu cepat tidak boleh ditolak!
Hyacine tersenyum masam sebagai balasan, sebelum Cipher sibuk membantu pelanggan dan si gadis dengan rambut twintail putuskan untuk kembali merapikan meja pajangan yang penuh dengan beragam bunga. Setelahnya, ia beranjak untuk membuang sampah bekas dedaunan potong di luar toko sambil berharap untuk segera bertemu dengan Tribios karena tidak enak hati membiarkan Cipher menjaga toko sendirian. Ia baru kembali ke dalam toko dan berakhir di depan meja kasir ketika ia melihat Cipher sibuk menawarkan peralatan menanam yang seharusnya tidak dibeli pelanggan yang hanya mampir untuk membeli bunga.
Setelah Cipher selesai memasarkan barang-barang pertanian, ia menyerahkan beberapa batang bunga yang dipilih pelanggan kepada Hyacine untuk dirangkai. Ada bunga larkspur putih, tulip biru, dan peoni. Di kepala Hyacine, ia sempat menduga-duga sebagai tanda apa bunga tersebut akan diberikan. Tak butuh waktu berapa lama bagi Hyacine untuk segera menyelesaikan rangkaian bunga tersebut. Tatkala ia hendak memberikan buket bunga kepada si pelanggan, kedua maniknya membulat menyadari sosok di hadapannya.
“Loh? Dan Heng, kan?” tanyanya.
Yang dipanggil tautkan kedua alisnya seraya tampilkan gestur mengingat-ingat, “Hyacinthia?”
—
“Terima kasih sudah repot-repot mengantarku, Hyacinthia.”
Dan Heng menutup rapat pintu mobil minivan hijau muda milik Hyacine (milik toko Tribios untuk lebih tepatnya. Salahkan Hyacine yang sering kali mencampurkan keperluan logistik milik toko dan pribadi, tentu saja). Bunyi bip dua kali yang menandakan mobil telah terkunci rapat menguar di udara, bersamaan dengan Hyacine yang tergesa-gesa membenarkan letak poninya yang miring melalui kaca spion sebelah tempat pengemudi.
Selang beberapa detik, lekas-lekas Hyacine membalas perkataan Dan Heng barusan. “Hyacine saja, Dannie. Kita, kan, pernah kenal waktu kuliah,” katanya, “Nggak repot, kok. Lagipula tujuan kita sama.”
“Oke, Hyacine. Terima kasih, ya,” tutur Dan Heng sambil melangkah pelan di tepi jalan ruang parkir bawah tanah tersebut. Sinar matahari siang dari jalan keluar menyembur pelan-pelan ke kulit dan wajahnya. Sambil menyipitkan kedua matanya, ia arahkan telapak tangannya ke depan wajahnya untuk halau semburan sinar matahari. “Aku nggak tahu kalau sekarang kamu kerja dengan Profesor Anaxagoras.”
Mengangguk pelan, Hyacine berikan senyuman tipis sebagai jawaban atas perkataan Dan Heng barusan. Keduanya berjalan singkat di tepian sebelum keluar dari ruang parkir bawah tanah dan dilanjutkan dengan menyusuri Petrou Kokkali Street melalui trotoar. Gemerisik dedaunan di pinggiran trotoar yang terkena embusan angin sepoi-sepoi menelisik masuk ke dalam telinga, disusul dengan suara hak sepatu keduanya yang berkikisan dengan undakan blok beton di bawah kaki mereka. Dalam hatinya, Hyacine keluhkan betapa panasnya suhu Athena siang itu kendati kalender baru menunjukkan akhir bulan April dan belum memungkinkan bagi musim panas untuk dimulai.
Sembari menggamit tas selempang warna kulit kecoklatan miliknya, Hyacine lantas buka suara, “Kamu sendiri ada urusan apa di sini, Dannie?” tanyanya sewaktu mereka memasuki area pintu masuk gedung konferensi yang tampak penuh orang berlalu-lalang. Embusan angin dingin dari pendingin udara di depan pintu masuk menjalar masuk ke dalam kulit, yang buat Hyacine segera lupa akan panasnya udara siang di luar barusan.
“Universitas mengundang sebagai pengawas lapangan. Kelihatannya, hanya aku orang yang luang di perusahaan,” ucap Dan Heng diakhiri senyum miris.
Ada jeda beberapa saat ketika keduanya sampai di lobi untuk mengambil kartu pengunjung. Tak berapa lama setelah itu, mereka berjalan kurang lebih seratus meter melewati lorong panjang yang dipenuhi dengan lampu kekuningan temaram. Langkah Hyacine terhenti tatkala ia rasai ponselnya bergetar. Satu pesan masuk, dari Profesor Anaxagoras yang memintanya untuk lekas sampai dan membantunya dalam menyusun lembar evaluasi yang nanti akan disebarkan di akhir sesi pemaparan materi. Hyacine mendongak, menatap Dan Heng yang tengah menunggunya di dekat tangga yang berada di tengah lorong menuju lantai atas.
“Dannie, maaf. Aku harus cepat-cepat bantu Profesor menyusun lembar evaluasi,” ungkapnya seraya memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku kardigan biru muda miliknya. “Aku duluan, ya. Senang bisa ketemu kamu lagi. Sampai jumpa!” lanjutnya.
Sebelum berakhir menaiki anak tangga menuju lantai atas, Hyacine dapat lihat Dan Heng tersenyum tipis melalui sudut matanya. Secara tiba-tiba, suara Dan Heng menyusulnya, kemudian bergema nyaring di telinganya dan masuk ke dalam sudut-sudut terkecil di kepalanya sekalipun banyaknya orang-orang yang telah berlalu-lalang dan jaraknya dengan si pemuda makin kian melebar.
“Sampai nanti.”
—
Tawa Cipher yang menggelegar bergema sampai ke sudut-sudut ruangan yang dipenuhi aneka ragam bunga-bunga dan peralatan perkebunan yang terpampang rapi di atas rak di sudut kabinet. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, bunga-bunga di musim semi kali ini mengalami penurunan kualitas dan kuantitas. Tak banyak tumbuhan yang bertahan di ketidakjelasan musim seperti sekarang ini. Tak berapa lama, disusul dengan tawa pelan Tribios yang tengah merapikan bekas dedaunan di lantai dan kotak berisi plastik hiasan di sudut ruangan sambil berusaha agar tawanya tidak berlanjut. Hyacine yang tengah duduk di kursi dekat pintu masuk toko hanya dapat tersenyum miris sebelum berakhir dengan mengembuskan napas panjang.
Kira-kira jam dinding hampir menunjukkan pukul 12 siang, akan tetapi toko bunga milik Tribios belum ada tanda-tanda akan dibuka. Pernah sekali Hyacine bertanya kepada Tribios sewaktu Louloúdi libur karena mereka akan menghadiri upacara pernikahan salah seorang kenalan Tribios mengenai jam buka toko yang selalu berubah dari waktu ke waktu. Sambil tak lepaskan tatapannya dari pengantin perempuan, Tribios berkata, “Mari hidup suka-suka di kehidupan yang singkat ini.”
“Sumpah, Cinny! Demi Aeon, kentara banget!” Suara Cipher yang menggelegar memenuhi seluruh ruangan. Ia duduk di depan meja penuh dus-dus berisi bunga-bunga segar seraya memotong dedaunan pada tangkai bunga dahlia merah muda.
Tribios hentikan sejenak aktivitasnya dalam membersihkan bekas dedaunan dan potongan tangkai yang berserakan di lantai. “Berarti Dan Heng itu dulunya kuliah di sini?” tanyanya.
“Kak, masih ingat nggak waktu Cinny semester lima, dia bilang di kelas mata kuliah umum habis ketemu cowok dan orangnya baik banget, kan?” kelakar Cipher sebelum kembali melanjutkan, “Aku tahu, itu pasti si Dan Heng!” Ia mengakhiri deduksinya dengan tawa yang nyaring.
Sesaat sebelum tawanya ikut-ikutan menyembur, Hyacine sempat tautkan kedua alisnya seraya tampilkan ekspresi sebal. “Apaan, sih, kak.” Hanya itu kata yang keluar dari mulutnya sebelum ia tertawa.
Sementara Cipher berlagak laiknya detektif andal, Tribios sempat terkejut sebentar saat melihat aksi kedua karyawannya yang masih berstatus tidak tetap itu terbahak sejadi-jadinya. Hyacine lekas menghapus air mata yang mendadak keluar akibat terlalu banyak mengeluarkan tawa. Tak berapa lama setelahnya, ia beranjak dari duduknya dan menyambar kunci mobil yang terletak di atas meja di hadapan Cipher.
Tatkala ekspresi Cipher berubah menjadi penuh tanda tanya, Hyacine lebih dulu berucap. “Hari ini jadwalku mengantar bunga, kan?”
Kepala Hyacine menoleh ke arah papan tulis kecil berisi jadwal harian mereka. Disusul oleh Cipher yang ikut melirik ke arah papan tersebut dan mengangguk pelan mengerti. Setelahnya, Hyacine bergegas berjalan melalui pintu belakang menuju garasi yang terletak di belakang toko. Panasnya sinar matahari langsung menembak kulit Hyacine, bahkan ketika pintu geser garasi baru terbuka sepertiganya. Si gadis berambut merah muda itu meringis pelan sebagai akibatnya.
Dari dalam toko, Tribios berseru lantang. “Jangan lupa pakai tabir surya!”
—
Bunyi sirine yang teredam oleh musik jazz santai dari dalam toko buku yang minim pencahayaan membuat Hyacine menolehkan kepalanya menuju jendela besar di samping rak-rak yang memajang beragam majalah. Mobil ambulans itu melaju kencang, menerobos jalan raya besar Athena dengan sekelumit kendaraan di dalamnya. Mungkin terkena heatstroke, begitu pikir Hyacine seraya mengingat berita tadi pagi dari Kementerian Kesehatan yang mengimbau masyarakat untuk secara rutin memasang tabir surya dan menggunakan payung bila berjalan kaki di siang hari. Baru awal bulan Mei, tetapi musim panas sepertinya sudah mulai merambat masuk menggantikan musim semi yang singkat. Atau setidaknya begitu pikir Hyacine, sebelum ia kembali menaruh atensinya pada novel karangan penulis kesukaannya di tangannya.
Setelah menimbang-nimbang untuk lekas membayar novel tersebut atau melihat-lihat karya yang lain, Hyacine justru dikejutkan dengan keberadaan seseorang di sebelahnya yang tengah melihat-lihat buku karangan penulis kesukaan Hyacine. Dengan jantung yang berdebar singkat, Hyacine angkat kurva bibirnya ke atas.
“Dannie! Kebetulan banget. Kamu masih dinas di sini?” sapa Hyacine, kemudian melanjutkan. “Kamu suka karya Seliose juga?” Ia melirik buku yang tengah dipegang Dan Heng.
Dan Heng menoleh ke arah Hyacine seraya membulatkan matanya sebentar sebelum sunggingkan senyum tipis. Tak berapa lama, ia bergumam, “Aku baru mau mulai baca. Menurutmu, yang paling seru yang mana?” Kemudian melirik ke arah rak-rak yang dipenuhi buku karya Seliose.
“Biasanya kamu baca genre apa?”
Sambil mengedarkan tatapannya ke sekeliling, Dan Heng tampak memutar otaknya. “Kalau fiksi, sih, biasanya tentang sejarah.”
Mengangguk singkat sebagai respons, Hyacine atensikan pandangannya kepada sekumpulan buku karya penulis kesukaannya yang berjajar pada rak di hadapannya. Sambil mengambil beberapa buku dan bergumam sendiri, Hyacine menggali ingatannya dengan menyocokkan judul, ringkasan, dan alur cerita yang ia baca bertahun-tahun lalu. Barangkali, ingatannya tidak sebagus Cipher yang bahkan dapat mengingat makan siang apa yang ia konsumsi dua pekan yang lalu. Akan tetapi, bila menyoal novel kesukaannya, Hyacine sedikit lebih bisa diandalkan. Jadi begitu si gadis mengambil buku dengan sampul kecokelatan berjudul bahasa Inggris (ia sedikit banyak mengingat keseluruhan alurnya) dan memantapkan hati bahwa buku tersebut bisa Dan Heng nikmati sesuai dengan preferensinya, ia lekas-lekas beri buku tersebut kepada pemuda di sebelahnya.
“Dari sinopsisnya nggak kelihatan kayak genre HisFic, tapi di alurnya banyak banget sejarahnya,” kata Hyacine. Nada suaranya lumayan tinggi daripada biasanya. Ada banyak hal menyoal alur ceritanya yang ingin Hyacine lontarkan kepada pemuda yang kini di hadapannya. Akan tetapi, sebagai pembaca yang baik, ada baiknya ia dapat menahan diri demi menghindari mulutnya yang tidak sengaja membocorkan hal-hal seru dari dalam buku tersebut.
Sembari tersenyum singkat, Dan Heng ungkapkan terima kasih. Dapat Hyacine lihat ketika si pemuda membolak-balik buku yang ia sarankan untuk melihat sampul buku dan sinopsisnya berkali-kali. Sinar matahari siang menembus celah dari jendela yang tingginya hampir tiga per empat dari dinding toko, membuat si pemuda mengernyitkan matanya beberapa kali untuk melihat tulisan berukuran kecil di sampul buku licin yang memantulkan cahaya matahari.
Tak berapa lama setelahnya, sebelum beranjak dari tempatnya, Dan Heng buru-buru berseru pelan, “Oh, ya, Hyacine,” panggilnya.
Yang dipanggil justru tautkan alisnya keheranan. “Ya?”
Hyacine kira waktu berlalu sedikit lebih lama dari biasanya sewaktu Dan Heng tampilkan gestur kebingungan (yang Hyacine kira berhubungan dengan kejadian di waktu kuliah mereka, yang sudah lama terkubur jauh dalam ingatannya). Samar-samar, si gadis dapat mendengar alunan musik jazz dari pelantang suara toko yang memudar, digantikan dengan irama R&B yang temponya lebih cepat, seakan sang pemilik toko bisa mendengar dentuman jantung Hyacine yang detaknya hampir naik ke ubun-ubun. Begitu Dan Heng hendak buka mulutnya, Hyacine buru-buru tarik bibirnya membentuk kurva ke atas.
“Kukira lebih baik kalau kita bisa saling bertukar kabar ke depannya. Boleh minta kontakmu?”
Tangan Hyacine yang sebelumnya menggenggam erat tas jinjing berwarna krem yang senada dengan sepatunya merenggang. Lekas-lekas ia sebutkan nomor teleponnya yang langsung dicatat oleh Dan Heng di aplikasi penyimpan kontak pada ponselnya. Butuh beberapa detik bagi Hyacine untuk memafhumi wajah kemerahan Dan Heng. Ah, itu pasti ulah sinar matahari, pikirnya.
—
Hari Selasa dan Sabtu adalah jadwal tetap Hyacine untuk mengantarkan kiriman bunga Louloúdi ke tempat pelanggan. Berbeda dengan Cipher yang memiliki jadwal tetap pengantaran pada hari Senin dan Jumat. Barangkali, ada kurang lebih belasan tas karton berwarna merah muda bertuliskan logo toko di bagian depan berisi buket bunga yang harus Hyacine antarkan kepada pelanggan yang memesan. Kalender baru menunjukkan pertengahan bulan Mei, tapi suhu Athena telah meningkat pesat. Sekitar pukul 11 tadi siang, Hyacine telah menancapkan gas mobil minivan hijau muda miliknya (milik toko, lebih tepatnya) dan melaju menyusuri Patriarchou Ioakim Street ke arah selatan.
Hampir pukul 1 siang ketika tersisa dua buket lagi yang harus ia antar ke area perumahan di Plaka. Setelah melalui alun-alun Syntagma, ia melaju sepanjang 1,7 kilometer di Pl. Sintagmantos kemudian membelokkan mobil ke arah Lisikratous Street yang letakkan di sebelah kanan jalan. Setelahnya, Hyacine menyusuri Vyronos Street yang dipenuhi dengan beragam pertokoan oleh-oleh, seperti keramik, pakaian, sampai gantungan kunci. Tujuannya terpenuhi ketika mobilnya mencapai Vakchou Street. Sambil turun dan membuka pintu bagasi untuk mengambil tas yang berisi buket dengan campuran bunga tulip, peoni, mawar putih, dan filadelfia, Hyacine menghampiri rumah dua tingkat berwarna krem dan biru di sebelah kiri jalan yang dipenuhi oleh pepohonan dan tanaman merambat. Tak butuh waktu lama bagi pelanggan untuk mengambil dua pesanan terakhir hari ini. Setelah mengucapkan terima kasih dengan sopan, ia kembali ke dalam minivan yang letaknya tidak jauh dari halaman rumah.
Setelah menyalakan kembali mobilnya dan duduk di kursi pengemudi, Hyacine melaju pulang ke toko melewati jalan yang sebelumnya ia lewati. Musik dari radio mobil yang sebelumnya mati kini bergema kelewat nyaring. Lekas-lekas Hyacine sesuaikan volumenya, sebelum lagu artis pop yang belum selesai dimainkan terpotong oleh pengumuman dadakan.
“… kenaikan gelombang panas diperkirakan akan menyerang sampai sepekan ke depan. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk jangan lupa selalu mengenakan tabir surya dan hanya keluar rumah untuk keperluan mendesak…”
Pengumuman itu tidak berhenti sampai di sana. Mereka membahas ramalan cuaca, perkiraan musim sebulan ke depan, pergeseran kegiatan sehari-hari, dan apa saja yang harus dipersiapkan oleh masyarakat. Mendesah keras, Hyacine keburu gemas sendiri dengan kemacetan di jalan utama yang sama-sama insidental dengan pengumuman barusan.
Setibanya di pertigaan Kanari Street, hanya tinggal tiga ratus meter sebelum ia bisa kembali ke tempat kerjanya, Hyacine justru putuskan untuk memarkir mobilnya di sebelah kiri jalan dan berjalan gontai menuju kios di sebelah kiri trotoar yang menjual berbagai minuman kaleng di dalam lemari pendingin besar di bagian depan toko.
“Hei.” Sebuah suara masuk ke indra pendengarannya tatkala ia hendak membayar soda kaleng. “Kelihatannya kita makin sering ketemu, ya? Waktunya pas sekali.” Ada nada girang pada suaranya barusan.
Hyacine mendongak, melihat sosok pemuda berambut gelap yang tengah gunakan tangannya untuk halau sinar matahari yang menyentuh wajahnya. Senyuman cerah melebar di wajah Hyacine.
“Dannie,” sapa Hyacine seraya mengambil soda kaleng dari lemari pendingin. “Sedang apa kamu di sini?”
“Belum ada kabar tentang rapat lanjutan proyek universitas. Aku putuskan buat jalan-jalan saja. Bisa dibilang, ini hari liburku. Tapi ternyata suhu hari ini panas sekali,” katanya, kemudian ikut-ikutan membeli minuman kaleng. “Kamu sendiri sedang apa?”
“Ah, ini. Aku habis mengantar kiriman buket. Terus mampir beli minum sebelum kembali ke toko.”
Dan Heng mengangguk ringan sebagai jawaban. Keduanya secara bersamaan merogoh saku masing-masing untuk membayar minuman yang telah dibeli. Sementara Dan Heng mengeluarkan selembar uang kertas, Hyacine memberikan dua buah uang receh kepada penjual. Sambil menunggu kembalian, Hyacine lekas membuka tutup kaleng dan menenggak soda dingin rasa mint ke dalam tenggorokannya yang kering.
Selama minum, ingatan Hyacine mengenai ucapan Dan Heng di awal merasuki kepalanya. “Oh, ya. Kamu bilang tadi waktunya pas sekali. Memangnya ada apa?” tanyanya sambil menerima kembalian dari penjual.
Dan Heng memasukkan uang receh kembalian ke dalam dompet hitamnya. Tak lama setelahnya, buru-buru mengambil ponselnya. “Aku sudah selesai membaca buku yang kamu sarankan. Ceritanya seru sekali.” Ia mengulirkan gawainya beberapa kali, seolah mencari sesuatu di sana.
“Iya, kan?!” potong Hyacine. Suaranya naik hingga beberapa nada.
“Terus aku nggak sengaja melihat unggahan Seliose di media sosialnya. Sepertinya, dia akan mengadakan Meet and Greet hari Sabtu pekan ini,” lanjut Dan Heng sambil menunjukkan poster dengan tema merah-hitam yang berjudul Meet and Greet with Seliose dengan huruf sans serif warna putih di bagian tengahnya. Terdapat detail-detail lain dengan huruf yang lebih kecil mengenai topik yang dibahas, lokasi, dan waktu.
Barangkali, waktu terasa melambat bagi Hyacine. Pasalnya, ketika Dan Heng menjelaskan detail-detail tentang apa yang akan terjadi selama acara tersebut, suara Dan Heng tidak dapat diproses dengan benar oleh Hyacine. Dalam kepalanya, ada berbagai kemungkinan yang akan terjadi dalam beberapa menit ke depan. Mungkin, mungkin saja, yang paling memungkinkan adalah bahwa Dan Heng akan mengajaknya pergi ke acara tersebut. Ada baiknya Hyacine untuk melihat jadwal kegiatannya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk—
“Apa kamu bisa menemaniku ke sana, Hyacine?”
“—Tentu saja!”
—
“Tolong, ya, Kak Cipher!”
Cipher bahkan belum sempat masuk ke dalam kamarnya ketika Hyacine memohon untuk menukar jadwal pengantaran kiriman bunga hari Sabtu. Bermalam di kampus rupanya membuat kepalanya agak kesulitan menerima informasi baru. Ia berdiri di sisi pintu kamar Hyacine yang terbuka, menampilkan baju-baju yang masih dalam gantungan berserakan memenuhi sudut kamarnya yang bercat putih. Gadis yang lebih tua mengucek matanya beberapa kali, tidak percaya dengan pemandangan yang ia saksikan di hadapannya.
“Bentar, bentar,” katanya, kemudian dengan alis yang bertautan dan mata yang memicing, ia memundurkan kakinya beberapa langkah. “Ini beneran? Seorang Hyacinthia kesulitan pilih outfit? Kak Tribbie?” panggilnya keras-keras.
“Kak Tribbie lagi keluar,” sahut Hyacine seraya mulai merapikan baju-baju yang berserakan. “Kak, please bantu aku,” lanjutnya memelas.
Bergumam panjang sendiri sebagai jawaban, Cipher berjalan ke arah kalender yang tergantung di dinding berseberangan dengan meja makan bundar di sebelah utara ruang keluarga yang tersambung langsung ke dapur. Ia melirik catatan tanggalan pada pekan depan, akhir bulan Mei, yang menunjukkan beberapa jadwalnya yang penuh di toko dan perkuliahan. Setelah meletakkan makanan cepat saji yang ia bawa dari luar ke atas meja dapur dan masuk kamar untuk mengganti bajunya sebentar, ia lantas berseru keras, “Oke, oke. Kamu boleh tukar dengan jadwalku hari Jumat pekan depan. Tapi jawab pertanyaanku dulu.” Ia menyeringai, lalu duduk di sofa yang berada di tengah ruangan.
Hyacine keluar dari kamarnya menuju arah Cipher. Suhu Athena siang itu bukan main panasnya, membuatnya yang berkegiatan setengah hari berada di rumah sampai kewalahan dengan keringatnya. Gadis berambut merah muda itu bergerak menuju kipas angin hitam besar yang ada di sebelah televisi, lantas menekan tombol dengan urutan angin yang paling kencang.
“Kamu mau jalan, ya, sama Dan Heng? Jujur…”
Hampir saja Hyacine berteriak kalimat ‘kok tahu?’ sebelum ia tutup mulutnya dengan kedua tangannya cepat-cepat. Seringaian di wajah Cipher semakin besar. Tak berapa lama setelah itu, tawa hebat bergema di ruangan itu. Hyacine merengut sebagai jawabannya, tapi ia tidak bisa menyanggah deduksi Cipher barusan.
Cipher menyandarkan punggungnya yang sakit akibat tugas perkuliahan semalam di sofa merah tua yang empuk. Ia memejamkan matanya sebentar, tampak kelelahan. Ada beberapa detik ruangan hanya dipenuhi dengan suara gretek-gretek keras dari kipas angin di sudut ruangan yang sudah tua. Hyacine sering merasa terganggu oleh suara itu. Ia kemudian mengguncang-guncangkan kepala kipas tersebut sebelum pada detik berikutnya kipas tersebut kembali ke jalur yang benar.
“Cinny,” panggil Cipher, masih memejamkan matanya.
Hyacine hanya berdehem sebagai jawaban. Ia berjalan ke arah lemari pendingin di area dapur, kemudian membuka pintunya untuk mengambil botol berisi air mineral dingin. Setelah menuangkan ke gelas yang sebelumnya berada di dekat wastafel, ia lekas meminum air dingin tersebut.
“Kamu masih suka sama Dan Heng, ya?”
Hyacine terbatuk-batuk keras.
—
Hyacine membuka payungnya tatkala ia hendak menyusuri trotoar di Asklipiou Street. Arloji digital hadiah dari Cipher dan Tribios ketika ia lulus kuliah beberapa tahun silam di tangan kirinya menunjukkan pukul 2.15 siang dengan temperatur 35 derajat Celsius. Acara Meet and Greet telah selesai kira-kira sepuluh menit yang lalu. Tak pernah terpikirkan dalam perandaian terjauhnya bahwa ia akan menemui dan mendapat tanda tangan dari Seliose, penulis kesukaannya, bersama dengan Dan Heng.
“Biar aku saja yang pegang,” kata Dan Heng meraih pegangan payung, kemudian ikut berjalan di samping Hyacine.
Keduanya berjalan pelan menyusuri trotoar Asklipiou Street. Setelah sekitar lima puluh meter, mereka berhenti di depan halte bus. Tatkala mereka memasuki area yang tertutupi kanopi, Dan Heng segera menutup payung biru tua milik Hyacine dengan rapi dan mengembalikannya kepada pemiliknya. Hyacine lantas mengajak Dan Heng untuk duduk di bangku yang tersedia di halte tersebut.
Samar-samar, Hyacine dapat merasakan angin yang berembus membawa udara panas ke arahnya. Jalan raya dipenuhi dengan berbagai kendaraan, baik yang melaju maupun yang terparkir di pinggir sebelah trotoar. Di seberang jalan raya terlihat gedung-gedung pertokoan yang sepi. Mungkin akan mulai dipenuhi oleh orang-orang nanti malam ketika sinar matahari mereda, begitu pikir Hyacine sebelum Dan Heng tiba-tiba bersuara.
“Terima kasih buat hari ini, Hyacine,” katanya sambil menatap Hyacine.
Hyacine kira seharusnya ialah yang berterima kasih kepada Dan Heng karena telah mengajaknya menemui penulis kesukaannya. Begitu ia hendak buka mulutnya, Dan Heng justru tampilkan senyuman miliknya yang buat Hyacine tidak dapat berkutik seketika. Waktu di sekitarnya seakan terhenti dan perkataan Cipher beberapa hari yang lalu terngiang-ngiang dalam kepalanya. Dengan dada bergemuruh, lekas-lekas si gadis menghadap ke mana saja; jalan raya, toko buku, toko barang antik, mobil yang terparkir—asalkan bukan ke arah Dan Heng yang terlihat rupawan di matanya saat ini. Ah, barangkali perkataan Cipher memang benar adanya.
—
“Kenapa nggak kamu ambil saja tawarannya?” tanya Tribios sewaktu ia duduk di kursi di lantai atas toko yang letaknya menghadap jendela. Diletakkannya cangkir keramik bermotif bunga mawar merah berisi teh kamomil yang masih menguap di atas meja bulat berwarna keputihan yang senada dengan kursi di hadapannya. Melalui jendela berukuran kotak besar yang memajang pot-pot berisi beragam bunga musim semi lalu yang menggantung di dinding luar gedung, dapat terlihat pemandangan rumah toko yang sejajar di seberang jalan dengan sinar matahari pagi yang mengintip melaluinya malu-malu. Baru pukul 6 pagi, tetapi Patriarchou Ioakim Street telah diisi dengan beragam aktivitas yang seharusnya dimulai ketika matahari berada di tengah langit; mulai dari jalan raya yang ramai kendaraan, pejalan kaki yang sibuk desaki halte bus, toko-toko dengan label 24 jam yang mulai tutup dan baru buka nanti sore, sampai kios penawar sampel makanan gratis di sebelah utara jalan—yang seharusnya buka pada siang hari, kini justru ramai akan antrean pelanggan.
Kendati kalender baru menunjukkan awal bulan Juni, temperatur telah naik drastis. Padahal musim panas baru saja dimulai, begitu pikir Hyacine seraya membandingkan temperatur pekan lalu dengan pekan ini yang memiliki perbedaan hampir sepuluh derajat Celsius. Di seberang meja tempatnya duduk, ia melihat Tribios yang tengah menyesap teh buatannya, sementara ia sendiri sedang menghabiskan buku bacaan terakhirnya yang baru dibeli pekan lalu. Kemarin mereka telah sepakat untuk menutup toko pada hari ini akibat pasokan bunga musim panas yang belum datang. Bunyi televisi berukuran 20 inci yang diletakkan di atas meja di tengah ruangan menguar di udara, menampilkan debat pria paruh baya dengan perempuan muda di saluran televisi nasional.
Mendesah keras, Hyacine buka suara, “Kalau begitu, aku harus pindah, Kak?” sahutnya pelan, kemudian menutup buku bacaannya.
Ada jeda panjang di antara keduanya yang diisi oleh berita dari saluran televisi nasional. Tribios membuka ponselnya yang sedari tadi bergetar di tengah meja, sementara Hyacine mengambil tuas pengatur tirai gulung seraya menyesuaikan ukurannya untuk menghalau sinar matahari yang semakin panas dari jendela di sebelahnya.
“Begitulah,” ujar Tribios sambil menutup ponselnya. “Kesempatan nggak datang dua kali,” tambahnya.
Hyacine menyandarkan punggungnya pada kursi di belakangnya. Ia menatap Tribios di hadapannya, bergantian dengan berita di televisi yang kian menarik perhatiannya. Pada bagian bawah saluran televisi tersebut terpampang judul topik perdebatan mereka yang berwarna hitam besar dengan latar belakang putih, Musim Panas Panjang dan Gelombang Panas yang Semakin Memburuk: Apakah Umur Bumi Semakin Singkat?
“Lagipula, nggak sembarangan orang bisa ditawari pekerjaan sebanyak dua kali oleh Anaxagoras,” timpal Tribios, sebelum ikut-ikutan menoleh ke arah televisi yang berada di tengah ruangan.
Sekali lagi Hyacine mendesah keras. Kepalanya tiba-tiba saja terasa lebih berat daripada biasanya. Ia menyisir poni merah mudanya ke belakang seraya memijat pelipisnya pelan, sebelum akhirnya menopang dagu sebagai hasil dari kepalanya yang penuh.
“Cinny, apa yang membuatmu khawatir?” tanya Tribios. Nada suaranya lembut. Ia kemudian menatap Hyacine lekat-lekat.
“Kupikir berat rasanya buat pergi dari Athena,” sahut Hyacine. Kemudian ia melanjutkan, “Entahlah, Kak. Batas waktunya masih satu pekan lagi. Akan kupikirkan dulu.”
Tribios menyesap tehnya yang sudah tidak lagi menguap. Ia tersenyum simpul setelahnya. “Athena selalu istimewa buat kita, tetapi waktu kita nggak banyak,” katanya sambil melirik ke arah Cipher yang baru keluar dari pintu kamarnya yang berada di sebelah selatan ruangan dengan rambut acak-acakan.
Sambil menguap, Cipher ambil cangkir berisi teh dari atas meja bulat di hadapan Hyacine. “Pagi, Kak Tribbie, Cinny,” sapanya, kemudian bergabung dengan duduk di sofa depan meja televisi.
Tatkala Hyacine membalas sapaan Cipher dan Tribios yang sibuk menawarkan Cipher untuk menyantap sarapan dengan roti tawar sisa kemarin sore yang masih berada di lemari pendingin, ponsel milik Hyacine yang berada di saku piyama hijau muda motif hatinya bergetar beberapa kali. Hyacine dengan cekatan mengambil benda tersebut, kemudian melihat e-mail dari atasannya yang berisi formulir pendaftaran pekerjaan dan beberapa berkas-berkas digital lainnya yang harus segera ia urus dan pesan dari Dan Heng yang menanyakan kabarnya dan kesediannya untuk bertemu besok sore.
Laiknya seorang detektif andal, tatkala Cipher melihat wajah Hyacine yang kian kusut, ia lekas-lekas menceletuk, “Kesempatan nggak datang dua kali, Cinny.”
Hyacine mengerti bahwa kalimat itu bukan hanya mengenai pekerjaan barunya.
—
Langit kemerahan mewarnai Emmanouil Benaki Street yang dipenuhi dengan lampu jalan remang-remang yang menggantung di kabel-kabel yang terhubung dengan rumah toko lima lantai dengan tinggi hampir sejajar. Warna kekuningan dari lampu-lampu pertokoan yang baru buka menghiasi kedua sisi jalanan yang dipenuhi dengan kendaraan yang terparkir rapi di tepi trotoar. Bunyi musik live berpadu dengan dentingan peralatan makan bercampur di udara. Hyacine melirik arloji yang menunjukkan pukul 20.30. Seorang pelayan baru saja mengantarkan menu terakhir yang dipesan Hyacine, sebelum ia lekas mengambil alat makan dan moussaka pesanannya berakhir di dalam indra pengecapnya.
Beberapa detik Dan Heng yang berada di kursi seberang meja besi di hadapan Hyacine putuskan untuk menyeruput wine miliknya. Setelah itu, si pemuda bersurai gelap buka suaranya pelan. “Pekan depan perjalanan dinasku selesai. Hari Jumat aku akan pulang,” tuturnya.
Lekas-lekas Hyacine mendongakkan kepalanya untuk menatap lawan bicaranya. “Oh, ya? Jam berapa? Berarti kamu pulang ke Shanghai?” Seingatnya, sewaktu masih kuliah, Dan Heng pernah mengenalkan dirinya sebagai mahasiswa pertukaran yang berasal dari Shanghai.
“Nggak.” Ia terkekeh pelan sambil mengibaskan tangan kirinya di depan wajah. “Aku sekarang tinggal di Leiden. Tiket pesawatnya jam 8 malam. Mungkin aku akan naik metro dari sore,” lanjutnya, kemudian menyuapkan sesendok salad tomat dan mentimun ke dalam mulutnya.
Hyacine menganggukkan kepalanya sebagai respons atas ucapan Dan Heng barusan. Selasar di depan restoran berisi belasan meja yang langsung berseberangan dengan jalanan itu ramai akan pengunjung. Beberapa kali Hyacine perhatikan pelayan restoran mondar-mandir sambil membawa nampan berisi pesanan pengunjung yang berbeda-beda. Semakin ramai pengunjung yang datang, semakin beragam pula aroma yang tercium dari dapur berkonsep terbuka. Ia melirik arlojinya sekali lagi, merasa gelisah.
“Hyacine.” Suara Dan Heng memecah konsentrasinya.
Si gadis terkejut pelan. “Ada apa?”
“Rabu pekan lalu, kamu nggak berkunjung ke Kallithea?”
Gadis berambut merah muda itu tautkan alisnya. Ada hening di antara keduanya selama beberapa detik, diiringi dengan musik live dan suara rendah dari pengunjung yang bercakap-cakap. Hyacine kemudian putuskan untuk menjawab pada detik selanjutnya. “Pekan lalu aku mengawasi ujian akhir di universitas. Kalau nggak salah, Profesor Anaxagoras yang ada seminar di Kallithea,” sanggahnya.
“Ah, ya. Maksudku, kamu nggak ikut profesor seminar di Kallithea?” sambung Dan Heng, memastikan.
Alunan musik live yang telah berganti trek sedari tadi memasuki indra pendengaran Hyacine sewaktu keheningan sekali lagi menyeruak di antara keduanya. Dalam kepalanya, ia masih menerka-nerka maksud ucapan Dan Heng barusan. Tatkala Hyacine menatap pemuda di hadapannya yang tengah tampilkan sekelumit ekspresi penasaran, barulah Hyacine putuskan untuk membuka mulutnya.
“Nggak. Waktunya juga mepet dengan jadwal ujian mahasiswa pascasarjana. Jadi, aku nggak bisa nyusul.” Ia berhenti sebentar. “Lagipula, seminarnya sebentar, kok. Nggak terlalu perlu dibantu, begitu kata profesor,” imbuhnya pelan.
“Begitu,” kata Dan Heng tenang.
Suapan terakhir dari makan malamnya melesat masuk ke dalam mulut Hyacine. Barangkali perlu waktu sepuluh menit tambahan bagi keduanya untuk menunggu pelayan yang masih sibuk mengantar pesanan ke pelanggan lain untuk membawakan tagihan ke meja. Itu pukul 21.20 ketika Hyacine melirik arloji di tangan kirinya. Setelah membayar tagihan, dengan langkah pelan keduanya menuju halte bus yang terletak sekitar sembilan ratus meter dari restoran.
Keduanya sampai di halte kira-kira sepuluh menit kemudian. Melalui ujung jalan yang memiliki penerangan yang remang, Hyacine dapat melihat lampu bus yang bergerak dengan kecepatan konstan. Ia melirik Dan Heng di sebelahnya yang tampilkan gestur menduga-duga bus dengan rute mana yang akan sampai. Berkali-kali Hyacine melirik ke arah Dan Heng, kemudian berkali-kali pula ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
Barangkali inilah saatnya. Kesempatan tidak datang dua kali. Kalimat ini berkali-kali terngiang dalam kepalanya. Dengan tangan gemetar dan dada bergemuruh, ia akhirnya buka suara. “Dannie,” panggilnya.
Dengan cepat, Dan Heng menoleh ke arahnya. Keberanian yang sebelumnya berkumpul di dalam dirinya seketika mengecil. Ia menatap netra Dan Heng yang berkilauan. Lantas meneguk liurnya sendiri.
“Waktu kamu tanya tentang Kallithea tadi, memangnya ada apa?”
Ia merutuki dirinya yang justru menyia-nyiakan kesempatan itu.
Tatkala pemuda di hadapannya hendak bergumam pelan, bus yang rupanya sesuai dengan rute pulang Hyacine sampai duluan. Mau tidak mau, si gadis yang kecewa akan dirinya sendiri masuk melalui pintu bus yang terbuka. Langkahnya terhenti hanya sampai di pijakan tangga kedua, kemudian berbalik ke arah halte sembari menunggu jawaban dari Dan Heng yang tak kunjung tiba.
Dan Heng melambaikan tangannya pelan, yang dibalas lambaian tak kalah pelan dari Hyacine. “Hanya mengenai pemikiranku saja,” ucapnya. Ada senyuman miris di wajah yang sempat Hyacine kagumi itu. “Kukira aku bisa bertemu denganmu di Kallithea.”
Pintu bus pun tertutup.
—
“Hari Rabu pekan lalu?”
Pemandangan jalan raya yang dipenuhi dengan kendaraan yang ramai dan langit biru cerah berawan dapat terlihat melalui jendela yang tingginya sampai ke langit-langit ruangan. Ruangan tersebut diisi dengan beberapa meja penuh dengan berkas di sisi selatan, tepat di samping dinding yang dipenuhi piagam paten dan papan tulis besar dengan macam-macam perhitungan hipotesis mengenai masa ledak planet di dalamnya. Di sudut ruangan terdapat lemari kaca besar yang berisi berbagai peralatan gelas. Tepat di sebelahnya terdapat lemari pendingin yang, bila dibuka, berisi berbagai sampel penelitian. Sebuah meja besar memenuhi bagian tengah ruangan yang juga dipenuhi kertas-kertas dan komputer dengan monitor berukuran 32 inci. Di depannya ada dua buah kursi yang disusun berantakan. Barangkali belum sempat dibersihkan, pikir Hyacine, sambil melirik ke arah meja-meja di sebelah pintu yang penuh dengan peralatan gelas yang belum dibersihkan dan alat spektrofotometer yang masih berbunyi. Di sudut meja kecil dekat jendela tinggi terdapat segelas air berisi bunga yang telah layu bermandikan sinar matahari siang.
Hyacine berjalan ke arah meja tempat Anaxa duduk dengan kening berkerut seraya memandang layar monitor yang menampilkan beragam data untuk diolah. Ia menggeser kursi di depan meja yang berantakan, duduk di sana, kemudian membuka map bening yang berisi berkas-berkas yang telah ia urus sejak beberapa hari yang lalu.
“Hari Rabu sewaktu Profesor ke Kallithea,” sahut Hyacine sambil menyerahkan berkas tebal tersebut kepada Anaxa di hadapannya.
Masih dengan mata yang memicing, Anaxa yang tidak mengalihkan perhatiannya dari layar monitor mengambil berkas tersebut, lalu menyimpannya ke dalam map besar miliknya yang terletak di laci di bawah meja. “Kalau tidak salah, ada seorang pemuda. Dia bilang dulu sempat ikut kelas sebagai mahasiswa pertukaran,” katanya sambil menampilkan gestur mengingat-ingat. “Berkasmu biar saya yang simpan.”
Mengangguk pelan, Hyacine lantas menelan liurnya. Ia memainkan gantungan kunci berbentuk unicorn putih pada tas ransel yang sekarang berada di pelukannya. Sambil memerhatikan Anaxa yang sibuk sendiri dengan layar monitornya, Hyacine menarik napasnya sebelum mengumpulkan keberanian. “Mengenai pemuda itu, dia ada bilang sesuatu tentang saya, Prof?” cicitnya.
Seketika Anaxa menolehkan kepalanya. Tampaknya perkataan Hyacine barusan melengkapi potongan puzzle yang bersemayam di kepalanya selama beberapa hari terakhir. Sambil memijat kepalanya yang pening akibat begadang semalaman, ia memutar kursinya yang memiliki roda kecil searah jendela di sudut kiri ruangan. Dia berdehem sebentar. “Dia kasih saya bunga tulip. Saya sempat bingung, tapi akhirnya saya taruh di gelas.” Wajahnya menunjuk ke arah gelas air berisi bunga layu berwarna merah muda di sudut ruangan. “Nggak sempat diurus, jadi layu. Kalau tahu buat kamu, harusnya langsung saya kasih ke kamu saja,” lanjutnya.
“Eh, tapi kan, belum tentu buat saya, Pro—”
“Warnanya senada dengan rambutmu, masa mau bilang bahwa dari awal bunganya buat saya?” tanya Anaxa, kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke layar monitor di sampingnya. “Setelah ini, kamu jangan pulang dulu. Bantu saya olah data.”
Hyacine hanya tampilkan senyuman miris sebagai jawaban.
—
Sejak dua hari yang lalu, Hyacine disibukkan dengan mengurus keperluan yang harus dilakukan sebelum pergi jauh dari Athena. Pekerjaannya di toko sembilan puluh persen hampir digantikan oleh Tribios dan Cipher yang mengatakan bahwa sudah waktunya bagi Hyacine untuk melepaskan tanggung jawab toko. Waktu menunjukkan hampir pertengahan bulan Juni dan gelombang panas di Athena hampir membuat lima persen penduduk lokal dilarikan ke rumah sakit akibat terserang heatstroke.
Melihat ke kamarnya yang mulai kehilangan benda-benda, Hyacine berdiri mematung selama beberapa saat. Itu hari Sabtu. Tak pernah terpikirkan olehnya akan beranjak pergi dari Athena menuju suatu tempat yang lebih jauh dari perandaiannya. Barangkali, apartemen yang berada di lantai dua toko ini akan menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya. Itu pun apabila usia apartemen ini bisa lebih panjang darinya, karena siapa tahu besok-besok dunia sudah tidak ada lagi.
Sambil merapikan koper merah marunnya ke sisi kamar, ia dikejutkan dengan kehadiran Cipher dan Tribios yang tahu-tahu sudah berdiri di depan daun pintu kamarnya.
Tribios dengan alis yang bertautan lebih dulu berseru kepadanya. “Kamu beneran nggak mau perpisahan sama Dan Heng?” Informasi itu diperoleh Tribios dari Hyacine beberapa hari yang lalu.
Hyacine buru-buru mengecek ponselnya yang menunjukkan pukul setengah 3 siang. Dengan perasaan ragu-ragu, ia menggelengkan kepalanya. “Kayaknya nggak perlu. Lagian kami juga sudah bertukar kontak,” katanya. Ada sirat keraguan dalam perkataannya.
Detik berikutnya, Cipher menggenggam pundaknya, kemudian mengguncangnya keras-keras. “Kamu mau kehilangan kesempatan lagi untuk dapat jawaban dari Dan Heng?” desak Cipher. Guncangannya berhenti tatkala ia melihat netra Hyacine membulat untuk beberapa saat. Tak berapa lama setelahnya, ia menyerahkan sebuah kunci mobil dengan gantungan bunga lavender ke tangan Hyacine.
Seakan tersadarkan, lekas-lekas Hyacine berlari memakai sepatunya asal. Lantas buru-buru turun melalui tangga menuju garasi di bagian belakang toko.
“Semoga beruntung, Cinny!”
—
Hyacine buru-buru mengemudikan mobilnya dengan kecepatan 65 kilometer per jam. Radio mobil yang biasanya menampilkan musik artis pop pada saluran kesukaannya belum sempat ia ganti, sehingga suaranya ia kecilkan sampai volume minimal. Sewaktu sampai di pertigaan Kanari Street, rupanya jalanan macet total dan tidak bisa ia hindari, sehingga dengan buru-buru ia mengambil ponselnya yang sebelumnya ia letakkan sembarangan di kursi sebelah pengemudi. Ia menggulirkan layarnya pada aplikasi kontak, mencari nama Dan Heng, kemudian menekan tombol panggilan.
Tak butuh berapa lama sampai bunyi tut-tut-tut digantikan dengan suara Dan Heng.
“Halo, Dannie? Sekarang kamu sedang di mana?” Dalam hatinya ia panjatkan harapan agar Dan Heng belum masuk ke dalam metro menuju bandara.
“Hyacinthia? Ada apa? Aku baru sampai di alun-alun Syntagma,” katanya di seberang panggilan.
Hyacine menatap kemacetan yang ada di hadapannya. Hanya tinggal 1,5 kilometer menuju alun-alun, waktu tempuh pada lalu lintas lancar biasanya hanya lima menit. “Keretamu berangkat jam berapa?”
“Jam 15.25. Ada apa, Hyacine? Kamu baik-baik saja?”
Melirik arloji pada tangan kirinya yang sedang berada di kemudi yang menunjukkan pukul 14.49, Hyacine berseru agak keras. “Bolehkah menunggu sekitar lima belas menit? Kalau aku tidak muncul pukul 15.05, kamu langsung masuk saja ke dalam stasiun,” katanya.
“Tentu. Aku berada di alun-alun searah dengan gedung hotel. Aku tunggu di sini.”
—
Barangkali, apa yang dikatakan oleh Tribios dan Cipher benar adanya, bahwa ini adalah kesempatan terakhir Hyacine untuk mengetahui jawaban dari Dan Heng. Tepat pukul 3 siang, ia sampai di area alun-alun Syntagma, memarkirkan mobilnya di sisi kanan jalan, menyeberang sembarangan, kemudian lekas-lekas berlari menuju tempat yang disebutkan Dan Heng. Dengan napas tersengal-sengal, Hyacine baru ingat bahwa ia lupa membawa payung yang telah ia siapkan dalam mobil. Kendati mengenakan baju lengan panjang dan tabir surya yang cukup, sinar matahari secara perlahan tetap membakar kulitnya.
Alun-alun itu dipenuhi oleh berbagai manusia yang mengenakan payung. Ia mengedarkan tatapannya ke sekeliling, kesulitan mencari sosok yang dicarinya di tengah teriknya sinar matahari. Pada menit berikutnya, ia mendapati Dan Heng sedang menyandarkan punggungnya di bawah lampu taman sambil membawa payung hitam yang senada dengan setelan baju hitam-hijau dan koper biru tuanya. Dengan langkah tergesa-gesa, Hyacine menghampiri pemuda tersebut.
“Maaf lama,” katanya masih dengan napas tersengal-sengal.
Dengan cekatan Dan Heng menutupi separuh bagian payungnya ke arah Hyacine, kemudian membuka tas ranselnya untuk memberi botol minum yang segera ia berikan kepada si gadis di hadapannya.
Tatkala Hyacine menerima botol tersebut dan lekas meminumnya, Dan Heng bertanya pelan, “Ada apa, Hyacine? Ada yang ketinggalan?”
Hyacine mengangguk. Di bawah payung yang sama dengan Dan Heng, ia dapat melihat wajah rupawan pemuda itu lebih dekat. “Aku akan pindah kerja juga,” ujarnya membuka percakapan.
“Oh, ya? Ke mana?”
“Jenewa,” jawab Hyacine singkat. Wajahnya tersenyum cerah. “Universitas di sana mengundang Profesor Anaxagoras untuk mengembangkan patennya. Ada lima asisten lain yang ikut membantu Profesor, termasuk aku,” sambung Hyacine sambil terkekeh pelan.
Dan Heng menatap Hyacine dalam-dalam. Ada sedikit ekspresi terkejut yang terpatri di wajah si pemuda. “Selamat, ya, Hyacinthia. Jangan lupa untuk selalu mengabariku.” Ia melihat ada perubahan kecil pada wajah Hyacine, kemudian kembali membuka suaranya. “Masih ada yang mau kamu sampaikan?”
“Masih ingat waktu kuliah dulu? Aku pernah bilang kalau aku suka padamu.”
Napas Dan Heng tercekat selama beberapa saat. Ia menoleh ke arah Hyacine yang tengah menunduk sambil memainkan gantungan pada tas jinjing warna krem yang senada dengan rok panjang miliknya. Ingatan Dan Heng mengenai masa kuliah dahulu berputar-putar dalam kepalanya.
“Maaf,” tutur Dan Heng pelan. “Aku membuatmu menunggu jawabanku,” lanjutnya.
“Nggak,” sergah Hyacine cepat. Ia menahan napasnya beberapa detik sebelum kembali melanjutkan. “Itu salahku. Aku yang melarikan diri sehabis mengatakannya kepadamu.”
Melirik Hyacine sebentar, Dan Heng ikut-ikutan menunduk. Dia memainkan sol sepatunya di atas blok beton berwarna merah yang mewarnai jalanan alun-alun.
“Jadi.” Hyacine lebih dulu memanggil. Dan Heng mengarahkan atensinya pada gadis yang sekarang berada di sebelahnya. “Boleh aku mendapat jawabannya sekarang?” tanyanya tanpa melihat ke arah Dan Heng. Debaran pada dadanya terasa lebih cepat dibandingkan ketika ia dijebak macet tadi. Tanpa ia sadari, kedua matanya terasa lebih berat tatkala pemandangan di hadapannya semakin mengabur.
Keduanya sama-sama terdiam selama beberapa menit. Semilir angin yang membawa udara panas berembus pelan, membuat pohon-pohon di sekeliling mengeluarkan suara bergesekan dan daun-daun runtuh memenuhi jalan setapak. Jalan raya di sebelah alun-alun yang sebelumnya sempat dipenuhi oleh kendaraan telah lengang. Begitu Hyacine melirik arloji miliknya melalui sudut matanya, waktu terasa bergerak lebih lambat. Pasalnya, sekarang baru pukul 15.15 dan Dan Heng tak kunjung buka suaranya. Hyacine harap kereta Dan Heng dapat datang lebih cepat sehingga mau tidak mau si pemuda akan segera membuka mulutnya dan Hyacine dapat melenggang pergi dari sini.
“Hyacine,” panggil Dan Heng. Entah dari kapan, tiba-tiba dia telah menggenggam sebatang bunga larkspur putih dengan semburat merah muda di tangan kirinya. Wajahnya terkena basuhan sinar matahari yang memantul dari meja kaca di seberang jalan. Netranya berkilatan. “Aku nggak tahu gimana caranya untuk berterima kasih kepadamu. Tapi, ini adalah pertaruhanku.” Ia menyodorkan bunga tersebut kepada Hyacine yang sekarang tidak berkutik.
“Terima kasih karena sudah menyukaiku,” ucapnya dengan suara rendah.
Dan Heng memegangi telinga kirinya setelah Hyacine mengambil batang bunga yang barusan diberikan kepadanya. Dapat Hyacine lihat ketika wajah pemuda di sampingnya yang memerah selama beberapa saat. Hyacine pikir sebuah perasaan lega merasuki pikirannya karena respons impulsif Dan Heng yang tulus barusan pasti bukanlah ulah sinar matahari.
