Actions

Work Header

Risk it All

Summary:

Setelah ledakan yang hampir merenggut nyawanya, Keonho terbaring koma selama berbulan-bulan.

Di sisinya selalu ada Seonghyeon yang menunggu, berharap, dan percaya bahwa suatu hari Keonho akan membuka mata.

Lalu sebuah kecelakaan mengubah segalanya.

Ketika Keonho akhirnya sadar, ia mendapati bahwa dunia terus berjalan selama ia tertidur. Orang-orang berubah. Waktu berlalu. Dan seseorang yang selalu ia anggap akan berada di sana ternyata telah menghilang.

Sekarang, yang tersisa hanyalah kehilangan, rahasia yang belum terungkap, dan satu pertanyaan yang tidak pernah siap dijawab siapa pun:

"Di mana Seonghyeon?"

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Gimana kalo kita makan siang bareng abis seminar? Gue laper setengah mati sekarang, tapi we gotta prioritize the seminar first. Sekalian ajak Keonho, Juhoon, sama kak James. Ah, benar, gue lupa mereka lagi studi banding ke kampus sebelah kecuali Keonho… sayang banget. Kira-kira kita makan apa ya nanti? Gue tau kafe deket sini yang baru buka! Mereka punya banyak pilihan FnBs, dan—"

Kalimat Martin terputus begitu saja ketika Seonghyeon tanpa peringatan menyelipkan sepotong roti isi cokelat ke dalam mulutnya.

“Bisa ga lu lambatin tempo ngomong lu dikit aja?" keluhnya, nyaris tanpa mengangkat kepala dari lembaran catatan yang sedang ditelaahnya. “Gue lagi ngafalin contekan buat kuis nanti, dan ocehan lu malah ngenganggu banget gila. Lagi pula, tanya aja langsung ke Keonho gih. Setelah seminar selesai, gue mau ke perpus buat nyusun lembar contekan yang baru. Sorry, gue ga bisa ikut."

“Keonhopacarlucok—”

“Habisin rotinya dulu sebelum ngomong."

Dengan ekspresi sebal, Martin mengunyah roti itu sedikit lebih kasar daripada yang diperlukan. Rahangnya bergerak lambat, seolah setiap kunyahan menjadi pelampiasan atas kekesalan yang tengah mengendap. Setelah beberapa saat, ia menelannya dan mengembuskan napas pendek.

“Maksud lu ga bisa ikut apa? Kalo lu punya kuis, Keonho pasti juga punya. Kalian ngambil jurusan yang sama kan? Ga masuk akal dong kalo lu sibuk tapi dia ga sibuk. Eh, by the way," Ia memiringkan kepala. “Emangnya dia dateng di seminar ini?”

“Entah,” jawab Seonghyeon singkat.

Ia membalik halaman catatannya sebelum melanjutkan.

“Katanya doi ada praktikum Teknik Reaksi Kimia susulan jam sepuluh. Gue kemarin udah praktikum. Seminar juga mulai jam sepuluh. Sekarang sudah setengah sebelas, yang berarti kita sebenernya udah telat buat seminar ini. Lu malah masih saja mikirin makanan.”

Untuk sesaat, Martin hanya menatapnya kosong.

Kemudian wajahnya seketika pucat.

“APA?!”

Seruannya menggema begitu keras hingga beberapa mahasiswa di sekitar mereka refleks menoleh.

“Auditorium kan jauh banget dari sini! Astaga, dosen kita pasti bakal ngulitin kita hidup-hidup.”

Panik menyergapnya dalam sekejap. Ia meraih tasnya dengan tergesa-gesa, sementara kata-kata berhamburan tanpa kendali dari bibirnya.

“Kenapa lu ga bilang dari tadi? Kita bener-bener tamat. Gue bener-bener tamat.”

“Kalo gitu berhenti ngomel dan mulai lari—”

BOOM.

Sebuah dentuman dahsyat memecah udara.

Tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat, seakan menerima hantaman kekuatan yang tak terlihat. Gelombang suara menggelegar melintasi area kampus, memantul di antara bangunan-bangunan beton. Jeritan mahasiswa segera menyusul, bercampur dengan kepanikan yang menyebar secepat api menjalari kertas kering.

Di kejauhan, segumpal asap kelabu mulai membubung ke langit.

Ledakan itu berasal dari gedung Fakultas Teknik, lebih tepatnya laboratorium fakultas tersebut.

Gedung tempat Keonho tengah menjalani praktikumnya.


Pintu ruang operasi menutup dengan bunyi keras yang menggema di sepanjang koridor, memisahkan Keonho dari dunia luar dalam hitungan detik. Seonghyeon berdiri beberapa langkah dari sana, dadanya naik turun tidak beraturan akibat berlari tanpa henti sejak meninggalkan lokasi ledakan. Debu masih menempel pada pakaian, bercampur dengan noda hitam yang entah berasal dari asap atau kotoran reruntuhan. Ia bahkan tidak ingat bagaimana caranya sampai ke rumah sakit. Yang ia ingat hanyalah suara sirene ambulans, kerumunan orang yang panik, dan sesosok tubuh yang dibawa keluar dari gedung dengan kondisi yang begitu mengenaskan hingga ia nyaris tidak mengenalinya.

Koridor instalasi gawat darurat dipenuhi suara langkah kaki yang tergesa-gesa, bunyi roda tandu yang berderit di atas lantai keramik, serta instruksi-instruksi singkat yang dilontarkan tenaga medis dari berbagai arah. Namun di tengah segala keributan itu, Seonghyeon hanya mampu menatap lampu merah di atas ruang operasi. Rasanya seolah seluruh dunia menyempit menjadi satu titik kecil di hadapannya. Tidak ada seminar. Tidak ada makan siang. Tidak ada kuis yang tadi sempat mereka perdebatkan. Semua hal yang beberapa menit lalu terasa penting kini mendadak kehilangan arti.

Martin mengusap pundak Seonghyeon dengan pelan. "Keonho pasti bangun, Hyeon. Jangan panik. Tenangin diri lu. Dia kuat. Keonho itu kuat. Ga mungkin dia ninggalin kita secepet ini."

"Bilang ke gue, orang yang di dalem itu bukan Keonho kan? Iya kan? Dia tadi masih minta bocoran praktikum ke gue, itu ga mungkin dia kan? Please.."

Seonghyeon menumpu wajahnya dengan kedua tangan miliknya. Ia tidak menyangka dengan kejadian ini.

"Dari semua orang, kenapa harus kamu, No?"

Ketika seorang dokter akhirnya keluar untuk memberikan penjelasan singkat, Seonghyeon segera berdiri. Harapan dan ketakutan bercampur menjadi satu di wajahnya. Dokter itu tampak lelah, bahkan sebelum operasi benar-benar dimulai. Setelah membaca kembali berkas pasien di tangannya, ia menarik napas panjang sebelum berkata bahwa kondisi Keonho sangat kritis. Ledakan tersebut tidak hanya menyebabkan luka fisik yang terlihat dari luar, tetapi juga menimbulkan kerusakan serius pada beberapa organ dalam. Mereka akan berusaha menghentikan pendarahan dan menstabilkan kondisinya terlebih dahulu, tetapi untuk saat ini, tidak ada seorang pun yang dapat menjanjikan apa pun.

Seonghyeon mengangguk seolah memahami, meskipun pada kenyataannya tidak satu kata pun benar-benar berhasil ia cerna. Yang tersisa di kepalanya hanyalah satu kalimat: kondisi Keonho sangat kritis. Kalimat itu berulang-ulang terngiang di benaknya seperti gema yang tidak kunjung menghilang. Untuk pertama kalinya sejak ledakan terjadi, rasa takut yang sesungguhnya mulai mengambil alih dirinya. Bukan ketakutan terhadap apa yang telah terjadi, melainkan ketakutan terhadap kemungkinan bahwa Keonho mungkin tidak akan pernah membuka matanya lagi.

Operasi pertama berakhir menjelang tengah malam.

Ketika dokter akhirnya keluar dari ruang bedah, seluruh keluarga yang menunggu di koridor langsung berdiri dari tempat duduk mereka. Seonghyeon dan Martin termasuk di antaranya. Ia bahkan tidak menyadari dirinya telah tertidur beberapa menit sebelumnya sampai rasa pegal menjalar dari leher ke bahunya saat ia bangkit. Wajah dokter itu tampak letih, garis-garis kelelahan tercetak jelas di bawah matanya. Setelah menjelaskan bahwa pendarahan berhasil dihentikan dan kondisi Keonho untuk sementara berhasil distabilkan, ia segera menambahkan bahwa keadaan pasien masih sangat kritis. Mereka telah melakukan apa yang bisa dilakukan malam itu. Selebihnya, tubuh Keonho sendiri yang harus menentukan apakah ia sanggup bertahan.

Keonho dipindahkan ke ICU satu jam kemudian.

Seonghyeon berdiri di balik dinding kaca sambil memperhatikan para perawat memindahkan tubuh yang terbaring tidak sadarkan diri itu ke ranjang baru. Jantungnya terasa berat dengan cara yang sulit dijelaskan. Selama ini, kematian selalu terasa seperti sesuatu yang jauh, sesuatu yang hanya terjadi pada orang lain. Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia dapat melihat dengan jelas betapa tipis batas yang memisahkan seseorang dari akhir hidupnya. Keonho tampak begitu rapuh di bawah cahaya putih ruang perawatan intensif. Selang-selang menjulur dari berbagai sisi tubuhnya. Monitor terus menampilkan angka-angka yang tidak dipahami Seonghyeon. Mesin ventilator mengatur setiap tarikan napas yang seharusnya dilakukan tubuh itu secara alami. Tidak ada satu pun bagian dari pemandangan tersebut yang terasa nyata.

"Udah malem. Pulang dulu yuk. Keonho pasti malah ga suka kalo lu gini terus. Besok Juhoon sama kak James juga bakal ke sini."

Suara Martin terdengar dari sampingnya.

Seonghyeon tidak mengalihkan pandangan.

"Gue ga mau."

"Lu bahkan belum makan dari siang. Eh gue juga deh."

"Gue ga laper."

Martin mengembuskan napas panjang. "Lu selalu bilang gitu tiap kali stres."

Seonghyeon akhirnya menoleh. Ada sesuatu yang hampir menyerupai kemarahan di matanya, meskipun lebih banyak kelelahan daripada emosi lainnya.

"Gimana gue bisa makan ngeliat Keonho harus berjuang buat bertahan hidup?"

Martin terdiam.

Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Keduanya hanya memandangi sosok Keonho yang terbaring tanpa kesadaran di balik kaca tebal yang memisahkan mereka.

"Gue cuma bilang lu harus jaga diri lu sendiri," ujar Martin akhirnya dengan suara lebih pelan. "kalo dia bangun nanti dan ngeliat lu kayak mayat hidup, dia pasti bakal ngomel."

Kalimat itu dimaksudkan sebagai candaan ringan,

"Semoga dia bangun."

tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang tertawa.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan pola yang hampir sama. Seonghyeon datang setiap pagi sebelum jam kunjungan dimulai dan baru meninggalkan rumah sakit ketika petugas keamanan mulai mengingatkannya bahwa waktu besuk telah berakhir. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di kursi koridor atau di samping jendela ICU, memandangi sosok yang tidak pernah bergerak itu seakan-akan dengan menatap lebih lama ia dapat memaksanya untuk kembali sadar.

Terkadang ia berbicara.

Bukan karena berharap mendapat jawaban, melainkan karena kesunyian terasa jauh lebih menyakitkan.

Ia menceritakan tentang hidupnya sehari-hari yang tidak berenergik. Ia menceritakan hal-hal kecil yang terjadi di kampus. Tentang gedung Fakultas Teknik yang direnovasi. Tentang perpindahan laboratorium. Tentang dosen yang akhirnya membatalkan beberapa perkuliahan setelah insiden ledakan. Tentang mahasiswa yang mulai kembali beraktivitas seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Tentang Martin yang masih terus mengeluh mengenai tugas dan kuis yang menumpuk.

"Aku rasa Martin diam-diam senang kamu belum bangun," katanya suatu sore sambil menyandarkan tubuh pada kursi di samping ranjang. "Kalau tidak, kamu pasti sudah mengejek nilainya sampai sekarang."

Tidak ada respons.

Hanya suara mesin yang mengisi ruangan.

Seonghyeon menunduk dan tersenyum tipis.

Senyum yang tidak pernah benar-benar sampai ke matanya.

Minggu pertama berlalu. Kemudian minggu kedua. Memasuki minggu ketiga, bahkan para dokter mulai terlihat lebih berhati-hati setiap kali menjelaskan perkembangan kondisi Keonho. Mereka tidak lagi menggunakan kata-kata yang memberikan harapan berlebihan. Tidak ada lagi kalimat "tunggu saja" atau "kita lihat perkembangannya". Yang tersisa hanyalah laporan medis yang terdengar semakin suram dari hari ke hari.

Suatu malam, ketika Seonghyeon kembali duduk di koridor setelah menemui dokter, Martin menemukan dirinya menatap lantai dengan pandangan kosong.

"Apa kata dokter?"

Seonghyeon tidak langsung menjawab.


Seonghyeon menemukan dokter yang menangani Keonho di ujung koridor ketika pria itu baru saja keluar dari ruang staf. Malam telah larut. Sebagian besar lampu di area tunggu diredupkan, meninggalkan semburat cahaya pucat yang memantul di lantai mengilap dan dinding berwarna putih kusam. Suasana rumah sakit pada jam-jam seperti ini selalu terasa ganjil baginya; terlalu sunyi untuk disebut tenang, tetapi juga terlalu hidup untuk benar-benar disebut sepi. Dari kejauhan masih terdengar langkah kaki perawat yang berlalu-lalang dan bunyi monitor yang sesekali memecah kesunyian. Di balik dinding kaca ICU, Keonho tetap terbaring dalam posisi yang sama seperti beberapa hari terakhir, seolah waktu berhenti bergerak hanya untuk dirinya seorang.

Dokter itu menghentikan langkah ketika melihat Seonghyeon. Ada kelelahan yang jelas tergambar pada wajahnya, jenis kelelahan yang tidak dapat dihilangkan hanya dengan tidur beberapa jam. Seonghyeon mendadak merasa enggan mengajukan pertanyaan yang sudah berulang kali ia Luntarkan selama berminggu-minggu terakhir. Namun pada akhirnya, tidak ada hal lain yang lebih ingin ia ketahui selain kondisi Keonho.

"Bagaimana keadaan Keonho hari ini?" tanyanya pelan. Suaranya terdengar serak akibat kurang tidur dan terlalu banyak diam.

Dokter itu tidak segera menjawab. Ia memandang berkas di tangannya selama beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas panjang.

"Sejujurnya, tidak banyak perubahan." Jawaban itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat leher Seonghyeon terasa mengencang.

Ia sudah terlalu lama berada di rumah sakit untuk memahami arti dari kalimat-kalimat semacam itu. Tidak banyak perubahan berarti tidak ada perkembangan yang bisa dirayakan. Tidak banyak perubahan berarti tubuh Keonho masih bertahan, tetapi belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali. Tidak banyak perubahan berarti harapan masih ada, tetapi semakin hari semakin sulit dipertahankan.

"Kami masih berhasil menjaga fungsi organ-organ vitalnya," lanjut dokter tersebut dengan hati-hati. "Namun beberapa parameter yang kami pantau belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Kondisinya masih sangat bergantung pada terapi penunjang. Untuk saat ini, prioritas kami bukan membuatnya pulih sepenuhnya, melainkan memastikan tubuhnya tetap mampu bertahan melewati hari-hari berikutnya."

Seonghyeon menundukkan pandangan. Jemarinya perlahan menggenggam pagar besi yang membatasi area ICU. Ia tidak sepenuhnya memahami istilah-istilah medis yang digunakan dokter itu, tetapi ia mengerti maknanya. Selama ini ia terus meyakinkan dirinya bahwa Keonho hanya membutuhkan waktu lebih lama dibanding pasien lain. Bahwa suatu pagi nanti, entah besok atau minggu depan, ia akan datang ke rumah sakit dan menemukan sahabatnya telah membuka mata. Namun semakin sering ia berbicara dengan para dokter, semakin jelas bahwa kenyataan tidak sesederhana itu.

Tubuh manusia bukan sesuatu yang dapat dipaksa kembali pulih hanya karena ada seseorang yang menunggunya.

"Kalau dia sadar nanti..." Seonghyeon berhenti sejenak, seolah sedang mempertimbangkan apakah ia benar-benar ingin mendengar jawabannya.

"Apakah Keonho masih bisa hidup seperti manusia biasa?"

Pertanyaan itu membuat dokter tersebut terdiam cukup lama. Bukan karena ia tidak mendengar, melainkan karena ia tampak sedang memilih kata-kata yang paling tepat. Pada akhirnya, ia menggeleng pelan. "Saya tidak bisa menjanjikan apa pun. Bahkan saat ini kami masih belum dapat memastikan bagaimana tubuhnya akan merespons jika ia berhasil melewati fase kritis ini. Ada terlalu banyak hal yang belum dapat diprediksi."

Jawaban itu seharusnya mengecewakan. Anehnya, Seonghyeon justru merasa sedikit lega karena dokter tersebut memilih untuk jujur. Selama beberapa minggu terakhir, ia mulai membenci harapan-harapan kosong yang diberikan dengan niat baik. Harapan semacam itu hanya bertahan beberapa jam sebelum kembali berubah menjadi ketakutan. Setidaknya kejujuran memiliki bentuk yang lebih jelas untuk dihadapi.

Pandangannya kembali jatuh pada sosok yang terbaring di balik kaca. Sulit mempercayai bahwa orang yang kini dikelilingi berbagai mesin itu adalah Keonho yang sama yang pernah berdebat dengannya mengenai hal-hal remeh, mengeluh tentang tugas kuliah, atau mengabaikan pesan selama berjam-jam hanya karena terlalu sibuk di laboratorium. Kenangan-kenangan tersebut terasa begitu dekat, tetapi dalam waktu yang bersamaan juga terasa seolah berasal dari kehidupan orang lain.

"Lucu juga," katanya tiba-tiba, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada dokter di sampingnya. "Percakapan terakhir kami bahkan bukan sesuatu yang penting. Kami hanya membicarakan bocoran praktikum. Kalau saya tahu itu akan menjadi percakapan terakhir sebelum semua ini terjadi, mungkin saya akan mengatakan sesuatu yang lebih berarti."

Dokter itu mengikuti arah pandangannya menuju ruang ICU. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Keduanya sama-sama memahami bahwa penyesalan adalah bagian yang hampir tidak pernah terpisahkan dari situasi semacam ini. Selalu ada kalimat yang tidak sempat diucapkan, pertanyaan yang tidak sempat diajukan, atau momen yang tidak pernah disadari akan menjadi yang terakhir hingga semuanya benar-benar berakhir.

"Orang jarang menyadari mana pertemuan terakhir mereka dengan seseorang," ujar dokter itu akhirnya. "Kalau kita selalu tahu kapan sebuah akhir akan datang, mungkin hidup akan terasa jauh lebih mudah."

Seonghyeon tidak menjawab. Ia hanya terus memandangi Keonho yang tertidur di balik kaca, sementara untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, ia mulai bertanya-tanya berapa lama lagi tubuh itu sanggup bertahan berperang melawan dirinya sendiri.


Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya membuka suara.

"Mereka bilang fungsi organnya mulai nurun."

Martin mengernyit.

"Nurun gimana?"

"Mereka ga tau berapa lama tubuhnya bisa terus bertahan kayak gini."

Keheningan jatuh di antara mereka.

Untuk pertama kalinya sejak ledakan terjadi, tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba berpura-pura optimis.

Martin menatap pintu ICU yang tertutup rapat, lalu kembali memandang Seonghyeon. Wajah sahabatnya tampak jauh lebih kurus dibanding beberapa minggu sebelumnya. Lingkaran hitam mulai terbentuk jelas di bawah matanya. Ia terlihat seperti seseorang yang perlahan kehilangan dirinya sendiri.

"Seonghyeon."

Ia tidak menjawab.

"Lu harus mulai nyiapin diri."

Keheningan menyusul setelahnya.

Bukan keheningan yang nyaman, melainkan jenis keheningan yang perlahan mengendap di dada dan membuat udara terasa lebih berat untuk dihirup. Seonghyeon mengangkat kepala, dan untuk sesaat pandangan mereka bertaut di bawah cahaya pucat koridor rumah sakit.

Martin segera menyadari kesalahannya.

Bukan karena kalimat itu tidak benar.

Justru karena kalimat itu terlalu benar.

Di mata Seonghyeon, ia melihat sesuatu yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan kesedihan. Sorot itu mengingatkannya pada seseorang yang telah berdiri terlalu lama di ambang kehilangan hingga akhirnya kelelahan untuk menyangkal kenyataan. Tidak ada amarah di sana. Tidak ada penolakan. Hanya kesadaran yang perlahan tumbuh, dingin dan tak terhindarkan.

Kesadaran bahwa terkadang yang paling menakutkan bukanlah kematian itu sendiri, melainkan kehidupan yang terus berlanjut setelahnya.

Bahwa suatu hari nanti koridor ini akan kosong.

Mesin-mesin itu akan berhenti berbunyi.

Orang-orang akan pulang ke rumah mereka masing-masing.

Dan Seonghyeon akan tetap ada.

Sendirian.

Seonghyeon tidak segera menjawab. Ia hanya memandangi Martin selama beberapa saat, seolah sedang mempertimbangkan apakah kalimat yang baru saja didengarnya sungguh diucapkan atau hanya lahir dari pikirannya yang kelelahan. Dalam beberapa minggu terakhir, hidupnya menyusut menjadi serangkaian rutinitas yang berulang tanpa variasi: datang ke rumah sakit sebelum jam kunjungan dimulai, menunggu hasil pemeriksaan dokter, duduk berjam-jam di koridor, lalu pulang hanya untuk kembali melakukan hal yang sama keesokan harinya. Di tengah rutinitas itu, ia sengaja menolak memikirkan kemungkinan terburuk. Bukan karena kemungkinan tersebut tidak ada, melainkan karena ia tahu dirinya tidak akan mampu menanggung beban kenyataan jika membiarkan pikiran itu tumbuh lebih jauh.

"Gue udah nyiapin diri," katanya akhirnya.

Jawaban itu terdengar tenang, bahkan terlalu tenang. Martin mengenalnya cukup lama untuk mengetahui bahwa ketenangan semacam itu bukanlah penerimaan, melainkan pertahanan terakhir seseorang yang berusaha mati-matian menjaga dirinya tetap utuh. Mereka sama-sama memahami bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar siap kehilangan orang yang dicintainya. Yang bisa dilakukan hanyalah berpura-pura siap sampai kenyataan datang dan menghancurkan ilusi tersebut dengan tangannya sendiri.

"Seonghyeon..."

"Gue serius."

Ia mengalihkan pandangan ke arah jendela besar yang memperlihatkan ruang ICU. Dari tempat mereka berdiri, Keonho hanya tampak sebagai siluet samar yang dikelilingi cahaya monitor dan bayangan peralatan medis. Sulit dipercaya bahwa satu ruangan mampu menampung begitu banyak ketakutan. Lebih sulit lagi menerima kenyataan bahwa keberadaan seseorang dapat mengambil porsi yang begitu besar dalam hidupnya hingga kemungkinan kehilangannya terasa seperti ancaman terhadap seluruh dunia yang selama ini ia kenal.

"Gue tau kondisinya buruk," lanjutnya setelah beberapa saat. "Gue tau tiap kali dokter bilang mereka masih berusaha, itu berarti mereka sendiri ga berani beri kepastian. Gue juga tau semua orang mulai milih kata-kata mereka tiap kali ngomong sama gue. Jadi percayalah, gue lagi ga nyangkal apa pun."

Martin tidak membantah. Ia hanya diam, sementara Seonghyeon menundukkan pandangan ke arah jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan. Wajahnya tampak jauh lebih kurus dibanding beberapa minggu sebelumnya, dan lingkaran gelap di bawah matanya menjadi bukti bahwa istirahat telah lama kehilangan tempat dalam hidupnya.

"Masalahnya bukan karena gue takut dia pergi," ujarnya pelan. "Masalahnya gue ga tau gimana cara ngelanjytin hidup abis itu."

Kalimat tersebut diucapkan dengan begitu sederhana hingga justru terdengar menyakitkan. Untuk pertama kalinya malam itu, Martin melihat keretakan pada keteguhan yang selama ini dipertahankan Seonghyeon di hadapan semua orang.

"Bukannya itu kedengeran egois?" lanjutnya dengan senyum tipis yang gagal menyembunyikan kelelahan di wajahnya. "Gue duduk di sini setiap hari berharap dia selamat, tapi tiap kali ngebayangin kemungkinan terburuk, yang muncul di kepalaku bukan dia. Yang muncul justru diri gue sendiri. Gue ga pernah bisa ngebayangin kayak apa hidup gue kalau Keonho bener-bener gaada."

Keheningan yang menyusul terasa berat. Dari ujung koridor terdengar suara roda troli yang didorong seorang perawat, lalu perlahan menghilang di balik tikungan. Seonghyeon memejamkan mata sejenak sebelum kembali menatap jendela ICU.

"Dia ada di mana-mana," katanya lirih. "Setiap sudut kampus ngingetin gue sama dia. Kafe yang tiap hari kita datengin setelah kelas. Koridor buat ke perpustakaan. Bahkan vending machine yang terus-terusan dia maki karena ga pernah balikin uang recehnya."

Senyum kecil sempat singgah di wajahnya ketika kenangan itu muncul, tetapi menghilang hampir secepat kedatangannya.

"Gue terus mikir masih ada waktu. Waktu buat ceritain hal-hal yang kelewat. Waktu buat berantem soal hal-hal sepele. Waktu untuk ngeluh tentang tugas atau dosen yang menyebalkan. Gue nunda banyak hal karena gue pikir dia bakal tetep ada besok, minggu depan, atau bulan depan." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang jauh lebih pelan. "Tapi gimana kalo ternyata ga ada waktu lagi?"

Martin tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu. Mungkin karena memang tidak ada jawaban yang dapat mengurangi rasa takut semacam itu. Mereka berdua hanya duduk dalam diam, memandangi monitor di balik kaca yang terus berkedip dalam ritme stabil, seolah kehidupan Keonho kini telah direduksi menjadi sekumpulan angka dan garis yang bergerak di layar.

Setelah beberapa saat, Seonghyeon bangkit dari kursinya dan merapikan lengan jaketnya yang kusut. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Tidak ada yang tersisa untuk dibicarakan. Dengan langkah lambat ia berjalan menuju kaca ruang ICU, ia kembali melihat sosok Keonho yang terbaring diam di atas ranjang rumah sakit. Pemandangan itu seharusnya sudah menjadi sesuatu yang biasa setelah berminggu-minggu, tetapi entah mengapa malam itu terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, ia mulai memahami bahwa harapan dan ketakutan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya tumbuh berdampingan, saling menguatkan, saling melukai. Dan semakin besar harapannya agar Keonho tetap hidup, semakin mengerikan pula kemungkinan bahwa harapan tersebut suatu hari nanti akan direnggut darinya.


Hari-hari berikutnya berlalu tanpa perubahan berarti.

Pada awalnya, Seonghyeon masih menghitungnya. Hari pertama setelah operasi. Hari ketujuh. Hari kesepuluh. Hari kelima belas. Namun lambat laun, angka-angka itu kehilangan maknanya. Setiap pagi tampak serupa dengan pagi sebelumnya, dan setiap malam berakhir dengan cara yang sama: ia pulang dalam keadaan lelah, tidur beberapa jam tanpa benar-benar beristirahat, lalu kembali ke rumah sakit sebelum matahari sepenuhnya terbit.

Kondisi Keonho tidak membaik.

Tetapi juga tidak memburuk.

Setidaknya itulah yang selalu dikatakan para dokter.

Kalimat tersebut seharusnya terdengar melegakan. Anehnya, semakin sering mendengarnya, semakin besar rasa takut yang tumbuh dalam diri Seonghyeon. Karena ia mulai menyadari bahwa tidak semua bentuk kehilangan datang secara tiba-tiba. Beberapa di antaranya datang perlahan, menggerogoti harapan sedikit demi sedikit sampai seseorang bahkan tidak menyadari kapan tepatnya ia mulai kehabisan harapan.

Sore itu, hujan turun sejak siang dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Butiran air menabrak kaca jendela rumah sakit tanpa henti, menciptakan suara monoton yang memenuhi koridor. Martin sedang menghadiri kuliah yang tidak bisa lagi ditinggalkannya, sementara keluarga Keonho pulang lebih awal untuk beristirahat. Untuk kedua kalinya, Seonghyeon mendapati dirinya sendirian.

Ia berdiri di depan jendela observasi dengan segelas kopi yang telah lama kehilangan panasnya. Di balik kaca, Keonho masih terbaring dalam posisi yang sama. Kadang-kadang Seonghyeon bertanya-tanya apakah sahabatnya itu menyadari berlalunya waktu. Apakah di dalam ketidaksadarannya, hari-hari terasa sepanjang yang dirasakan orang-orang yang menunggunya.

"Aku ketemu dosen Kim tadi."

Seonghyeon tetap memandang ke arah ruang ICU saat mengucapkannya. Hujan turun sejak sore dan belum juga mereda, membentuk garis-garis tipis di permukaan kaca yang memisahkan dirinya dari Keonho. Dari tempatnya berdiri, ia hanya dapat melihat sebagian sisi ranjang dan kilatan cahaya monitor yang terus berkedip dalam ritme stabil. Pemandangan itu seharusnya sudah menjadi sesuatu yang biasa setelah sekian lama, tetapi entah mengapa ia masih belum terbiasa.

"Dosen itu bener-bener ga punya belas kasihan," lanjutnya sambil tersenyum kecil. "Aku pikir setelah semua yang terjadi, setidaknya dia bakal ngurangin tugas. Ternyata ga. Dia malah ngasih dua sekaligus."

Ia menggeleng pelan, seolah masih tidak percaya. Biasanya bagian seperti ini akan memancing komentar sinis dari Keonho. Mungkin sebuah keluhan panjang. Mungkin ejekan karena Seonghyeon selalu mengerjakan tugas di menit-menit terakhir. Apa pun itu, setidaknya akan ada jawaban. Sekarang yang tersisa hanyalah suara hujan dan dengungan pendingin ruangan yang memenuhi koridor.

"Martin juga masih sama. Dia terus nyuruh aku pulang, seolah-olah aku bakal ngedengerin dia." Sudut bibirnya kembali terangkat, meskipun senyum itu tidak bertahan lama. "Kurasa dia mulai kesal karena aku ga pernah ngikutin sarannya. Tapi dia tetap datang. Tetap bawain kopi. Tetap berpura-pura ga khawatir."

Seonghyeon menundukkan pandangan sejenak sebelum kembali menatap sosok yang terbaring diam di balik kaca. Ada masa ketika ia mengira menunggu adalah hal yang sederhana. Seseorang hanya perlu bersabar sampai orang yang ditunggu akhirnya datang. Namun rumah sakit mengajarinya bahwa menunggu memiliki bentuk yang jauh lebih kejam. Menunggu berarti hidup dalam ketidakpastian yang sama setiap hari. Menunggu berarti terus berharap tanpa pernah mengetahui apakah harapan itu akan berakhir dengan kelegaan atau kehancuran.

"Aku mulai lupa rasanya ngejalanin hari yang normal," ujarnya pelan. "Kadang-kadang aku bangun dan butuh beberapa detik untuk nginget kenapa aku merasa capek banget. Lalu aku ingat kalo kamu masih di sini, dan rasanya kayak ngulang hari yang sama dari awal."

Ia berhenti sejenak. Pandangannya tidak pernah benar-benar meninggalkan Keonho.

"Aneh, ya? Dulu aku selalu ngerasa waktu berjalan terlalu cepat. Sekarang justru sebaliknya. Setiap jam terasa lebih panjang daripada seharusnya. Setiap hari terasa seperti seminggu."

Hujan di luar semakin deras. Beberapa orang berlalu di koridor tanpa benar-benar menarik perhatiannya. Selama beberapa minggu terakhir, dunia di luar rumah sakit perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh dan kabur. Kampus masih ada. Perkuliahan masih berlangsung. Orang-orang masih menjalani hidup mereka seperti biasa. Hanya dirinya yang seolah tertinggal di tempat yang sama.

"Aku terus mikir tentang semua hal yang belum sempet kita lakukan." Suaranya terdengar lebih lirih kali ini. "Tentang makan siang yang ga jadi. Tentang tugas yang terus kamu tunda. Tentang hal-hal bodoh yang saat itu terasa ga penting."

Ia tertawa pelan, tetapi tidak ada kegembiraan dalam suara tersebut.

"Lucu banget. Ternyata yang paling sering keinget justru hal-hal kayak gitu."

Untuk beberapa saat, ia membiarkan keheningan mengisi ruang di antara kata-katanya. Dahulu ia mungkin akan merasa canggung berbicara sendirian seperti ini. Kini keheningan itu terasa jauh lebih akrab daripada apa pun.

"Aku ga tau kamu bisa denger aku atau ga," katanya akhirnya. "Mungkin ga. Mungkin semua ini cuma percuma. Tapi kurasa aku bakal tetap ngelakuin ini."

Ia mengembuskan napas perlahan dan menyandarkan bahunya pada dinding.

"Karena selama aku masih bisa berdiri di sini dan nyeritain hal-hal yang ga penting ke kamu, aku bisa pura-pura bahwa semua ini belum berakhir. Bahwa suatu saat nanti kamu bakal buka mata, motong omonganku di tengah jalan, lalu ngeluh karena aku terlalu banyak bicara."

Senyum tipis kembali muncul di wajahnya, kali ini lebih rapuh daripada sebelumnya.

"Aku rasa aku ga pernah nyadar betapa seringnya kamu ngelakuin itu sampe kamu berhenti ngelakuinnya."

Tatapannya bertahan beberapa saat pada sosok yang tidak bergerak di balik kaca. Lalu, untuk pertama kalinya sejak mulai berbicara, ia menundukkan kepala.

"Jadi cepatlah bangun, kecilku Ahn Keonho."

Kalimat itu keluar begitu pelan hingga nyaris tenggelam oleh suara hujan.

"Aku mulai kehabisan cara buat pura-pura kalo semuanya akan baik-baik aja."


Sudah sebulan Keonho berada di ICU.

Dokter meminta keluarga untuk berkumpul di koridor termasuk Seonghyeon dan Martin. Pertemuan itu berlangsung pada sore yang muram. Seonghyeon datang tanpa firasat apa pun. Selama berminggu-minggu terakhir, ia dan keluarga Keonho sudah terlalu sering dipanggil untuk mendengarkan penjelasan dokter mengenai kondisi pasien yang tidak banyak berubah. Pada titik tertentu, laporan-laporan medis mulai terdengar serupa satu sama lain: penuh istilah yang sulit dipahami, angka-angka yang tidak pernah benar-benar memberikan kepastian, dan harapan yang selalu diucapkan dengan kehati-hatian yang nyaris menyakitkan. Karena itu, ketika seorang perawat memintanya masuk ke ruang konsultasi sore itu, ia tidak mengira bahwa percakapan tersebut akan menjadi salah satu percakapan terberat yang pernah ia dengar.

Ibunda Keonho telah duduk lebih dahulu di sana. Wajahnya tampak lebih pucat daripada biasanya, sementara kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan seolah sedang berusaha menahan sesuatu agar tidak runtuh. Martin berdiri di dekat pintu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tidak seorang pun berbicara. Bahkan sebelum dokter membuka berkas pasien di hadapannya, suasana di dalam ruangan telah dipenuhi oleh ketegangan yang tidak memerlukan kata-kata untuk dipahami.

Dokter itu memulai penjelasannya dengan suara tenang, seperti seseorang yang telah berkali-kali menyampaikan kabar serupa kepada keluarga pasien lain. Ia menjelaskan bahwa tim medis telah melakukan segala upaya yang memungkinkan untuk mempertahankan kondisi Keonho.

Operasi-operasi yang diperlukan telah dilakukan. Terapi penunjang terus diberikan. Berbagai tindakan medis yang tersedia telah dicoba. Namun tubuh manusia memiliki batas yang bahkan ilmu kedokteran tidak selalu mampu lawan. Beberapa organ vital Keonho menunjukkan penurunan fungsi yang semakin mengkhawatirkan dari hari ke hari, dan meskipun mesin-mesin di ruang ICU masih mampu membantu mempertahankan hidupnya, tidak ada perkembangan yang cukup signifikan untuk menunjukkan bahwa tubuhnya sedang bergerak menuju pemulihan.

Seonghyeon mendengarkan tanpa menyela. Pandangannya tertuju pada dokter yang berbicara di hadapannya, tetapi pikirannya terasa jauh. Ada bagian dari dirinya yang memahami setiap kata yang diucapkan. Ada pula bagian lain yang menolak menerimanya. Selama ini ia selalu tahu bahwa kondisi Keonho buruk.

Ia tidak pernah benar-benar hidup dalam penyangkalan. Ia melihat sendiri selang-selang yang memenuhi tubuh sahabatnya. Ia mendengar sendiri bagaimana para dokter memilih kata-kata mereka dengan sangat hati-hati setiap kali memberikan laporan. Namun mengetahui bahwa seseorang sedang sekarat dan mendengar seseorang mengatakannya secara langsung ternyata merupakan dua hal yang sama sekali berbeda.

Ketika dokter itu akhirnya berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimat berikutnya, keheningan yang muncul terasa jauh lebih menyesakkan daripada seluruh penjelasan sebelumnya.

"Secara medis," ujarnya perlahan, "kemungkinan pemulihan Keonho saat ini sangat kecil."

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada dramatis. Tidak ada penekanan khusus. Tidak ada belas kasihan yang berlebihan. Justru karena disampaikan dengan begitu tenang, kalimat tersebut terasa semakin berat. Seonghyeon mendengar suara ibunda Keonho menarik napas tajam di sampingnya. Ia melihat perempuan itu menundukkan kepala, sementara jemarinya mencengkeram satu sama lain semakin erat. Martin memalingkan pandangan ke arah jendela. Tidak seorang pun berbicara.

Dokter itu kembali membuka berkas di hadapannya sebelum melanjutkan bahwa pada titik tertentu, keluarga perlu mulai mempertimbangkan semua kemungkinan yang ada, termasuk kemungkinan bahwa terapi penunjang yang selama ini mempertahankan hidup Keonho tidak akan mampu melakukannya selamanya.

Penjelasan itu disampaikan dengan hati-hati, dibungkus oleh istilah medis dan pertimbangan profesional yang masuk akal. Namun bagi Seonghyeon, seluruh kalimat tersebut hanya memiliki satu arti.

Mereka sedang diminta bersiap untuk kehilangan Keonho.

Ia tidak menyadari kapan tepatnya kedua tangannya mengepal. Yang ia sadari hanyalah rasa sesak yang perlahan memenuhi dadanya, membuat udara terasa lebih berat daripada sebelumnya. Selama berminggu-minggu ia hidup dari satu harapan sederhana: bahwa suatu hari Keonho akan membuka mata.

Harapan itu mungkin kecil. Mungkin tidak realistis. Namun harapan tersebut telah menjadi satu-satunya alasan yang membuatnya mampu kembali ke rumah sakit setiap hari. Dan kini, untuk pertama kalinya, seseorang duduk di hadapannya dan secara tidak langsung mengatakan bahwa harapan itu mungkin tidak cukup.

"Jadi apa yang harus kami lakukan?" tanyanya akhirnya.

Suaranya terdengar lebih pelan daripada yang ia bayangkan.

Dokter itu terdiam sesaat sebelum menjawab.

"Kami tidak bisa membuat keputusan untuk keluarga."

Kalimat tersebut seharusnya terdengar bijaksana.

Entah mengapa, yang dirasakan Seonghyeon hanyalah kemarahan.

Karena untuk pertama kalinya sejak ledakan terjadi, ia menyadari bahwa seluruh perjuangan ini mungkin tidak lagi bergantung pada kondisi Keonho. Mungkin bukan tubuh Keonho yang akan menentukan bagaimana semuanya berakhir. Mungkin yang akan menentukan adalah orang-orang yang duduk di ruangan ini, dipaksa memilih di antara harapan yang semakin menipis dan kenyataan yang semakin sulit ditolak.

Dan tidak ada satu pun pilihan yang terasa benar.

Keheningan yang menyusul terasa begitu berat. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Dokter telah menyampaikan seluruh fakta yang dapat ia sampaikan, dan fakta-fakta tersebut kini tergeletak di tengah ruangan seperti sesuatu yang tidak seorang pun ingin sentuh terlebih dahulu.

Seonghyeon menatap berkas yang terbuka di atas meja tanpa benar-benar melihatnya. Di dalam lembaran-lembaran itu terdapat angka, hasil pemeriksaan, dan istilah medis yang selama berminggu-minggu terakhir menentukan hidup Keonho. Anehnya, setelah sekian lama berada di rumah sakit, ia masih tidak terbiasa pada kenyataan bahwa kehidupan seseorang dapat diringkas menjadi grafik, parameter laboratorium, dan laporan perkembangan yang semakin hari semakin suram.

Ibunda Keonho adalah orang pertama yang memecah keheningan itu. Ketika akhirnya berbicara, suaranya terdengar begitu pelan hingga nyaris tenggelam oleh suara hujan yang membasuh kaca jendela.

"Kalau dia lelah bagaimana?"

Pertanyaan itu sederhana. Tidak ada istilah medis. Tidak ada kalimat rumit. Namun justru karena kesederhanaannya, ruangan itu mendadak terasa semakin sesak.

Perempuan itu tidak mengangkat kepala ketika melanjutkan.

"Kalau selama ini dia bertahan karena kami memaksanya bertahan bagaimana?"

Untuk beberapa saat, tidak ada yang menjawab. Dokter itu tampak mempertimbangkan kata-katanya dengan hati-hati, tetapi Seonghyeon sudah lebih dahulu memahami bahwa apa pun jawaban yang diberikan tidak akan pernah cukup. Karena pertanyaan tersebut tidak benar-benar ditujukan kepada tim medis. Pertanyaan itu lahir dari seorang ibu yang telah menghabiskan berminggu-minggu menyaksikan putranya terbaring di antara mesin-mesin rumah sakit tanpa mampu melakukan apa pun selain menunggu. Pertanyaan itu lahir dari kelelahan, dari rasa bersalah, dan dari harapan yang perlahan mulai terkikis oleh waktu.

"Dalam kondisi seperti ini kami tidak dapat mengetahui apa yang dirasakan pasien secara pasti," jawab dokter itu pada akhirnya. "Tetapi keputusan semacam ini memang sering kali menjadi pertimbangan keluarga ketika prognosis pasien tidak menunjukkan perbaikan."

Kalimat itu terdengar profesional. Masuk akal. Bahkan mungkin benar.

Namun sesuatu dalam diri Seonghyeon langsung memberontak terhadapnya.

Ia menoleh ke arah ibunda Keonho dan mendadak merasa takut. Bukan takut kepada dokter. Bukan takut kepada kondisi Keonho yang memburuk. Melainkan takut kepada kemungkinan bahwa orang-orang mulai menerima sesuatu yang selama ini ia tolak mentah-mentah.

Selama berminggu-minggu, ia hidup dengan keyakinan sederhana bahwa selama Keonho masih bernapas, selama monitor itu masih menunjukkan denyut jantung, selama para dokter belum menyatakan semuanya berakhir, maka masih ada harapan yang layak dipertahankan. Mungkin keyakinan itu naif. Mungkin tidak realistis. Namun keyakinan itulah yang membuatnya mampu datang ke rumah sakit setiap hari dan berdiri di depan kaca ICU tanpa hancur.

"Kita belum sampai di titik itu."

Suara Seonghyeon terdengar lebih tegas daripada yang ia rasakan.

Semua mata beralih kepadanya.

Ia menelan ludah sebelum melanjutkan.

"Kita belum tahu apa yang akan terjadi besok. Kita belum tahu bagaimana kondisinya minggu depan. Kita bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa jam dari sekarang."

Tidak ada yang menyela.

Tidak ada yang mengangguk.

Dan justru karena itu, ia merasa semakin terdesak.

"Selama dia masih hidup, berarti masih ada kemungkinan."

Ia mendengar bagaimana kalimat tersebut terdengar ketika keluar dari mulutnya. Terlalu cepat. Terlalu putus asa. Namun ia tidak peduli. Karena untuk pertama kalinya sejak ledakan itu terjadi, ia merasa sedang mempertahankan sesuatu yang perlahan mulai dilepaskan oleh semua orang di sekitarnya.

Dokter itu tidak membantah. Martin tidak berkata apa-apa. Bahkan ibunda Keonho hanya menatapnya dengan sorot mata yang membuat dada Seonghyeon terasa semakin sesak. Ada kelelahan yang begitu dalam di sana, jenis kelelahan yang tidak dapat disembuhkan oleh tidur atau waktu. Kelelahan seseorang yang telah berharap terlalu lama dan mulai takut bahwa harapan itu hanya akan memperpanjang penderitaan.

Dan pada saat itulah Seonghyeon menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada penjelasan dokter mana pun.

Selama ini ia mengira dirinya sedang berjuang bersama mereka.

Padahal tanpa ia sadari, satu per satu orang di sekelilingnya mulai berdiri di tempat yang berbeda.

Bukan karena mereka tidak mencintai Keonho.

Justru karena mereka mencintainya.

Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan itu, Seonghyeon merasakan ketakutan yang tidak ada hubungannya dengan kematian. Ia takut pada kemungkinan bahwa suatu hari nanti Keonho masih akan terbaring di ruang ICU yang sama, sementara dirinya menjadi satu-satunya orang yang masih menolak melepaskan harapan yang tersisa.


Mereka keluar dari ruang konsultasi tanpa banyak bicara. Ibunda Keonho berpamitan lebih dulu dan menghilang di balik pintu lift, meninggalkan Seonghyeon dan Martin di koridor yang perlahan semakin sepi menjelang malam. Seonghyeon berdiri dengan kedua tangan di dalam saku jaket, menatap ke luar tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya masih tertinggal di ruangan tadi, bersama kata-kata dokter yang terus berputar tanpa henti di kepalanya. Kemungkinan pemulihan sangat kecil. Pertimbangkan semua kemungkinan. Persiapkan diri. Kalimat-kalimat itu terasa seperti sesuatu yang terus menghantam bagian yang sama berulang kali hingga perlahan mulai meninggalkan retakan.

Martin membiarkannya diam selama beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara. Ia bertanya apakah Seonghyeon sudah makan, dan seperti yang sudah diduga, jawaban yang diterimanya tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Seonghyeon mengaku tidak lapar. Martin tidak percaya. Tidak ada seorang pun yang akan percaya.

Namun yang membuatnya semakin frustrasi adalah kenyataan bahwa mereka telah mengulang percakapan yang sama begitu sering hingga bahkan kekhawatiran pun mulai terdengar seperti rutinitas.

"Lu tahu ga sih, gue udah capek dengar jawaban itu?" katanya sambil menyandarkan tubuh ke dinding. "Tiap hari gue nanya hal yang sama dan tiap hari juga Lu kasih jawaban yang sama. Lu bahkan ga berusaha bikin kebohongan yang lebih meyakinkan."

Biasanya Seonghyeon akan membalas dengan sindiran atau komentar sarkastik. Kali ini ia hanya tersenyum tipis tanpa humor lalu menggeleng pelan. Sikap itulah yang justru membuat Martin semakin gelisah. Selama beberapa minggu terakhir ia menyaksikan perubahan itu terjadi sedikit demi sedikit. Seonghyeon masih datang ke rumah sakit. Masih berbicara kepada Keonho. Masih berjalan, makan, dan bernapas seperti biasa. Namun ada sesuatu yang perlahan menghilang darinya, sesuatu yang sulit dijelaskan tetapi mustahil untuk diabaikan. Seolah sebagian dirinya ikut tertinggal di ruang ICU dan tidak pernah benar-benar kembali.

"Lu ga bisa terus kayak gini," ujarnya akhirnya.

Seonghyeon tertawa kecil. "Kayak gimana?"

Martin menatapnya beberapa saat sebelum menjawab. Ia ingin memilih kata-katanya dengan hati-hati, tetapi kelelahan membuatnya kehilangan kesabaran. "Kayak hidup lu berhenti."

Jawaban itu langsung membuat senyum di wajah Seonghyeon menghilang. Untuk pertama kalinya sejak mereka keluar dari ruang konsultasi, ia benar-benar menoleh. Tatapannya tajam, bukan karena marah, melainkan karena terluka. "Hidup gue ga berhenti."

"Oh ya?" Martin mendengus. "Lu hampir ga pernah masuk kelas. Lu tidur berapa jam sehari? Tiga? Empat? Lu makan kalau ada yang maksa. Lu pulang cuma buat mandi terus balik lagi ke sini. Kalau itu bukan hidup yang berhenti, gue ga tau harus nyebutnya apa."

Hujan terus mengetuk kaca di belakang mereka. Di ujung koridor, beberapa perawat berlalu-lalang tanpa memperhatikan percakapan yang mulai memanas itu. Seonghyeon memalingkan wajah sejenak, mengatupkan rahang begitu erat hingga otot di sekitar pipinya tampak menegang. Ia tahu Martin tidak sepenuhnya salah. Masalahnya, ia tidak peduli. Tidak ada satu pun hal yang disebutkan Martin yang terasa penting ketika dibandingkan dengan kemungkinan kehilangan Keonho.

"Terus menurut lu gue harus ngapain?" tanyanya pelan. "Pulang? Tidur delapan jam sehari? Datang kuliah kayak biasa? Nongkrong sama teman-teman seolah ga ada apa-apa yang terjadi?"

"Gue ga pernah bilang gitu."

"Tapi itu yang semua orang mau."

Suara Seonghyeon mulai berubah. Bukan lebih keras, melainkan lebih rapuh. "Dokter minta gue siap-siap. Keluarganya mulai siap-siap. Sekarang lu juga. Semua orang terus ngomong soal nerima kenyataan, padahal orang yang kalian omongin masih hidup."

Martin memejamkan mata sesaat. Inilah bagian yang selama ini ia hindari. Karena jauh di dalam dirinya, ia memahami ketakutan Seonghyeon. Ia juga takut. Ia juga masih berharap Keonho membuka mata suatu hari nanti. Namun harapan yang sama tidak bisa dijadikan alasan untuk menghancurkan diri sendiri.

"Ga ada yang nyuruh lu berhenti berharap."

"Jangan bohong."

"Gue—"

"Jangan bohong, Martin."

Kali ini Seonghyeon memotongnya. Suaranya tidak tinggi, tetapi cukup tajam untuk membuat Martin terdiam. "Lu tahu kenapa gue masih datang ke sini tiap hari? Karena kalau gue berhenti percaya dia bakal bangun, gue ga punya apa-apa lagi."

Kalimat itu jatuh begitu saja di antara mereka.

Tidak ada kemarahan di dalamnya.

Tidak ada tuntutan.

Hanya kejujuran yang terlalu lama disimpan sendiri.

Martin menatap sahabatnya cukup lama sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak melihat seseorang yang keras kepala atau terlalu optimistis. Yang ia lihat hanyalah seseorang yang kelelahan mempertahankan harapan karena harapan tersebut adalah satu-satunya hal yang tersisa untuk dipertahankan.

"Dan kalau ternyata dia ga bangun?" tanyanya akhirnya.

Pertanyaan itu nyaris terdengar seperti bisikan.

Namun dampaknya terasa seperti pukulan.

Seonghyeon langsung terdiam.

Pandangan mereka bertemu.

Lalu untuk sesaat, Martin menyesali kalimatnya.

Karena di mata Seonghyeon, ia melihat sesuatu yang selama ini berusaha disembunyikan dengan begitu keras. Bukan penolakan. Bukan kemarahan. Melainkan ketakutan yang begitu besar hingga bahkan dirinya sendiri tidak sanggup menatapnya terlalu lama.

Ketakutan terhadap dunia yang akan tetap bergerak ketika Keonho tidak lagi ada di dalamnya. Ketakutan terhadap hari-hari yang harus dijalani tanpa seseorang yang selama ini menjadi bagian dari hampir setiap kenangannya. Ketakutan terhadap kehidupan yang terus berjalan ketika ia belum siap ditinggalkan.


Ponselnya masih berada di tangan ketika ia meninggalkan area rumah sakit. Layar yang belum sempat padam menampilkan pesan terakhir dari Martin, sebuah kalimat pendek yang begitu biasa hingga nyaris terasa konyol setelah percakapan mereka beberapa menit sebelumnya.

Jangan lupa makan.

Seonghyeon menatapnya sejenak sebelum menggeleng pelan dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Ada sesuatu yang ironis dari kenyataan bahwa setelah semua yang mereka katakan satu sama lain, setelah kemarahan, frustrasi, dan kata-kata yang mungkin akan mereka sesali nanti, Martin tetap mengirim pesan seperti itu. Tidak ada pembahasan mengenai pertengkaran mereka. Tidak ada upaya menjelaskan diri. Hanya sebuah pengingat sederhana yang terdengar sangat khas dirinya. Untuk pertama kalinya malam itu, Seonghyeon merasa sedikit bersalah. Mungkin Martin benar. Mungkin ia sendiri sudah terlalu lama hidup di antara dinding rumah sakit hingga lupa bagaimana caranya memikirkan hal lain. Pikiran itu sempat membuatnya mempertimbangkan untuk membalas lagi. Mungkin besok. Mereka bisa bicara lagi besok. Tidak ada alasan untuk terburu-buru.

Iya, makasih.

Persimpangan di depan rumah sakit masih ramai meskipun malam telah larut. Lampu lalu lintas berganti warna, kendaraan bergerak dan berhenti dalam pola yang teratur, sementara para pejalan kaki mulai menyeberang ketika lampu berubah hijau. Seonghyeon ikut melangkah bersama mereka. Kepalanya terasa berat akibat kurang tidur, dan tubuhnya dipenuhi kelelahan yang telah menumpuk selama berminggu-minggu. Bahkan berjalan lurus terasa membutuhkan lebih banyak tenaga daripada yang seharusnya. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pikirannya tidak sepenuhnya dipenuhi oleh rumah sakit. Ia memikirkan Martin. Ia memikirkan percakapan mereka. Ia memikirkan kemungkinan bahwa besok pagi ia akan datang lebih awal, membeli dua gelas kopi, lalu berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa.

Ia tidak pernah sampai pada hari esok itu.

Awalnya hanya suara klakson yang terdengar dari kejauhan. Panjang. Kasar. Mendesak. Suara yang begitu umum di tengah lalu lintas kota hingga otaknya membutuhkan beberapa detik untuk mengenali bahwa ada sesuatu yang salah. Ketika akhirnya ia menoleh, yang dilihatnya hanyalah cahaya.

Terlalu terang.

Terlalu dekat.

Lampu depan kendaraan itu membelah gelap malam dan memenuhi seluruh pandangannya dalam satu kedipan. Seonghyeon tidak sempat berpikir. Tidak sempat bergerak. Tidak sempat memahami apa yang sedang terjadi. Ada sepersekian detik yang terasa aneh, seolah waktu melambat cukup lama untuk membuatnya menyadari bahwa dirinya tidak akan mampu menghindar.

Lalu benturan itu datang.

Bukan rasa sakit yang pertama kali ia rasakan, melainkan hilangnya seluruh udara dari paru-parunya. Dunia seperti terlipat menjadi kekacauan cahaya, suara, dan tekanan yang menghantam tubuhnya dari segala arah. Sesuatu membantingnya dengan kekuatan yang mustahil dilawan, lalu tanah menyambutnya beberapa saat kemudian dengan keras dan dingin. Setelah itu segalanya kehilangan bentuk.

Suara-suara mulai bermunculan di sekelilingnya. Orang-orang berteriak. Seseorang memanggil ambulans. Seseorang berlari. Namun semua itu terdengar sangat jauh, seolah ia sedang mendengarkannya dari dasar air yang gelap. Ia mencoba membuka mata, tetapi dunia hanya muncul sebagai kumpulan warna yang kabur. Lampu jalan berubah menjadi lingkaran-lingkaran cahaya yang pecah. Wajah-wajah asing membungkuk di atasnya, bergerak cepat dan panik, tetapi tidak ada satu pun yang dapat ia kenali.

Anehnya, di tengah semua kekacauan itu, pikirannya tidak tertuju pada dirinya sendiri.

Seonghyeon tidak memikirkan dirinya sendiri. Ia tidak memikirkan kendaraan yang baru saja menghantam tubuhnya, tidak memikirkan rasa sakit yang perlahan mulai merambat ke seluruh kesadarannya, bahkan tidak memikirkan kemungkinan bahwa sesuatu yang jauh lebih buruk mungkin sedang terjadi.

Di antara suara-suara yang saling bertabrakan, langkah kaki yang berlarian mendekat, dan cahaya lampu yang pecah menjadi bentuk-bentuk kabur di hadapan matanya, pikirannya justru kembali kepada satu tempat yang selama berminggu-minggu terakhir menjadi pusat seluruh hidupnya. Kembali kepada koridor rumah sakit yang dingin, kepada dinding kaca ruang ICU, kepada sosok yang masih terbaring diam tanpa pernah mengetahui berapa banyak hari yang telah berlalu sejak ledakan itu terjadi.

Ahn Keonho.

Nama itu melintas begitu saja dalam benaknya, muncul dengan kejernihan yang nyaris menyakitkan di tengah kesadaran yang perlahan terlepas dari genggamannya. Ia teringat bahwa dirinya belum sempat kembali besok pagi. Belum sempat berdiri di depan jendela observasi seperti yang selalu dilakukannya.

Belum sempat mendengar laporan kondisi terbaru dari dokter, atau mengeluh kepada Martin tentang kopi rumah sakit yang rasanya semakin hari semakin buruk. Ia bahkan belum sempat mengirim pesan lain setelah percakapan mereka malam ini berakhir dengan cara yang tidak seharusnya.

Pikiran-pikiran itu seharusnya terasa tidak penting dibandingkan keadaan yang sedang dialaminya. Namun justru hal-hal kecil itulah yang memenuhi kepalanya saat dunia di sekelilingnya mulai menjauh. Bukan ketakutan terhadap kematian, bukan penyesalan besar yang sering dibicarakan orang-orang ketika membayangkan akhir hidup mereka, melainkan kumpulan rencana sederhana yang selama ini selalu ia anggap akan tersedia esok hari.

Permintaan maaf yang bisa disampaikan kapan saja. Percakapan yang bisa dilanjutkan nanti. Kunjungan yang bisa dilakukan besok pagi. Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa banyak hal dalam hidup yang bergantung pada keyakinan bahwa akan selalu ada hari berikutnya.

Seseorang berlutut di sampingnya. Seseorang yang lain terus berbicara dengan suara yang tidak lagi dapat ia pahami. Namun semua itu terasa semakin jauh, semakin kabur, seolah dunia perlahan menarik dirinya menjauh dari segala sesuatu yang selama ini ia kenal. Kesadaran yang tersisa mulai pecah menjadi potongan-potongan ingatan yang datang dan pergi tanpa urutan yang jelas: ruang kuliah yang penuh sesak, suara Martin yang mengomel karena ia lupa mengerjakan tugas kelompok, Keonho yang tertawa terlalu keras di kafetaria, dan sore terakhir sebelum ledakan ketika mereka masih memperdebatkan hal-hal remeh yang kini terasa begitu berharga.

Baru pada saat itulah ketakutan itu datang.

Bukan karena rasa sakit.

Bukan karena darah yang mulai menghangatkan aspal di bawah tubuhnya.

Melainkan karena sebuah kesadaran sederhana yang muncul terlambat beberapa detik untuk dapat diabaikan.

Ia mungkin tidak akan sempat kembali.

Ia mungkin tidak akan sempat melihat Keonho membuka mata.

Dan di antara seluruh kemungkinan yang selama ini menghantuinya, ternyata itulah satu-satunya kemungkinan yang tidak pernah benar-benar ia persiapkan untuk hadapi.

Pikiran tersebut bertahan hanya sesaat sebelum kegelapan perlahan menutup seluruh pandangannya. Suara-suara di sekelilingnya memudar menjadi gema yang tidak lagi memiliki bentuk, cahaya-cahaya kota larut menjadi bayangan yang semakin jauh, dan untuk terakhir kalinya malam itu, nama Ahn Keonho kembali melintas dalam benaknya seperti sesuatu yang berusaha ia genggam sebelum segalanya menghilang.

Lalu tidak ada apa-apa lagi.


Martin menerima telepon itu pada pukul sebelas lewat tiga puluh tujuh menit malam.

Saat itu ia masih berada di kamar indekos miliknya, duduk di depan layar laptop yang sejak lima belas menit lalu tidak benar-benar dibacanya. Hujan yang turun sepanjang sore telah berhenti, menyisakan pantulan lampu jalan di permukaan aspal yang terlihat samar dari balik jendela. Kamar itu menyisakan dengungan pendingin udara dan tumpukan laporan yang belum selesai di atas meja. Karena itulah getaran ponsel di samping tangannya terdengar lebih keras dari biasanya.

Nomor tidak dikenal.

Martin hampir mengabaikannya.

Namun panggilan itu datang lagi beberapa detik kemudian.

"Halo?"

Suara perempuan di seberang memperkenalkan diri sebagai petugas rumah sakit. Setelah itu semuanya berlangsung terlalu cepat sekaligus terlalu lambat. Ia mendengar nama Seonghyeon disebut. Mendengar kata kecelakaan. Mendengar kondisi kritis. Mendengar tindakan darurat. Kalimat-kalimat itu tersusun rapi dan profesional, disampaikan dengan nada yang mungkin sudah berkali-kali digunakan untuk menyampaikan kabar serupa kepada orang lain, tetapi otaknya menolak memprosesnya sebagai sesuatu yang nyata.

Untuk beberapa saat ia hanya duduk diam dengan ponsel masih menempel di telinga, menatap layar laptop yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri, sementara bagian lain dari dirinya berusaha memahami bagaimana seseorang yang beberapa jam lalu masih berdiri di hadapannya kini dapat berada di ruang gawat darurat.

Perjalanan menuju rumah sakit nyaris tidak meninggalkan ingatan yang jelas. Belakangan Martin hanya mampu mengingat potongan-potongan kecil yang muncul terpisah satu sama lain: lampu lalu lintas yang terasa terlalu lama berganti warna, jalanan yang masih basah akibat hujan, suara mesin kendaraan, dan ponsel yang beberapa kali hampir terlepas dari genggamannya.

Di sela semua itu, pikirannya terus kembali kepada percakapan terakhir mereka. Bukan karena percakapan tersebut istimewa, melainkan karena justru terlalu biasa. Mereka bertengkar. Mereka saling menyakiti. Tidak ada yang meminta maaf. Tidak ada yang menyelesaikan apa pun. Seonghyeon pergi dalam keadaan marah, sementara dirinya membiarkan itu terjadi dengan keyakinan sederhana bahwa mereka masih memiliki waktu untuk memperbaikinya nanti.

Ternyata tidak.

Ketika pintu rumah sakit terbuka di hadapannya dan udara dingin dari dalam gedung menyambut langkahnya, perasaan pertama yang muncul bukanlah panik, melainkan sesuatu yang jauh lebih buruk: pengenalan. Koridor itu terasa begitu akrab hingga membuat dadanya sesak. Cahaya lampu yang pucat. Bau antiseptik yang memenuhi udara. Kursi-kursi plastik yang berjajar di sepanjang dinding.

Bahkan suara langkah kaki para tenaga medis yang berlalu-lalang terdengar seperti sesuatu yang pernah ia dengar berkali-kali sebelumnya. Selama beberapa detik ia hanya berdiri diam di tengah lorong, lalu pandangannya jatuh ke ujung koridor dan tubuhnya membeku.

Ruang operasi.

Lampu merah di atas pintu masih menyala.

Dan seketika ia kembali ke malam beberapa bulan lalu.

Malam ketika ledakan itu terjadi.

Malam ketika Keonho dibawa ke rumah sakit dalam kondisi yang nyaris tidak dapat dikenali.

Malam ketika Seonghyeon berdiri tepat di tempat yang sekarang ditempatinya, menunggu di depan pintu yang sama dengan wajah pucat dan mata yang dipenuhi ketakutan. Martin masih mengingat semuanya dengan sangat jelas. Cara Seonghyeon bangkit setiap kali pintu terbuka. Cara ia menghentikan setiap dokter yang lewat hanya untuk menanyakan perkembangan terbaru. Cara ia memandangi lampu operasi selama berjam-jam seolah dengan melakukan itu ia dapat menjaga Keonho tetap hidup. Saat itu Martin mengira tidak ada yang lebih menyakitkan daripada menyaksikan seseorang menunggu nasib orang yang dicintainya diputuskan di balik pintu tertutup.

Ia baru menyadari kesalahannya malam ini.

Karena jauh lebih menyakitkan ketika orang yang selama ini menunggu tiba-tiba bertukar tempat dengan orang yang ditunggunya.

Martin perlahan menurunkan tubuhnya ke kursi di depan ruang operasi. Di sekelilingnya, dunia terus bergerak sebagaimana mestinya. Seorang perawat melintas sambil membawa berkas pasien. Pengeras suara rumah sakit memanggil nama dokter jaga. Lift di ujung lorong terbuka dan tertutup kembali. Tidak ada satu pun yang berbeda, seolah hidup tidak menyadari bahwa sesuatu sedang runtuh di dalam dirinya. Dengan gerakan yang nyaris otomatis, ia mengeluarkan ponselnya dan membuka percakapan terakhir mereka.

Pesan terakhir Seonghyeon masih berada di sana.

Iya, makasih.

Hanya dua kata.

Tidak ada yang istimewa.

Tidak ada yang layak dikenang.

Namun semakin lama ia memandang layar itu, semakin sulit baginya bernapas. Karena untuk pertama kalinya sejak menerima telepon dari rumah sakit, sebuah kemungkinan yang selama ini ditolak mati-matian mulai mengambil bentuk yang jelas di hadapannya. Kemungkinan bahwa pesan tersebut tidak lagi sekadar pesan terakhir yang diterimanya malam itu, melainkan pesan terakhir yang akan pernah ia terima dari Seonghyeon.

Dan untuk pertama kalinya sejak ledakan yang merenggut Keonho dari kehidupan mereka, Martin kembali merasakan ketakutan yang sama, ketakutan yang dahulu ia lihat di mata Seonghyeon ketika berdiri di depan ruang operasi yang sama, menunggu seseorang yang mungkin tidak akan pernah kembali.


Dua hari setelah kecelakaan itu, seorang dokter meminta Martin mengikutinya ke ruang konsultasi. Tidak ada sesuatu yang secara terang-terangan menunjukkan bahwa percakapan yang akan berlangsung di dalam ruangan tersebut berbeda dari percakapan-percakapan sebelumnya, tetapi setelah menghabiskan terlalu banyak waktu di rumah sakit, Martin mulai mengenali tanda-tanda kecil yang tidak pernah diajarkan di fakultas mana pun: cara seorang dokter menghindari memberi harapan terlalu cepat, cara mereka memilih kata-kata dengan lebih hati-hati dari biasanya, atau cara keheningan sering kali berbicara lebih banyak daripada penjelasan medis yang panjang.

Karena itu, ketika ia duduk berhadapan dengan dokter tersebut dan melihat berkas-berkas pemeriksaan yang tersusun rapi di atas meja, perasaan tidak nyaman yang selama ini mengikutinya sejak malam kecelakaan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih berat.

Dokter itu menjelaskan kondisi Seonghyeon dengan tenang dan sistematis. Ia berbicara mengenai cedera otak traumatis yang luas, mengenai pembengkakan yang tidak menunjukkan perbaikan meskipun berbagai tindakan telah dilakukan, mengenai serangkaian pemeriksaan neurologis yang hasilnya tetap sama dari waktu ke waktu.

Martin mendengarkan seluruh penjelasan tersebut tanpa menyela, membiarkan istilah-istilah medis yang terasa asing itu berlalu begitu saja di hadapannya. Anehnya, bukan karena ia tidak memahami apa yang sedang dikatakan, melainkan karena ada bagian dalam dirinya yang terus menolak menghubungkan semua kata tersebut dengan seseorang yang baru beberapa malam lalu masih berdiri di sampingnya di koridor rumah sakit, berdebat mengenai hal-hal yang kini terasa sangat remeh dan sangat jauh.

Baru ketika dokter itu sampai pada kesimpulannya, segala sesuatu yang sebelumnya terdengar seperti bahasa asing mendadak memperoleh bentuk yang sangat jelas dan sangat kejam.

"Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak adanya aktivitas neurologis yang dapat dipulihkan," ujar dokter itu perlahan. "Refleks batang otaknya tidak ditemukan, dan pengujian ulang yang kami lakukan memberikan hasil yang sama."

Ruangan itu kembali sunyi.

Martin menatap dokter di hadapannya tanpa berkedip.

"Jadi?"

Dokter itu menahan napas sesaat sebelum melanjutkan.

"Secara medis, Seonghyeon telah memenuhi kriteria kematian batang otak."

Untuk beberapa saat, Martin tidak mengatakan apa-apa. Pandangannya tetap tertuju pada dokter yang duduk di hadapannya, sementara pikirannya berusaha keras menemukan celah pada kenyataan yang baru saja disampaikan. Karena jika seseorang benar-benar telah meninggal, seharusnya jantungnya tidak berdetak. Seharusnya dadanya tidak lagi naik turun. Seharusnya para perawat tidak masih keluar masuk ruang perawatan untuk memeriksa kondisinya.

"Tapi jantungnya masih berdetak."

Dokter mengangguk pelan. "Karena bantuan alat,"

"Dan dia masih bernapas."

"Ventilator yang bernapas untuknya."

Jawaban itu datang dengan lembut, tetapi tidak mengurangi kekejamannya sedikit pun.

Martin menundukkan pandangan. Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan itu, ia merasa tidak sanggup menatap siapa pun. Ada sesuatu yang terasa begitu tidak masuk akal dari seluruh percakapan ini. Dua malam lalu Seonghyeon masih berdiri di depannya. Masih cukup hidup untuk marah. Masih cukup hidup untuk berjalan meninggalkan rumah sakit tanpa menoleh ke belakang. Dan sekarang mereka berbicara tentang dirinya seolah-olah ia telah menjadi sesuatu yang hanya bisa dijelaskan melalui hasil pemeriksaan dan grafik medis.

"Apa tidak ada lagi yang bisa dilakukan?" Pertanyaan itu terdengar jauh lebih pelan daripada yang ia maksudkan.

Dokter itu tidak langsung menjawab. "Kami sudah melakukan semua tindakan yang memungkinkan."

Kalimat tersebut seharusnya terdengar profesional.

Namun yang dirasakan Martin hanyalah kehampaan.

Di situlah sesuatu dalam dirinya akhirnya runtuh. Bukan ketika kata mati diucapkan. Bukan ketika dokter menjelaskan hasil pemeriksaan. Melainkan ketika ia tiba-tiba menyadari bahwa seluruh percakapan tersebut tidak sedang membahas kemungkinan kehilangan Seonghyeon di masa depan.

Mereka tidak sedang membicarakan risiko, tidak sedang membicarakan peluang, tidak sedang membicarakan sesuatu yang mungkin terjadi apabila kondisi memburuk. Kehilangan itu sudah terjadi. Ia telah terjadi bahkan sebelum Martin memasuki ruangan ini. Yang sedang dilakukan dokter hanyalah menjelaskan kenyataan yang tubuhnya belum mampu terima.

Di luar jendela, matahari sore mulai turun perlahan di balik gedung-gedung kota. Cahaya keemasan yang masuk melalui kaca memanjang di atas lantai dan meja, menyentuh berkas-berkas pemeriksaan yang kini tampak begitu tidak berarti dibandingkan kesimpulan yang mereka bawa.

Martin memandang ke arah luar tanpa benar-benar melihat apa pun. Untuk pertama kalinya sejak menerima telepon dari rumah sakit dua malam lalu, ia tidak lagi memikirkan kemungkinan Seonghyeon akan selamat. Ia tidak lagi memikirkan operasi tambahan atau perkembangan kondisi pasien. Yang ada hanyalah kesadaran yang datang terlambat dan tidak dapat dibatalkan: beberapa jam sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka masih sempat berbicara. Mereka masih sempat saling mendengar. Mereka masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki segala sesuatu yang berakhir buruk di antara mereka.

Dan kini, di ruangan yang sunyi itu, Martin memahami bahwa kesempatan tersebut telah hilang untuk selamanya.

Keheningan yang mengikuti terasa panjang. Dokter di hadapannya membiarkan waktu berjalan tanpa tergesa-gesa, seolah memahami bahwa ada kenyataan tertentu yang tidak dapat diterima dalam satu kalimat, betapapun jelasnya kalimat itu diucapkan. Martin sendiri tidak yakin berapa lama mereka duduk tanpa berbicara sebelum dokter kembali membuka map yang sejak tadi tergeletak di atas meja dan mendorongnya perlahan ke tengah. Gerakan itu sederhana, hampir biasa saja, tetapi cukup untuk menarik pandangannya turun ke lembar pertama yang berada di dalamnya.

Persetujuan Donasi Organ.

Tulisan tersebut tercetak tegas di bagian atas halaman.

Untuk sesaat ia hanya menatapnya tanpa benar-benar memahami. Pikirannya masih tertinggal beberapa menit sebelumnya, pada ruangan yang sama, pada suara dokter yang menjelaskan bahwa tubuh Seonghyeon masih dapat dipertahankan oleh mesin, tetapi tidak ada lagi kesadaran yang tersisa untuk dipertahankan. Ia bahkan belum selesai menerima kenyataan itu ketika rumah sakit telah bergerak lebih jauh, membicarakan apa yang harus dilakukan setelah kematian yang bahkan belum mampu ia sebut sebagai kematian.

"Karena fungsi organ-organ vitalnya masih dipertahankan oleh alat penunjang, kondisi pasien memenuhi syarat untuk prosedur donor."

Martin mengangkat kepala.

"Mengapa saya?"

Pertanyaan itu keluar hampir tanpa ia sadari.

"Mengapa Anda menunjukkan ini kepada saya?"

Dokter itu tidak segera menjawab. Ia hanya membuka kembali berkas pasien yang berada di sampingnya, membalik beberapa lembar dokumen sebelum menarik sebuah formulir dari bagian belakang dan meletakkannya di atas meja. Tidak ada sesuatu yang istimewa dari formulir tersebut. Kertas administrasi biasa, dipenuhi kolom-kolom identitas dan informasi kontak seperti yang dapat ditemukan di rumah sakit mana pun. Namun begitu pandangan Martin jatuh ke bagian bawah halaman, sesuatu dalam dirinya langsung menegang.

Ia mengenali tulisan itu.

Tulisan tangan yang sedikit miring, tidak pernah benar-benar rapi, dan selalu terlihat seperti ditulis terburu-buru. Tulisan yang selama bertahun-tahun memenuhi pinggir buku catatan, laporan praktikum, dan lembar tugas kelompok yang berkali-kali mereka kerjakan bersama.

Di kolom kontak darurat tercantum namanya.

Sementara pada bagian hubungan, Seonghyeon hanya menulis satu kata.

Keluarga.

Martin tidak segera membaca bagian lain dari formulir tersebut. Pandangannya terpaku pada kata itu terlalu lama, seolah dengan menatapnya cukup lama ia dapat menemukan alasan mengapa kata tersebut terasa jauh lebih menyakitkan daripada seluruh penjelasan dokter yang baru saja didengarnya.

"Kapan dia mengisi ini?"

"Beberapa minggu lalu."

Dokter menunjuk bagian bawah halaman.

Barulah Martin melihat tanggal yang tercetak di sana.

Dan seketika ia mengenalinya.

Minggu setelah ledakan.

Minggu ketika Keonho menjalani operasi pertamanya.

Minggu ketika mereka menghabiskan lebih banyak waktu di rumah sakit daripada di kampus, tidur di kursi ruang tunggu, makan di kantin yang sama setiap hari, dan menjalani hidup seolah seluruh dunia menyempit menjadi koridor ICU.

Ingatan itu datang begitu jelas hingga ia hampir dapat melihatnya kembali.

Suatu sore yang suram, ketika hujan turun sejak pagi dan kantin rumah sakit nyaris kosong. Mereka duduk berhadapan sambil meminum kopi yang terlalu pahit dan terlalu encer untuk disebut layak diminum. Keonho baru keluar dari operasi beberapa jam sebelumnya. Tidak ada perkembangan berarti. Tidak ada kabar buruk. Tidak ada kabar baik. Hanya penantian yang terasa tidak berujung. Di tengah percakapan yang terputus-putus karena kelelahan, Seonghyeon tiba-tiba berdiri dan mengatakan bahwa ia harus mengurus sesuatu di bagian administrasi. Ia pergi hampir satu jam. Ketika kembali, Martin sempat bertanya ke mana perginya, dan Seonghyeon hanya mengangkat bahu sebelum menjawab singkat bahwa ada beberapa urusan administrasi yang perlu dibereskan.

Saat itu jawaban tersebut terdengar masuk akal.

Sekarang, sambil memandangi formulir yang terbentang di hadapannya, Martin akhirnya memahami apa yang sebenarnya diurus Seonghyeon sore itu.

Kontak darurat.

Wali medis.

Persetujuan donor organ.

Keputusan-keputusan yang biasanya dibuat orang setelah bertahun-tahun memikirkannya ternyata diselesaikan diam-diam oleh seseorang yang baru saja menyaksikan sahabatnya terbaring tak sadarkan diri di balik kaca ICU. Mungkin untuk pertama kalinya dalam hidup, Seonghyeon menyadari betapa rapuhnya tubuh manusia dan betapa sedikit kendali yang sebenarnya dimiliki seseorang atas hari esok. Namun alih-alih membicarakannya, ia memilih menandatangani dokumen-dokumen itu seorang diri, menyimpannya, lalu kembali duduk di samping Martin seperti tidak terjadi apa-apa.

Pandangan Martin perlahan turun ke bagian bawah formulir donor. Tanda tangan Seonghyeon tertera di sana dengan tinta hitam yang mulai sedikit memudar. Tidak ada pesan. Tidak ada catatan. Tidak ada penjelasan. Hanya sebuah keputusan yang dibuat jauh sebelum siapa pun membayangkan bahwa dokumen tersebut suatu hari benar-benar akan digunakan.

Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan itu, ia memahami mengapa kenyataan ini terasa begitu kejam.

Karena bahkan dalam kemungkinan terburuk yang pernah dibayangkannya, Seonghyeon tetap memikirkan orang lain lebih dahulu daripada dirinya sendiri. Ia mengurus semua ini setelah melihat Keonho terbaring di ambang kematian, setelah menyaksikan betapa putus asanya mereka mempertahankan hidup seseorang yang dicintai, dan tanpa pernah menyadarinya, keputusan yang dibuat pada sore hujan itu kini kembali ke hadapannya dalam bentuk yang nyaris mustahil diterima.

Di suatu tempat beberapa lantai di atas mereka, Keonho masih terbaring di ruang perawatan intensif, bertahan dengan tubuh yang semakin rapuh dari hari ke hari. Sementara di atas meja, tepat di depan Martin, terbentang dokumen yang ditandatangani oleh seseorang yang tidak akan pernah membuka mata lagi. Jarak antara keduanya hanya beberapa lantai, tetapi untuk pertama kalinya ia melihat hubungan yang mengerikan di antara mereka dan menyadari bahwa bahkan setelah kematian merenggutnya lebih dahulu,

Seonghyeon masih menemukan cara untuk tetap tinggal, seolah seluruh hidupnya belum selesai sebelum memastikan Keonho mendapatkan kesempatan untuk terus hidup.


Waktu bergerak tanpa benar-benar menunggu siapa pun.

Musim hujan yang mengiringi hari-hari pertama setelah ledakan telah lama berlalu, digantikan oleh langit yang lebih cerah dan pepohonan yang kembali dipenuhi daun-daun muda. Semester berganti. Mahasiswa baru mulai memenuhi kampus. Kalender terus kehilangan halaman demi halaman. Di luar sana, kehidupan melanjutkan dirinya sendiri dengan ketidakpedulian yang hampir terasa kejam, seolah tidak pernah ada malam-malam panjang yang dihabiskan di depan ruang operasi, tidak pernah ada keluarga yang bertahan hidup dari satu laporan dokter ke laporan berikutnya, dan tidak pernah ada seseorang yang meninggalkan dunia ini tanpa sempat melihat akhir dari perjuangan yang selama berbulan-bulan ia pertahankan.

Martin tidak lagi menghitung berapa lama semuanya telah berlangsung.

Pada awalnya ia masih mengingat tanggal-tanggal tertentu. Hari ketika Seonghyeon dinyatakan mati batang otak. Hari ketika formulir donor itu ditandatangani. Hari ketika pemakaman selesai dan orang-orang mulai kembali menjalani hidup mereka masing-masing. Namun lambat laun seluruh tanggal itu kehilangan bentuknya. Yang tersisa hanyalah rutinitas. Kuliah. Rumah sakit. Kuliah lagi. Rumah sakit lagi. Seolah hidupnya sendiri ikut terjebak dalam sebuah lingkaran yang tidak pernah benar-benar bergerak maju.

Keonho bukan di ruang ICU lagi. Keonho sudah dipindahkan ke ruang rawat inap setelah operasi transplantasi organ. Tetapi, Keonho masih berada di sana.

Di alam bawah sadar.

Dan meskipun para dokter mulai berbicara mengenai perkembangan yang menjanjikan, mengenai respons tubuh yang semakin baik, mengenai kemungkinan pemulihan yang kini jauh lebih besar dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, Martin tidak pernah benar-benar membiarkan dirinya berharap terlalu jauh. Ia sudah terlalu sering menyaksikan bagaimana harapan dapat berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.

Sore itu datang seperti sore-sore lain sebelumnya.

Cahaya matahari jatuh miring melalui jendela kamar perawatan, membentuk bayangan panjang yang membentang di lantai. Sebuah buku terbuka di pangkuan Martin, meskipun ia sudah membaca halaman yang sama selama hampir dua puluh menit tanpa benar-benar memahami isinya. Di samping ranjang, monitor terus menampilkan ritme yang stabil dan teratur, menjadi bagian dari latar yang begitu akrab hingga nyaris tidak lagi disadari keberadaannya.

Ruangan itu tenang.

Terlalu tenang.

Dan mungkin karena itulah suara tersebut terdengar begitu asing.

Awalnya hanya sebuah hembusan napas yang berbeda.

Sangat pelan.

Hampir tidak terdengar.

Martin bahkan mengira dirinya salah dengar.

Namun beberapa detik kemudian suara itu muncul lagi, kali ini lebih jelas meskipun tetap terdengar serak dan rapuh, seperti seseorang yang sudah terlalu lama tidak menggunakan suaranya sendiri.

"...air."

Martin mengangkat kepala.

Pada awalnya ia mengira dirinya salah dengar. Selama berbulan-bulan terakhir, ia telah menghabiskan terlalu banyak waktu di ruangan ini, terlalu sering menunggu sesuatu yang tidak kunjung terjadi, hingga pikirannya beberapa kali mempermainkannya dengan harapan-harapan kecil yang ternyata tidak pernah nyata. Namun kali ini suara itu terdengar lagi, serak dan nyaris pecah, seperti seseorang yang sedang memaksa tubuhnya mengingat kembali cara berbicara setelah terlalu lama tenggelam dalam keheningan.

Seluruh tubuhnya menegang.

Pandangannya beralih ke ranjang di depannya.

Keonho sedang menatap langit-langit.

Kelopak matanya terbuka tipis, masih berat, masih tampak kesulitan mempertahankan kesadaran yang baru kembali, tetapi terbuka. Tidak ada lagi keheningan panjang yang selama berbulan-bulan membentang di antara dirinya dan dunia luar. Tidak ada lagi tubuh yang hanya merespons melalui angka-angka pada monitor. Untuk pertama kalinya sejak ledakan itu terjadi, ada seseorang yang benar-benar sedang memandang kembali ke arah dunia.

Martin tidak segera bergerak.

Ada begitu banyak hari yang ia habiskan menunggu momen ini hingga ketika momen itu akhirnya benar-benar datang, ia justru merasa asing di hadapannya. Seolah kenyataan yang selama ini diharapkan tiba-tiba menjadi terlalu besar untuk dipercayai. Pandangan Keonho yang masih buram bergerak perlahan menyusuri ruangan sebelum akhirnya berhenti padanya. Tidak ada pengenalan yang jelas di sana. Belum. Kesadarannya masih tertinggal jauh di belakang tubuhnya. Namun tatapan itu cukup untuk membuat sesuatu yang selama ini tertahan di dada Martin mendadak runtuh.

"Keonho."

Namanya keluar hampir seperti hembusan napas.

Seperti doa yang terlalu lama disimpan.

Keonho berkedip pelan. Keningnya sedikit berkerut, seolah sedang berusaha memahami mengapa setiap bagian tubuhnya terasa begitu berat. Bibirnya bergerak tipis, tetapi tidak ada kata lain yang berhasil keluar. Hanya kebingungan yang samar dan kelelahan yang begitu dalam hingga tampak menempel pada seluruh dirinya.

Baru saat itulah Martin menyadari bahwa tangannya gemetar.

Ia menekan tombol panggil perawat tanpa pernah melepaskan pandangan dari ranjang di depannya. Beberapa detik kemudian ruangan itu dipenuhi langkah kaki yang tergesa-gesa. Perawat berdatangan lebih dulu, disusul dokter yang segera melakukan pemeriksaan. Pertanyaan demi pertanyaan diajukan. Senter diarahkan ke pupil mata. Angka-angka pada monitor diperiksa ulang. Seseorang menjelaskan sesuatu mengenai respons neurologis dan tingkat kesadaran yang mulai kembali stabil.

Martin tidak benar-benar mendengarkan.

Seluruh perhatiannya tertuju pada sosok yang terbaring di atas ranjang.

Pada kenyataan sederhana bahwa Keonho akhirnya membuka mata.

Orang yang selama ini mereka tunggu.

Orang yang selama ini mereka pertahankan dengan segala cara yang masih memungkinkan.

Orang yang selama berbulan-bulan membuat hidup mereka berhenti di antara harapan dan ketakutan.

Kini akhirnya kembali.

Namun di tengah suara para tenaga medis, di tengah kelegaan yang perlahan memenuhi ruangan, pandangan Martin tanpa sadar bergeser ke kursi di dekat jendela. Kursi yang selama berbulan-bulan hampir tidak pernah kosong. Kursi tempat seseorang biasa duduk hingga larut malam, tertidur dengan leher yang pegal, lalu bangun kembali hanya untuk memastikan bahwa Keonho masih bernapas.

Kursi itu kini kosong.

Dan akan tetap kosong.

Untuk pertama kalinya sejak sore itu dimulai, Martin merasakan sesuatu yang begitu rumit hingga tidak dapat disebut sebagai kebahagiaan maupun kesedihan. Keonho akhirnya kembali kepada mereka, tetapi orang yang paling menantikan momen tersebut justru tidak ada di sana untuk menyaksikannya. Kesadaran itu datang perlahan, nyaris tanpa suara, lalu menetap di dadanya seperti luka yang tidak lagi berdarah, tetapi tidak pernah benar-benar sembuh.

Di luar jendela, matahari terus bergerak turun menuju senja. Sementara di dalam ruangan itu, setelah berbulan-bulan hidup mereka tertahan di ambang ketidakpastian, seseorang akhirnya membuka mata.

Dan seseorang yang lain tetap tidak akan pernah melakukannya lagi.

Hari-hari berikutnya berlalu dalam ritme yang nyaris seragam. Pemeriksaan rutin, sesi terapi, pergantian obat, dan kunjungan dokter membentuk rutinitas yang perlahan menggantikan ketidakpastian berbulan-bulan sebelumnya. Kesadaran Keonho kembali sedikit demi sedikit, seperti seseorang yang muncul ke permukaan setelah terlalu lama tenggelam di kedalaman yang gelap. Pada awalnya ia hanya mampu membuka mata selama beberapa menit sebelum kembali tertidur karena kelelahan. Setelah itu ia mulai mengenali suara, mengenali wajah-wajah yang datang silih berganti ke kamarnya, lalu mengenali ruangan tempat ia terbangun. Setiap perkembangan sekecil apa pun disambut para tenaga medis dengan optimisme yang hati-hati, sementara Martin tetap berada di tempat yang sama, duduk di kursi dekat jendela dan mengamati semuanya dalam diam.

Keonho tidak banyak berbicara. Tubuhnya masih terlalu lemah untuk mengikuti kecepatan pikirannya sendiri, sehingga sebagian besar waktunya dihabiskan untuk beristirahat atau memandangi halaman rumah sakit dari balik kaca. Sesekali ia mengajukan pertanyaan sederhana mengenai tanggal, mengenai berapa lama ia tidak sadar, atau mengenai alasan mengapa seluruh tubuhnya terasa asing. Martin menjawab seperlunya. Dokter menjelaskan sisanya. Percakapan-percakapan itu berlangsung wajar, hampir biasa, sampai pada titik Martin mulai menyadari sesuatu yang perlahan berubah menjadi kegelisahan yang sulit diabaikan.

Keonho tidak pernah menanyakan Seonghyeon.

Pada awalnya hal itu terasa masuk akal. Ingatannya belum pulih sepenuhnya. Banyak bagian dari hidupnya yang masih tampak kabur dan terputus. Namun seiring berjalannya waktu, ketika kesadarannya semakin jernih dan percakapan mereka mulai menyerupai percakapan yang sesungguhnya, ketiadaan satu nama itu justru terasa semakin mencolok. Martin mendapati dirinya menunggu pertanyaan tersebut hampir setiap hari, menunggu saat ketika Keonho akhirnya menyadari ada seseorang yang tidak pernah muncul di ruangan itu, seseorang yang seharusnya menjadi orang pertama yang duduk di samping ranjangnya begitu ia membuka mata.

Pagi itu datang dengan tenang. Cahaya matahari jatuh lembut melalui jendela, menyapu lantai kamar perawatan dalam semburat keemasan yang hangat. Seorang perawat baru saja keluar setelah membantu Keonho menyelesaikan sesi terapi ringan, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang nyaman. Martin sedang mengaduk kopi yang sudah mulai dingin ketika suara Keonho memecah kesunyian.

"Martin."

Ia mengangkat kepala dari gelas kopi yang sejak beberapa menit lalu tidak benar-benar diminumnya.

"Hm?"

Keonho masih memandang ke arah jendela. Cahaya pagi jatuh di wajahnya yang belum sepenuhnya pulih, memperjelas pucat yang masih tersisa setelah berbulan-bulan terbaring di rumah sakit. Untuk sesaat ia tampak seperti sedang memikirkan sesuatu, menyusun potongan-potongan ingatan yang perlahan kembali ke tempatnya masing-masing.

"Seonghyeon belum dateng?"

Tangan Martin berhenti bergerak. Sendok kecil yang tadi berputar pelan di dalam gelas kini diam di dasar cangkir, sementara riak di permukaan kopi perlahan menghilang hingga hanya menyisakan bayangan samar wajahnya sendiri. Untuk beberapa detik ia tidak menjawab. Tidak karena tidak mendengar, melainkan karena tiba-tiba ia tidak lagi tahu bagaimana caranya bernapas dengan benar.

Keonho akhirnya menoleh.

"Kalian berantem lagi?"

Ada senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya, samar dan mudah terlewatkan, tetapi cukup akrab untuk membuat sesuatu di dalam dada Martin terasa semakin sesak.

"Sumpah, gue baru bangun aja udah capek ngelihat kalian."

Dulu kalimat semacam itu hampir selalu berakhir dengan keributan. Seonghyeon akan langsung membalas dengan nada keberatan, Martin akan mengumpat balik, dan Keonho akan duduk di tengah-tengah sambil mengeluh bahwa dirinya dikelilingi dua orang yang secara emosional tidak pernah berkembang sejak tahun pertama kuliah. Percakapan itu begitu mudah dibayangkan hingga untuk sesaat Martin hampir dapat mendengar suaranya. Hampir dapat membayangkan Seonghyeon membuka pintu ruangan sambil membawa kopi murah dari kantin dan mengeluh karena harus mendengar komentar yang sama untuk kesekian kalinya.

Namun pintu itu tetap tertutup.

Dan kursi di dekat jendela tetap kosong.

Martin menundukkan pandangan sebelum Keonho sempat menangkap sesuatu di wajahnya. Selama berbulan-bulan ia mengira bagian tersulit dari kehilangan adalah hari ketika dokter mengucapkan vonis tersebut, atau saat ia menandatangani dokumen yang mengakhiri seluruh kemungkinan untuk berharap. Kini ia menyadari bahwa dirinya salah. Kesedihan tidak datang sekaligus lalu selesai. Kesedihan menemukan cara untuk hidup dalam hal-hal kecil yang tidak pernah dipersiapkan siapa pun: sebuah nama yang disebut tanpa curiga, kebiasaan yang masih diingat orang lain, atau pertanyaan sederhana yang seharusnya memiliki jawaban mudah.

Keheningan mulai memanjang di antara mereka.

Ketika Martin tidak segera menjawab, kerutan kecil muncul di kening Keonho. Senyum yang tadi sempat bertahan perlahan memudar, digantikan kebingungan yang semakin jelas dari detik ke detik. Ia memandang Martin beberapa saat lebih lama, seolah baru menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam percakapan mereka.

Dan saat itulah Martin memahami bahwa tidak ada cara yang baik untuk mengatakan ini.

Tidak ada susunan kata yang cukup lembut untuk mengurangi rasa sakitnya.

Tidak ada kalimat yang dapat mengubah kenyataan bahwa orang yang selama ini ditunggu Keonho untuk datang menjenguknya telah menghabiskan bulan-bulan terakhir hidupnya di samping ranjang ini, mempertahankan harapan yang bahkan tidak sanggup dipertahankan oleh orang lain.

Keonho terus menunggu jawabannya.

Sementara Martin hanya dapat menatap kopi yang telah dingin di tangannya dan berharap, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, bahwa ada seseorang yang bisa mengambil alih percakapan ini darinya.

Karena kenyataan yang harus ia sampaikan terlalu kejam untuk diucapkan, terlebih kepada seseorang yang baru saja kembali dari ambang kematian.

Bahwa Seonghyeon tidak terlambat datang.

Bahwa Seonghyeon tidak sedang sibuk.

Bahwa tidak ada lagi hari di mana pintu ruangan itu akan terbuka dan memperlihatkan sosoknya berdiri di sana.

 

Notes:

first time nulis hyeonkeon... tapi angst....