Work Text:
Terhitung sudah satu minggu lamanya ketika pemuda Rakhamiel resmi menyandang status mantan dari Wisathya. Sejauh ini, tidak ada perubahan berarti yang dirasakan Rakhamiel sebab hilangnya presensi pemilik senyum manis lelaki Janithra—setidaknya bagi orang-orang di sekitarnya kecuali Mikha. Hidup Rakha berjalan seperti semestinya, walaupun sempat kepulangan dirinya menghadirkan berbagai prasangka dari kedua orang tua. Setidaknya, kepulangan Rakha sedikit banyak meringankan beban di hatinya, terlebih saat raganya kembali bersua dengan cakrawala senja di Okinawa, bermain pasir putihnya yang lembut, dan menikmati embusan angin sore yang kental dengan aroma laut yang memikat penciuman. Rakha pikir, akan semudah itu melupakan sosok Wisathya. Rakha pikir, akan semudah itu melupakan lelaki yang tak benar-benar ia cinta. Rakha pikir, seratus sembilan puluh empat hari menyandang status sebagai kekasih lelaki Janithra tak berarti apa-apa di hatinya. Pun pada awalnya ia masih anggap lelaki manis itu sebagai Khairel Sekala. Pun pada awalnya ia hanya penasaran dengan sosok bebal dan rumit layaknya Wisathya. Pun pada awalnya ia hanya penuhi egonya untuk taklukkan sosok yang lebih dari paham untuk bermain tarik ulur di hubungannya.
Pada nyatanya, dalam kurun waktu kurang dari setahun, presensi lelaki Janithra masih mengikutinya bak bayangan sepanjang hari bahkan semenjak keduanya resmi berpisah. Rakha masih saja kelepasan mengetik, ‘Cha, masih di FK? Kabari ya kalo udah pulang, nanti aku jemput di depan perpus,’ di ruang obrolan dengan Wisha yang sudah terblokir sepihak. Pesan-pesan yang tak kunjung sampai terus Rakha kirim ke ruang obrolan kosong itu. Sesaat setelah mengirim berbagai pesan, Rakhamiel sadari bahwa centang satu pada pesan yang ia kirim adalah buah yang harus ia tuai dari kesempatan yang ia sia-siakan sebelumnya. Betapa ia saat ini mulai merasa sebagian dirinya hilang, hanyut bersama deburan ombak pantai yang ditarik kembali ke peraduan. Raganya yang biasanya posisikan diri duduk pada jok motornya sembari bermain game di ponsel selama lima menit merindukan hadirnya sosok Wisathya yang datang padanya dengan kurva secantik bulan sabit di wajah mungilnya, kendati air mukanya yang lelah selepas bergelut dengan berbagai ujian, praktikum, dan kelas yang panjang. Mata Rakha yang tadinya selalu bersua dengan binar bulat bening milik Wisha tak lagi dapat ia lakukan lagi. Jemari tangannya yang selalu tampak lebih besar menggenggam ruas-ruas jemari lentik kepunyaan Janithra mendadak merasa kehilangan hangatnya. Jemari lentik yang tadinya selalu menyusuri serta membelai sayang kepalanya—yang tak pernah sang ayah lakukan selama hidupnya—untuk berikan afeksi tak lagi Rakha dapatkan. Pun dengan tubuh ringkih Wisha yang selalu sedia berikan dirinya tempat untuk pulang di balik rengkuhan hangatnya. Rakha kehilangan semuanya. Rakha rindukan semuanya. Rakha dambakan semua yang Wisha berikan. Rakha inginkan Wisha kembali padanya.
Kendati begitu inginnya Rakha kembali kepada Wisha, meminta maaf sekali lagi, mengejar Wisha untuk kesekian kali lagi, bersujud memohon ampun agar Wisha kembali, lelaki itu masih hormati keputusan yang lelaki Wisathya ambil untuk keduanya. Mungkin benar bila jarak akan membuat keduanya sadar pentingnya satu sama lain, terlebih untuk pemuda Rakhamiel. Mungkin benar bila waktu yang berlalu tanpa salah satu dari keduanya membuat satu sama lain ingin terus mencari dan merindu, terlebih untuk pemuda Rakhamiel. Mungkin benar bila keadaan untuk berpisah mampu buat keduanya menyadari betapa berharganya satu sama lain, terlebih untuk pemuda Rakhamiel.
Rakha tadinya berpikir bahwa rindu yang ia rasakan kini akan pudar seiring dengan berjalannya waktu. Sama seperti yang Wisha katakan bahwa waktu akan perlahan menyembuhkan, tetapi Rakha rasa semuanya tak benar. Hatinya terasa berat bila ia harus mencoba untuk dekat dengan orang lain. Kepalanya terasa pusing bila ia harus mencoba untuk melupakan Wisha untuk kesekian kali. Padahal, melupakan Wisha adalah hal mudah yang dapat Rakha lakukan selama keduanya menjalin hubungan. Rakha semula mengingat nama lain selain Wisha. Rakha semula menganggap perlakuan Wisha sebagai perlakuan orang lain untuknya. Rakha yang semula mudah menggantikan sosok Wisha dengan masa lalunya, kini tengah dikutuk semesta untuk mengingat tiap inci lelaku pemuda Janithra. Bagaimana pemuda Janithra akan merengek manja acap kali Rakha terlambat menjemputnya di selasar gerai roti kopi. Bagaimana pemuda Janithra akan menampilkan senyum manis sampai-sampai membuat maniknya menyempit senang tatkala Rakha melemparkan candaan yang tak terlalu jenaka. Bagaimana pemuda Janithra berbicara melalui binar matanya yang bersinar terang bak mentari di siang bolong, memvalidasi dan mendengar segala keluh kesah yang Rakha punya untuk dibagi padanya. Bagaimana pemuda Janithra memeluk sisi tubuhnya dengan tangan sempit serta tubuh kecilnya, harap-harap ia bisa sembuhkan luka batin yang tengah Rakha rasakan.
Rakha rasakan sesak semakin menyeruak di dalam dada. Beban yang ia pikul selepas menyakiti lelaki yang begitu menyayangi dan mencintainya sepenuh hati masih bercokol di sanubari. Pernah Rakha coba untuk bagi beban tersebut kepada Mikha, tetapi yang bersangkutan turut menyalahkan saudaranya. Kendati mendapat dukungan dari kakak kembarnya, kepulangan Rakha yang tiba-tiba ke Semarang mengundang Mikha untuk menjitak dan memaki Rakha habis-habisan. Mikha turut merasa bersalah dengan keterlibatannya untuk membalas surat Wisha secara langsung. Jika dirinya punyai kontak Wisha, maka dengan senang hati Mikha akan meminta maaf sebesar-besarnya. Pun kenyataannya, Wisha tak hanya memblokir akses komunikasi dengan Rakha. Lelaki Janithra itu turut memblokir kontak serta akun media sosial seluruh keluarga Rakha, termasuk kakak sepupunya sendiri, Kala. Pernah juga Rakha membuat akun kosongan untuk sekedar melihat kondisi Wisha terkini, tetapi Wisha terlampau pintar untuk kenali semua taktik Rakha. Wisha selalu berhasil untuk kembali memblokir, mengenyahkan akun Rakha dari deretan pengikut di media sosialnya. Rakha mulai kehabisan akal untuk menggapai Wisha sekali, bahkan berkali-kali lagi.
Setidaknya, tindakan impulsifnya untuk pulang di tengah jeda libur yang sempit ke tempat yang sudah lama ia sebut sebagai ‘rumah’—walaupun sudah lama pula Rakha tak mampu mendefinisikan serta merasakan betul-betul apa yang disebut rumah di kediamannya ini—sedikit membuahkan hasil. Rakha yang tadinya sama sekali tak mau diajak untuk berkunjung menemui sang ayah di Jepang kini sudah mulai bersedia untuk diminta mendampingi setiap tahun. Rakha yang tadinya sama sekali tak menjalin komunikasi yang baik dengan sang ayah kini sudah mulai membuka diri pada ayahnya. Ayah yang selama ini Rakha simpankan dendam karena ketidakhadirannya. Ayah yang selama ini Rakha rutuki habis-habisan selama hidupnya sebab meninggalkan Bunda sendirian membesarkan dua anak. Ayah yang selama ini Rakha maki habis-habisan di hati selama hidupnya sebab tak ada di sisinya maupun Mikha saat keduanya dicemooh tak punyai ayah. Ayah yang selama ini jarang hadir di dalam hidupnya sebab bisa dihitung jari berapa kali sang ayah bersua dengan Bunda, dirinya, dan kakak kembarnya. Setidaknya kali ini hati Rakha sudah lebih lembut dan lapang dari sebelumnya. Setidaknya Rakha sudah mau untuk memaafkan kekosongan yang ayahnya ciptakan di antara mereka. Setidaknya Rakha sudah mau mengerti betapa dilemanya sang ayah untuk meninggalkan istri beserta kedua anaknya jauh ke rantauan.
Jadi di sinilah Rakha, masih konsisten mengetukkan jemarinya di meja belajarnya. Menimbang-nimbang apakah ini saatnya ia hubungi sang ayah untuk pertama kalinya. Yah, kendati sudah punyai kontak sang ayah. Rakha selama ini tak pernah mau dan sudi untuk berbincang dan memperbaiki hubungan dengan Ayah. Detik demi detik berlalu tanpa keputusan yang pasti, mengombang-ambingkan hati pemuda Rakhamiel untuk menekan tombol telepon di ruang obrolan kosong antara dirinya dengan sang ayah. Canggung serta ragu masih menyelimuti, sampai pada akhirnya ponsel pemuda itu berdering dan menampilkan nama ‘Mikhaili’ pada layarnya. Seketika Rakha embuskan napas lega, kemudian menggeser tombol telepon ke kanan untuk menjawab panggilan sang kakak.
‘Woi Rak, cepetan ke bawah atau jatah makan malem lu gua habisin.’
Rupanya hal yang terlontar dari mulut Mikha di seberang sana hanya suruhan untuk makan malam dari sang ibunda. Rakha kembali menyamankan diri duduk menyender di kursi gaming-nya sembari memainkan beberapa robot serta perangkat elektronik yang sempat ia buat beberapa tahun lalu. Robotic being his obsession since he was a little kid. Bakatnya tersebut dikembangkan sedemikian rupa sampai ia menyabet beberapa penghargaan sebab hobi menguliknya. Tenggelam oleh kegiatan yang sempat menjadi kesukaannya sebelum menginjak bangku kuliah membuat pemuda Rakhamiel menjeda obrolannya sebentar. Fokusnya kembali pada realita ketika puan di seberang sana mengucap ‘Woi, Rakha!’ lebih dari tiga kali. Maka dari itu, Rakha letakkan kembali benda-benda hasil proyeknya ke tempat semula dan menjawab suruhan Mikha.
“Habisin aja, Mik. Ngga nafsu makan gua.”
‘Dih? Mana peduli gua, cepetan turun ato gua seret. Bunda udah nyariin lu, bego.’
“Ck, give me five minutes then.”
‘Ya, cepetan.’
“Mik.”
Sebelum puan yang di seberang sana menutup panggilan, Rakha kembali memanggil namanya. Bingung memenuhi kepalanya saat ini. Sungguh, kalau dari awal kehidupannya ia tak harus kehilangan peran ayah, tak akan mungkin ia diselimuti canggung seperti ini hanya untuk menanyakan bagaimana menghubungi sang ayah.
‘Hm?’
“Lu… kalo nelfon Ayah ngomong di awalnya gimana?”
‘Pffftt… BWAHAHAHAHA apaan sih lu? Kesambet?’
“Sialan, gua tanya beneran.”
‘Dalam rangka apa lu nanyain Ayah? Tumben amat?’
“Ya… emangnya ngga boleh apa?”
‘Boleh sih, but seeing you like this all of sudden tuh kayak aneh aja menurut gua.’
‘Lu mau perbaiki hubungan lu sama Ayah sekarang?’
“Nah tuh tau.”
‘WKWKWKWK DEMI APASIH LU?’
“Ck, diem goblok, nanti kedengeran Bunda.”
‘Kedengeran gimana orang gua udah masuk kamar ini.’
‘Makanan lu udah gua simpenin di tudung saji, buka aja kalo lu mau makan. Soal Ayah, jujur gua ngga yang gimana gimana sih. Kan dari awal gua mah deket deket aja sama Ayah, ngga kayak elu.’
“Monyet lu, Mik. Udahlah gua tutup aja telfonnya.”
‘Eitssss, jangan marah dong adikku sayang. Ya, mungkin lu bisa tanyain dulu kabar Ayah di sana, pasti Ayah langsung nanya lu balik. Ayah tuh udah dari lama pengen ngobrol sama lu, cuman lu masih belum bisa maafin, ya?’
“Ya… he deserved to get those treatments after neglecting us, right?”
‘Okay first, let me clarify something important here. Rakha, he never neglecting us.’
“Gua udah duga lu bakal ngomong gini sih, Mik. Udah lah, emang ngga ada untungnya gua ngobrol sama lu.”
‘Rakha don’t you dare to hang up right now? I’ll tell Bunda about you, then.’
“Kampret lu, mainannya ngancem. Kalo lu bilang Bunda, hubungan lu sama gua sebagai kembaran juga ikutan putus, Mik.”
‘Okay, sorry, tapi gua ngga takut.’
‘Rakha, dengerin gua dulu. Sebelumnya gua mewakili Ayah minta maaf ke lu karena udah bebanin segala tanggung jawab sosial sebagai laki-laki di keluarga ini sendirian. Gua dan Bunda juga minta maaf karena nganggep lu selalu bisa diandalkan tanpa pernah ngasih lu ruang untuk mengeluh. Rakha, maaf karena udah lahir bareng lu dan bikin beban lu tam–’
“Apaan sih, Mik? Gua ngga pernah nyesel punya lu sebagai saudara gua. Jangan ngomong gitu ke diri lu sendiri.”
‘Okay then, thank you for being grateful for my existence as your twins. But at this point, Ayah juga dilema buat ninggalin kita, Rakha.’
“Gua udah tau. Cuma biar dapet nafkah sampe ninggalin kita jauh tanpa sekalipun ke Indonesia, 'kan? Mik, lu juga ngerasain gimana beratnya hidup kita tanpa sosok Ayah yang hadir di sekolah sekali aja ngga pernah. Banyak yang ngejekin lu dan gua cuma karena kita gabisa buktiin Ayah ngga ada karena jauh kerja. Bunda juga dikatain sana sini ngga punya suami. How you forget those things?”
‘I feel you. Gua juga masih inget rasa sakitnya. Tapi Rak, Ayah sebenernya pernah ngusahain kita buat pindah ke Jepang.’
“Lu bohong gini buat apa sih, Mik? Jelas-jelas dari kita kecil aja Ayah udah ngga ada buat Bunda. Terus lu bilang gini atas dasar apa?”
‘Aku ra ngapusi, Thel, Gathel. Angel men kandhananmu. Rungokna aku sik. (Aku ngga bohong, Kampret! Susah banget sih kamu dibilangin? Dengerin aku dulu) Ayah sama Bunda emang diem-diem soal ini. They kept silence karena mereka pikir, kita sebagai anak-anaknya udah cukup sejahtera dengan nafkah dan fasilitas yang dikasih selama hidup. Mereka lupa untuk ada mendampingi kita, dan di sini pun gua juga baru tau kalo Ayah sempet kena pecat di kantor lamanya sebelum sekarang.’
‘Hah… are you serious right now?’
‘Serius, Rakha. Gua nemu surat pemecatannya masi kesimpen rapi di lemari Bunda. Ayah sempet dipecat sebulan sebelum rencana kepindahan kita ke Jepang. Itu bikin beliau sempet stres karena tadinya Ayah udah ngurus segala berkas-berkas kita buat tinggal sekeluarga menetap di Tokyo, tapi karena dipecat itu juga, Ayah kehilangan jaminan untuk bikin visa kita. Selama sebulan itu Ayah nangis-nangis, nelpon Bunda juga susah karena biaya telpon ke luar negeri lebih mahal, terlebih harus segera cari kerja lagi buat bisa tetep nafkahin kita di sini. That’s also the reason why Bunda juga ikut kerja, ‘kan? Begitu keadaan Ayah dan Bunda udah stabil, kita telanjur didaftarin segala keperluan administrasi di Indonesia, makanya karena Bunda ngga mau ngerepotin dan ngeribetin Ayah, akhirnya Bunda milih buat kita bertiga stay di sini sampe sekarang.’
“If that’s the reason why, kenapa Ayah pulang ke Indonesia aja ngga pernah?”
‘Ayah sempet disuruh Bunda ngajuin pindah warga negara dan Ayah nurutin. Akhirnya ya berhasil, Ayah jadi warga negara Jepang. Terlebih sebelum pindah kewarganegaraan, Ayah sempet kena overstay di sana dan bikin ngga bisa balik. Double kill kan ngga bisa baliknya? Nah makanya sampe sekarang Ayah ngga balik-balik.’
‘Rak, asal lu tau tiap Ayah ngajak video call group, Ayah selalu nunggu lu buat join. Ayah mau minta maaf sama lu. Kemarin pas lu mau ke Jepang untuk kedua kalinya, Ayah tuh seneng banget bisa ketemu lu. Keliatan ‘kan gimana beliau selalu nyodorin menu seafood kesukaan lu dari dulu, nyuruh lu makan banyak, bolehin lu stay di pantai sampe larut malem. That’s because Ayah wanted to be forgiven, Rakha. Di video call lain waktu pun Ayah selalu nanyain lu gimana kuliahnya, sibuk ngapain aja, udah eksplor apa aja di Jogja. Ayah bangga sama lu dari dulu, Kha. Ayah masih simpenin origami bangau yang lu bikin buat dia terakhir kali di Jepang. Ayah bangga banget pas tau lu menang lomba robotik di mana-mana, lomba cerdas cermat di televisi, jadi cofas, jadi asdos juga. Ayah more than proud of having you, Kha.’
Seketika Rakha diam membisu. Pandangannya yang sedari tadi jatuh pada langit-langit kamarnya berubah menjadi memburam. Cicak yang merayap di sudut ruangan tak lagi mampu ia lihat dengan jelas sebab likuid bening tengah memenuhi pelupuk matanya. Cairan itu jatuh deras membasahi pipinya, membuat jejak bak muara sungai terlukis di pahatan rupanya yang tegas rupawan. Pusing semakin mendera kepalanya. Luka yang Rakha miliki begitu dalam kepada sang ayah, pun alasan di balik itu yang tak pernah orang tuanya lontarkan membuatnya semakin terasa pedih. Seharusnya hal yang disampaikan Mikha berhasil menyembuhkan hatinya yang lara, tetapi mengapa untuk memaafkan seseorang yang begitu menorehkan luka harus sama pedihnya dengan mendapat luka itu sendiri? Luka yang sudah lama tak diobati, tiba-tiba dibanjiri oleh sekonyong-konyong pernyataan yang harap-harap mampu mengobati, tetapi pada nyatanya justru seperti menabur garam dan perasan limau di atas lukanya sendiri. Malam itu tak Rakha habiskan untuk menikmati nasi ayam bakar buatan Bunda yang sedapnya luar biasa. Malam itu tak Rakha habiskan untuk mencari segala cara untuk meraih dan menghubungi Wisha. Malam itu penuh Rakha habiskan untuk menangisi Ayah yang lama tak hadir di hidupnya. Sebagai pembimbing, pendamping, dan guru terbaik di hidupnya.
Pun keesokan harinya Rakha terbangun pada dini hari dengan keadaan pegal memeluk raga. Otaknya memanggil kembali ingatan yang datang secara tiba-tiba beberapa jam yang lalu. Masih dengan kepalanya yang pusing, Rakha mencoba untuk menghubungi sang ayah. Di sana masih pukul empat pagi, tetapi barangkali ayahnya itu masih punyai kebiasaan bangun lebih awal, maka dari itu Rakha coba peruntungannya kali ini. Lagipula kalau memang tidak diangkat juga tak apa, bisa ia hubungi ayahnya lagi saat matahari sudah menampakkan diri.
Pemuda Rakhamiel berdebar tak karuan. Ini kali pertama dirinya menelepon Ayah. Pertama kali pula dirinya akan berbincang dengan Ayah selama tujuh belas tahun hidupnya—tepat sebelum ia mulai membenci sang ayah. Maka saat panggilan tersebut tersambung, Rakha hanya bisa diam membisu seraya menunggu suara muncul dari seberang.
‘Halo, Rakha? Apa kabar, Nak?’
‘Oh, jadi begini suara Ayah kalau ditelepon,’ batin Rakha sembari mencoba merangkai kata untuk menanggapi sang ayah.
“Rakha baik,” jawab Rakha sekenanya. Pemuda itu mengetukkan jemarinya di meja belajar sembari melongokkan sorotnya ke langit-langit, menimbang-nimbang kata-kata yang harus ia ucapkan, “Ayah sehat?”
‘Ayah sehat, Nak. Ayah seneng banget akhirnya Rakha mau telepon Ayah. Makasih ya, Nak sudah ngasih sedikit ruang untuk Ayah ngobrol sama kamu.’
“Iya Ayah,” timpal Rakha sembari menjeda kalimatnya, “Ayah, how’s your life there… without me, Mikha, and Bunda?”
Terdengar helaan berat lolos dari seberang sana. Lelaki paruh baya itu menjeda kalimat yang hendak terlontar dari bibirnya sejenak, mencoba menjelaskan semuanya kepada anak lelakinya perlahan, ‘Ayah kangen kalian, Nak. Hidup Ayah di sini ngga begitu menyenangkan kalau ngga ada kalian.’
“Terus kenapa Ayah ngga pernah pulang ke Indonesia?”
‘Maafkan Ayah, ya, Sayang? Ayah ngga bisa nyempetin buat ngunjungin kalian di Indonesia. Selalu kalian yang mampir ke Jepang, maaf sudah merepotkan ya, Nak? Semua ini murni kesalahan Ayah.’
‘Nak, Ayah sedih pas tau kalau kamu sampe rela kerja part time diem-diem buat beli apa yang kamu mau dengan uang kamu sendiri. Kamu bahkan semarah itu ya, Nak sampai nafkah Ayah ngga pernah kamu gunakan untuk hidup kamu? Sekali lagi Ayah minta maaf ya, Nak.’
“Kalau boleh jujur, iya Rakha masih marah sama Ayah, marah banget,” timpal Rakha dengan suaranya yang semakin terdengar serak. Seutas tali serasa menjerat lehernya saat ini, pun dengan akhirnya Rakha putuskan untuk mengeluarkan semua amarah yang selama ini ia pendam, “Ayah tuh udah ngga ada mendampingi aku, Mikha, dan Bunda dari usiaku tiga tahun. Mungkin Bunda ngga pernah cerita ke Ayah gimana tiap hari Bunda selalu digunjing tetangga karena suaminya ngga pernah keliatan tapi punya dua anak, but she went through it without complaining even once in her life, Yah. Ayah yang ngga pernah pulang tuh sedikit banyak juga bikin Mikha diejek ngga punya ayah. Kalau yang diejek itu aku masih ngga papa, Yah, tapi ini Mikha sama Bunda, dua perempuan yang harus aku jaga di umur aku yang bahkan belum pantas menanggung beban seberat itu sendirian.”
“Ayah, usiaku bahkan baru lima tahun pas aku tau keadaan keluarga kita yang ngga kayak keluarga lain. Aku ngga punya contoh gimana jadi laki-laki yang bisa nge-handle emosi. Aku ngga tahu kapan aku harus marah, kapan aku harus sedih, kapan aku harus bisa melindungi Mikha sama Bunda. I figured out everything by myself. Aku juga bisa capek untuk jadi tameng tanpa peduli sebenernya aku maunya apa, maunya gimana.”
Memang nama Gladion teramat serasi untuk disematkan sebagai nama depan pemuda Rakhamiel, pun dengan arti yang sama serasinya dengan garis takdir yang harus ia jalani selama ini. Rakha terpaksa harus tangguh. Rakha terpaksa harus kuat. Rakha tak boleh menunjukkan sisi lemahnya demi melindungi Bunda dan Mikha. Rakha yang gigih. Rakha yang tak kenal menyerah. Kiranya sosok Gladion Rakhamiel melebihi doa dari nama itu sendiri.
“Sampai ketika aku tau gimana aku harus bersikap, sehari-hari aku milih buat ngga ngeluapin emosiku ke Mikha sama Bunda. Aku ngga mau bikin mereka kepikiran dan nyakitin mereka. Aku ngalihin capekku ke kegiatan robotik. Untungnya juga dari lomba-lomba itu aku dapet uang yang cukup untuk ngga gunain nafkah Ayah selama ini. Uang yang Ayah kirim selalu digunain buat Bunda dan Mikha, pun aku juga ngga sudi make uang itu untuk hidup aku yang selalu benci sama Ayah.”
Tak ada sahutan dari seberang sana. Rakha lebih dari paham bahwa saat ini Ayah juga sama sakitnya. Rakha lebih dari paham bahwa saat ini Ayah juga merasa terpukul seumur hidupnya. Ayah melewatkan begitu banyak hal dari istri dan kedua anaknya. Ayah pikir semua masalah hidup selesai dengan material semata, tetapi perlu digarisbawahi bahwa waktu selamanya tak akan bisa dibeli oleh apapun. Ayah tak akan pernah bisa membeli waktu untuk mendampingi istrinya untuk sama-sama mendidik kedua anaknya. Ayah tak akan pernah bisa membeli waktu untuk membimbing serta mencurahkan kasih sayangnya kepada kedua anaknya. Ayah melewatkan banyak hal hanya untuk membuat istri dan anaknya hidup berkecukupan.
‘Nak, Ayah ngga pernah tau hal itu terjadi sama kalian. Rasanya Ayah juga ngga pantes dapet maaf dari kamu, Nak. Ayah ngga tau lagi gimana caranya untuk memperbaiki semuanya selain dengan maaf, tapi mungkin kali ini Ayah bakal coba untuk perbaiki semuanya pelan-pelan, ya? Kapan-kapan nanti Ayah ambil cuti dan pulang ya, Nak? Rakhamiel anakku, sekali lagi Ayah minta maaf, ya?’
Pada akhirnya memang hidup terlampau kejam untuk membuat Rakhamiel bertahan dengan ego dan idealismenya sendiri. Hidup yang dijalani oleh dirinya dan keluarganya membutuhkan pengorbanan yang teramat besar. Ayah mengorbankan kebersamaannya dengan keluarga kecilnya. Bunda mengorbankan waktu untuk dirinya sendiri dan kesempatan untuk menyembuhkan lukanya. Mikha mengorbankan kepercayaannya pada dunia. Adapun Rakha turut mengorbankan masa kecilnya dan kesempatan untuk mengenal siapa dirinya di luar perannya sebagai pelindung keluarga. Semua mempunyai lukanya masing-masing, mempunyai dilemanya masing-masing, dan mempunyai cara berdamai masing-masing. Dengan begitu Rakha kembali buka suara, melanjutkan kalimat yang sedari tadi sukar keluar dari tenggorokannya.
“Semuanya juga udah kejadian, Yah. Mikha pun udah kasih tau aku gimana susahnya Ayah mertahanin komunikasi sama kami. Jadi, ngga ada alesan lagi buat aku harus marah ke Ayah. Rakha maafin Ayah. Rakha juga minta maaf belum sepenuhnya bisa jadi anak baik yang melindungi Bunda sama Mikha. Rakha minta maaf ya, Yah?”
Tangisan pilu dari seberang sana memecah keheningan dini hari itu. Sang ayah menangis tersedu, merapalkan untaian maaf serta terima kasih untuk Rakha berkali-kali, ‘Nak, terima kasih sudah mau memaafkan Ayah, ya? Rakha, Ayah lebih dari bangga punya kamu, Nak. Kamu anak hebat, anak pemberani, anak tangguh seperti Gladion di namamu. Ayah ngga pernah kecewa sedikitpun sama Rakha. Makasih ya, Nak sudah bertahan dan hidup sebagai anak baiknya Ayah. Good job, Nak. Terima kasih sudah menjaga Bunda dan Mikha melebihi diri kamu sendiri, Nak. Ayah janji Ayah akan pulang secepatnya, ya? Rakha mau minta apa aja nanti Ayah belikan. Anak pintarnya Ayah, terima kasih sudah berbaik hati untuk memaafkan Ayah ya, Nak? Baik-baik di Jogja sama Mikha, ya? Ayah selalu mendoakan Rakha dan Mikha.’
Dengung terdengar di rungu Rakha seiring dengan rentetan kalimat yang lolos dari lelaki paruh baya yang semula ia benci. Air mata Rakha yang sedari ia tahan untuk meluncur lagi nyatanya kembali deras membasahi pipi tirusnya. Pada nyatanya, Rakha masih punyai ruang untuk menyayangi sang ayah. Selama ini, rasa sayang Rakha untuk ayahnya tertutup oleh kecewa yang mendera selama dua puluh tahun hidupnya. Tali jeratan amarah itu luruh perlahan, membebaskan tubuhnya yang babak belur di sana sini. Seiring berjalannya waktu, pastilah lebam tak kasat mata yang Ayah torehkan akan sembuh sendirinya. Setidaknya, tali jerat yang membelit tubuhnya sudah lepas satu persatu. Hanya sebagian tali lagi yang harus bisa Rakha bebaskan, tak lain dan tak bukan adalah perasaannya kepada Wisha yang terpaksa kandas sebab perlakuannya yang begitu menyakitkan.
Waktu menunjukkan pukul empat pagi ketika Rakha akhirnya putuskan untuk menceritakan sosok Wisha kepada sang ayah. Ia tak mampu lagi menahan beban perpisahan dengan lelaki Janithra itu. Rakha sedikit menegakkan badannya di kursi gaming-nya, mengedipkan mata sesekali, dan kembali fokus pada monitor PC miliknya yang mati. Tangan kanannya yang mulai kebas memegang ponsel berganti memegang ponsel dengan tangan kirinya sembari menumpu siku di meja. Kantuknya sudah hilang digantikan rindu yang menggebu kepada Wisha. Sontak lelaki itu jujur pada Ayah, mempersilakan sang ayah mendengar keluh kesahnya.
“Ayah.”
‘Iya, Nak. Ada apa?’
“Rakha mau sembuh, Yah. Rakha ngga mau bikin orang lain tersakiti lagi karena Rakha yang belum selesai sama luka lama,” lirih Rakha sembari kembali melihat langit-langit kamarnya. Dinginnya udara air conditioner tak sekalipun membuat suhu tubuh Rakha turun. Mungkin saja lelaki itu memang demam pasca lepaskan segala beban dan lukanya kepada sang ayah. Pun dengan sisa kesadarannya, Rakha kembali mencoba bercerita mengenai lelaki yang sempat menjadi kekasihnya yang harus ia sia-siakan kepada sang ayah. Ia tak tahu lagi bagaimana memperbaiki hubungan dengan Wisha sebagai seorang lelaki—mengingat pemuda Rakhamiel selama ini menentukan kompas moralnya pada nurani dan norma yang ada tanpa adanya bimbingan dari sang ayah. Barangkali Ayah bisa membantunya. Barangkali Ayah bisa memberikan solusi untuknya, “Rakha udah nyakitin mantan Rakha, Yah.”
‘Loh, Nak? Kamu sudah pernah pacaran? Ayah boleh tau putusnya karena apa?’
“Semua salah Rakha kok, Yah. Rakha bingung sama perasaan sendiri. Sebelum kenal sama mantan Rakha, Rakha pernah deket sama temen les Rakha. Nama temen Rakha itu Kala, dia sempet confess ke Rakha, Yah. Waktu itu Rakha clueless banget harus diapain perasaan ini ke Kala. Rakha tuh suka Kala selalu ada buat Rakha, tapi Rakha juga jengkel tiap kali Kala ceritain laki-laki lain. Ternyata Kala ceritain orang lain ke Rakha karena mau buat Rakha cemburu, tapi sayangnya Rakha telanjur keburu emosi dan bilang yang engga-engga ke Kala, kayak ngatain dia murahan, gampangan, sana sini mau. Rakha bodoh banget, Yah.”
‘Astaga, Nak. Terus kamu sekarang udah minta maaf ‘kan ke Kala? Kamu udah keterlaluan banget itu, Nak. Kasihan Kalanya.’
“Iya, Yah. Rakha udah coba reach out Kala, kok. Rakha udah di tahap pasrah banget buat berusaha minta maaf ke Kala karena dia semarah itu ke Rakha. Sampe akhirnya Kala udah punya pacar, Yah. Pacarnya baik banget, ngga heran kalo Kala selalu ceritain pacarnya itu ke Rakha pas masih jadi temen. Sehari sebelum Rakha ulang tahun, Kala sama pacarnya dateng ke rumah Jogja, Yah. Kala mau baikan sama Rakha dan pacarnya pun bolehin Rakha peluk Kala untuk pertama dan terakhir sebagai temen lagi. Tapi, Rakha ngga tau kalo ternyata pacar Rakha dateng bawa kue sama bunga buat Rakha. Terus besok paginya dia minta ketemuan di kafe langganan kami dan mutusin Rakha saat itu juga.”
‘Ya ampun, Nak. Berarti kamu sama mantanmu putus karena salah paham?’
“Bisa dibilang gitu, Yah. Tapi parahnya, mantan Rakha ternyata tau kalo selama ini Rakha perlakuin dia kayak Rakha mau perlakuin Kala.”
‘Hah? Gimana maksudnya, Nak?’
“I’m such a jerk, Ayah. Selama Rakha pacaran sama Wisha, Rakha selalu minta Wisha berperilaku kayak Kala. Habis dicut-off Kala dan pacaran sama Wisha, Rakha ngelihat Wisha tuh mirip sama Kala. Rakha ngerasa bersalah banget sama Kala, Yah, makanya Rakha perlakuin Wisha kayak Rakha perlakuin Kala. Makanan dan minuman yang Rakha pesen untuk Wisha selalu menu kesukaan Kala. Rakha selalu minta Wisha main biola, main rubik, potong rambut pendek atau minimal dikuncir supaya Rakha bisa dapetin sosok Kala dari Wisha. Rakha emang jahat banget, Yah. Wisha tau itu dan ternyata dia pun lebih menderita dari apa yang Rakha duga. Wisha ternyata sepupunya Kala yang selalu disepelein dan dibandingin sama keluarga besarnya. Makanya ngelihat perlakuan Rakha ke dia seolah-olah Rakha memperlakukan Kala ngebuat dia sakit hati setengah mati, Yah.”
“Ayah, Rakha ngga tau lagi harus ngapain. Setelah putus, Rakha baru ngerasain kalo kehilangan Wisha jauh lebih sakit daripada kehilangan Kala. Hari-hari Rakha selalu ditemenin Wisha, mau itu pas belajar, makan bareng, main bareng, semuanya selalu sama Wisha, Yah. Rakha juga baru sadar kalo Rakha ngerasa lebih didenger dan disayang kalo sama Wisha ketimbang sama Kala. Wisha sekarang juga udah blokir semua akses Rakha ke dia, termasuk akses Mikha dan Bunda juga ke dia.”
‘Ya Tuhan, Rakha. Kamu ini kalau ngga bakat pacaran mending ngga usah. Wisha kasihan kamu perlakukan begitu, Ayah jadi ikut sebel sama kamu. Terus gimana, kamu mau perjuangin Wisha?’
“Mau, Yah. Mau banget. Rakha ngga betah ngerasa bersalah ke Wisha.”
‘Rakha, jangan reach out Wisha kalau semata-mata kamu cuman merasa bersalah sama dia. Buktikan ke Wisha kalau kamu serius mau berubah demi hubungan kamu sama dia, itupun kalau memang kamu benar-benar cinta sama dia. Ayah juga ngga mau menyalahkan kamu sepenuhnya karena Ayah sadar juga kalau Ayah ngga sepenuhnya hadir membesarkan kamu. Sekarang Ayah cuman mau kamu bisa jadi orang yang yakin sama pilihan kamu. Kalau kamu mau Wisha kembali, usahakan apapun caranya asal jangan melampaui batas. Kalau Wisha memang ngga bolehin kamu ngehubungin dia lagi, kamu usaha cari dan hubungi temen-temennya Wisha buat berkabar. Kalau ngga bisa, cari cara lain, kamu pasti tahu lebih baik dari Ayah. Cari peluang yang ada selagi bisa, Rakha, Ayah selalu mendoakan kamu yang terbaik, Nak.’
Perkataan sang ayah menghantam kewarasannya bertubi-tubi. Pikirannya selama ini hanya buntu pada bagaimana ia bisa dimaafkan tanpa benar-benar menggali kembali tujuan yang lebih penting untuk mengusahakan Wisha sekali, bahkan berkali-kali lagi. Rakha mendambakan Wisha lebih dari pertama kali ia bertemu dengannya. Rakha sadari bahwa Wisha adalah orang yang ia mau untuk mendampingi hidupnya. Rakha sadari bahwa tidak ada satupun orang yang berhasil bertahan lama dengannya selain Wisha. Wisha betul-betul menerimanya. Wisha tulus mencintainya, pun dengan Rakha yang saat ini baru menyadari perasaannya. Maka dari itu ia iyakan nasihat sang ayah dan pamit menutup sambungan telepon. Rakha sudah menemukan titik terang usaha untuk meraih Wisha kembali. Mau sesukar apapun itu, Rakha yakinkan diri bahwa tak ada yang sia-sia untuk mengusahakan orang yang ia cinta.
Perbaikan hubungan Rakha dengan sang ayah membawa peran besar untuk Rakha. Ia tak lagi segan untuk menampakkan sifat manjanya kepada Ayah, Bunda, dan Mikha. Bunda menyambut senang perubahan Rakha dengan rentetan permintaan maaf. Bunda turut meminta maaf telah menumpukan segala ekspektasi dan tanggung jawab di bahu Rakha kecil yang sempit sampai selebar sekarang. Bunda turut pintakan maaf karena juga tak punyai waktu untuk mendampingi mereka belajar dan bermain di rumah sebab dirinya juga bekerja dari pukul tujuh sampai pukul delapan. Pun dengan Mikha yang meminta maaf lagi akan sikap bergantungnya pada adik kembarnya. Rakha yang mendapat permintaan maaf yang sudah lama ia nantikan perlahan merasakan hangat menyelimuti hatinya. Hatinya terasa penuh dan lapang. Tak ada lagi beban yang mendesak perasaan di hatinya yang sempit. Tak ada lagi amarah yang menyelimuti tatkala sebutan ‘Ayah’ menyambangi rungunya. Tak ada lagi pilu yang bercokol bila ia ingat kembali masa kecilnya. Kali ini, Rakha hanya ingin tetapkan tujuan untuk melepas tali yang masih menjeratnya, yakni perasaannya yang hendak ia susun kembali dan persembahkan untuk kesayangannya, lelaki Janithra Wisathya.
Maka setelah beberapa hari liburnya ia habiskan di rumah, ia kembali pulang ke perantauan bersama dengan Mikha. Rakha ingin cepat-cepat sampai di Yogyakarta dan mencoba mencari dan mengusahakan Wisha lagi. Melihat kilat binar di sepasang mata adik kembarnya, Mikha berikan senyum tipis penuh arti sepanjang perjalanan pulang. Pada akhirnya adiknya tak lagi terbebani. Pada akhirnya adiknya temukan semangatnya lagi. Pada akhirnya keluarganya utuh lagi. Pun juga Mikha hendak meminta maaf secara langsung kepada Wisha karena telah mengiyakan rencana bodoh Rakha tahun lalu. Setelah sampai di rumah, Rakha dan Mikha merapikan barang bawaan mereka dan bersantai di kamar masing-masing.
Hari-hari berjalan seperti biasanya, termasuk dengan Rakha serta aktivitas kampusnya. Hari ini Rakha hanya punya agenda satu kelas pagi sehingga di sinilah dirinya sekarang, merebahkan diri setelah menyicil mengerjakan laporan praktikum dan mengoreksi laporan-laporan praktikum milik adik tingkatnya. Berhubung sisanya tinggal sedikit dan Rakha malas setengah mati untuk melanjutkan pekerjaannya kembali, maka kini ia memilih untuk berbaring dan menggulirkan layar ponselnya pada aplikasi mengirim pesan. Setelah cukup bosan, Rakha memutuskan untuk mandi sebab cuaca Yogyakarta lagi panas-panasnya. Selepas mandi, terbesit ide dari lelaki Rakhamiel untuk mencoba menggapai Wisha lagi.
Fokusnya kembali pada ponsel di tangan kanannya, kembali menggulirkan jemarinya di aplikasi berkirim pesan. Handuk yang tersampir di lehernya ia lempar asal di kursi belajar dan mencoba untuk menghubungi beberapa teman Wisha. Pemuda Rakhamiel mulai menghubungi Marcel, Juan, dan Juno terlebih dahulu. Setelah beberapa menit bahkan jam berlalu, Rakha mulai dapatkan beberapa balasan dari ketiga teman Rakha tersebut.
Marcel FK ‘25 Poerbatjaraka 10
Oit, bang! Kabar gua baik
Coba ya, bang gua tawarin dulu ke wisha, mau ngga dia ketemu lu
Bang rakha sorry, wisha ngga ngebolehin lu ngehubungin dia pake hp gua
Gua juga ngga dibolehin ngasi tau kabar dia
Maaf ya, bang
You
Eh, iya gapapa, Cel
Makasih ya infonya
Marcel FK ‘25 Poerbatjaraka 10
Maaf ya, bang
Semoga hubungan lu membaik sama wisha 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
You
Makasih, Cel
Amin, doakan ya Cel
Marcel FK ‘25 Poerbatjaraka 10
Iya, semangat bang 💪🏼
Percobaan pertama gagal, masih ada Juan dan Juno yang ia gantungkan harapan. Semoga ada keajaiban dari keduanya. Rakha rapalkan doa-doa sebelum membaca pesan dari Juan dan Juno. Jemarinya memilih untuk membuka ruang obrolan dengan Juan terlebih dahulu dan membaca isi pesan dengan seksama.
Juan Farmasi ‘25 Poerbatjaraka 10
halo kak rakha
gimana ya kak, lu ngga kasian apa sama wisha?
lu jahat sih asli
wisha kagak mau ketemu lu
dan gaakan gua bolehin juga
wisha ga pantes didapetin orang brengsek kayak lu, kak
You
Iya, Ju, gua emang brengsek. Semua salah gua.
Gua mau minta maaf ke Wisha, Ju
Tolong bantu gua bisa ngga, Ju?
Juan Farmasi ‘25 Poerbatjaraka 10
ngomong ama tembok coba kak
semangat deh, wisha marah banget tuh sama lu
Ah, iya. Wisha adalah teman baik Juan, pastinya ia sudah ceritakan semuanya ke lelaki itu. Dibalas oleh makian tak serta merta membuat Rakha gentar. Dirinya memang mengaku salah, dan apa salahnya ia ingin memperbaiki hal itu? Maka dari itu jemarinya kini bergulir kembali ke layar, membuka ruang obrolannya dengan Juno dan membaca pesan di dalamnya.
Juno Sipil ‘25 Poerbatjaraka 10
Oit, Mas Rakha!
Apik kabarkuu (Baik kabarku)
Waduh aku wes ra tau kontakan karo Wisha, Mas. (Waduh aku udah ngga pernah kontakan sama Wisha, Mas)
Tak takoki sek ya dee gelem opo ora ketemu awakmu. (Kutanyain dulu ya orangnya mau ngga dia ketemu kamu)
You
Oke, Jun
Suwun, ya. (Makasih, ya)
Juno Sipil ‘25 Poerbatjaraka 10
Yoi, Bos. (Ok, Bos)
Walah Mas, wonge ra gelem i (Waduh Mas, orangnya gamau tuh)
Jarene aku yo ra oleh ngeki reti kabare dee nyang awakmu (Katanya aku juga ngga boleh ngasih tau kabar dia ke kamu)
Sepurane, yo Mas. (Maaf banget ya, Mas)
You
Oalah, wis rapapa (Oh iya, udah ngga papa)
Suwun ya, Jun wis ditakoni (Makasih ya, Jun udah ditanyain)
Juno Sipil ‘25 Poerbatjaraka 10
Aman, Mas.
Nek dee wes gelem nompo ngapuromu ngko tak kabari. (Kalau dia udah mau nerima maafmu, nanti kukabari)
You
Haha iyooo (Haha iyaaa)
Suwun tenan ya, Jun. (Makasih banget ya, Jun)
Juno Sipil ‘25 Poerbatjaraka 10
Sami-sami, Mas Rakha. (Sama-sama, Mas Rakha)
Nihil. Tak ada jawaban yang bisa memberikan Rakha celah untuk menghubungi dan bertemu kembali dengan Wisha. Harapannya kian menipis untuk temukan Wisha di hidupnya lagi. Tapi, bukan Gladion Rakhamiel namanya jika cepat menyerah pada keadaan. Maka dari itu lelaki umur dua puluh itu segera bersiap ke luar membawa motor hitamnya. Lelaki itu menyusuri tempat-tempat yang disambangi oleh Wisha selama bersamanya. Barangkali Wisha ada di sana. Barangkali cantik rupa Wisha bisa Rakha lihat kembali. Barangkali senyum manis Wisha bisa Rakha temukan kembali. Barangkali tubuh kecil Wisha bisa Rakha dekap lagi. Ah, Rakha teramat merindukan Wisha-nya. Rakha teramat mendamba Wisha-nya. Rakha ingin melihat Wisha sekali lagi. Rakha ingin peluk Wisha sekali lagi. Rakha ingin membuat Wisha tersenyum lagi. Semoga keajaiban datang hari ini.
Mentari sudah menampakkan cahaya jingganya, menyapu pelataran trotoar Jalan Malioboro di sore hari. Sudah berjam-jam pula pemuda Rakhamiel mencari keberadaan Wisha di seluruh penjuru Kotabaru, pun dengan Jalan Malioboro yang kini sudah Rakha putari hampir sepuluh kali untuk mencari keberadaan Wisha. Wisha tak ada di kafe yang biasa keduanya kunjungi, baik itu di area Pogung, Sagan, ataupun Kotabaru. Pun Wisha juga tak ada di salah satu minimarket yang kerap ia kunjungi di Malioboro sembari menenteng croissant coklat yang sudah lumayan dingin. Sampai pada satu titik Rakha teringat satu hal. Mungkin saja Wisha ada di Perpustakaan Pusat. Ya, benar, lelaki cantik itu seringkali menghabiskan waktunya di tempat itu. Maka setelahnya Rakha kembali mengemudikan motornya menuju gedung perpustakaan yang dimaksud. Begitu motornya sudah terparkir, Rakha tergopoh-gopoh masuk ke dalam dan mencari Wisha di penjuru lantai. Biasanya Wisha akan pergi ke lantai tiga, tetapi biarlah Rakha benar-benar mencari Wishanya betul-betul.
Sudah satu jam Rakha memutari seluruh lantai perpustakaan tersebut. Nihil. Wisha tak ada di sudut manapun dan di titik manapun. Rakha sudah sedikit putus asa saat ini, pun ditambah kekesalan menyelimuti dirinya ketika ponselnya mati daya. Rakha sama sekali tak membawa kabel casnya, pun dengan penjaga perpustakaan yang tak punyai kabel pengisi daya yang sama dengan ponsel Rakha. Takut tak bisa pulang, Rakha memutuskan untuk menghubungi ponsel Mikha, memintanya datang ke perpustakaan naik ojek online supaya Mikha bisa meminjamkan ponselnya untuk Rakha lakukan tap out perpustakaan melalui aplikasi universitas. Untuk menghubungi Mikha, Rakha meminjam fasilitas telepon kabel yang disediakan di resepsionis. Ia menekan nomor telepon Mikha dan menyuruh saudaranya datang ke perpustakaan. Panggilan antara keduanya usai setelah tiga menit berbincang, pun Rakha kini tengah menunggu kedatangan Mikha. Jemarinya mengetuk meja resepsionis dan memperhatikan telepon kabel itu lamat-lamat. Ide muncul di benaknya tatkala ia membayangkan bagaimana jadinya jika ia pergunakan telepon itu untuk menghubungi Wisha.
Ya, benar, ide cemerlang, Rakhamiel! Begitu penjaga resepsionis pergi sejenak dari tempatnya, pemuda itu sontak meminjam telepon kabel itu lagi dan memencet nomor telepon Wisha yang sudah dihafal di luar kepala. Jantung Rakha berdegup kencang menunggu sahutan dari seberang sana. Sudah pasti Wisha akan menjawabnya, Rakha yakin itu.
Maka tak lama setelahnya, terdengar sahutan dari sana, ‘Halo? Pak, device saya ada yang tertinggal lagi, ya? Aduh maaf ya, Pak nanti saya ambil secepatnya.’
Suara lembut itu, suara yang akhir-akhir ini Rakha rindukan. Panas kini menjalar di sekitar pelupuk matanya, membuat sorot tajam kepunyaan Rakha mengabur tertutup air mata. Rakha tak bisa pungkiri betapa bahagianya ia bisa menghubungi Wisha lagi. Maka dari itu, Rakha sudahi jeda di antara mereka dan mulai berbicara.
‘Halo, Pak? Betul kan ya device saya ketinggalan?’
“Wisha, ini aku, Sha.”
Hening menyelimuti jarak antara Rakha dan Wisha saat ini. Tak ada lagi suara yang keluar dari telepon itu, maka dengan panik Rakha kembali membuka suara, “Wisha please jangan tutup teleponku dulu.”
‘Kamu ngapain nelfon pake telepon perpus?’
“Sha, you didn’t know how much I miss you. I longed for you after our breakup so please dengerin aku sekali aja.”
‘I think there’s no further conversation we should clear immediately between us since that day, right? I’ll hang up right aw-’
“Sha, I truly sorry for what I did before. There’s no Kala, no others except you in my heart. Sha, give me one more chance, please. I’ll fix everything and I’ll treat you better than ever, Sha. Aku mohon, Sha, sekali lagi aja, Sha.”
Baru kali ini pemuda Rakhamiel mengemis sebegitunya. Baru kali ini pemuda Rakhamiel putus asa sebegitunya. Baru kali ini pemuda Rakhamiel menempatkan dirinya serendah-rendahnya untuk pintakan maaf dari lelaki Janithra. Sebelumnya, mana sudi Rakha mengemis untuk Kala? Sebelumnya, mana mau Rakha merendahkan dirinya hanya untuk kembali pada Kala? Kalau bukan kesadaran Rakha akan pentingnya Wisha, maka Rakha tak akan mau lakukan hal itu semua. Kendati segala usaha yang dilakukan Rakha, helaan napas berat yang bisa rungu Rakha tangkap dari seberang sana.
‘Kak, aku udah bilang kita bisa ketemu di versi terbaik kita masing-masing, kebetulan hari itu bukan sekarang, Kak. Baik aku sama kamu masih banyak kurangnya, tolong ngerti.’
“Sha I can accept who you are. Whoever you are, I’m here with open arms.”
‘I know, but I just… can’t. Aku masih ngga stabil dan sama sekali ngga siap untuk ngorbanin diri aku sendiri untuk hancur lagi. Aku ngga bermaksud buat ngga percaya kamu, Kak, tapi beneran, aku butuh waktu lebih untuk sembuh total. Entah waktu itu kapan datengnya, mungkin pas kamu udah menikah? Jadi tolong, jangan hubungi aku dan jangan cari aku.’
“But I just want you right here, Sha. With me.”
‘Kamu bilang itu karena kamu baru aja kehilangan aku, Kak. Percaya deh lama-lama nanti kamu bakal terbiasa.’
“No, Wisha aku lebih dari yakin kalau kali ini perasaanku ngga main-main.”
‘Kak, you don’t deserve someone who has mental health issue like me. Tolong stop, aku ngga mau nyakitin kamu juga, Kak.’
“Hah? No, what have you been through, Sha?”
Pip pip pip
Panggilan terputus. Rakhamiel sedikit membanting telepon itu dan mengacak rambutnya frustrasi. Sial, sial, sial, apa saja yang tak Rakha ketahui soal Wisha? Tak pernah Rakha rasakan hatinya sehancur ini mendengar kalimat Wisha barusan. Banyak kemungkinan yang muncul di benak Rakha. Mungkin saja Wisha punyai masalah sepertinya, atau bahkan lebih buruk. Mungkin saja Wisha derita sesuatu yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Mungkin saja pengakuan beberapa hari lalu di hari hubungan keduanya kandas hanya sebagian luka yang Wisha simpan untuk dirinya sendiri.
Rasa bersalah makin menggerogoti jiwa Rakha. Pikirannya melanglang buana kepada kemungkinan-kemungkinan yang belum pasti terjadi. Pun ketika puan Mikhaili mengguncang bahunya, lelaki itu baru kembali pada realita. Mikha yang terlampau mengenal Rakha selama hidupnya lebih dari paham apa yang Rakha rasakan. Ia bingung. Ia tersesat. Ia hilang arah. Maka dari itu Mikha seret Rakha untuk keluar dari kawasan perpustakaan dan menyuruh sang adik duduk di jok belakang sementara dirinya mengemudikan motor. Rakha yang hilang arah terbiasa untuk diam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri, seolah keberadaannya di jok motor tak mampu ia rasakan. Begitu motor tersebut terparkir di teras rumah, Mikha membopong Rakha dan mendudukkan lelaki itu di sofa. Hal yang selanjutnya puan itu lakukan adalah memeluk tubuh besar saudaranya, menyalurkan rasa nyaman yang harap-harap bisa menarik Rakha dari pikirannya sendiri. Begitu pemuda itu sadar, lelaki itu sontak menangis di bahu kakaknya.
Mungkin bukan hari ini kamu bisa memiliki Wisha untukmu lagi, Rakha.
Mungkin bukan hari ini kamu bisa membawa Wisha ke pelukanmu lagi, Rakha.
Mungkin bukan hari ini kamu buat rupa cantik Wisha tersenyum manis, Rakha.
Cobalah percaya bahwa waktu akan membawa Wisha kembali, Rakha. Cobalah percaya bahwa Wisha akan kembali secepatnya, Rakha. Biarkan kecewa hilang dari raganya dulu. Biarkan pilu hilang dari hatinya dulu. Biarkan lara hilang dari jiwanya dulu. Niscaya, semua yang ditakdirkan untukmu, termasuk Wisha, akan kembali padamu bagaimanapun caranya, Rakha. Bersabar sebentar, ya?
