Work Text:
Pagi yang biasanya Wisha lalui sembari meminum es kopi matcha yang ia beli dari kafe langganannya harus tak ia lakukan hari ini. Pagi yang biasanya Wisha lalui dengan mengerjakan workplan dan memakinya dalam hati harus tak ia lakukan hari ini. Pagi yang biasanya Wisha lalui dengan menghubungi Rakha untuk diajak mengobrol tentang makanan yang hendak dikonsumsi nanti siang harus tak lagi ia lakukan mulai hari ini. Wisha pergi dari tempat yang biasa ia kunjungi bersama mantannya pada pukul sepuluh pagi sembari menenteng tiramisu dan pai apel titipan adiknya yang ia beli sendiri, bukan atas inisiatif dari pemuda Rakhamiel beberapa waktu lalu. Wisha kini terduduk di bangku belakang taksi yang ia pesan dan mengalihkan pandangannya ke luar, tak menghiraukan lagu Isimo milik Bleachers yang terlantun di dalam mobil yang ia naiki. Tangisnya sudah reda dan mengering, tetapi hampa masih menyelimuti jiwa lelaki delapan belas tahun itu di perjalanan pulang.
Sekali lagi, Wisha harus kehilangan apa yang ia ingin punyai. Sudah berapa kali ya, Wisha menyerah hanya demi membuat Papa dan Mama senang? Sudah berapa kali ya, Wisha mengalah hanya demi kebahagiaan Kia? Sudah berapa kali ya, Wisha kehilangan dirinya hanya demi kakeknya tak lagi bandingkan dirinya dengan sepupunya sendiri? Wisha rasa, ia terlalu banyak menyerah pada keinginannya ketimbang mencapai cita-citanya. Demi Papa dan Mama, Wisha rela turuti untuk jalani kehidupan kedokteran ketimbang mengejar teknik metalurgi yang ia maui. Demi Kia, Wisha rela bertahan di kedokteran supaya adiknya tak perlu susah-susah menanggung ekspektasi keluarga untuk ikuti jejak sebagai klinisi.
Setidaknya, asalkan orang tua dan adiknya bahagia, Wisha akan siap sedia menjadi apa saja, walaupun artinya ia harus lepas kemampuan berhitungnya yang cemerlang untuk menghafal berbagai mekanisme kerja tubuh dan obat-obatan. Demi apapun, Wisha tak pernah sukai menghafal banyak hal apalagi yang berkaitan dengan biologi. Baginya, menghafal hanya membuat hippokampusnya bekerja keras tanpa ada dopamin yang dikeluarkan sebagai kompensasi akan penyelesaian masalah yang ia lakukan. Baginya, menyambung rasa dengan pasien hanya akan membuat kepalanya pikirkan berbagai kemungkinan-kemungkinan buruk berdasarkan kondisi klinis yang dialami, membuatnya merasa tertekan selama melakukan pemeriksaan, takut-takut pasiennya justru memburuk sebab ia periksa.
Wisha relakan mimpinya untuk bekerja di sektor tambang sebagai seorang insinyur. Wisha relakan masa mudanya untuk menjalani program akselerasi. Wisha relakan Marcel untuk menjalin kasih dengan sahabatnya sendiri, Juan, sebab lelaki yang pernah ia cinta ternyata merupakan salah satu saudara jauhnya. Wisha relakan Papa dan Mama wujudkan mimpi untuk mempunyai anak seorang dokter melalui dirinya. Wisha relakan beban calon dokter diampu oleh dirinya, bukan adiknya. Wisha relakan segala puja-puji yang pantas ia terima berbalik menjadi cacian acap kali nilainya turun di semester depan. Wisha relakan segala puja-puji kakeknya tercurah hanya untuk kakak sepupunya, Kala sejak kecil. Kali ini, Wisha pun harus relakan perasaan Rakha terbagi dua, untuknya dan untuk kakak sepupunya, Kala.
Wisha sibuk tenggelam dalam pikirannya hingga suara pria paruh baya yang sedari tadi mengemudi memecah keheningan di sekitarnya, “Mas, ini sudah sampai di titik antarnya.”
Wisha hanya bisa mengangguk dan mengucap terima kasih sebelum taksi tersebut pergi dari jangkauan matanya. Lelaki Janithra itu lantas masuki rumahnya dengan langkah yang terasa berat. Penat, Wisha rasakan penat di sekujur tubuhnya. Perutnya turut mual dengan apa yang sedari tadi ia pikirkan. Muak, demi apapun Wisha muak. Rasanya Wisha ingin akhiri hidupnya di Indonesia dan pergi sejauh-jauhnya tempat di mana tak ada seorang pun yang mampu tuntutnya menjadi seperti yang mereka pinta. Baru saja langkah Wisha memasuki pintu utama, tubuh ringkihnya terasa dipeluk oleh seseorang yang lebih kecil darinya.
“Kakaaak, Kakak kok ngga bangunin Kia sih pas pergi tadi pagi? Kia mau ikut Kak Wisha keluar padahal,” sergap adiknya, Kia, menyambar ke pelukan Wisha. Sosok yang sedari tadi pikirkan banyak hal kini luluh sejenak, membalas rengkuhan erat sang adik dan menimpal, “Loh Kia udah sembuh memangnya? Kia kemarin kan sakit, makanya pas kakak keluar tadi kakak ngga bangunin Kia biar Kia istirahat lebih lama.”
“Kakak, aku tuh cuma demam, tau! Bukannya yang harus bed rest banget,” timpal sang adik sedikit merajuk. Bibir maju kepunyaan sang adik Wisha tertawakan. Wisha menoel ujung hidung sang adik dengan telunjuknya dan menepuk kepala sang adik dengan penuh kasih sayang, “Hadeh, ngambekan kamu tuh. Nih, udah kakak bawain pai apel buat kamu. Dimakan habis lho ya, kemarin kamu yang minta, kan?”
“Asik! Makasih banyak kakakku sayang!"
“Yaaaa, udah sana ke meja makan. Kakak nanti nyusul buat ikut makan painya.”
“Eitss, pai ini buat aku aja ya, Kak. Aku 'kan lagi sakit, masa tega adeknya sakit dimintain makanannya sih, Kak?”
“Yailaaahhh pelit banget bocah, yaudah sana makan deh makan. Kakak ke kamar ya, kalo butuh apa-apa chat aja.”
“Okay!”
Lelaki yang berumur dua tahun lebih tua dari sang puan itu kemudian naik ke kamarnya. Langkahnya yang semula berat berangsur-angsur ringan begitu sang adik memeluknya erat beberapa waktu lalu. Kendati seluruh beban ekspektasi anak pertama tercurah hampir seratus persen kepadanya, Wisha akan selalu pintakan Kia sebagai adiknya di kehidupan manapun. Syukur masih sedikit mengisi di sela-sela kejengkelannya akan hidup yang terasa begitu menyesakkan. Wisha masih punyai rasa terima kasih sudah diberikan hidup untuk menjadi kakak dari Kia. Wisha berharap, dirinya dan Kia selalu diberikan kebahagiaan di manapun mereka berada.
Pun dengan beban yang berangsur-angsur luruh, pada nyatanya Wisha masih tetap rasakan kehampaan di hatinya tatkala ia tutup pintu kamarnya. Di tempat inilah segala keluh kesah Wisha teredam sempurna di celah partisi dan temboknya. Di tempat inilah segala tangis Wisha teredam di balik kasur empuknya. Di tempat inilah setidaknya Wisha rasakan dirinya secara utuh, tanpa tuntutan orang lain, tanpa ekspektasi orang lain, tanpa penghakiman orang lain. Maka dengan itu ia hamburkan tubuhnya telungkup memeluk kasurnya, mengembuskan napas dalam dan memejamkan matanya sejenak. Bisa Wisha rasakan denyut nadi mengalir deras di pelupuk matanya, di pelipisnya, di lehernya hingga ia bisa rasakan pusing mendera.
Wisha kembali tumpahkan likuid bening dari matanya. Entah mengapa ia memikirkan sisi dirinya di masa lalu yang pernah hampir meninggalkan adik tersayangnya untuk selamanya. Umurnya masih lima belas tahun saat ia didorong Mama untuk mendaftar program akselerasi. Hari-harinya ia habiskan untuk membabat habis buku-buku tes psikotes dan pengetahuan umum sekolah menengah pertama sebagai syarat ujian masuk akselerasi. Terlepas dari berbagai usahanya untuk masuk kualifikasi program akselerasi, apresiasi tak kunjung keluar dari bibir Papa dan Mama. Orang tuanya selalu anggap pencapaiannya sebagai hal yang biasa, hal yang sudah seharusnya didapatkan. Maka dari itu Wisha tak pernah gantungkan harap pada orang tuanya sedari kecil. Sebagai gantinya, ia selalu memaksa dirinya berteman dengan siapapun dan menyesuaikan diri sebagai orang yang teman-temannya suka. Dengan begitu, kasih sayang serta validasi yang selama ini tak pernah ia terima bisa terganti dengan apresiasi dari teman-temannya. Sesusah itukah dirinya untuk menjadi apa yang ia mau dan berekspresi sesuai yang ia inginkan? Pernah sekali nilai Wisha ada yang turun sedikit, bukan kalimat-kalimat penenang yang Wisha dapatkan. Sebaliknya, pertanyaan tajam selalu terlontar dari bibir orang tuanya.
'Kak, kok nilainya turun?'
'Kak, kerjain dulu Kumonnya yang rajin.'
'Kak, kamu kok bisa cuma ranking dua gini?'
'Kak, ayo belajar lagi, Mama kurangi ya jatah kamu main HPnya.'
'Kak, kok bisa sih cuma juara dua? OSN-nya baru tingkat provinsi lho, ini.'
'Kak, masa gini aja ngga bisa? Lebih serius dong, Kak.'
'Kak, nilaimu turun. Udah, keluar aja dari OSIS.'
'Kak, masa nilai kamu segini sih? Kamu kurang belajarnya?'
'Kak, kamu Papa masukkin ke Inten ya?'
'Kak, gimana ini progresmu kok nilainya kurang bagus?'
Suara-suara itu masih sering terbayang di kepala Wisha. Tanpa keduanya ketahui, Wisha mati-matian bertahan di kelas unggulan yang mereka mau. Tanpa keduanya ketahui, Wisha sering dapati tangannya terselip di balik rambut dan menjambaknya sekuat-kuatnya setiap hari. Tanpa keduanya ketahui bahwa setiap malam Wisha benturkan kepalanya berkali-kali di balik tembok kamarnya. Sampai suatu waktu Kia temukan kakaknya tak sadarkan diri di kamar dengan kepala berlumur darah. Wisha berumur enam belas tahun ketika dirinya terkapar di kasur ambulans malam itu. Pada saat itulah untuk pertama kali raut wajah Papa dan Mama terlihat khawatir, seakan dua pasang mata yang selalu menuntut itu akhirnya pancarkan sorot takut kehilangan. Setidaknya itu yang Wisha ingat sebelum kesadarannya benar-benar hilang tenggelam malam itu.
Sampai detik ini, rasa bersalah masih penuhi jiwa raga kedua orang tuanya. Pasca tragedi yang menimpa anak pertama mereka, kedua orang tua Wisha mulai bersikap lebih lembut kepadanya. Keduanya pun tak lagi mengekang Wisha dengan berbagai ekspektasi yang semula dibebankan padanya, termasuk paksaan untuk masuk ke jurusan kedokteran. Mungkin memang benar orang tuanya berubah, tetapi kakek Wisha tetaplah seorang kakek yang tak mau tahu akan keadaan cucunya kecuali untuk Kala dan Langit, sepupunya. Pun jika pada akhirnya Wisha tak tempuh pendidikan sebagai seorang dokter, maka beban tersebut otomatis berpindah kepada adiknya, Kia. Selama ini, hanya Kia yang membuat Wisha menunda usaha untuk akhiri hidupnya. Selama ini, hanya Kia alasan Wisha untuk hidup lebih lama. Dengan segala kasih sayang yang Kia curahkan untuknya, tentu Wisha bukanlah manusia yang tak kenal balas budi. Dengan berat hati, asalkan Kia bahagia, ia rela memilih kedokteran sebagai jalan hidupnya ke depan.
Lagi-lagi, kendati Wisathya sudah jalani program akselerasi, lolos jalur prestasi di jurusan kedokteran terbaik ketiga nasional, dan berhasil pertahankan indeks prestasi kumulatifnya di angka empat, sang kakek hanya bersikap biasa saja. Kakeknya itu masih saja mengelu-elukan Kala yang lolos di jurusan kedokteran terbaik nasional, seolah pencapaian yang Wisha raih hanyalah perkara remeh. Yah, Wisha yang kini semakin dewasa tak lagi menghiraukan validasi kakeknya. Yang terpenting, Kia dan orang tuanya tak lagi dipermalukan di hadapan keluarga besar.
Mungkin Wisha boleh hiraukan validasi sang kakek, atau bahkan validasi orang-orang di sekitarnya, sampai kedua matanya bertemu dengan sorot mata tajam kepunyaan Gladion Rakhamiel, kakak co-facilitator di orientasi kampusnya. Rupa lelaki itu tajam di segala sisi, baik itu sorot matanya, rahangnya, hidungnya, bahkan pipinya. Bahu lelaki itu jauh lebar dengan postur tegap menghiasi tubuhnya. Masih Wisha ingat dengan jelas sorot mata lelaki dua tahun lebih tua darinya itu menembus binar rapuhnya di senja pasca formasi Puspakara usai. Wisha tak kuasa sembunyikan rona pipinya dari pandangan pemuda Rakhamiel, membuat yang lebih tua menyeringai singkat dan meninggalkan Wisha dengan perasaan yang tertaut padanya. Wisha inginkan Rakha. Wisha inginkan kehadiran Rakha di sela-sela hidupnya yang begitu menyesakkan. Ah, ternyata ini rasanya jatuh cinta lagi?
Pernah Wisha rasakan jatuh cinta pertama kalinya sebelum akhirnya ia bertemu dengan Rakha. Perasaannya pernah berlabuh pada Marcel, teman kecilnya sekaligus kekasih sahabatnya, Juan. Tenang dulu, biar Wisha ceritakan bagaimana hal ini bisa terjadi. Pertama, Wisha dulu tak pernah tahu bahwa Marcel adalah saudara jauhnya. Kedua, Wisha baru tahu Juan menyukai Marcel setelah perasaannya sudah tumbuh lama. Sebab dua alasan itulah lelaki cantik itu memutuskan untuk membunuh perasaannya kepada Marcel dan merelakan cinta pertamanya untuk Juan. Pun saat ini baik Juan maupun Marcel sudah punyai bahagia mereka, maka dari itu Wisha tak berhak untuk punyai rasa sakit hati.
Pada akhirnya Wisha temukan Rakha di dalam hidupnya. Ia begitu mengagumi dan mencintai kakak tingkatnya itu dalam diam. Tak pernah sekalipun Wisha berusaha mendekati sang kakak tingkat. Berbulan-bulan sudah ia tak lagi bersua dan berbincang dengan lelaki itu sehingga pada akhir tahun, Wisha nekat untuk mengisi formulir danusan milik himpunan Juan. Niatnya sih membantu sahabat, padahal di dalam hati ia ingin curahkan kasih sayangnya pada Rakha melalui coklat dan surat anonim yang ditawarkan. Ia panjatkan doa-doa baik untuk lelaki terkasihnya itu setulus hati, berharap yang diberikan kasih berbaik hati untuk terima secuil sayangnya kembali kepada Wisha walaupun secara anonim. Setelah beberapa hari berlalu dengan begitu terseok-seok oleh ujian tentamen dan ujian kumulatif satu blok pertama, Wisha akhirnya mendapat balasan dari Rakhamiel melalui perantara admin. Wisha membacanya dengan degup jantung yang tak kunjung memelan. Ia telusuri pesan itu sampai akhirnya degup jantung itu tak lagi berdetak gugup. Degupnya berhenti sejenak, kemudian berfungsi kembali sebagaimana mestinya. Bedanya, kali ini justru napas Wisha yang terlampau cepat, seakan berlomba dengan likuid yang menetes dari pelupuk matanya. Ya, surat Wisha memang sampai, tetapi ke orang yang salah.
Hai, Sender! Sebelumnya aku mau ngucapin bunch of gratitude for your wishes. Semoga doa baik kamu untuk Rakha berbalik lagi ke kamu, ya. Kebetulan penerima coklat dan surat kamu ini alias Rakha sedang tidak ada di Jogja, jadi aku izin untuk menerima pemberian kamu ya. Oh iya, kebetulan juga Rakha sudah punya pacar. Pemberian Sender diterima oleh pacarnya langsung, jadi mungkin lain kali Sender ngga perlu lagi ngirim barang ataupun makanan ke Rakha. Mending uangnya Sender tabung untuk berbagai keperluan Sender hehehe. Sekali lagi terima kasih untuk surat dan coklatnya ya, Nder. Nanti akan aku sampaikan juga ke yang bersangkutan langsung, harus diapakan surat dan coklat dari kamu. Semoga yang bersangkutan bersedia untuk menerima, ya! Have a great day, Sender!
Balasan itu membuat hati Wisha hancur berkeping-keping. Tak pernah terlintas di pikirannya untuk hampir menjadi perebut kekasih orang di hidupnya yang hanya sekali ini. Tak pernah terlintas di pikirannya bahwa sikap nekatnya nyaris bawa celaka bagi hubungan Rakha dan kekasihnya. Sial, untuk apa pula lelaki Rakhamiel harus sembunyikan sang kekasih dari publik? Mana Wisha tahu bahwa kakak tingkatnya itu sudah punya kekasih? Pasca kejadian tersebut, Wisha tak lagi ingin bersikap impulsif. Pasca tragedi tersebut, Wisha tak ingin lagi menuruti perasaannya. Mungkin memang belum saatnya Wisha punyai kekasih dalam waktu dekat. Mungkin memang belum saatnya perasaan Wisha berbalas.
Maka dari itu, tak lagi Wisha hiraukan presensi Rakha. Lelaki yang tadinya ia ikuti di media sosial kini menghapusnya dari daftar mutual. Wisha malu setengah mati. Wisha merasa harga dirinya jatuh bebas dan tertimpa benda keras yang menghantam kuat indera perasanya. Tak lagi-lagi Wisha coba sukai orang lain. Tak lagi-lagi Wisha jatuh suka pada orang lain. Tak lagi-lagi, sampai akhirnya Wisha kembali pada sifat manusiawinya. Ya, kali ini Wisha mencoba peruntungan dengan ikut kencan buta yang diadakan secara virtual melalui aplikasi Zoom. Indeed, Wisha felt hopeless romantic through his bones, jadi secara impulsif, untuk terakhir kalinya mungkin, Wisha turuti kemauan hatinya. Pun Dewi Fortuna tak berpihak pada Wisathya saat itu. Bagaimana bisa dari sekian banyaknya orang yang mampu dipasangkan olehnya, Rakhamiel justru kembali hadir sebagai rekan kencan butanya? Terlebih, Wisha sudah sedikit banyak ceritakan alasan mengapa ia ikuti acara ini. Aku ikut acara ini supaya aku bisa move on dari kakak tingkat yang pernah aku suka tau, Kak! Kiranya kalimat itu tak pernah terlontar dari mulut Wisha kalau saja dari awal ia tahu bahwa Rakhalah yang menjadi pasangannya. Wisha merasa bahwa sekuat apapun ia menjauhi Rakha, maka lelaki tersebut akan kembali dengan cara yang tak terduga, termasuk di kencan buta sekalipun.
Pasca kejadian itu, arah hubungan keduanya mulai berubah. Rakha akui bahwa selama ini memang ia tak punya satupun pacar, hanya beberapa orang yang ia beri perhatian lebih tanpa status yang jelas. Kendati usia yang masih belia, Wisha tak sepenuhnya polos akan hal ini. Wisha lebih dari paham bagaimana ia harus menarik dan mengulur dinamika hubungannya dengan Rakha di fase pendekatan. Pun Rakha pada akhirnya terbawa arus pula, Wisha mulai tumbuhkan perasaan posesif hadir di hati Rakha acap kali ia akui bahwa dirinya pergi ke suatu tempat bersama orang yang menyukainya. Both of Rakha and Wisha know how to play the game nicely hingga akhirnya Rakha yang mengalah. Rakha akui segala perasaannya untuk Wisha. Kendati kemenangan berhasil Wisha dapat, ia tak mau serta merta terima pemuda Rakhamiel. Lelaki cantik itu makin persulit dan betul-betul permainkan ego dan perasaan Rakha. Pada akhirnya lelaki yang lebih tua itu berlutut di hadapannya, memohon yang lebih muda untuk menerima dirinya menjadi kekasih. Dengan segala pertimbangan, siapalah Wisha yang sanggup biarkan lelaki menyebalkan yang sialnya adalah orang yang ia cinta berada pada keputusasaan? Maka dari itu, dengan segenap kelapangan hati, Wisha terima pinta Rakha untuk menjadi kekasihnya, tepat di ulang tahunnya kedelapan belas.
Wisha pikir, dengan menerima Rakha setelah berbagai perjuangan yang dilakukan yang lebih tua, Wisha bisa menjamin lelaki itu benar-benar mencintainya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Rakha mulai tuntut hal yang sebelumnya tak pernah Wisha kuasai. Rakha meminta dirinya untuk memainkan biola, memainkan gitar akustik, memakan sashimi, sampai memainkan rubik. Saat itu, Wisha hanya anggap permintaan Rakha sebagai hal baru yang ingin Rakha lihat dari dirinya. Namun, prasangka baik Wisha ternyata salah besar. Benar-benar salah. Wisha ketahui apa sebab dari perilaku Rakha saat kedua matanya tak sengaja menangkap notifikasi ponsel dari salah satu sahabat Rakha. Kalau tidak salah, namanya Jinan. Lelaki itu mengirimkan foto tangkapan layar story Instagram milik akun yang Wisha kenal dengan baik, dilengkapi dengan keterangan, ‘Bro, Kala sama Naka udah jadian. Mereka go public, lu aman ‘kah?’
Sejak saat itulah perilaku Rakha makin menjadi. Rakha menjadi sering memesankan Wisha makanan dan minuman kesukaan Kala, pun tiap kali itu pula Wisha tegur Rakha. Kesalahan Rakha selalu dibalas oleh permintaan maaf yang bersangkutan, membuat Wisha luluh berkali-kali. Daripada berbenah diri, Wisha bisa rasakan bahwa tak ada perubahan yang berarti dari sikap Rakha. Wisha terlampau muak untuk menjalani hubungan ini. Di sisi lain, Wisha juga terlampau menyayangi sang kekasih untuk mengakhiri hubungan ini. Maka dari itu, Wisha putuskan untuk jalani hubungan ini sampai ia tak lagi mampu rasakan apapun. Mungkin pula sampai ia bosan, tak ada yang tahu.
Terhitung empat bulan pasca Wisha temukan pesan itu dari layar ponsel Rakha, selama itu juga Wisha harus turuti mau Rakha untuk menjadi Kala. Wisha sempat berpikir, apakah Rakha benar-benar pernah mencintai Wisha sebagai dirinya sendiri? Wisha sempat merenung, apakah karakter dirinya semenyebalkan itu sehingga Rakha memilih untuk jadikan Wisha pengganti Kala di hidupnya? Wisha sempat bertanya, apakah Rakha pernah sekali saja cintai warna pada diri Wisha barang satu bilah fraksinya saja? Seiring berjalannya waktu, kiranya Wisha semakin mengerti bahwa Rakha tak benar-benar inginkan Wisha sebagai dirinya sendiri. Kendati tak pernah ada perbandingan antara dirinya dengan Kala yang terlontar dari bilah bibir pemuda Rakhamiel, tetapi Wisha lebih dari paham bahwa dirinya tak pernah berarti apa-apa untuk Rakha.
Lagi-lagi Kala. Kala, Kala, dan selalu Kala. Mau sampai kapan memangnya Wisha harus hidup dalam bayang-bayang kakaknya yang terlampau cerdas itu? Mau sampai kapan memangnya Wisha harus tahan sakit hatinya acap kali dirinya dibandingkan dengan kakak sepupunya? Mau sampai kapan Wisha hilangkan eksistensi dirinya sendiri acap kali orang lain membahas dan menanyakan kabar Kala ketimbang dirinya? Mau sampai kapan Wisha membenci Kala yang selama ini tak pernah curahkan kebencian sedikitpun untuknya? Mungkin yang selama ini benar adalah Wisha yang membenci dirinya sendiri. Mungkin yang selama ini benar adalah Wisha yang membenci sifatnya, kulit sawo matangnya, nada bicaranya yang sarkas, atau sorot matanya yang kelewat tajam. Kalau bukan karena Kia, mungkin saja Wisha sudah akhiri hidupnya sejak dulu. Kalau bukan karena Kia, mungkin saja ia biarkan tajamnya pisau robek arteri radialisnya sejak dulu. Kalau bukan karena Kia, mungkin saja sudah ia benturkan keras-keras kepalanya di tembok kamarnya.
Wisha yang sedari tadi renungkan hidup yang ia jalani di masa lalu sampai sekarang masih dengan likuid yang membasahi pipi. Sorot sendunya bangkit, mencari stok pil fluoksetin yang belum ia minum tadi pagi. Sudah dua minggu lamanya episode depresinya kembali, maka dari itu ia kembali bawa dirinya ke psikiater untuk konsumsi lagi obat antidepresan yang dulu pernah rutin ia minum pasca kepalanya sembuh dari kejadian berlumur darah itu. Lelah, Wisha benar-benar lelah menjadi orang sakit. Wisha ingin bangkit, jalani hidupnya dengan tenang tanpa pengaruh obat-obatan, dan temukan tujuan hidupnya lagi. Selain Kia, Rakhamiel lah alasan dirinya temukan kembali binar maniknya yang begitu indah. Dengan Rakha, Wisha bisa punyai hati yang besar untuk cintai lagi hidupnya. Dengan Rakha, Wisha tak lagi menggaruk cincin ansietas yang ia miliki di jari telunjuk kanannya. Dengan Rakha, Wisha temukan kembali tujuan hidupnya yang lebih luas.
Namun, ada kalanya pula Wisha sadari bahwa dengan mengikat Rakha pada perasaan yang dipaksakan akan menyakiti keduanya pula. Ada kalanya pula Wisha sadari bahwa dengan mengekang Rakha pada hubungan ini artinya ia biarkan perasaannya memakan habis kebebasan Rakha untuk mencintai sosok yang benar-benar ia cintai, pun dengan Wisha yang biarkan dirinya dicintai sebagai orang lain. Maka sudah seharusnya hubungannya dengan Rakha berakhir baik-baik. Maka sudah seharusnya Wisha blokir segala akses yang membawanya pada pemuda Rakhamiel, yang masih jadi kesayangannya sampai detik ini. Mungkin memang benar, percayakan saja semuanya pada masa depan nanti. Wisha memang berpisah dengan Rakha saat ini, tapi tak ada yang tahu kedepannya ia dan Rakha akan dipertemukan kembali atau tidak. Wisha memang kembali menjadi orang asing untuk Rakha, tapi tak ada yang tahu kedepannya Wisha bisa dapatkan Rakha kembali atau tidak. Di antara ketidakmungkinan dan kemungkinan yang ada, Wisha hanya harapkan hal-hal baik selalu temui dirinya dan Rakha di jalur masing-masing. Entah itu berarti Wisha dan Rakha sebagai dua individu berbeda, ataupun sebagai pasangan.
Wisha kerjapkan matanya, melihat ke arah jam dinding. Sudah pukul delapan malam. Ia sudah tertidur selama empat jam lamanya, sudah bisa ia pastikan bahwa Kia saat ini tengah menimpanya di perut, berikan pelukan sejak pukul tujuh malam. Kendati usianya yang masih kecil, Kia lebih dari paham beban yang kakaknya pikul untuknya. Stok obat fluoksetin di meja belajar kakaknya berkurang satu demi satu, membuat Kia semakin peluk kakaknya erat. Kia berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa sebab sudah jadikan Wisathya sebagai kakaknya yang paling baik, kakaknya yang paling ia sayang, kakaknya yang paling membuatnya bersyukur setengah mati untuk punyai dirinya.
“Kak Wisha, kakak minum obat lagi, ya?”
Suara lembut puan yang lebih muda memecah kesadarannya yang masih di ambang batas. Perlahan kesadarannya kembali penuh, menatap sendu adik kesayangannya sembari mengelus kepalanya sayang, “Iya, Ki, maaf ya kakak belum bisa sembuh buat kamu.”
“No, don’t be sorry. Kakak already have been through hard times, of course that’s totally okay kalo kamu belum bisa sepenuhnya sembuh,” timpal Kia sebelum melanjutkan kalimatnya, “Maafin Kia ya, Kak, udah bikin kakak harus masuk kedokteran. Pasti kakak benci, ya punya adik kayak Kia?”
Wisha terkejut dengan tutur kata adiknya sehingga dengan spontan ia membantah, “Kia, apaan sih. Kakak ngga pernah ngerasa kayak gitu ke Kia. Justru karena ada kamu yang nangis waktu kakak capek pas itu, kakak ngerasa disayang. Kakak sayang banget sama Kia, jangan bilang gitu lagi ke diri Kia, okay?”
“Kalo emang gitu yang Kak Wisha rasain, okay aku ngga akan mikir gitu lagi, but promise me one thing,” Tangan yang lebih kecil mengulurkan kelingkingnya sembari menatap binar sendu sang kakak, seolah salurkan kekuatan dan harapan baru, “Cerita aja semua beban kamu ke aku, Kak. Jangan simpen sendiri, we’re siblings after all. Aku tahu Papa sama Mama lebih lembut ke kamu abis kejadian itu, tapi kalau kamu merasa ada saatnya dunia jadi lebih berat buat kamu, just know that I’m here, okay? Aku ngga selemah itu untuk terima cerita kamu. Kia selalu sayang sama Kak Wisha. Hidup lebih lama seenggaknya untuk aku ya, Kak?”
Rentetan kalimat itu terlontar dari adiknya yang berusia lima belas tahun. Ah, bagaimana mungkin Wisathya benci adik yang sebegitu sayangnya pada dirinya? Di saat dunia bahkan dirinya anggap remeh eksistensinya, masih ada Kia yang selalu ada untuk puja-puji kakaknya. Wisha lembutkan tatapannya, mengelus rambut adiknya sayang dan memeluk erat adiknya erat, “Iya, Kia sayang. Makasih banyak ya udah ada buat kakak, udah lahir jadi adiknya kakak. Kamu udah gede ya, sekarang, Ki? Udah pinter banget bilang sayang ke kakaknya. Aku tahu, sih, kalo aku emang lovable.”
“Tuh ‘kan, selalu aja gini kalo aku lagi serius."
“Ya ampun Kia sudah besar, adik aku udah besar ututututu.”
“Arrrghh enyah, kamu! Apaan sih, Kak hahahah jangan gelitikin akuuuu!”
“Hahahaha, nih rasain serangan kakak.”
“ADUH HAHAHAHA UDAH KAKAKKK GELI KETEK AKU ANJIR.”
Setidaknya, Wisha masih punyai Kia di hidupnya.
Setidaknya, Wisha masih punyai tujuan hidupnya.
Setidaknya, Wisha masih menjadi kakak dari adik kesayangannya.
Maka dari itu, ia urungkan keinginan untuk akhiri hidupnya sekali lagi. Mungkin berkali-kali lagi untuk adik kesayangannya. Mungkin berkali-kali lagi untuk dirinya yang mencoba cintai diri sendiri sekali lagi. Mungkin berkali-kali lagi untuk kemungkinan sekian persen untuk temui Rakha lagi, di situasi dan perasaan yang lebih baik.
