Actions

Work Header

the weight of an apology

Summary:

keonho believed that saying “i’m sorry” was enough, seonghyeon proved otherwise.

Work Text:

Keonho mengacak rambutnya disusul dengan menghela napas panjang. Ia memandangi sepiring roti bakar yang telah digigitnya sedikit dan segelas teh dingin di mejanya yang tak lagi menggugah selera. Netranya bergerak menyapu ke sekeliling ruangan, menangkap ramainya suasana kafe saat ini. Berbanding terbalik dengan kehampaan yang memenuhi dadanya.

Ia baru menyadari bahwa setiap inci kafe ini terasa biasa saja. Biasanya, atmosfer dan tata ruang kafe ini selalu membuatnya merasa nyaman. Semua kudapan di hadapannya pun terasa sama saja. Biasanya, Keonho selalu mencuil potongan roti bakar pesanan Seonghyeon dan tak luput menenggak segelas teh dinginnya. Dulu, setiap suapan selalu terasa lebih nikmat. Namun kini, roti bakar dan teh dingin itu terasa hambar.

Lagi-lagi ia mengacak rambutnya frustrasi.

Ternyata, selama ini hanya kehadiran Seonghyeon di sebelahnya yang membuat kafe ini terasa begitu istimewa. Semua ingatan manis mengenai kafe ini seolah direnggut dari kepalanya, menyisakan rasa asing yang menusuk hatinya dari dalam.

Tak lama kemudian, ia terus mengucapkan kata maaf dalam hati. Pikirannya kembali pada hari ketika hubungan mereka mulai retak.

Namun, jika dipikir-pikir lagi, hubungan mereka sebenarnya sudah lama retak. Hari itu hanya menjadi pukulan terakhir. Seonghyeon sudah berkali-kali menyampaikan keluhannya, dan Keonho selalu mengira semuanya akan baik-baik saja setelah ia meminta maaf.

Pada hari itu, semua pesan dari Seonghyeon dibiarkannya menumpuk di ponselnya. Sementara dirinya terbuai bermain dengan teman-teman organisasinya di kota seberang. Laman sosial media Keonho dipenuhi oleh berbagai unggahan foto dan video kebersamaan mereka, tetapi ruang pesannya dengan Seonghyeon tak disentuhnya.

Pada malam saat Keonho baru saja selesai bersih-bersih dan merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur, ponselnya berdering.

Nama Seonghyeon tertera di sana.

Seketika, Keonho menepuk pelan keningnya karena sama sekali tidak mengabarinya seharian ini.

“Halo, Sayang. Maaf ya, aku belum sempet chat kamu. Baru sempet pegang hp, nih.”

Keonho buru-buru memberikan klarifikasi sedetik setelah panggilan tersambung.

Ada jeda beberapa detik sebelum Seonghyeon menjawab.

“Aku capek. Kita putus aja, ya?”

Kalimat itu membuat isi kepalanya mendadak kosong. Napasnya tercekat. Jantungnya berdegup lebih cepat.

“Maksudnya gimana?”

Tawa sumbang Seonghyeon tertangkap pendengarannya. Suara tawa itu seperti menyimpan beban berat yang sudah terendap cukup lama.

“Kamu egois, Keonho. Coba kalau posisinya dibalik, aku yang gak ngabarin kamu seharian. Kamu pasti marahnya marah banget ke aku. Sementara, kalau kamu yang ngelakuin, kamu cuma minta maaf sekenanya, bilang gak sempet buka chat kita, lalu berharap semuanya selesai begitu aja. Habis itu, kalau aku masih marah, kamu malah bilang itu cuma masalah kecil.”

Seonghyeonnya sudah memanggil nama, tidak lagi mengucap panggilan sayang padanya.

“Selain itu juga aku udah sempet berkali-kali bilang ke kamu. Kalau aku juga butuh kabar kamu. Aku sayang kamu. Tapi kayanya kamu cuma anggep omongan aku kayak angin lalu. Cuma masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Gak berguna.”

Keonho membuka mulutnya, tetapi tidak ada suara yang terdengar dari sana. Berat untuk ia akui, semua perkataan Seonghyeon barusan benar adanya.

“Halo, kamu denger gak, sih?”

Keonho berdeham pelan sekaligus berusaha mencari kekuatan untuk merespons perkataan Seonghyeon yang terasa menusuk jantungnya.

“Ak—aku minta maaf, Sayang. Aku salah.”

“Capek denger kata maaf dari kamu. Udah ya, kita putus aja. Mungkin aku selama ini cuma bikin rumit hidup kamu. Semoga kamu  bisa hidup lebih bebas ya, tanpa aku.”

Seketika sambungan ponsel terputus. Keonho hanya mampu menatap nanar dinding kamar hotelnya. Tangannya masih menggenggam ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

“Woy, bengong aja!”

Tepukan cukup keras di bahu Keonho menyadarkannya dari lamunan buruknya. Martin tersenyum menampakkan giginya lalu duduk tanpa permisi di kursi seberang Keonho.

“Lu kacau, bro.”

Keonho mendengus kasar lalu terkekeh getir. Ia menyeruput teh dingin di depannya karena tenggorokannya tiba-tiba terasa kering setelah mengingat ingatan menyakitkan yang belakangan ini menyiksanya.

“Mumpung baru seminggu putus, gak mau coba ngajak balikan? Menurut gue masih bisa diobrolin.”

Keonho menyodorkan ponselnya menunjukkan ruang obrolannya dengan Seonghyeon yang telah diblokir secara sepihak.

“Pantes aja muka lu kusut. Jadi ikut kasian gue.”

Keonho hanya bisa tertawa sumbang atas komentar menyedihkan dari Martin.

“Gue samperin ke rumahnya juga gak pernah ada. Gue tanya ke temen-temennya gak ada yang bales. Gue bingung harus gimana. Bener-bener kayak ilang ditelan bumi. Susah banget ketemunya karena beda fakultas.”

Martin mengerjapkan matanya sambil menopang dagunya.

“Lah, barusan gue liat Seonghyeon di fotokopi seberang.”

Keonho membelalakkan matanya. Pikirannya terasa sedikit lebih ringan, seperti ada setitik harapan di sana. Ia bangkit dengan tergesa menyisakan Martin dan kudapannya di meja.

“Kalau gue gak balik lagi ke sini, tolong bayarin makanan gue!”

“Sialan lu!”

——

Benar saja. Keonho dapat melihat Seonghyeon yang sedang merapikan setumpuk kertas di meja. Ia menggunakan kaos abu-abu lengan panjang yang selalu dipakainya.

Rindu. Keonho benar-benar rindu melihat sosok lelaki yang selama seminggu terakhir ini memenuhi pikirannya. Mengobrak-abrik isi hatinya. Membuatnya menyalahkan sikapnya sendiri berhari-hari karena ia gagal menjaga cintanya.

“Seonghyeon!”

Tubuh Seonghyeon membeku sesaat setelah Keonho memanggil namanya. Ia buru-buru mengambil setumpukan kertasnya di meja lalu hendak bergegas pergi dari sana.

Seonghyeon kurang cepat. Keonho menahan lengan Seonghyeon sebelum ia sempat berjalan lebih jauh. Ia dapat merasakan sedikit getaran dari lengan Seonghyeon, entah getaran menahan tangis atau marah.

“Lepasin!”

“Izinin aku ngobrol sama kamu. Aku minta maaf. Aku kangen kamu.”

“Udah basi.”

Keonho menarik lengan Seonghyeon lebih keras hingga akhirnya mereka berdiri berhadapan. Seonghyeon menunduk tidak berani menatap wajah Keonho. Ia hanya memandangi lantai di bawahnya.

Saat Keonho telah melepas lengannya, Seonghyeon memberanikan diri untuk mendongak menatap lurus ke arah wajah Keonho. Mata Seonghyeon terlihat memerah, seperti habis menangis tak henti-henti.

Hati Keonho mencelos. Lelaki yang paling ia sayangi justru terluka karena ulahnya sendiri.

“Sayang, aku mohon.”

Seonghyeon mengembuskan napasnya kasar. Ia meremas pelan setumpukan kertas yang ia peluk di dadanya. Tatapannya kembali menghindari netra Keonho, menatap ke arah jalan di sampingnya.

“Yaudah, tapi gak usah panggil sayang. Kita udah putus.”

Keonho tersenyum getir mendengar penolakan dingin barusan. Akan tetapi, ia sudah merasa sangat bersyukur karena Seonghyeon masih memberikan kesempatan untuk berbicara dua mata dengannya. Ia hanya berharap masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya.

——

Keonho kembali duduk di kafe yang tadi ditinggalkannya. Untungnya Martin masih duduk di sana sehingga ia tidak perlu kesulitan mencari kursi kosong. Ia hanya perlu mengusir Martin, secara sopan, dan mengajak Seonghyeon duduk di sana.

“Aku tadi pesen ini. Kesukaan kamu. Kamu mau makan?”

Keonho menawarkan kudapan favorit Seonghyeon yang masih tersaji di mejanya. Martin terlihat tidak menyentuhnya sama sekali.

Seonghyeon menghela napas gusar. Ia tahu pertahanan dirinya mudah goyah. Apalagi jika berhubungan dengan apapun yang disukainya. Maka ia berusaha sebisa mungkin untuk meninggikan dinding pertahanannya dari ucapan manis Keonho.

“Udah makan tadi. Mau ngobrolin apa lagi?”

Keonho tersentak mendengar ketusnya pertanyaan yang diajukan Seonghyeon barusan. Setiap kata yang diucapkan Seonghyeon terdengar datar, tetapi justru itulah yang paling menyakitkan.

“Aku minta maaf. Aku salah. Aku gak mengelak. Aku baru sadar selama ini aku nunggu kamu ngerti terus. Aku gak pernah mikirin rasanya jadi kamu, tapi aku gak bisa kalau kita putus, Seonghyeon. Aku janji gak akan ngelakuin kesalahan yang sama lagi.”

Mungkin inilah momen yang ditunggu-tunggu oleh Seonghyeon. Ketika Keonho menatap matanya dengan tulus, meminta maaf atas semua kesalahannya, memaksa dirinya untuk kembali kepadanya. Namun sayang, semua itu sudah terlambat.

“Iya, aku maafin. Tapi kalau putus, aku rasa itu udah keputusan mutlak.”

Harapannya runtuh sedikit demi sedikit.

Penolakan yang benar-benar keluar dari bibir lelaki di depannya membuat semua kalimat yang telah ia susun mendadak hilang.

Ia hanya mampu menatap wajah Seonghyeon dengan napas yang mulai bergetar.

“Seonghyeon…”

Tak ada jawaban.

Keonho menundukkan kepala. Harga dirinya terasa tak penting lagi untuk saat ini.

Perlahan, ia turun bersimpuh di samping kursi Seonghyeon. Suasana mendadak terasa sunyi bagi keduanya.

Beberapa pengunjung yang tengah mengobrol mulai menoleh ke arah mereka.

“Seonghyeon, aku mohon.”

Bola mata Seonghyeon membesar, napasnya tertahan. Tak menyangka Keonho bisa melakukan tindakan gila seperti ini demi mengembalikan hubungan mereka berdua.

“Keonho, kamu apa-apaan sih!”

Seonghyeon benar-benar tak kuasa melihat Keonho membuang segala rasa malunya demi memohon kepadanya. Tak tega membiarkan lelaki itu terus bersimpuh, ia ikut berjongkok di hadapannya.

“Keonho, jangan gitu. Ayo bangun, ya.”

Seonghyeon meraih kedua lengan Keonho, mengusapnya pelan, lalu berusaha menariknya agar bangun dari simpuhnya. Biarpun mungkin rasa lelah pada hubungannya dengan Keonho masih mengendap, ia tak sampai hati melihat Keonho memohon hingga seperti itu. Hatinya juga ikut hancur melihat Keonho yang secara gamblang menunjukkan sisi rapuhnya di depan khalayak ramai.

“Keonho, please. Aku sedih kalau kamu kayak gini.”

Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak membuat Seonghyeon sedih lagi, maka Keonho buru-buru beranjak dari simpuhnya. Seonghyeon juga kembali berdiri dan duduk di kursinya.

“Maaf kalau aku kelewatan. Aku bener-bener gak tau harus gimana lagi.”

Keonho mengusap wajahnya sambil menghela napas gusar. Ia benar-benar kehabisan akal. Entah harus memohon seperti apa lagi agar Seonghyeon mau memberikan kesempatan.

“Mungkin… mungkin kalau sekarang aku belum bisa balik sama kamu. Aku gak mau kesalahan kita terulang gitu terus. Aku juga belum bisa sepenuhnya percaya kalau kamu bilang kamu akan berubah.”

Keonho menangkap secercah harapan dari ucapan Seonghyeon. Kalau sekarang aku belum bisa balik sama kamu. Berarti jika Keonho mau berusaha untuk berubah, bisa saja di masa depan Seonghyeon akan mengubah pikirannya, bukan?

“Kalau gitu, boleh gak aku berusaha tunjukkin ke kamu kalau aku bisa berubah?”

Seonghyeon menyunggingkan senyum tipis.

“Silakan aja.”