Work Text:
Ohyul sampai di dorm pada jam yang sebentar lagi sudah menandakan pergantian hari. Sejak sore ia tidak sedang berada di dorm. Keberadaannya mengisi keheningan dorm yang tidak terdengar sayup suara sedikit pun dari pergerakan manusia. Tubuhnya yang terasa lengket oleh keringat membuatnya tidak sabar ingin menyentuh dinginnya air, namun ia sempatkan untuk menengok Ryul. Dilihatnya lelakinya yang tidur telentang dengan tenang. Ohyul menghampiri dengan senyum tipis terbentuk di bibirnya. Ia menunduk mengecup pipi Ryul sekilas. Pergerakan Ryul selanjutnya membuat Ohyul mengerutkan alis. Ryul yang semula telentang berubah posisi menjadi memunggungi Ohyul.
“Ish…” ucap Ohyul lirih sambil mencebikkan bibir.
Tidak terima dengan respons Ryul, Ohyul kembali mengecup pipi itu, bedanya kecupan kali ini diberikan berkali-kali hingga Ryul bergumam dan berakhir menyembunyikan sepenuhnya area wajahnya pada bantal.
“IHHH.” Ohyul menegakkan badannya. Berkacak pinggang dengan bibir tebalnya yang sudah manyun. Namun bukan sesuatu yang harus dibesarkan. Ohyul mengira jika Ryul sedang merasa terganggu saja tidurnya toh ia tahu sendiri, bagi Ryul tidur adalah aktivitas yang tidak boleh diracau. Ohyul putuskan untuk menyudahi agar segera membersihkan tubuhnya yang sekarang sudah tidak sebasah sebelumnya.
Pagi yang sudah tidak terlalu pagi, Ohyul menjadi anggota yang terakhir bangun. Keluar dari kamarnya dengan rambut acak-acakan. Mata menyipit seakan-akan matanya masih butuh untuk terlelap. Tangannya menggaruk tengkuknya sendiri sambil mengedarkan pandangan. Netranya hanya melihat sosok pacarnya tengah duduk di kursi asik memakan buah apel dengan fokus mata yang tertuju pada layar ponsel. Ohyul berjalan malas menghampiri Ryul. Ia peluk Ryul dari belakang, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ryul yang wangi.
“Kok nggak bangunin aku?” Ohyul berucap dengan nada manja sembari mengeratkan pelukannya.
Ryul tidak menjawab, sibuk menggigit buah apel yang tampaknya lebih menarik dari Ohyul saat ini. Padahal Ohyul sedang mode sangat gemas sekarang.
Tak direspons, Ohyul menjauhkan wajahnya dari leher Ryul. Lagi-lagi alisnya berkerut tanda menemukan keanehan dari sikap Ryul. Ohyul kecup pipi Ryul yang sedang penuh berisi apel.
“Adek pada di mana?”
Ohyul kecup lagi pipi Ryul yang bergerak karena masih mengunyah apel.
“Keluar, Louis minta ditemenin Woojin beli,” Mata Ryul masih fokus melihat ponselnya.
“Beli apa?”
“Nggak tau, nggak denger.”
Ohyul memperhatikan wajah Ryul yang saat ini terlihat datar. Lagi-lagi temukan keanehan, tapi tidak tahu apa yang salah.
“Cium.”
“Hm?”
“Cium aku,” tangan kiri Ohyul menyentuh pelan pipi kanan Ryul diarahkan menghadapnya, “akunya belum dicium.”
Ryul meletakkan dua benda yang berada di genggamannya sedari tadi. Wajahnya menyamping berhadap dengan wajah si cantik yang sedang cemberut.
“Mandi dulu.”
Jujur saja Ohyul terheran. Mulutnya sedikit menganga mendengar itu. Biasanya Ryul yang lebih dahulu mencuri kesempatan untuk mencium Ohyul. Tidak peduli si cantik belum mandi. Tidak peduli si cantik masih bau kasur.
“Hah… ANEH. Nggak. Cium aku dulu.”
Ryul menghela napas pelan. Mengalihkan pandangannya pada meja kembali memakan buah apel.
“Ryul apa sih,” Ohyul bingung, “Aku cuma minta cium kok. Biasanya kamu duluan cium aku. Terus tadi akunya nggak dibangunin. Biasanya kalo kamu yang duluan bangun, kamu yang bangunin sambil akunya dici—”
“Mandi dulu, Ohyul.” Ryul lepaskan kedua tangan Ohyul yang sedari tadi memeluknya. Ia berdiri, “Aku mau rebahan lagi.”
Meninggalkan Ohyul yang berdiri kebingungan dengan sikap Ryul pagi ini.
Selang satu jam Ohyul menyibukkan bebersih badan, kini ia berada di dalam kamar Ryul. Jarinya refleks memutar kunci yang menggantung sebabkan bunyi pelan penanda Ohyul ingin beberapa menit ke depan pacarnya hanya fokus padanya.
Ryul tidak berbohong bahwa agendanya adalah rebahan. Matanya sempat terpejam sesaat sebelum ia dengar suara pintu dibuka. Kini ia memandang tubuh Ohyul yang berjalan mendekati kasurnya.
Ohyul berdiam kata. Ia bawa lututnya bertumpu di kasur sebagai pijakan sebelum raganya sepenuhnya terbaring di sebelah Ryul. Tangannya memeluk perut Ryul. Dua detik wajahnya dibenamkan pada si september sebelum mendongak pelan menatap wajah Ryul.
“Kamu kenapa?” Ohyul memelas.
Ryul yang mendengar suara lembut si cantik ingin luluh, namun perasaan cemburunya masih ingin bertarung.
“Nggak…” hanya bisa membalas dengan nada turut melembut.
Semakin erat pelukan yang diberi Ohyul, itu pun tak kunjung mendapat balasan respons fisik yang sama dari Ryul, “Sayang aku nggak suka…”
Kecemburuan Ryul kian terkikis saat ditatapnya binar bersih mata Ohyul.
“Nggak ada apa-apa.”
Ryul kira Ohyul akan tenang mendengar kalimat itu. Nyatanya si cantik melengkungkan bibirnya, “Kamu kalo marah sama aku bilang. Aku nggak suka dieman gini.”
Ryul sepenuhnya menatap lamat pacarnya yang kini jelas terpancar wajah sendu.
Suara yang keluar terlampau lembut untuk kalimat yang tegas. Mata Ohyul mulai sedikit berkaca. Jemari yang di pelukan mencengkeram kaus hitam Ryul.
Ryul tidak tega. Ryul merutuki perbuatannya.
Sebelum mata Cantiknya kian sedih, Ryul sampingkan badan untuk memeluk pinggang ramping yang beberapa jam ia abaikan. Sisanya ia bawa untuk mengelus kepala Ohyul sepelan mungkin sembari rambut hitam legam tersebut dikecup.
“Maaf, Sayang…” lirih Ryul.
Ohyul tidak sampai menangis. Ia benamkan wajahnya pada dada bidang Ryul. Ohyul tidak bohong jika saja Ryul masih tetap diam, pasti pipinya akan basah dengan bulir air mata yang jatuh.
Ohyul merengek lemah, “Kamu kenapa sih. Aku ada salah? Aku nggak suka diem kayak tadi, aku bingung…”
“Sayang, maaf Sayang… Kamu nggak salah. Ini pure aku yang nggak jelas aja…”
Bingunglah Ohyul. Lelakinya ini memang sepertinya perlu diberi tata belajar komunikasi yang baik dan benar. Ia menarik wajahnya sedikit mendongak menatap Ryul.
“Jelasin.”
Ryul deg-degan melihat bibir pacarnya yang manyun. Bukan waktunya terpana. Ia merasa malu mengutarakan alasan yang sebenarnya.
“Kok diem!”
“Sayang,”
Ryul tetap diam cukup lama. Mulutnya terbuka ingin mengucapkan kata namun nihil. Kesabaran Ohyul jadi habis.
“Apa sih kamu aku cubit ya!” geram Ohyul.
Ia serius mencubit pinggang Ryul. Cukup kuat.
“AW!! Sayang udah!”
“Ya makanya ih bilang! Emang aku bisa tau kalo—”
“AKU CEMBURU POSTING-AN DI IG SECOND!”
Cubitan bertubi itu terhenti. Ohyul sontak diam memproses kalimat yang baru saja didengar. Ryul rasanya tidak sanggup melihat mimik muka Ohyul yang perlahan berubah. Ryul putuskan untuk menatap apa saja selain wajah pacarnya karena demi apa pun ia sudah bisa membayangkan reaksi dari Ohyul.
“Pffftt… HAHAHAH,”
Ohyul tergelak sangat puas setelah mengetahui alasan lelakinya diam.
Ryul sungguh malu masih betah menatap sekitar asal bukan wajah Ohyul yang ia yakin sekarang muka si cantik sudah merah dengan mata yang berair karena tertawa sangat kuat.
“ADUH LUCU BANGET,” Ohyul membenamkan wajahnya di dada Ryul, “Aduh, HAHAHAH, sakit perut!”
“Udah, please…”
Ohyul lelah tertawa. Mulutnya masih hasilkan tawa pelan. Ia atur napasnya agar normal kembali. Ohyul mengusap setitik air mata di pelupuk mata sambil melihat kembali wajah Ryul yang sangat masam.
“Lihat sini, Sayang.”
Ryul menatap ke wajah Ohyul yang tersenyum manis.
“Emang posting-annya kenapa, hm?” Ohyul usap rambut Ryul sepenuh hati, “Aku sering lho lari bareng Woonhak. Aku juga selalu kasih tau kamu kan kalo mau keluar?”
“Nggak tau…”
“Huh apa deh,”
“Nggak tau, aku cemburu aja rasanya. Kamu nggak sama aku. Ngeliat kamu happy banget ngelakuin hal yang kamu suka, nyanyi bareng, terus…” Ryul menggantungkan kalimatnya, menatap Ohyul yang menunggu kalimat berikutnya diucapkan, “duh sayang kenapa MOYA, sih? Aku kayak lagi diledekin…”
“Apa ih nggak ada yang ngeledekin!”
“Ya nggak tau…”
“Hmm, okay, gitu ya. Please, Ryul, ini serius jangan diem gitu dong Sayang kayak tadi. Aku bingung banget sumpah, sedih tau aku nggak tau apa-apa tiba-tiba kamu diemin aku.”
Ryul usap pipi tembam Ohyul, “Maaf ya, Sayang, aku ingetin buat diri aku sendiri biar nggak diem kalo ada apa-apa. Maaf juga udah cemburu…”
Ohyul terkekeh lalu tersenyum manis, “Iya, aku diingetin juga ya, hehe, kita belajar bareng kan di hubungan ini? Dan nggak apa-apa, Sayang, cemburunya nggak salah. Next, kita lari bareng dong! Biar seringnya lebih sama kamu.”
“Okay…” Ryul tersenyum manis. Bisa gila Ohyul beberapa jam terakhir tidak melihat bibir lelakinya yang tersenyum itu.
“Sekarang cium aku! Mana ciumnya hari ini aku belum dicium… Sedih tau! Mana ci—”
Ryul bungkam mulut berisik lucu itu dengan kecupan dalam. Kecupan berkali-kali yang berlanjut dengan lumatan lembut membuat Ohyul memejamkan mata menikmati bibir tebalnya yang dimanja oleh lihainya bibir tipis Ryul. Tangan Ohyul berpindah pada tengkuk si pacar saat Ryul mulai membuat pergerakan menuntut. Lidahnya menyapu dua belah bibir sebelum melesakkan ke dalam bertemu hangat yang memabukkan.
“Mmhh… Ah—”
Ryul tak membiarkan Ohyul mencuri oksigen. Tangannya mulai meraba menyentuh kulit pinggang halus untuk selanjutnya dicengkeram timbulkan warna merah pudar.
Ryul sudahi ciuman itu untuk memberi pertanyaan, “Mau?”
Harusnya Ryul tidak usah bertanya lagi melihat mata sayu dari si cantik.
Ohyul menangkup kedua pipi Ryul sensual. Ia mengangguk lemah.
Melihatnya Ryul mendekati bibir itu lagi, namun saat sedikit lagi bibirnya menyentuh bibir basah tebal milik si cantik, Ryul ingin terlebih dahulu melakban mulut di luar pintu kamarnya itu.
“JUNBIDWAESSEO RIDE ON THE HIGHWAY.”
“JUNBI—”
“BANGSAAATTTTT.”
