Work Text:
"Jangan ditarik, woy!"
"Sisanya nyiapin makanan, jangan diam aja!"
"Sumpah, capek banget."
Solar menghela napas. Suara teriakan yang bersahutan antara sesama kelompok lain berhasil membuat kepalanya berdengung. Dia bahkan hingga sekarang tidak terbiasa dengan keributan.
Solar berhenti mengaduk nasi yang baru setengah jadi. Menutupnya dengan penutup panci. Mengecilkan sedikit apinya. Dia berdiri dari posisi jongkok, menoleh ke belakang, mencari ketua kelompoknya.
"Gempa! Aku toilet dulu."
"Oke!"
"Nitip beliin pentol sekalian dong!"
Solar mengernyit beberapa saat, sebelum akhirnya mengabaikan teman satu kelompoknya itu. Membiarkannya dicerca teman-temannya yang lain perihal, "Memangnya ada orang yang jualan ke hutan?"
Ini kegiatan berkemah pertama Solar. Dan Solar yakin, juga untuk terakhir kalinya. Jika, bukan karena kegiatan wajib untuk anak kelas 10, Solar tak akan mau mengikuti hal semacam ini.
Merepotkan, kotor, dan terlalu banyak interaksi. Tapi, mungkin Solar harus bersyukur, Bumi Perkemahan ini memiliki kamar mandi dan toilet setidaknya. Meski hanya dua kamar mandi dan dua toilet.
Solar membuka pintu kamar mandi yang berwarna hijau lusuh. Lampu di dalam masih menyala, meski terlihat hampir mati. Cat biru yang menutupi kamar mandi itu beberapa terkelupas, pinggir-pinggirnya dipenuhi campuran kuning kemih.
Solar dengan ragu memasukinya, sebelum akhirnya menutup pintu di belakangnya. Baru saja mengambil gayung yang berada di pinggir bak, tiba-tiba saja lampunya mati. Solar terlonjak kaget, hingga tanpa sadar gayung meluncur dari genggamannya.
Jantungnya berdegup tak karuan. Kamar mandi ini tertutup sempurna, bahkan sore pun bisa menjadi segelap ini. Beberapa saat kemudian lampunya kembali menyala.
Kali ini benar-benar redup. Dan jantung Solar masih berdetak kencang seolah baru lari maraton.
Solar meneguk salivanya kasar bagai memakan nasi mentah. Dia menatap sekeliling kamar mandi, sebelum bergegas berbalik, hendak keluar secepatnya. Namun, belum sempat tangannya meraih gagang pintu, tiba-tiba saja muncul sosok menyerupai pintu kamar mandi berwarna hijau itu. Solar terbelalak, reflek kakinya mundur, dan dia berteriak kencang.
"Hei, hei! Jangan teriak! Nanti yang lain datang!"
"Si-siapa?" Solar merasa dirinya sangat bodoh menanyakan hal yang jelas seperti ini.
Makhluk yang tampaknya transparan itu, terlihat turun, menapak ke tanah, tidak melayang seperti tadi. Kaki telanjangnya berjalan mendekati Solar yang masih syok di tempat.
"Aku tidak ingin kau lupa, karena aku akan merasa sedih! Aku Duri."
Dia membungkuk sedikit, mengulurkan tangan kanannya pada Solar, sedangkan tangan kirinya bersembunyi di belakang punggung.
Solar tidak bereaksi, nama yang disebutkan olehnya terasa begitu familiar di pendengaran Solar. Seluruh tubuhnya entah mengapa kaku, kakinya begitu berat untuk melangkah, seolah ada yang menekan tubuhnya untuk tetap di tempat. Pikiran Solar tidak terkendali membunyikan alarm tanda bahaya sedari tadi. Dan Solar juga tidak tahu, kenapa tangannya bergerak kaku hendak menggapai uluran tangan itu.
Sebelum benar-benar menggapai uluran tangan itu, sekilas Solar melihat senyum tipis di bibir sepucat kulit itu.
Tangan Solar tiba-tiba ditarik, tubuhnya terasa begitu ringan tidak seperti sebelumnya, hingga seperti akan terjatuh di atas lantai keramik. Tapi, Duri tiba-tiba saja mendorongnya, membenturkan punggungnya ke bak air, memaksa memasukkan tubuhnya ke dalam air.
Sampai saat itu, yang Solar lihat samar-samar adalah senyum lebar Duri.
"Selamat senja."
=••=
Solar bangun dari pembaringan. Dadanya begitu sakit hingga seperti dihantam berkali-kali dengan batu, jantungnya berdegup kencang, dan Solar tidak tahu mengapa bajunya basah.
"Dek? Adek baik-baik aja? Ayo, minum dulu."
Sebuah botol berisi air penuh disodorkan. Tenggorokan Solar kering, tapi dia tidak bisa mengangkat kedua tangannya. Rasanya tubuhnya sangat lemah, hingga mengangkat satu jari pun dia kesulitan.
Dia merasakan sentuhan di punggungnya, membantu menahan berat tubuh sendiri. Botol yang telah dimasukkan sedotan itu perlahan didekatkan ke mulut Solar, hingga dia bisa meneguk isinya.
Setelah itu, Solar kembali dibaringkan perlahan. Semua tampak samar. Pandangan Solar, pendengarannya, dan lain-lain. Tapi di antara itu semua Solar melihat Duri di atasnya, melayang.
Wajahnya begitu dekat dengan wajah Solar. Dia tersenyum begitu lebar hingga kedua matanya menyipit. Jari-jarinya memainkan poni Solar yang basah.
Panas, Solar merasa sangat panas. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Padahal dia yakin, Duri tidak menindihnya, tubuh transparan itu jelas melayang di atasnya, sama sekali tidak menyentuh tubuhnya. Solar tidak mengerti, hingga rasanya dia ingin menangis akibat tekanan yang begitu kuat ini.
Solar berusaha mengais-ngais oksigen dengan sia-sia, ketika dia rasakan napasnya terasa tercekat. Seolah dicekik habis-habisan. Dia mencoba memanggil petugas kesehatan. Namun, suaranya malah mengeluarkan hal lain
"Du—ri."
Solar bersumpah, dia tidak menyebutkan nama itu. Mulutnya benar-benar melawan perintah yang diberikan otaknya. Tapi, Solar setidaknya bersyukur, petugas kesehatan itu mendengarnya.
Kepalanya diusap perlahan. Solar berusaha fokus pada wajah si petugas. "Tenang, semua baik-baik saja. Tidak ada yang perlu ditakutkan."
Solar sadar, Duri sudah tidak ada lagi, dia menghilang entah ke mana. Ketika dia berhasil menggerakkan kepalanya, malam telah datang dan cahaya senja menghilang.
Lalu, ingatan tentang pertemuannya dengan Duri, samar-samar menghilang.
=••=
Solar berjalan ke tendanya. Beberapa pasang mata menatapnya dengan berbagai macam tatapan. Dan Solar jelas tidak menyukai hal itu. Saat kakinya hampir mendekat pada tenda kelompoknya, teman-temannya berseru, bahkan si ketua mendatangi Solar.
"Solar! Gimana? Udah baikan?"
Solar sekedar mengangguk. Dia dibawa ke tikar yang dihampar di depan tenda. Sepiring besar berisi mie yang sisa sedikit itu diletakkan di tengah-tengah. Tampaknya itu jatah Solar.
"Hampir aja, bagianmu kumakan!"
Solar sekedar tersenyum masam menanggapi gurauan temannya itu.
"Solar, kau beneran kerasukan?"
Solar menatap temannya yang berbadan gempal. Baru saja menghabiskan makanannya. Solar mengernyit, tidak paham.
Gempa tiba-tiba saja memukul pundak Gopal. "Solar cuma pingsan!"
"Aku dengar dari Petugas kesehatan. Katanya Solar kerasukan. Kalo gak bisa gerak namanya kerasukan, 'kan?" Gopal melakukan pembelaan.
"Bukannya ketindihan?"
"Ketindihan senja waktu pingsan? Bisa, ya?"
Yang lain saling menoleh satu sama lain. Seolah mencari jawaban di mata masing-masing. Merasa tak ada yang mengetahuinya, Solar lantas saja memecah hening itu.
Suaranya terdengar ketus, jelas tidak menyukai mereka membahas hal itu. Lagipula, siapa juga yang menyukainya. Apalagi, Solar adalah yang pertama di antara angkatannya yang mengikuti kemah mengalami hal itu. Solar menghela napas pelan, mengurut pelipisnya.
"Nanti, kalau kamu mau ke kamar mandi lagi, minta temani aja ya, Solar."
Solar berdeham, menganggukkan kepalanya. Dia mulai memakan makan malamnya, sepiring nasi, dengan lauk mie dan sepotong sosis. Berusaha melupakan kejadian waktu di unit kesehatan darurat tadi.
"Oh iya, malam ini beneran pentas bakat?"
Gempa yang saat itu sedang sibuk membersihkan bekas mereka makan, menoleh pada temannya yang bertanya. "Kalau lihat dari jadwal, iya malam ini. Tapi, entahlah. Mungkin bakal diundur."
Solar jelas sadar jika Gempa melirik padanya. Lantas, dirinya dengan cepat menyimpulkan kejadiannya itu, membuat beberapa pengurus menjadi paranoid tentang hal ini. Yah, Solar tidak akan menyangkalnya, memang seharusnya pentas bakat tidak ditampilkan di malam hari apalagi di tempat asing yang bahkan baru pertama kali menjejakkan kaki ke sini.
=••=
Malam itu, pentas bakat benar-benar dibatalkan. Diundur menjadi dua hari setelahnya, lebih tepatnya malam sebelum kepulangan. Beberapa kecewa, katanya takut tak ingat yang akan ditampilkan.
Terutama bagian mereka yang hendak menampilkan pertunjukkan tari. Solar sebenarnya malah senang karena pentas bakat itu diundur. Mungkin, mereka yang ikut pentas mendengarnya akan terasa sebal, karena Solar sendiri tidak mengikuti pentas bakat.
Dia lebih memilih cerdas-cermat yang sangat dihindari murid-murid.
"Kau sudah selesai?"
Pertanyaan Gempa mau tak mau mengejutkannya yang tengah melamun. Solar sekedar mengangguk, mengusap kepalanya yang basah oleh air.
"Jangan melamun, Solar," peringat Gempa. Matanya tampak tegas.
Solar pantas mengangguk. Tak jelas asal-usulnya dari mana. Tapi, katanya melamun bisa menyebabkan kesurupan. Solar meskipun tak yakin akan hal itu, memilih mengambil jalan aman dengan menurut.
Mereka berdua segera keluar dari antrian siswa yang mengantri hendak mandi. Mentari sudah bersinar, tapi di hutan yang tertutup oleh dedaunan, di sini masih agak gelap untuk dikatakan cerah. Tak ada percakapan antara dirinya dan Gempa.
Tampaknya masing-masing cukup nyaman dalam hening yang sebenarnya ribut dengan suara-suara siswa lain. Di antara siswa itu, mata Solar tak sengaja melihat seseorang. Sesuatu nampak familiar. Matanya menyipit, berusaha melihat lebih jelas.
"Kenapa Solar?"
"Gempa, kau bisa melihat orang itu?" tanya Solar, seraya menunjuk seseorang yang tengah berdiri, memegang kain.
"Eh, iya, bisa. Kenapa?"
Solar mengernyit. Tapi, dengan cepat menggeleng. "Bukan apa-apa. Duluan saja, ada yang ingin kulakukan."
"Kau yakin?" Alis Gempa menjongket.
Solar mengangguk, berharap Gempa tak bertanya terlalu banyak. Mengingat ketuanya itu bisa saja menjadi keras kepala. Tapi, entah bagaimana Gempa hanya mengangguk, lantas berjalan pergi tinggalkan Solar. Itu agak sedikit mengejutkan Solar hingga dia berdiri lama memandangi Gempa pergi. Seolah-olah orang tadi bukan Gempa yang keras kepala terkait keamanan anggota kelompoknya.
Ketika Gempa menghilang dari pandanganya, Solar buru-buru menyadarkan dirinya bahwa ada hal yang lebih mendesak sekarang. Dia lantas kembali menoleh ke tempat yang sama. Namun, nihil, tak ditemukannya seseorang tadi. Solar berupaya menemukan orang itu. Sampai maniknya menangkap sosok yang tengah berlari kecil. Seperti menuju unit kesehatan.
Entah mengapa, Solar merasa harus mengejarnya. Untuk memastikan kebingungannya sendiri. Meski tak yakin ini adalah ide bagus, tapi kedua kaki Solar tetap terpacu.
Untunglah, dia pelari terbaik kedua di angkatannya. Hingga mudah mengejar, meski halangannya jalan licin dan siswa yang berlalu-lalang, meneriakinya agar tak berlari seperti itu.
Solar melihatnya tampak berlari keluar dari bumi perkemahan. Solar jadi ragu untuk terus mengikutinya, tapi terkadang, rasa penasaran bisa membunuh seseorang. Ketika, riuh suara anak-anak yang berkemah mulai menjadi samar, Solar berhasil menarik tangan itu untuk berhenti. Si empu lantas terkejut dengan tindakan Solar. Berbalik dan tatap Solar dengan kepalanya yang sedikit miring.
"Ada apa?"
Solar membulatkan matanya. Jantungnya berdegup kencang seolah akan meledak. Perutnya terasa mual, sampai dia merasa akan muntah setelah merasakan betapa nyatanya sentuhan tangan mereka.
Solar merasa familiar dengan wajah itu, suara itu, dan semua tentangnya. Tapi, keterkejutan itu, semakin menjadi ketika Solar mengingat tangannya yang masih menggantung pada tangan remaja di depannya. Sontak, Solar melepasnya, mundur beberapa langkah.
"Kau ... hidup?"
"Ha?"
Tentu saja itu pertanyaan bodoh. Tapi, Solar tak tahu bagaimana cara mendeskripsikannya lagi. Remaja yang mengenakan baju hijau botol ini, benar-benar mirip seperti hantu yang dilihatnya kemarin ketika di toilet. Bahkan mengingatnya sekarang, membuatnya pusing.
"Siapa namamu?" Solar akhirnya mengganti pertanyaannya, membuat ini agar tidak seambigu mungkin.
"Aku Duri. Dari Regu Macan Putih, kelas 10-2."
Solar makin tak yakin dengan pendengarannya. Lihatlah! Bahkan namanya saja sama dengan hantu toilet itu.
"Kau hidup? Kau bukan hantu? Kau bukan hantu yang kutemui di toilet?"
"Kau yang kemarin di unit kesehatan itu, ya? Yang katanya kerasukan."
Mata Solar membulat. Ditatapnya Duri, mata itu tidak tampak seperti orang mati, bersinar dan memiliki kehidupan di dalamnya. Bibirnya meskipun tampak pucat tapi tak benar-benar seiras dengan warna kulit. Dan yang paling penting, Duri di depannya ini bernapas! Dan dia tahu kalau dirinya kemarin berada di unit kesehatan.
"Ah, yah. Benar. Maksudku, aku hanya pingsan."
"Kupikir kau melihat hantu yang mirip denganku, makanya kau sampai bertanya seperti itu," ujar Duri. Menatap lawan bicaranya dengan intens, tampak seperti berusaha mencari sesuatu.
"Iya, maaf. Kesalahanku. Aku seharusnya tidak menanyaimu pertanyaan seperti itu."
Duri tampak menggeleng ribut, menyanggah pernyataan maaf Solar. "Tidak, tidak. Kau tidak salah. Lagipula, bukannya tidak mungkin hantu bisa meniru wujudku, wujud kita semua yang ada di sini."
Solar seketika merinding. Teringat pertemuannya di toilet dengan si hantu. Tapi, kalimat Duri setelahnya, adalah hal yang tidak Solar mengerti.
"Makanya, hutan itu menarik! Bukan cuma hewan dan tumbuhan yang tunggal di dalamnya. Kerapkali makhluk yang tak bisa kita lihat juga menjadikan hutan sebagai rumah!"
Mendengar pernyataan itu dari mulut seseorang yang mirip dengan hantu, membuat Solar merinding hebat. Tapi, jauh di lubuk hatinya dia merasa pernah mendengar kalimat itu sebelumnya. Namun, Solar tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Dia tatap Duri dengan tatapan aneh, lantas bergidik ngeri. Menyadari perilakunya ditatap dengan bingung, mau tak mau Solar tersenyum tipis sembari mengangguk pelan.
"Kalau begitu, aku duluan yah. Maaf sudah mengganggu."
Solar cepat-cepat memacu lari, meninggalkan Duri yang masih menatapnya dari belakang. Bahkan hingga punggung Solar tak terlihat lagi di antara pepohonan, Duri masih berdiri di sana.
=••=
Dua hari berlalu, dan malam pentas seni datang juga akhirnya. Namun, Solar tidak yakin mengapa tiba-tiba dia terus-terusan melihat Duri. Entah saat mengantri di toilet, menuju masjid, atau hanya sekedar papasan, seperti, dia baru saja membuka karakter baru di game.
Padahal Solar sudah berharap dia tidak lagi melihat dengan orang satu itu. Selain malu karena menanyakan dan bertingkah aneh, Solar juga masih takut tiap kali melihat wajahnya. Apalagi, Solar yakin sekali jika wajah Duri dengan hantu di kamar mandi itu sangat mirip.
Karena, ini pertama kalinya Solar bertemu Duri, Solar yakin bahwa tidak mungkin dia berhalusinasi dengan orang yang tidak pernah ditemuinya. Apalagi setelah kejadian itu, dia malah langsung bertemu dengannya.
"Eh, Gempa kamu nungguin apa?"
Samar-samar Solar mendengar suara teman-teman satu kelompoknya. Mereka tampaknya sudah siap pergi untuk kegiatan berikutnya. Solar juga sebenarnya tengah bersiap, hanya saja dia kepikiran banyak hal aneh yang membuatnya menjadi lambat.
"Nunggu Solar."
"Hah? Siapa?"
Eh? Solar menoleh, meski pandangannya terbatas oleh tenda.
"Eh, gak jadi."
Buru-buru Solar memakai bajunya, setelah itu melompat keluar dari tenda. Teman-temannya tampak terkejut dengan kemunculannya yang seperti hendak menerkam seseorang saja.
"Maksudnya apa ngomong begitu?" Solar langsung menyambar, wajahnya berkerut. Dia sudah tidak senang dengan kejadian semalam dan sekarang mendengar teman-temannya bicara hal aneh.
"Loh, kami ngomong apaan?" Salah satu dari mereka menjawab, tanpa tidak suka dengan nada bicara Solar.
"Kalian bilang seolah kayak ga kenal aku, itu maksudnya apa?" Solar meneguk saliva dengan susah payah. Saat itu menyadari, tak ada Gempa di antara mereka.
"Kami gak ada ngomong gitu? Kau kali yang terlalu paranoid."
"Engga, aku yakin, aku denger kalian ngomong kayak gitu." Solar tetap bersikeras, dalam lubuk hatinya dia sudah terlampau takut.
Namun sebelum perdebatan berkembang menjadi perkelahian antar anak lelaki, para pembina sudah berteriak untuk meminta semua berkumpul di depan panggung. Tampaknya sebentar lagi acara pensi dimulai, membuat anak-anak yang lain—bukan peserta dalam pentas—berlarian menuju depan panggung.
Teman-temannya pergi dengan mengumpati dirinya dan mengatai ia sebagai penakut. Meninggalkan Solar dengan pelbagai kegeselisahan yang semakin menusuknya dari waktu ke waktu. Perutnya entah mengapa terasa terbakar secara bertahap, seolah menertawakan kebodohannya.
"Loh, Solar? Kamu enggak ke panggung?"
Tubuh Solar tersentak, ketika menoleh dia lebih terkejut lagi.
=••=
Jujur, Solar tidak mengerti dengan situasinya. Dia duduk di atas terpal biru yang disiapkan panitia sebagai tempat duduk. Yang membuat Solar heran, kenapa dia bisa bersebelahan dengan Duri?
Tidak, tentu saja karena Duri yang menyapa saat ia bengong di depan tenda sendirian. Tapi, bagaimanapun Solar tidak menyambut sapaan itu dan berlalu pergi. Jadi, kenapa anomali ini mengikutinya sampai ke sini!?
Solar meringis, lupakan, ujarnya dalam batin. Saat ini perutnya terasa ditusuk keras dengan benda tumpul sejak acara pensi ini dimulai. Dia tidak pernah merasa sekarat seperti ini hanya karena sakit perut.
Beberapa kali meringis, sepertinya Duri menyadari hal itu. Solar terjingkat kaget tatkala telapak tangan Duri menyentuh pundaknya, dia menoleh dengan agresif pada Duri yang ikutan terkejut dan mundur secara refleks.
"Ah, maaf. Tadi aku bertanya apa kau sakit?"
Solar menggeleng, kedua alisnya hampir menyatu karena berkerut, dia tidak bermaksud mengagetkan Duri. Masalahnya, dia juga kaget.
"Sebaiknya ke unit kesehatan saja, sepertinya kau sakit. Aku akan menemanimu." Duri berusaha membujuk apalagi setelah melihat ekspresi Solar yang seperti itu. "Tenang saja, aku tidak ikutan pentas."
Solar tidak menjawab, lebih tepatnya ragu. Dia juga sangat ingin tiduran di unit kesehatan tanpa menghadiri acara yang memuakkan yang isinya kebanyakan tari ketimbang lainnya. Tapi, Solar akui sekarang, dia takut, apalagi kejadian hari pertamanya juga terjadi di unit kesehatan.
"Ada Kakak Pembina kok. Aku bakal bicara sama mereka Solar. Malah makin gawat kalau kamu nahan sakit."
Entah bagaimana Duri membujuk Solar, tahu-tahu dirinya sudah berada di unit kesehatan. Solar bahkan tidak menyadarinya tapi tidak juga kepikiran untuk memikirkan. Pokoknya saat menemui tempat tidur, Solar langsung berbaring begitu saja.
Rasanya lega setelah dua hari tidur di dalam tenda tanpa ada sesuatu yang empuk di bawahnya. Solar usahakan napasnya teratur berusaha agar perutnya tidak terlalu terasa sakit.
Lalu, setelah pikirannya tenang, rasa sakit di perutnya berkurang, Solar sadari bahwa betapa sepinya sekeliling. Tidak ada suara Kakak Pembina yang biasanya ribut menanyakan kondisi Solar setiap kali dia ke unit kesehatan untuk meminta obat, atau suara Duri yang sebelumnya dia dengar mengoceh karena khawatir.
Peluh membasahi tubuhnya dengan cepat, alih-alih bernapas, Solar menahannya seolah ingin menyatu bersama keheningan. Dia menggenggam erat bantalnya tidak berani membuka mata yang terkatup rapat sedari awal.
"Solar, Solar. Bagaimana kondisimu?" Suara itu dengan nada riang, mengingatkan Solar pada sesuatu.
Solar membuka mata, mendapati Duri duduk di depannya. Senyumnya mengembang pelan seperti roti yang dipanggang dalam oven. Manik sehijau daun yang menatapnya tampak sama seperti pepohonan yang selalu Solar lihat semenjak datang ke sini.
"Duri, bagaimana kau tahu namaku?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Solar memang tidak pernah memberitahu namanya, tapi Solar punya asumsi bahwa Duri bertanya tentang dirinya pada yang lain.
Duri tersenyum lebih lebar hingga terasa menakutkan. Tapi, matanya sayu tidak seiras dengan senyum yang terukir pada bibirnya. "Solar lebih baik bangun."
Setelah itu rasa sakit di perutnya semakin menjadi, seolah ada yang menusuknya dengan pisau berkali-kali tanpa ampun. Solar yakin dia berteriak, tapi suaranya tidak bisa dia dengar. Angin kencang bagaimana tertarik dengan teriakan tanpa suara itu, menghancurkan jendela unit kesehatan, menerpa badan Solar yang seakan sekarat.
Saat itulah, cahaya padam tergantikan dengan nyala petir yang masuk bersama suaranya yang ganas.
=••=
"SOLAR!"
Solar bangkit dari posisi berbaring. Tubuhnya basah, napasnya terengah-engah. Bola matanya berkeliaran tidak tentu arah.
"Solar, hei, kau baik-baik saja?"
Solar terperangah, dia menepis tangan Gempa yang memegangnya. Dia diam-diam mengintip keluar saat melihat pintu tendanya terbuka. Anak-anak dan Kakak panitia berlarian panik di luar sana, membawa tas-tas berisi baju mereka entah kemana.
Baru Solar sadari, hujan badai menerpa mereka di malam terakhir.
"Solar?"
Solar mengangguk pelan, lalu mengusap wajahnya yang juga basah, ternyata tenda mereka bocor. Itu berarti badannya basah karena air hujan. Solar dapat melihat Gempa yang menghela napas lega, mungkin karena Solar sudah sadar sepenuhnya.
"Kita harus ke tenda keselamatan yang disediakan."
Tanpa persetujuan Solar, Gempa langsung menariknya keluar tenda. Solar pasrah, dia terlalu lelah dan sejujurnya sedikit bingung mengapa dirinya memimpikan hal yang sangat aneh.
"Ah, Gempa. Bagaimana aku bisa ada di tenda?"
"Maksudnya?" Gempa memelankan langkah kakinya, padahal masih hujan.
"Bukankah aku tadi ada di unit kesehatan?" Solar melepaskan tangannya, menatap Gempa yang ekspresinya tidak terbaca olehnya karena gelap.
Ada jeda sangat lama untuk menjawab pertanyaan itu. Seolah memilah kata mana yang tepat untuk jawaban yang sebenarnya sangat mudah. Namun, pada akhirnya jawaban Gempa membuat Solar semakin merasa ada banyak hal yang salah.
"Solar, kau bilang kembali ke tenda untuk menyeduh kopi hitam, 'kan? Setelah itu saat kami kembali kau sudah tidur duluan."
Petir menyambar tiba-tiba, cahayanya memperjelas pandangan sementara, namun yang Solar lihat adalah Duri yang berdiri beberapa meter di belakang Gempa, di bawah pohon besar yang selalu Solar lihat. Tiba-tiba perasaan marah bergejolak dalam dadanya. Keyakinannya bahwa Duri aneh semakin membesar dan berubah menjadi bahwa Duri bukanlah manusia.
Tapi, hal itu malah membuatnya semakin tidak terima dipermainkan. Dilewatinya Gempa, ia abaikan temannya yang berusaha menggapai dirinya. Dia terus maju menuju Duri, dalam benaknya dia menyalahkan Duri atas yang terjadi selama ini. Hantu di kamar mandi, ketindihan di unit kesehatan, dan rasa sakit perutnya yang seperti ditusuk pisau.
"Kau!" Solar memegang tangan Duri. Dia tersentak kaget. Dingin, namun akrab.
Solar menggeleng, berusaha agar tidak terdistrak dengan perasaan aneh yang menyelimuti hatinya. "Kau bukan manusia."
Duri tidak menjawab, diam. Sekelilingnya lagi-lagi sepi, namun kali ini benar-benar sepi. Tidak seorang pun. Mereka hanya ditemani suara petir, angin, dan hujan.
"Iya, aku bukan."
Mendapat jawaban semudah itu, membuat Solar jadi salah tingkah. Perasaan marah menghilang seperti sapuan angin yang melewati tubuhnya. Dia melepaskan tangan Duri.
Dilihatnya air mata Duri jatuh, maniknya tidak sehijau sebelumnya di unit kesehatan. Manik itu mati, gelap, namun penuh rasa sakit, dan basah oleh air mata. Dia menggenggam erat satu lengannya, menatap Solar dengan wajah memelas.
"Solar, sudahi semua ini. Apa kau tidak lelah mengulang hal sama? Bukannya kau yang bilang padaku kalau kau membenci kemah? Jadi, kenapa kau terus mengulangnya!"
Solar tidak menjawabnya, kepalanya berkerut, perutnya kembali sakit. Pertanyaan Duri berulang kali terulang dalam pikirannya, hal sama? Hal sama apa? Apa yang dia lakukan?
Pohon besar di belakang mereka bergerak ganas, angin dan petir saling beradu kekuatannya. Duri menyambar pergelangan tangan Solar tapi dia tidak membawanya pergi dari sana.
"Maafkan aku, aku tahu ini salahku. Tapi, Solar kumohon, sudahi semua ini."
"Ah." Solar mundur satu langkah sementara tangannya masih dipegang dengan erat.
Dia menggeleng keras, tidak ingin percaya. Bagaimana mungkin Solar tidak menyadari Duri yang berwajah mirip dengannya, bagaimana bisa Solar diam saja saat mengetahui bahwa dirinya terlalu familiar dengan keberadaan Duri.
Solar hanya tidak ingat.
"Solar," bujuk Duri putus asa.
Saat petir menyambar lebih kencang lagi dan kali ini lebih dekat dengan mereka berdua menyambar pohon di belakang Duri tanpa ampun. Barulah Solar sadari,
Ini semua tidak nyata.
=••=
"Kata Kak Gempa ada teman Kak Gempa yang meninggal waktu kemah 5 tahun lalu yah?"
"Iya, makanya Kak Gempa ga ngebolehin ikut kemah."
Blaze angguk-angguk atas jawaban Ice. Sebenarnya dia ingin membujuk kakaknya agar mengizinkan mereka berdua, tapi sepertinya keputusan kakaknya itu sudah tidak bisa diganggu gugat.
Blaze menghela napas kecewa, padahal semua temannya ikut, dia akan ketinggalan cerita seru.
"Katanya juga berhantu."
"Hah? Beneran?"
Ice mengangguk, memasukkan es krim ke dalam mulutnya lagi sebelum kembali berucap. "Waktu angkatan di bawah Kak Genap kemah di situ lagi, regu yang sama kayak nama regu Kak Gempa, regu harimau, katanya ada anak bernama Solar yang ikut kegiatan kemah bareng mereka. Dan di regu macan putih ada anak bernama Duri yang juga ikutan."
"Hah, serius? Terus mereka sadar, ga?" tanya Blaze, diam-diam merinding.
Ice menggeleng ragu. "Katanya sih, ga ada dari mereka yang sadar sampai Kakak Pembina tahun lalu nanya, kenapa mereka nambahin nama Solar di lomba cerdas-cermat dan nama Duri di pentas. Dan mereka baru sadar kalau di regu mereka dari awal ga ada yang namanya begitu, baru pas di perkemahan itu tiba-tiba mereka berdua ada."
Blaze membelalakkan matanya, rahangnya sudah terjatuh seiring dengan cerita Ice yang membuatnya takjub sekaligus merinding. Lantas, pertanyaan yang membuatnya penasaran sedari awal keluar begitu saja. "Mereka meninggal gara-gara apa, sih?"
"Karna ketiban pohon gede, waktu itu pohonnya kesambar petir, mereka berdua lagi angkutin barang mereka ke tempat aman," jelas Ice.
Blaze berkedip tidak percaya, bagaimana Ice bisa tahu semua itu!? "Kamu tahu darimana Ice!?"
Ice cuma tersenyum simpul, senyumnya itu tampak lebih sus dari kue sus. "Dari sumbernya langsung."
"Hah? Maksudnya?"
Pertanyaan Blaze cukup dijawab dengan bulu kuduknya yang tiba-tiba berdiri saat dilewati angin kecil.
"Bahkan sampai saat ini pun, kembarannya yang satunya gak bisa terima dia udah meninggal, jadi dia terus mengulang hal yang sama. Sedangkan saudaranya yang satunya lagi, setia menunggu kembarannya sampai berhenti. Kemah yang dikira bakal jadi sekali seumur hidup malah jadi berulang kali dalam kematian. Ironis."
Hanya itu penjelasan Ice sebelum akhirnya dia naik ke kamar. Dia sempat tersenyum pada ruang kosong di sebelah Blaze.
