Work Text:
Pintu terbuka cepat, tak peduli dengan siapapun yang berada di dalam ruang dorm. Dari pintu muncul pemuda berambut pirang datang dengan raut kusut, pakaian lusuh, dan seluruh berkas design digenggam pilu.
"Sumpah deh, ini bakal jadi hari terakhir revisi!"
Suaranya gentar, tapi tenaganya lunglai. Ia hampir menyeret kaki dengan sepatu masih terpasang. Seseorang yang muncul di ambang lorong sampai langsung menatapnya. Tatapan yang Kaveh tidak ia senangi.
"Buka sepatumu dulu."
Kaveh mengerang. "Aku sudah 1 minggu tidak disini, malah disambut kayak gitu?"
Alhaitham memutar mata. Kaveh pikir, Alhaitham memang tak peduli. Ia tak peduli dengar alasan dan kesulitan seniornya. Barangkali, cuman Kaveh yang akhirnya tidak didengar, meski sudah satu dorm setahun—berbagi suka sama duka.
Setelah seminggu tidak melihat tingkah menyebalkannya, Kaveh semakin risau. Mungkin karena baru sekarang ia sadar, Alhaitham memang selalu punya cara untuk mengganggu suasana hati seseorang hanya dalam hitungan detik. Dan saat ini, tenaganya sudah terlalu terkuras untuk berdebat soal hal sesederhana sepatu.
Ia pun gusar meloloskan sepatunya.
"Lihat! Puas, tidak?"
Alhaitham tidak akan memperlihatkan persetujuan.
Ia hanya merasa ucapannya sudah cukup, dan berbalik masuk melanjutkan perjalanan ke ruangan lain. Kaveh mengernyit dengan tingkah polanya sambil mengepal tangan—nyaris akan melempar pukulan kalau ia bisa.
Tinggal di satu atap dengan junior kurang ajar ini, bukan sesuatu yang ia niatkan sejak awal. Kalau bukan karena dompetnya hampir selalu mengenaskan di setiap akhir bulan, Kaveh juga tidak akan pernah membayangkan orang yang mengulurkan bantuan justru Alhaitham.
Dari sekian banyak kemungkinan, kenapa harus dia? Namun kenyataannya tetap sama. Tawaran Alhaitham cukup untuknya mendapatkan tempat tinggal sampai tahun terakhir kuliahnya.
Kaveh sebagai senior arsitektur yang mengambil cuti setahun, kemudian kembali dan harus tinggal di kelas dengan beberapa junior. Bertemu Alhaitham dalam mata kuliah bahasa bukan sesuatu yang dia minati juga awalnya.
Kesan pertama ; pemuda ini tidak sopan. Menatapnya dengan lama, sambil mengernyit tidak percaya ketika Kaveh menghampiri bangku kosong di sebelahnya.
"Kenapa kau kembali?" ujar Alhaitham dengan nada dingin.
Dan pertanyaan itu terpatri bagai penolakan yang begitu gamblang untuk hari pertama Kaveh kembali ke perkuliahan. Saat-saat dinanti agar menikmati masa kuliah yang tenang, diusik oleh kehadiran pria yang tidak tampak belas kasih atas keputusannya kembali.
Sejak saat itu, ia selalu ingin menjauhi Alhaitham yang seolah tidak pernah menyukainya—pun menerima kehadirannya. Kaveh merasa dikasih penolakan dan keengganan, memantik unsur hubungan yang begitu tidak enak sampai saat ini.
Anehnya, Kaveh berakhir menerima penawaran Alhaitham untuk tinggal sekamar bersamanya. Dengan pembagian biaya menjangkau dompet tipisnya, ia tak mampu menolak. Tak ada teman yang membantu, semua sibuk urusan sendiri. Kaveh menjadi satu-satunya mahasiswa yang kembali setelah tertinggal satu tahun, memaksanya mengikuti kelas bersama para junior. Cepat atau lambat, ia memang membutuhkan seseorang untuk berbagi tempat tinggal sekaligus menjadi teman selama menjalani sisa masa perkuliahannya.
Dan tak sangka Alhaitham yang menawarkan diri. Walaupun ucapnya, "Aku hanya tidak mau ada anak lain yang tidak semata kuliah tinggal bersama," yang berarti 'saya alergi orang gak dikenal, dan kamu cuman orang aneh yang sekelas sama saya. Itu sudah cukup.'
Kaveh kemudian berjalan masuk dan mendapati Alhaitham sudah duduk di meja makan. Wangi enak bebek goreng menyusup indera penciumannya yang seketika mengikis separuh amarahnya. Ia tidak pernah melihat pria yang paling jaga pola makan ini, tiba-tiba ingin makan bebek goreng yang lemaknya bisa bikin orang kena kolesterol tinggi sekejap.
Tapi masalahnya Kaveh lapar.
Dan makanan favorit yang kini terhidang di atas meja adalah bebek goreng.
Tatapannya langsung terpaku pada satu paha atas berukuran besar yang masih berkilau oleh minyak. Perutnya yang sejak tadi kosong ikut berkhianat, mengeluarkan bunyi yang untungnya tidak terlalu terdengar.
Alhaitham pasti sedang membuat keributan lain. Sengaja menyudutkan rasa lapar dengan makanan favorit Kaveh, tepat ketika ia baru saja pulang. Licik banget!
Tentu saja nada omel Kaveh tak mampu ia tahan. Ia masih melontarkan cerca—namun sambil menarik kursi, lalu duduk tepat di depan meja makan, dan matanya masih melototi paha bebek besar dengan liur yang ditahan.
"Kau pasti tidak nyangka ya aku pulang hari ini dan coba curi curi kesempatan berhenti diet ? Aku tahu kamu tuh alesan doang sok paling sehat." Kaveh menoel noel daging bebek dengan garpu di tangannya. Minyaknya keluar sedikit demi sedikit, aroma gurihnya menjadi lebih menyeruak.
Alhaitham tidak menanggapi. Tangannya masih terlipat menatap Kaveh yang seakan menginterogasi si Bebek daripada dirinya. Orangnya ada di depanmu bukan di piring.
"Makan saja. Lihat kamu mainin bebek itu, nafsu makanku malah hilang."
Kaveh berhenti menoel, lalu menoleh tajam ke Alhaitham. "Aku gak mainin! Cuman uji keempukan! Bebek ini keliatan gak seenak itu, pasti alot."
"Kalau mau tes keempukan, cobain aja dulu."
Kening Kaveh langsung berkerut.
"Ngapain aku makan punyamu?!"
"Aku masih ada yang lain. Makan saja."
Kaveh manyun. Bukan karena ia tidak tergoda.Bahkan aroma bebek goreng itu sudah berhasil mengalahkan separuh kewarasannya sejak tadi.
Ia lagi-lagi tidak yakin dengan penawaran yang Alhaitham berikan. Ia selalu terdengar setengah hati. Seolah-olah itu kewajibannya sebagai pemilik kamar, bukan maksud berbaik hati. Atau parahnya, kebaikan itu nanti akan ditagih kembali sebagai balasan atas sesuatu yang sama sekali tidak ingin Kaveh lakukan.
Menurut Kaveh, Alhaitham seperti senang membully-nya!
Tapi rasa lapar Kaveh telah menghentikan argumen gak-mau-kalah di kepalanya. Pertarungan antara harga diri dan rasa lapar ternyata jauh lebih melelahkan daripada revisi selama seminggu penuh.
Ia akhirnya memutuskan mengambil sepiring nasi—ah, setengah sendok tambahan tidak akan jadi masalah. Lalu menarik satu piring bebek goreng dengan bumbu hitam langsung ke hadapannya. Kaveh senyum lebar ketika semua potongan bebek kini resmi menjadi miliknya, dan ia tak peduli dengan apa maunya Alhaitham yang sedang menatapnya saat ini.
Marahnya nanti aja, aku mau pingsan kalau bebek ini habis di tangan orang lain.
Kaveh sudah cuci tangan. Tidak butuh waktu lama untuknya langsung meraup nasi dan potongan daging yang ternyata mudah sekali dilepaskan sampai ke tulang-tulangnya. Ia mengambil sedikit bumbu hitam, membalut potongan daging itu, lalu ia suap ke mulut sendiri.
Satu suapan serasa melelehkan otaknya. Bumbunya meresap sempurna, berpadu dengan lemak bebek yang lembut tanpa terasa berlebihan. Rubi merah di matanya berbinar, menikmati setiap perpaduan rasa gurih dan asin yang meledak di dalam mulutnya.
Kaveh sempat menunggu sensasi pedas yang biasanya datang belakangan, membuat lidahnya kepanasan dan menyesali suapan pertama. Tidak ada—tidak ada rasa pedas yang sangat ditakutinya. Tidak menusuk lidah, tidak membuat mulutnya terbakar.
Ia cinta bebek goreng, tapi selama ini ia hampir selalu memakan buatan keluarga atau teman-temannya yang sudah hafal bahwa Kaveh sama sekali tidak tahan makanan pedas.
"Ini kamu masak sendiri? Eh—tapi gak mungkin. Sejak kapan kamu bisa masak?"
"Sejak kamu bilang kamu gak bisa masak."
Kaveh langsung mengeraskan rahang pingin memuntahkan kembali bantahan.
Belum sempat, Alhaitham sudah lanjut memperkeruhnya. "Gak mau juga kamu hambur-hamburin duit cuma buat pesan fast food."
"Hey! Aku ini tahu diri kali. Buat naik transportasi umum ke kampus aja susah, ngapain habisin duit buat fast food!"
Kaveh kembali menyuapkan bebek ke mulutnya, kali ini tanpa banyak bicara. Satu potong habis, menyusul potongan berikutnya. Kalau bebeknya sudah tandas duluan, ia tak ragu-ragu untuk menambah sesendok nasi lebih banyak. Masih ada kesempatan mencampur-campur nasi dengan bumbu hitam yang tersisa.
Alhaitham jadi penonton diam ketika melihat Kaveh menghabiskan seluruh piring seakan lupa bernapas. Sudut bibir Alhaitham nyaris bergerak naik, tetapi hanya sesaat. Ekspresi itu menghilang bahkan sebelum Kaveh sempat mengangkat kepala.
Tatapan Alhaitham turun pada gelas kopi kosong yang tadi dibawa Kaveh bersama setumpuk berkas. Ia menduga betul bahwa sudah banyak kafein yang diminum Kaveh selama seminggu—bahkan setiap hari. Kebiasaan paling tak sehat yang ia kenal betul.
Kaveh baru menyadari piringnya licin ketika hendak mengambil suapan berikutnya.
"..."
Ia menatap piring kosong itu beberapa detik. Pipinya memerah sedikit lalu berdeham pelan, pura-pura tidak terjadi apa-apa. Saat hendak menyandarkan tubuh di kursi untuk menyamankan perut penuhnya, segelas susu hangat tiba-tiba bergeser ke hadapannya.
Kaveh berkedip.
Alhaitham langsung menyanggah sebelum ditolak Kaveh, "Aku kebanyakan minum susu tadi."
"Kamu ngapain sih nyiapin banyak-banyak? Emang baru bikin pesta?"
Alhaitham tidak menanggapi untuk beberapa waktu. Keheningan yang ia berikan terasa jauh lebih nyaring daripada balasan apa pun sehingga membuat Kaveh akhirnya ikut diam karena tak mendapat respon.
"Susunya besok sudah expired dan aku berusaha habisin. Sisanya kamu yang habiskan." Dia semakin mendekatkan uluran susunya kepada Kaveh, seolah menuntut 'cepat habisin atau aku buang'.
Kaveh paling gak suka ada makanan minuman mubazir, pun tak yakin kalau Alhaitham bakal langsung membuangnya. Namun kalau sudah expired, memang tidak bisa berbuat banyak, kan? Lagipula kalau sudah makan bebek yang minyakan begitu, pasti lambungnya tidak cukup bersahabat untuk diajak istirahat.
Kaveh tidak banyak bicara dan langsung menerima susu itu. Menghabiskannya dalam satu teguk.
Rasa manisnya menggusur sisa gurih dan asin yang masih menempel di lidah. Susu hangat itu mengalir dari rongga mulut hingga ke perutnya, membersihkan rasa berat yang ditinggalkan lemak bebek tadi.
"Ah, rasanya enak sekali untuk pulang ke rumah—" Kaveh buru-buru melempar pandangan ke arah Alhaitham, seakan ingin menarik kembali kata-kata yang telanjur keluar. Tapi ia lihat pria di hadapannya sudah tak peduli. Ia mengambil piring makan dan gelasnya ke tempat cucian.
Rasanya aneh sekali di benak Kaveh. Sesaat tadi, ia benar-benar merasa Alhaitham sedang memperhatikannya, tapi juga tidak. Tatapannya mengikuti punggung Alhaitham cukup lama, mencoba mencari jawaban dari setiap tingkahnya.
Alhaitham merasakan tatapan itu tanpa perlu menoleh. Ia hanya menghela napas pelan."Kau ini paling gak becus kalau sudah cuci piring. Selalu ada noda yang tersisa."
Curiga Kaveh langsung lenyap. Tidak, ini tetap Alhaitham yang paling bikin emosi sejagad!
"Aku gak minta dicuciin juga! Kau yang terlalu maniak bersih-bersih! Noda dikit aja dipermasalahin. Kamu nggak bakal mati gara-gara sedikit noda!"
"Berisik sekali. Ini sudah malam, tidur saja sana."
Kaveh langsung memeletkan lidah ke arah punggungnya. "Aku emang mau ke kamar! Biar kamu repot sendiri sana. Aku gak bakal bantuin."
Dengan dengus kesal, ia pergi menuju kamarnya, masih terus mengeluh tentang Alhaitham di antara gumamannya— mikirin piring belum sempat didiamkan lima menit saja sudah dicuci. Lantai baru terkena setitik air langsung dilap. Rak buku harus lurus. Kursi harus kembali ke posisi semula.
Tinggal bersama Alhaitham kadang terasa seperti tinggal bersama buku aturan yang bisa berjalan.
Kemudian keluhannya itu diakhiri dengan "Alhaitham nyebelin," keluar begitu saja sebelum pintu kamar tertutup.
Alhaitham mendengarnya selama membilas piring terakhir tanpa memberi tanggapan. Baginya, selama Kaveh masih punya tenaga untuk mengeluh, berarti kondisinya baik-baik saja.
Setelah dapur kembali bersih, Alhaitham mematikan lampu ruang makan satu per satu. Pandangannya kemudian beralih ke tas Kaveh yang masih tergeletak begitu saja di dekat sofa. Resletingnya terbuka lebar. Beberapa lembar desain bahkan nyaris menyentuh lantai.
Ia tidak memperlihatkan sikap keberatan. Map itu ia angkat, lalu disusun kembali bersama berkas-berkas yang hampir terlipat. Pensil mekanik yang menggelinding ke bawah meja ikut ia ambil dan ia selipkan ke kantong depan tas. Setelah memastikan semuanya kembali pada tempatnya, barulah ia membawa tas itu ke depan pintu kamar Kaveh.
Alhaitham mendorong pintunya sedikit. Ternyata tidak terkunci. Kaveh rupanya belum tidur. Ia sudah bersandar di ranjang, , dengan lampu kamar masih menyala. Rambutnya masih sedikit basah sehabis mandi, dan terlihat memangku laptop di atas kedua kakinya sambil terus mengetik.
Tahu Alhaitham masuk sambil membawa tasnya, Kaveh hanya melirik sekilas tanpa benar-benar mengalihkan perhatian dari layar. "Kasurku kamu rapihin, ya?"
Alhaitham tidak langsung menjawab. Ia hanya meletakkan tas Kaveh dengan rapi di samping nakas, lalu merapikan tali tas yang menjuntai ke lantai.
"Aku gak bisa tidur kalau melihat kamarmu seberantakan itu."
Kaveh menguap. Tenaganya benar-benar sudah banyak terkuras. Perut yang kenyang, hangat susu, ditambah kamar bersih nan nyaman membuat kantuk datang jauh lebih cepat. Kalau batere tubuhnya habis total, ia sudah kehilangan posturnya dan langsung terlelap begitu ia menyentuh ranjang.
"Aku mau rapihin kok, kalau urusanku ini udah selesai."
"Mau sampai kapan? Revisimu belum selesai sampai sekarang. Sebulan lagi?"
Kaveh menutup laptopnya. "Jangan nge-jinx aku dong! Lagian, seharusnya kamu doain aku cepet kelar, biar aku bisa keluar dari sini!"
Alhaitham yang semula hendak meletakkan selimut yang baru ia ambil dari lemari, tiba-tiba terdiam. Gerakannya berhenti sesaat. Air mukanya berubah tipis—nyaris tak kentara. Terlalu singkat untuk disadari Kaveh.
"…Aku tidak yakin untuk itu," Alhaitham kemudian dengan biasa berlanjut lagi pada kegiatannya. Selimut itu ia ulurkan, lalu langsung direbut Kaveh dengan sedikit kasar.
"Hey, kamu doain aku gak lulus, ya?"
Alhaitham lagi-lagi diam. Setiap kali Kaveh melontarkan pertanyaan yang agak serius, Alhaitham justru membutuhkan waktu terlalu lama untuk menjawab. Seolah pria itu sengaja memikirkan jawaban yang paling menyebalkan untuk diucapkan.
Maka sebelum Alhaitham sempat membuka mulut lagi, Kaveh sudah lebih dulu menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Ia menarik selimut hingga menutupi dada, menghirup aroma sabun laundry yang begitu familiar.
Ini sampai sabun laudrinya aja wangi kesukaannya. Enak banget.
"Lihat saja ya, Alhaitham, apa pun yang kamu pikirin tentang aku, gak bakal terwujud! Aku bakal lulus, dan hidup mandiri dengan…hoahmm..uang..ber—limpah.."
Kamar itu akhirnya tenggelam sunyi. Keributan sejak Kaveh pulang seolah tak ada habisnya kini menghilang begitu saja.
Alhaitham memang diam, tetapi tatapannya menyimpan terlalu banyak hal yang tak pernah ia ucapkan. Ia duduk di sisi ranjang kali ini, melihat Kaveh tertidur dalam posisi miring dan mulut terbuka dengan dengkuran kecil. Pasti beberapa dengkuran lagi, akan terdengar igauan dari mimpinya 'Alhaitham nyebelin'.
Di tengah kedamaian itu, justru Alhaitham yang tidak merasa tenang. Tangannya sudah menyingkirkan beberapa helai rambut Kaveh yang jatuh menutupi mukanya. Dilihatnya wajah tenang cantik Kaveh dalam beberapa saat. Ia biarkan waktu berdetak lama untuk menyaksikan sedikit dari ekspresi tidur Kaveh yang seminggu tidak dilihatnya.
Seminggu paling menyiksa keduanya.
Yang satu karena tugas, yang satu karena rindu.
"Aku memang tidak mau keinginanmu untuk pergi dari sisiku itu terwujud…"
Ting.
Tong.
"ALHAITHAM! YUHUUU...!"
Suara teriakan yang menggema dari luar sampai menembus dinding kamar Kaveh. Alhaitham refleks menarik kembali tangannya dari wajah Kaveh dan segera berdiri. Waktu khitmatnya buyar, digantikan dengan rasa jengkel.
Ia melangkah keluar, lalu membuka pintu dengan sedikit lebih keras dari biasanya. Di baliknya berdiri sosok yang paling tidak ingin ia temui malam itu.
"Alhaitham! Kau janji mau kasih contekan Bu Faruzan setelah resep bebek dariku—" Cyno berhenti bicara ketika mengintip ke dalam dorm. "Eh, ngomong-ngomong... Kaveh udah pulang?"
"Pelankan suaramu."
"Oh."
Dari ekspresi Alhaitham yang kesal tapi masih ada kelembutan yang tersisa itu, sudah cukup menjadi pengakuan bahwa ia berhasil menyenangkan laki-laki yang ditunggunya dengan rindu selama seminggu ini. Pemuda berambut putih itu terkikik sambil menyandarkan bahu di kusen pintu.
"Aku sampai heran. Alhaitham kok tiba-tiba nanya, 'bebek yang bumbunya gak terlalu pedas gimana bikinnya?' Kupikir mau buka usaha jual bebek gara gara patah hati ditolak sama Kaveh."
"Gak usah dateng lagi." Alhaitham nyaris mau menabok Cyno dengan pintu tertutup tepat di depan hidungnya. Namun segera ditahan oleh sahabat yang sudah nyengir 2 jari.
"EH—maaf, maaf! Cuma becanda deng. Peace, dong. Lagian, kontrak kita belum selesai, loh."
"Aku kirim lewat email. Sekarang pergi."
Cyno mengerjap beberapa kali. Kedatangannya masa cuma selesai secepat itu? Gak seru.
Padahal ia sudah repot-repot membawa satu kantong kudapan untuk 'menyuap' Alhaitham. Percuma kalau pria itu malah mengusirnya sebelum sempat dipakai sebagai alat negosiasi.
Saat Alhaitham kembali hendak menutup pintu, Cyno mendadak seperti teringat sesuatu.
"Oh iya. Sebenarnya tadi aku dengar dari Tighnari. Katanya, beberapa hari lalu Kaveh lahap banget makan cah kangkung yang dimasak Tighnari."
Gerakan Alhaitham berhenti.
"Dia bilang enak banget. Bahkan minta dibuatin lagi kalau sempat. Sayangnya, Tighnari lagi sibuk proyek beberapa minggu ke depan."
Alhaitham tetap tidak menanggapi. Wajahnya masih setenang biasa, tetapi jelas ia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Cyno.
"Kasihan juga, ya. Kaveh pasti bakal kangen sama cah kangkungnya."
Alhaitham yang sejak tadi memasang wajah datar tiba-tiba terbatuk pelan. Cyno menahan senyum. Umpannya kena.
"Makanya aku sengaja mampir. Mau nawarin resep baru buat kamu masak." Cyno nyengir lebar. "Tau nggak sih? Bebek goreng ditemani cah kangkung itu enak banget. Nasinya bisa habis sampai ke kerak-keraknya. Kaveh juga kayaknya gak bakal berhenti di satu piring doang."
Cyno kemudian mengangkat kantong kudapan yang dibawanya. "Sekalian ini ada cemilan buat nemenin kamu ngerangkum mata kuliah Sintaksis buatku. Deadline lusa, yah."
"...Kirim resepnya. Nanti kukirim ke email besok."
Pada hari-hari berikutnya, setiap transaksi kecil di antara mereka pasti selalu dibungkus dengan alasan yang sama: Kaveh adalah pihak yang paling membutuhkan.
Alhaitham akan memenuhi satu per satu keinginan Kaveh, tapi tak pernah sekalipun menjelaskan niat yang sungguh. Barangkali, pesan cinta memang tidak selalu harus diucapkan dengan kata cinta.
Ia bisa hadir dalam sepiring bebek goreng yang dimasak tidak pedas. Dalam kamar yang diam-diam dirapikan. Atau dalam sepiring cah kangkung yang resepnya dicari hanya karena dia pernah bilang rasanya enak.
Kesalahpahaman menjadi bahasa Alhaitham. Cara paling paling jujur untuk menyampaikan isi hatinya kepada Kaveh.
Kaveh sudah selayaknya memiliki begitu banyak momen senang. Maka Alhaitham memilih menjadi bagian dari semua momen yang menyebalkan. Agar di setiap dengusan kesal, omelan, atau debat kecil yang tak pernah selesai, selalu ada dirinya yang tinggal di sana.
Karena selama Kaveh masih menganggapnya menyebalkan, setidaknya Kaveh tidak pernah benar-benar melupakannya.
