Actions

Work Header

Pre-Love in Emergency

Summary:

Perasaan jatuh cinta dari bekerja dalam kondisi darurat.
Arjuna menyelamatkan korban dari lokasi kejadian, sementara Ryan menyelamatkan mereka dari ambang kematian.
--------------------------
Damkar Arjuna (35) x Dokter Ryan (40)
Augustrope Day 1 : First Meeting
--------------------------
Illustration in story.

Notes:

Demi memenuhi challenge ini, aku harus (agak maksain) debutin beberapa oc / octp yang belum resmi debut, termasuk JunaRyan WKWK (masih gatekeep). Tapi ya setidaknya ada gambaran untuk pertemuan pertama mereka (walaupun aku belum bisa anggep ini official temu mereka).
------------------------
octp / oc x oc content
OC and Story by Mir/Redbluemiw

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Pertemuan pertama biasanya terkesan canggung. Bahkan mungkin bisa menjadi kenangan manis sampai kebawa tidur.

Namun pertemuan pertama Arjuna begitu pahit seperti rasa obat yang dipaksanya telan malam itu. Rasa pahit itu semakin melekat ketika ia harus berhadapan dengan seorang dokter cantik yang name tag di dadanya bertuliskan Ryan Miguel.

"Kamu itu badan aja yang gede tapi makan obat aja ngeluh."

Ryan adalah dokter UGD yang berjaga, mendapat perintah menangani Arjuna setelah pria itu nekat memanjat tangga besi demi menyelamatkan seekor kucing yang terjebak di atas pohon.

Naas, aksi heroiknya membuat ia terjungkal dari tangga besi. Bagian besi sempat menggores dalam luka di kakinya sampai berdarah banyak, dan semua sahabatnya panik membopongnya ke rumah sakit terdekat.

Namun, ia tidak merengek sekalipun di hadapan dokter bernama Ryan Miguel yang sama sekali tidak terlihat iba padanya.

Meski kakinya berbanjir darah, ia masih tersenyum lebar—mengelus kucing tanpa perhatian pada goretan besar di sekian betisnya. Jelas ketika Ryan mendatangi ruang unitnya dengan kibasan tirai cepat, ia akan berpikir senyum lebar itu akan bertahan sampai ia mengonsumsi obat tetanus.

"Bu—bukan gitu, Dok. Tapi ini bekas suntiknya masih berasa banget"

"Lebih parah. Obat aja kamu keluhin, suntik juga gak sanggup. Damkar macam apa kamu?"

Jleb. Seharusnya.

Dokter ini cantik-cantik, tapi mulutnya sama tajam seperti pisau bedah pada pasien yang baru ia tangani sehari saja. Sayangnya—atau beruntungnya—Arjuna lebih suka kata-kata menelusup sanubari yang diujarkan sang Dokter, daripada konsumsi obat atau suntik menembus kulit.

Mungkin benar saja yang dikata teman satu kerjanya, Arjuna masokis sejak lahir.

Arjuna terus memperhatikan sang Dokter yang sejak suntik sampai makan obat cuman bisa ngomel. Jelas ia harus perhatian, karena wajah manis Ryan mencumbu setiap atensinya sampai lupa rasa nyeri di kakinya.

Kucing yang ia selamatkan seringkali mencakar dan menggigit ketika ditolong. Ekspresi marah mereka ketika diselamatkan terlihat lucu, makanya Arjuna tidak masalah kalau kena cakar hampir sering di setiap badannya. Mereka juga hanya sedang tidak merasa aman. Ketika rasa takut menghilang, mereka akan menjilati luka Arjuna sebagai terima kasih. Sebuah penghargaan yang paling disukai Arjuna.

Sama saat Ryan terus mengomel sambil membalut lukanya, lalu diakhiri dengan satu kalimat "Nah, bagus", terdengar seperti apresiasi besar atas kerja keras telah bertahan mendengar hardikan Ryan yang 'merdu', ocehan yang 'candu', atau tingkah menuntut yang 'lembut'.

Ryan kemudian mengambil stetoskop dan mulai melakukan pemeriksaan terakhir. Kepala stetoskop yang dingin menyentuh lebih dekat di kulit dada Arjuna. Pria besar itu tidak berkutik dengan sentuhan alat, melainkan tangan sang Dokter sesekali ikut menyentuh kulitnya saat mengatur posisi alat tersebut.

Ryan mengernyit, "Kok detak jantungnya masih belum stabil, ya? Harusnya sekarang kamu udah lebih tenang."

Gak bisa Dok, Pak Dokter parfumnya wangi banget sedeket ini. Arjuna mencoba menahan napasnya. Ia seharusnya tahu cara untuk tenang di suasana genting karena berulang kali menyelamatkan bahaya di setiap kondisi karena profesi seorang damkar.

Sayangnya, tidak ada satu pun pelatihan yang mengajarinya cara tetap tenang di kondisi sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Kondisi darurat yang paling ditakutkan seorang Arjuna Agnikara daripada bara api menyala.

"Pak Dok, saya baik-baik saja. Saya udah makan dan suntik, sekarang saya bisa pulang, dong"

"Oh gak bisa. Berapa banyak teman kamu datang ke UGD ujung-ujungnya balik lagi karena mau cepet-cepet pulang? Kalian damkar ini emang nyusahin aja."

Arjuna mengerjab. Jadi ini kenapa Ryan selalu marah-marah. Ia punya dendam sama Damkar yang mengisi ruang daruratnya hampir setiap hari.

Ryan kembali melirik data pasien di tangannya sebelum menatap Arjuna.

"Kamu masih baru ya? Kelihatan dari tingkahmu. Orang baru biasanya masih semangat-semangatnya nyari bahaya Makanya bertahan dulu di sini sampai kondisimu benar-benar stabil. Besok kalau udah sehat, baru silakan repotin kami lagi. Kalau sakitmu makin parah ketika bertugas, kami juga yang disalahin."

Ronde omelan ini juga tidak lagi diabaikan oleh Arjuna. Ia cuman angguk-angguk kepala. Lagipula Ryan benar, Arjuna memang anggota baru di unit damkar wilayah itu. Selama ini, setiap kali berakhir di rumah sakit, ia selalu bertemu dokter-dokter yang jauh lebih lembut dan sabar menghadapi tingkah para petugas damkar.

Tapi kalau Ryan, sudah sampai ke ubun-ubun kesalnya.

Suara bip muncul pada alat pager yang dibawanya. Itulah penanda dirinya harus ganti pasien darurat setelah menangani giliran Arjuna. Dokter UGD sepertinya sungguh sibuk tidak hanya merawat satu, melainkan belasan dalam satu jaga.

Arjuna tak mampu kehilangan dokter Ryan dalam sekali temu saja, dan memilih memberanikan diri menegur sebelum pria itu meninggalkan ranjangnya.

"Dok, boleh minta nomor teleponnya?"

Ryan yang baru ingin meraih pulpen untuk menuliskan resep cepat kepada suster, langsung berhenti diam. Suster yang berdiri di samping mereka ikut melirik bergantian ke arah kedua pria itu, apa saya ganggu?

"Buat apa?"

"Ya... siapa tahu nanti saya kenapa-kenapa lagi.."

Ryan menghela napas, seolah ia sudah tahu apa yang terjadi saat ini. Ia hentikan suster yang sudah nyengir untuk permisi sebentar dari ruang obrolan mereka. Kini hanya berdua di ruangan yang tidak sunyi dari suara langkah kaki, roda brankar, dan kepanikan sepanjang lorong UGD.

"Nah, itu justru alasan saya gak bakal ngasih."

Arjuna sudah duga, terlalu jelas memperlihatkan ekspresi kecewa di muka.

Seolah wajah tampan berdurja muram itu sedikit mengusik hati Dokter Ryan, pria itu kemudian melanjutkan kalimat yang terputus tidak menyenangkan barusan.

"Kalau suatu hari kamu datang ke rumah sakit bukan karena tingkah sembrono kayak begini, mungkin saya kasih."

Arjuna mendongak, mata serupa percik api yang baru menyala, bersemangat sekejap mendengar respon positif demikian. Hanya dengan satu kalimat itu saja, semangatnya kembali pulih seolah rasa sakit di kakinya sudah tidak berarti apa-apa.

Sang Dokter nyaris yang terjungkal kali ini dengan perubahan ekspresi secepat itu, dan langsung pergi tanpa ucap sampai jumpa.

Lagian, mereka memang tidak akan berjumpa di ranjang darurat lagi…


Tapi Arjuna tetap datang di depan pintu ruang UGD.

"Dok! Pasien laki-laki, kecelakaan lalu lintas! Masih sadar!"

"Korban kebakaran. Luka bakar di lengan dan dada!"

"Korban pohon tumbang. Dugaan fraktur kaki!"

Pria itu justru semakin sering muncul di depan ruang gawat darurat sambil mendorong brankar, membantu paramedis menurunkan korban dari mobil rescue, atau menggendong seseorang yang baru berhasil dievakuasi dari lokasi kecelakaan. Tubuh besarnya tak pernah lagi berakhir di atas ranjang pasien, melainkan terus mondar-mandir mengantarkan orang lain agar segera mendapat pertolongan.

Setiap kali pintu UGD terbuka, Ryan hampir selalu melihat orang yang sama. Kali ini, ia pakai seragam damkar lengkap yang masih dipenuhi debu, jelaga, atau sisa air dari lokasi penyelamatan. Name tag di dadanya kini terlihat jelas untuk pertama kalinya.

Arjuna Agnikara.

Sesekali mata mereka bertemu di tengah kesibukan. Arjuna akan melambaikan tangan sambil tersenyum lebar setelah mengusap muka dari bekas abu, atau mengelap bekas darah orang lain menempel di bajunya.

"Selamat malam, Pak Dok."

Dan Ryan hanya membalas senyum tipis sebelum segera mengambil alih brangkar yang didorong Arjuna. Lama-kelamaan, jemari mereka mulai sering bersentuhan tanpa sengaja di sela-sela proses serah terima. Tak ada yang benar-benar peduli dengan kejadian kecil tersebut, kecuali keduanya.

Begitu pasien berpindah ke tangannya, Ryan langsung berlari kembali menuju ruang tindakan dengan kepanikan yang sama setiap harinya.

Sementara itu, Arjuna hanya berdiri beberapa saat di depan pintu UGD. Matanya selalu mengikuti punggung sang dokter yang semakin menjauh, menyaksikan Ryan bergegas menyelamatkan nyawa orang lain.

Pemandangan itu entah sudah berapa kali berhasil dipatri dalam hati Arjuna yang diam-diam terus berbunga.

Ia tidak bisa menyangka perasaan jatuh cinta dari bekerja dalam kondisi darurat. Arjuna menyelamatkan korban dari lokasi kejadian, sementara Ryan menyelamatkan mereka dari ambang kematian.

Lebih baik daripada sekedar tukar nomor telepon.

Ia bahkan cukup aneh membayangkan, setiap serah terima brangkar yang mereka lakukan, seperti ikatan sumpah untuk mencintai dalam suka ... maupun duka.

 

Description

Description

arts by Clevsey

Notes:

Sekian!
Tinggalkan komen/kudos/bookmark untuk memotivasi Mir <3

Series this work belongs to: