Actions

Work Header

Pawsitive Vibes

Summary:

Jihoon, Hanjin, dan Youngjae menghabiskan hari libur mereka.

Notes:

-Cerita ini pakai worldbuilding hybrid (manusia yang bisa berubah wujud jadi hewan), dijelaskan bertahap lewat konteks.

-Panggilan sayang konsisten:
Hanjin -> Jihoon (babe)
Hanjin -> Youngjae (baobao)
Jihoon -> Youngjae (kakak)
Jihoon -> Hanjin (jinnie)
Youngjae -> Hanjin (sweetheart)
Youngjae -> Jihoon (sunshine)

Work Text:

Hari ini hari libur yang ditunggu-tunggu Jihoon. Pasalnya, hari ini mereka bertiga, Jihoon, Hanjin dan Youngjae akan ke kafe spesial hybrid bernama Pawsitive Vibes di dekat rumah. Dari minggu lalu Jihoon sudah terus-terusan merajuk agar mereka sepakat pergi ke kafe ini, sebab untuk datang ke sana harus melakukan reservasi terlebih dahulu. Selama seminggu ini Jihoon berkelakuan baik, menjadi pacar penurut dan tidak bandel agar Hanjin dan Youngjae tidak tiba-tiba membatalkan janji yang mereka sudah sepakati. 

Sebenarnya, Hanjin dan Youngjae juga senang bisa menghabiskan waktu berpacaran, terlebih di hari libur seperti ini. Namun, hal yang membuat mereka enggan ke kafe pilihan Jihoon adalah keberadaan taman bermain semi-outdoor yang dilengkapi perosotan besar di tengah kolam, area bermain pasir dan trampolin. Di sana, sudah pasti bakal kotor-kotoran.

Sebagai hybrid kelinci Blanc de Hotot, Hanjin lebih suka datang ke tempat bernilai estetika. Jika mendapat giliran menentukan tempat dating, ia akan memilih tempat seperti workshop pottery, pembuatan parfum atau hal-hal lain yang berhubungan dengan seni. 

Berbeda dengan Youngjae, hybrid kucing Japanese Bobtail. Ia lebih memilih diam di rumah untuk memasak lalu menonton film bersama, atau pergi ke perpustakaan lokal untuk membaca buku. 

Sementara Jihoon, sebagai hybrid anjing Border Collie yang sedang aktif-aktifnya dan penasaran dengan segala hal, ia lebih sering mengajak beraktivitas fisik seperti ini. 

Kembali ke hari ini, mereka bertiga sedang menyiapkan perlengkapan seperti baju ganti dan botol air. Walau nanti di kafe mereka akan bermain dalam wujud hybrid, mereka tetap butuh baju untuk berjaga-jaga.

“Jinniee… udah siap belum?” panggil Jihoon dari depan kamar Hanjin yang pintunya terbuka.

Hanjin yang sedang duduk di meja rias tidak menjawab melainkan hanya menekukkan bibirnya. 

“Kamu nggak mau, ya? Ya udah deh, nggak jadi juga nggak apa,” ucap Jihoon memelas.
“Nggak. Nggak. Mau kok, mau,” ucap Hanjin cepat, tak mau membuat kekasihnya sedih. 

Hanjin segera berdiri, keluar kamar menghampiri Jihoon lalu memeluknya.

“Hhhhhh… babe, maaf. Aku nggak bermaksud,” bujuk Hanjin pada Jihoon yang ganti merajuk. 

Sejak keluar kamar hingga ke teras depan rumah, mereka terus berjalan sambil berpelukan. Youngjae yang sedari tadi menunggu di teras hanya tersenyum maklum, sudah hafal dengan kelakuan kedua kekasihnya. 

“Yuk, jalan,” ucap Youngjae.

Ia membukakan pintu belakang agar Hanjin dan Jihoon bisa duduk di sana.

“Loh, Kakak yang nyetir?” tanya Jihoon.   
“Iya, Kakak yang nyetir. Biar kamu sama Sweetheart bisa duduk di belakang,” jawab Youngjae sambil memberi isyarat mata ke arah kursi belakang.

Ternyata Hanjin sudah berubah ke wujud kelincinya. Rasa bersalah karena sempat cemberut membuat Hanjin canggung sehingga insting hybrid-nya memilih berubah menjadi wujud kelinci agar merasa lebih aman dan bersembunyi nyaman di pelukan Jihoon.

Jihoon yang semula masih merajuk langsung luluh begitu melihat kelinci Blanc de Hotot berbulu putih. Ia menggendong Hanjin di telapak tangannya dengan hati-hati, sementara Youngjae melajukan mobil menuju kafe spesial hybrid. 

Perubahan wujud mereka yang tiba-tiba menjadi hal yang biasa. Biasanya perubahan ini terjadi saat mereka mencari rasa aman atau menyembunyikan emosi. 

Sesampainya di kafe, Jihoon menyebutkan namanya kepada staff di sana. Mereka mendapatkan kupon free snack yang bisa diklaim serta handuk kecil untuk mengelap tubuh setelah selesai bermain. Setelah itu, mereka bebas main di taman outdoor belakang kafe. 

Dari area resepsionis menuju area bermain outdoor dibatasi dengan pintu geser kayu. Begitu Jihoon menggeser pintu dan melihat area outdoor, matanya berbinar penuh semangat. Jihoon dan Youngjae menaruh tas perlengkapan mereka di meja dekat area bermain. Namun karena terlalu antusias, Jihoon tanpa pikir panjang meletakkan Hanjin yang masih dalam wujud kelinci di atas pasir, lalu Jihoon dengan cepat mengubah wujudnya menjadi anjing Border Collie dan berlari begitu saja. 

Sungguh kurang ajar, pikir Hanjin. Belum ada satu menit, ia sudah ditaruh di atas pasir kotor yang paling ia hindari.

Youngjae yang ditinggal sendiri, ikut berubah wujud menjadi kucing Japanese Bobtail untuk menghampiri Hanjin.

Namun keberadaan bola-bola kecil di taman mendistraksi Youngjae, sehingga ia berjalan cukup jauh dari tempat Hanjin berada. 

Saat Hanjin sedang berjalan santai di atas rumput, ia dikagetkan dengan gelindingan bola di depannya dan sesosok kucing yang sedang mengejar bola tersebut hingga tak sengaja menabrak Hanjin. Dari suara mengeongnya, rupanya kucing tersebut adalah Youngjae.

Sejak bertemu Hanjin, Youngjae terus menabrakkan bola tersebut ke arah Hanjin dan bermain berputar-putar di sekitarnya.

Sementara itu, Jihoon sudah tidak tahu ke mana perginya. Sedari tadi ia sibuk berlari ke sana ke mari, mencoba lompat-lompat di atas trampolin, menceburkan diri ke kolam lalu lompat-lompat lagi.

Hampir dua puluh menit bermain, Hanjin dan Youngjae mulai lelah. Di sisi lain, Jihoon masih bersemangat walau mulai bosan karena sudah mencoba permainan. Karena kelewat aktif, ia mulai berpikir untuk mengisengi kekasihnya. Jihoon mendekat ke arah Hanjin dan Youngjae yang sedang bersantai di atas rumput. 

Pertama, Jihoon mencoba mendorong sedikit badan Youngjae dengan hidungnya. Namun Youngjae dalam wujud kucingnya tentu akan galak, ia menggeram dan berusaha menepuk pantat Jihoon dengan cakarnya. Karena tidak berhasil, Jihoon mengganti target. Ia menggigit pelan telinga kelinci Hanjin untuk menyeretnya ke arah kolam. 

Hanjin yang tidak suka air langsung menghentakkan kaki belakangnya keras-keras untuk meminta pertolongan. Youngjae yang melihat adegan itu langsung pasang badan dan menyeruduk badan Jihoon. Jihoon seketika pasrah dan menurut. Youngjae memberikan ngeongan tegas sebagai isyarat agar mereka semua kembali ke wujud manusia dan menyudahi waktu bermain.

Setelah kembali ke wujud manusia dan membersihkan diri di toilet, mereka duduk di area dalam kafe untuk menikmati snack gratis. Suasana di meja ditemani keheningan yang canggung. Sedari tadi Jihoon hanya memperhatikan Youngjae dan Hanjin yang diam berpura-pura cuek karena masih kesal dengan keisengannya tadi.

Selama sepuluh menit Jihoon berpikir keras harus membelikan apa sebagai bentuk permintaan maaf. 

“Sayang-sayangku, maaf…” ucap Jihoon memutus keheningan.
“Aku keterlaluan isengnya. Nggak lihat situasi Jinnie sama Kakak yang udah capek. Maafin aku, ya? Nanti aku beliin ice chocolate sama ice latte sebagai permintaan maaf,” tambah Jihoon memelas. 

Jihoon yang duduk di tengah meraih jemari Youngjae dan Hanjin dengan hati-hati, menunggu respons mereka.

“Oke, aku maafin. Tapi di sini kan nggak jual minuman itu…” ujar Hanjin menggantungkan kalimatnya.

Mata Youngjae membelalak, Hanjin mudah sekali tergoda dengan sogokan. Tapi sejujurnya, Youngjae juga penasaran Jihoon mau mentraktir mereka di mana.

“Kita geser ke Pawvillion, gimana? Kafe yang di seberang supermarket,” tawar Jihoon.

Mendengar nama kafe favorit yang disebut Jihoon, secara refleks Youngjae dan Hanjin bersamaan mengecup pipi Jihoon dari kiri dan kanan. Jihoon yang mendapat serangan mendadak itu seketika membeku dengan wajah memerah.

“Makasih, babe,” ucap Hanjin.
“Makasih, sunshine,” ucap Youngjae.

Series this work belongs to: