Actions

Work Header

Pawsitive Memories

Summary:

Drama sebelum sesi foto dan kehebohan sesi foto.

Notes:

-Cerita ini pakai worldbuilding hybrid (manusia yang bisa berubah wujud jadi hewan), dijelaskan bertahap lewat konteks.

-Panggilan sayang konsisten:
Hanjin -> Jihoon (babe)
Hanjin -> Youngjae (baobao)
Jihoon -> Youngjae (kakak)
Jihoon -> Hanjin (jinnie)
Youngjae -> Hanjin (sweetheart)
Youngjae -> Jihoon (sunshine)

Work Text:

“Aku pakai baju ini cantik nggak?” tanya Hanjin.
“Cantik,” jawab Jihoon lemas.
“Ihh… tuh kan, nggak!” rengek Hanjin.    
“Cantikkkkk… cantik banget, Jinnie. Cantik,” ucap Jihoon dibuat sesemangat mungkin.
“Kayak nggak dari hati. Udah ah, aku ganti lagi,” ujar Hanjin.
“Nggak usah, Jinnie. Udah cantik. Beneran deh, kamu cantik banget,” bujuk Jihoon.

Hanjin tidak mendengarkan, ia kembali ke walk-in closet miliknya dan mencari pakaian lain. Sejujurnya, Jihoon sudah lelah menunggu, dalam setengah jam terakhir ini Hanjin sudah lima atau enam kali berganti pakaian karena tidak puas dengan penampilannya. Jihoon berharap Youngjae segera datang menyelamatkan situasi ini. Namun sepertinya Youngjae baru akan tiba sepuluh menit lagi sesuai pesan singkatnya barusan.

[Sunshine] kakakkkkk… udah selesai belum treatment-nya? Kapan pulang?
[Kakak] Sebentar lagi, sunshine. Ini baru selesai, sepuluh menit perjalanan dari sini.  
[Sunshine] oke, ditunggu ya kakak sayang.    
[Kakak] Oke. Kamu sama Hanjin udah siap kan?
[Sunshine] aku udah, tapi jinnie😭😭😭

Youngjae sudah tidak membalas lagi. Dari emoji menangis Jihoon saja, ia sudah bisa membayangkan Hanjin pasti belum selesai memilih baju.

Hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan tiap kali mereka akan pergi. Youngjae memilih pergi treatment mandi keseluruhan dalam wujud kucingnya hari ini. Hanjin sudah treatment sejak kemarin karena tahu di hari-H ia akan kerepotan memilih baju. Sementara Jihoon sudah menyiapkan dan menyetrika bajunya sejak kemarin lalu memanggil orang treatment ke rumah di hari-H karena ia hanya butuh perawatan dasar. 

Kedatangan Youngjae di rumah bersamaan dengan keluarnya Hanjin dari walk-in closet memakai setelan baju baru. 

Suara tepuk tangan keras terdengar begitu Hanjin melangkah keluar. Youngjae pelakunya.

“Wahhhh… cantik sekali sweetheart!” ucap Youngjae heboh.
“Iyakah, baobao? Kamu suka sama bajunya?” tanya Hanjin dengan mata berbinar.
“Suka dong. Bukan cuma karena bajunya yang cantik, tapi kamu juga cantik banget,” ujar Youngjae tulus.
“Oke deh, aku pakai baju ini. Yuk, kita berangkat!” 

Jihoon yang sedari tadi menyimak percakapan kedua kekasihnya menahan geram. Pasalnya, selama tiga puluh menit bersamanya, Hanjin tidak puas dengan penilaiannya. Sedangkan bersama Youngjae baru dipuji sebentar saja Hanjin langsung menetapkan pilihan.

Tampaknya, wajah cemberut Jihoon disadari oleh Hanjin. Di teras depan rumah, Hanjin membukakan pintu depan samping kursi pengemudi dan merangkul bahu Jihoon dengan hati-hati agar Jihoon duduk di sana. Setelah pintu tertutup, Hanjin memberikan cengiran kepada Youngjae yang masih di depan mobil, meminta izin agar ia saja yang menyetir.

Hanjin melajukan mobil membelah jalanan menuju self photo studio, tempat di mana mereka dapat memotret diri sendiri menggunakan remote controller. Setelah sesi foto, rencananya mereka akan mendatangi kafe incaran mereka. Itulah alasan mengapa Hanjin sangat pemilih soal baju hari ini. Ia bukan sengaja menolak pilihan Jihoon atau ingin membuat kekasihnya sedih, tetapi sebagai orang yang sangat memperhatikan penampilan, memilih baju terkadang menjadi hal yang sulit baginya.

Selama perjalanan menuju studio foto, Hanjin tidak melepas genggaman tangannya dari Jihoon. Meski sedikit gengsi karena tahu Hanjin sedang membujuknya agar tidak ngambek, Jihoon tetap membiarkan tangannya digenggam walau harus menahan senyum agar tidak gampang luluh. Saat mobil berhenti di lampu merah, Hanjin memanfaatkan kesempatan itu untuk melepas genggamannya sebentar lalu menusuk pelan pipi Jihoon dengan jarinya.

“Jangan ngambek lagi, maafin aku…” bujuk Hanjin.

Setelahnya, Hanjin kembali menggenggam tangan Jihoon lagi dan mengelus jemarinya pelan.

Youngjae yang sedari tadi menyaksikan adegan di depannya akhirnya membuka suara.

“Sayang-sayangnya aku, please udahan cemberutnya. Hari ini aku belum lihat senyum manis kalian,” ujar Youngjae lembut namun tegas, mengingatkan agar suasana tetap nyaman.
“Nih, aku senyum,” ucap Jihoon sambil menyengir lebar.
“Nih, aku juga,” ucap Hanjin menyusul.  
“Babe, senyumnya buat aku mana?” tanya Hanjin kepada Jihoon.
“Kamu fokus nyetir dulu, nanti udah sampai baru aku kasih lihat,” jawab Jihoon.    
“Oke siap!”

Youngjae mengelus pelan rambut Jihoon dan Hanjin secara bergantian. 

“Pintarnya sayang-sayangnya aku.”

Tak lama kemudian, mereka tiba di studio foto. Hanjin memarkirkan mobilnya di area dekat ruko studio. Hanjin turun terlebih dahulu dengan berpesan agar Jihoon dan Youngjae tidak turun sampai ia membukakan pintu. Hanjin membuka pintu belakang terlebih dahulu, mempersilakan Youngjae turun lalu menggenggam jemarinya. Kemudian mereka berputar ke kursi depan untuk menjemput Jihoon. Hanjin membukakan pintu, mempersilakan Jihoon turun lalu menggenggam jemari Jihoon.

“Tangan aku basah, pegang lengan aku dulu aja,” ujar Jihoon.
“Nggak apa,” jawab Hanjin.
“Aku udah nggak ngambek kok,” ucap Jihoon menenangkan Hanjin sambil melempar senyum.
“Nggak apa-apa,” ucap Hanjin lembut. Ia mengangkat tangan Jihoon untuk mencium punggung tangannya. Kemudian bergantian ia juga mencium punggung tangan Youngjae.

Perlakuan lembut Hanjin membuat wajah Jihoon dan Youngjae memerah karena malu. Terlebih Jihoon, senyuman tak lagi lepas dari wajahnya.

Masuk ke studio foto, Hanjin menyebutkan namanya kepada petugas jaga dan mereka diberi penjelasan singkat tentang ketentuan di dalam studio. Hanjin sebelumnya sudah mem-booking tempat untuk foto selama dua puluh menit. Setelah dua puluh menit berfoto, mereka bisa memilih foto yang akan dicetak dan menyimpan sisa file foto lainnya dalam bentuk soft file yang dikirim melalui email.

Setelah penjelasan singkat dari petugas, mereka masuk ke ruang studio. Karena kata petugas waktu baru dihitung setelah tombol foto dipencet pertama kali, mereka berdiskusi singkat terlebih dahulu untuk menentukan pose. Rencananya mereka akan berfoto dalam wujud manusia dan wujud hybrid. Kebetulan studio foto mereka sangat ramah hybrid, pemiliknya sendiri adalah seorang hybrid kuda. 

Selesai berdiskusi singkat tentang urutan pose, Jihoon mulai menekan tombol remote. Mereka bergantian mengisi posisi tengah, baik dalam posisi berdiri maupun duduk, dimulai dari Jihoon, dilanjutkan oleh Hanjin, dan diakhiri oleh Youngjae. 

Setelah itu, sesi foto dilanjutkan dengan Hanjin yang berubah ke wujud kelincinya. Karena ukurannya yang mungil, tidak susah untuk menggendongnya. Kemudian Hanjin kembali ke wujud manusia, bergantian dengan Youngjae berubah ke wujud kucingnya. Walau tergolong kalem, Youngjae cukup sensitif sehingga beberapa kali saat digendong ia melompat sendiri ke lantai, mereka harus ekstra hati-hati menggendongnya. 

Terakhir, Jihoon yang berubah ke wujud anjingnya. Jihoon disisakan di akhir karena kelewat aktif, ia tidak mau digendong dan malah berlarian di dalam studio. Ia hanya akan diam satu detik dua detik di tempat lalu berlari lagi. Hanjin dan Youngjae benar-benar memanfaatkan momen diamnya Jihoon sekejap untuk menekan tombol potret.

Sisa tujuh menit terakhir, Jihoon masih dalam wujud anjingnya dan Youngjae cepat-cepat berubah ke wujud kucingnya untuk menenangkan Jihoon agar mereka bertiga dapat berfoto dalam wujud hybrid bersama. Hanjin yang masih dalam wujud manusia mengatur agar remote pencetan berada di dekat kaki Jihoon. 

Jadi pose mereka sekarang: cakar Jihoon tak sengaja menekan remote, Youngjae menahan badan Jihoon dengan kaki depannya, sementara Hanjin berdiri anggun di dekat mereka dalam wujud kelinci. 

Setelah merasa cukup puas mengambil foto dan waktu kebetulan habis, mereka keluar studio untuk melihat hasilnya dalam keadaan sudah kembali ke wujud manusia. 

Mereka mendapatkan dua foto cetak gratis dan menambah biaya untuk mencetak delapan foto lagi karena foto-foto tersebut ingin mereka pajang di rumah. 

“Bingung, semuanya bagus-bagus!”   
“Menurut kalian bagus yang berdiri atau yang duduk, ya?”
“Pose yang cium pipi barengan ini lucu nih.”
“Kalian jadinya pilih yang mana?”

Begitulah riuh komentar mereka saat memilih foto-foto dalam wujud manusia.

Beda lagi komentarnya saat memilih foto-foto dalam wujud hybrid.

“Jinnieeee gemes banget! Untung tadi aku sempat dapat gigit telinganya,” ujar Jihoon bangga. 

Hanjin yang teringat perlakuan brutal Jihoon tadi hanya menatapnya sinis. 

“Kakak matanya nggak santai, aku takut,” ujar Jihoon lagi.
“Itu karena kamu iseng, jadinya aku yang kena cakar baobao.” sahut Hanjin.
“Maaf…” ucap Youngjae lirih.

“Nggak apa-apa, baobao,”  
“Nggak apa-apa, Kakak,” ucap Jihoon dan Hanjin berbarengan.

Ketika lanjut melihat foto berikutnya, Hanjin dan Youngjae kompak menghela napas. Jihoon sebagai tersangka utama hanya menggaruk lehernya canggung karena merasa bersalah.

“Babe, studio sekecil itu bisa-bisanya kamu aktif banget lari-larian,” ucap Hanjin.
“Tapi untung fotonya masih banyak yang bagus,” ucap Youngjae menenangkan.   
“Maaf, sayang-sayangku,” ucap Jihoon memelas.

Setelah puas melihat hasil foto dan foto mereka selesai dicetak, mereka kembali ke mobil.

Jihoon mengambil alih kemudi menuju kafe incaran mereka. Kafe ini merupakan cabang dari kafe favorit di dekat rumah mereka. Cabang tersebut memang cukup jauh tetapi karena mengusung konsep tema berbeda dan estetik untuk berfoto, jarak tidak menjadi masalah.

Kali ini Hanjin tidak menyetir karena sibuk melihat-lihat foto di ponselnya. Petugas studio foto sudah mengirimkan soft file foto melalui email.

“Sweetheart, kalau udah ke-save semua kirim ya nanti fotonya,” ucap Youngjae.
“Oke, baobao,” jawab Hanjin.
“Kirim ke grup, kan?” tanya Jihoon.
“Kirim pribadi ke baobao langsung, kamu nggak usah, babe,” jawab Hanjin iseng. Hanjin melirik lewat ekor matanya untuk melihat reaksi Jihoon. Sesuai dugaan, Jihoon langsung menekuk bibirnya.

“Bercanda, babe,” ucap Hanjin tertawa pelan. Ia memajukan sedikit badannya di celah kursi depan lalu mengecup sekilas bahu Jihoon. Perlakuan manis Hanjin sukses membuat Jihoon kembali tersenyum lebar.

 

Series this work belongs to: