Work Text:
Mentari perlahan tenggelam, langit berganti warna kian menggelap. Aktivitas di kampus semakin berkurang. Hanya tinggal segelintir orang yang masih ada di sana, baik dosen maupun mahasiswa.
Jihoon sedang duduk di sofa lobi gedung fakultas menunggu jemputan. Hanjin berjanji akan menjemput setelah menyelesaikan pekerjaannya yang kebetulan selesai hampir bersamaan dengan jam mengajar Jihoon.
“Hihihihi…” Jihoon terkekeh pelan melihat tayangan YouTube tentang satwa di salah satu channel favoritnya.
Tak lama, sebuah mobil berhenti tepat di depan lobi. Hanjin yang masih berada dalam mobil menurunkan kacanya, memperhatikan Jihoon dari balik pintu kaca gedung. Ia kemudian memanggil satpam di sana untuk meminta tolong memanggilkan kekasihnya.
Satpam tersebut mencolek bahu Jihoon sekilas. Tersadar dari keseriusannya menonton, Jihoon mengangkat kepala dan melihat mobil Hanjin sudah terparkir. Jihoon segera berdiri, tak lupa mengucapkan terima kasih kepada satpam tersebut sebelum berjalan keluar lobi.
Sebelum Jihoon sempat membukakan pintu, Hanjin buru-buru keluar mobil. Ia berputar ke arah kursi penumpang depan untuk membukakan pintu, mempersilakan Jihoon masuk lalu menutupnya kembali. Beruntung tidak ada kendaraan lain yang sedang mengantre di belakang sehingga mobil Hanjin tidak mengganggu. Hanjin kembali ke kursi pengemudi lalu melajukan mobilnya sedikit ke area menepi sebelum pintu keluar area fakultas.
Waktu menepi yang sebentar itu dimanfaatkan Hanjin untuk menyambut Jihoon.
“Halooo, babe… gemesnya sayangku,” sapa Hanjin seraya menggeser tubuhnya untuk memeluk Jihoon.
“Haloooo…” sapa Jihoon semangat. Namun, ia tidak langsung memeluk balik.
Hanjin menjauhkan sedikit tubuhnya tanpa melepaskan tangan yang melingkar di pinggang Jihoon, menatap wajah kekasihnya bingung.
“Kenapa, babe?” tanya Hanjin bingung.
“Nggak apa-apa,” jawab Jihoon sambil memberikan cengiran.
Tanpa aba-aba, Jihoon langsung memeluk Hanjin erat, lalu melonggarkan pelukannya sebentar untuk mengecup pipi Hanjin sekilas.
“Yuk, pulang!” ucap Jihoon untuk memberi isyarat agar Hanjin kembali menjalankan mobil. Hanjin menurut dan mulai melajukan mobilnya menuju rumah.
Di perjalanan, mereka sempat saling diam selama beberapa saat sebelum Jihoon memecah keheningan.
“Jinnie, nggak jadi jemput Kakak?” tanya Jihoon saat mereka melewati supermarket langganan di dekat rumah.
“Nggak, babe. Baobao udah di rumah. Tadi ada bilang di grup, belanjaannya nggak banyak, jadi dia pulang tanpa nunggu kita,” jawab Hanjin.
“Aku udah nggak baca grup lagi, asik nonton waktu nungguin kamu tadi. Hehehe,” kekeh Jihoon.
Hanjin mengangkat tangannya hendak mengelus rambut Jihoon tetapi posisi duduk Jihoon mepet ke pintu jadi tangannya tidak sampai. Peka dengan situasi, Jihoon menggeser duduknya mendekat agar tangan Hanjin bisa dengan mudah mengelus puncak kepalanya tanpa mengganggu fokus menyetir.
Tak lama, mereka sampai di rumah. Mobil dimasukkan ke dalam garasi. Jihoon dan Hanjin masuk ke dalam rumah melalui pintu samping dekat dapur. Begitu pintu dibuka, wangi masakan langsung menyambut indra penciuman mereka.
“Baobao… aku sama Jihoon pulang!” teriak Hanjin.
“Kakakkkk…” panggil Jihoon menyusul.
“Di sini,” jawab Youngjae dari ruang makan. Ia baru saja menaruh piring berisi tumisan brokoli di atas meja.
Hanjin dan Jihoon mendekat.
“Masak apa?”
“Mau dibantu nggak?” tanya Hanjin dan Jihoon serempak.
“Masak tumis brokoli sama grilled steak sirloin,” jawab Youngjae.
“Oh ya, aku juga ada beli cheesecake buat dessert,” tambah Youngjae.
Jihoon yang hendak mencomot potongan blueberry di atas cheesecake langsung terhenti karena teguran Youngjae.
“Sunshine, cuci tangan dulu, cuci kaki, terus ganti baju. Sweetheart juga,” ucap Youngjae mengingatkan, sudah hafal dengan kelakuan kedua kekasihnya.
Mengapa Hanjin juga kena tegur? Karena Youngjae tahu betul, jika Hanjin tidak melihat ada mangkuk nasi di meja makan, ia akan langsung melesat ke dapur untuk menghampiri rice cooker.
Hanjin dan Jihoon yang merasa tertangkap basah hanya menyengir, lalu segera keluar dari area makan menuju kamar mandi.
Selesai Jihoon dan Hanjin membersihkan diri dan berganti pakaian, mereka menuju ruang makan. Youngjae sudah duduk menunggu dengan semua makanan lengkap tertata di meja.
“Yuk, makan,” ajak Youngjae.
“Selamat makan. Terima kasih, Kakak, atas makanannya,” ucap Jihoon.
“Selamat makan, sayang-sayangku. Terima kasih baobao,” ucap Hanjin menyusul.
Mereka menikmati makanan masing-masing.
“Dagingnya lembut banget, aku sampai mau pingsan,” ujar Jihoon dramatis.
“Dimakan juga sayurnya, sunshine,”
“Ihhh ketahuan nggak suka sayur,” goda Hanjin jahil.
Jihoon tidak menggubris ucapan Hanjin, hanya memicingkan matanya sambil menggigit brokoli dengan kasar.
Beberapa saat kemudian, Hanjin hendak mengambil gelas untuk minum karena merasa sudah selesai makan, padahal daging di piringnya masih tersisa banyak.
“Hmmmm… ketahuan mana yang nggak habisin makanannya,” sahut Jihoon memperingatkan Hanjin.
Hanjin yang ditegur kembali menyendok nasi ke dalam mulutnya. Jihoon yang peka mengambil piring Hanjin, menggesernya mendekat, lalu memotong potongan daging lebih kecil lagi agar Hanjin lebih mudah memakannya. Setelah daging terpotong kecil-kecil, Jihoon mengembalikan piring tersebut kepada Hanjin.
“Makasih, babe.” ucap Hanjin lirih.
Youngjae yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka akhirnya membuka suara.
“Dimakan sedikit lagi ya, Sweetheart. Pelan-pelan aja, nggak apa-apa.” ucap Youngjae lembut sambil merapikan poni Hanjin yang menutupi mata.
Jihoon dan Youngjae hafal dengan kebiasaan Hanjin yang lebih suka menghabiskan nasinya saja, lauk-pauk dimakan hanya sedikit sekali. Di malam-malam sebelumnya, biasa Youngjae akan masak sedikit, potongan daging steak ukuran besar akan dibagi bertiga. Namun karena tahu pekerjaan mereka hari ini cukup melelahkan dan seharian ini belum makan dengan proper, ia sengaja memasak tiga potongan daging steak ukuran sedang untuk mereka masing-masing.
Akhirnya mereka selesai makan. Jihoon dan Hanjin membereskan peralatan makan serta alat masak lalu mencucinya. Youngjae beristirahat sejenak di sofa, menunggu pekerjaan kedua kekasihnya selesai sambil melihat-lihat video pendek di TikTok.
Setelah selesai mencuci piring, Jihoon dan Hanjin bergabung bersama Youngjae duduk di sofa. Youngjae yang semula merebahkan setengah badannya dengan kaki menggantung, mengubah posisinya menjadi duduk tegak agar semua muat di sofa. Posisi duduk mereka saat ini: Jihoon dipangku Youngjae sedangkan Hanjin duduk merapat di sebelah kanan mereka. Jihoon memegang ponsel untuk menunjukkan video yang tadi ia tonton saat menunggu jemputan.
“Kakak, Jinnie, lihat deh! Tadi aku nonton video lama kita. Video pertama kali kita ketemu di pertemuan rutin hybrid dan caretaker,” ucap Jihoon.
Video lima menit tersebut menayangkan momen yang menjadi pertemuan pertama bagi mereka. Di pertemuan sepuluh tahun lalu itu, terlihat beberapa caretaker dan hybrid. Semua hybrid pada hari itu datang dalam wujud hewan mereka.
Youngjae, Hanjin dan Jihoon berasal dari keluarga yang berbeda. Mereka dirawat oleh caretaker dengan durasi tahun berbeda, tetapi dua tahun belakangan ini mereka diputuskan sudah bisa hidup mandiri. Karena mereka bertiga sudah berpacaran lama bahkan sebelum dilepas oleh caretaker, maka saat diberi izin mandiri, mereka memutuskan untuk tinggal bersama.
“Lihat, kuping Sweetheart turun. Stress itu lihat Sunshine,” ujar Youngjae.
Di hari itu, Hanjin dalam wujud kelincinya bersembunyi di balik jaket caretaker-nya, Junghwan. Junghwan memutuskan menjadi caretaker karena mandat dari kakak perempuannya. Hanjin sejak lama sudah dirawat oleh kakak perempuan Junghwan tetapi saat kakaknya menikah, hak rawatnya dialihkan kepada Junghwan.
Alasan Hanjin bersembunyi di dalam jaket Junghwan pada pertemuan pertama mereka adalah karena keberadaan hybrid lain terasa mengancam baginya, terlebih hari itu Jihoon dalam wujud anjingnya menggonggong tepat di depan kaki Junghwan.
“Aku kan nggak ngerasa kalau kelakuan aku bikin Jinnie takut. Aku cuma pengen ajak main! Baru pertama kali lihat tapi udah kegemesan sama Jinnie,” ujar Jihoon mencari pembelaan.
“Tapi awalnya aku tuh mau deketin Kakak dulu, cuma ngelihat Dohoon waktu itu kelihatan galak banget, makanya nggak jadi deh deketin,” tambah Jihoon.
Youngjae hanya tertawa canggung mengingat Dohoon, caretaker-nya, yang kala itu sedang menjalani praktik kerja lapangan, wajah galaknya muncul karena kelelahan. Youngjae dulu ditemukan oleh Dohoon di dekat lokasi PKL. Kemunculan Youngjae kala itu seolah membantu menghilangkan rasa lelahnya sehingga Dohoon memutuskan menjadi caretaker Youngjae.
“Babe, kenapa nggak takut sama Kak Junghwan deh?” tanya Hanjin penasaran.
“Itu karena aku sering lihat Kak Junghwan main ke rumah nyamperin Kyungmin, makanya aku nggak takut dan udah familiar,” jawab Jihoon.
Kyungmin adalah caretaker Jihoon. Keluarga Kyungmin sudah lama merawat Jihoon dari kecil.
Sesi nostalgia mereka terpaksa dijeda sebentar.
“Sayang-sayangnya aku, pause dulu please. Aku mau mandi dulu,” ucap Hanjin sambil bangkit dari sofa.
“Nanti lanjut lagi di kamar aja,” tambah Hanjin.
“Kamar aku aja ya?” ujar Youngjae.
“Yeyyyy, mau!” ujar Hanjin semangat.
“Sunshine, kamu mandi juga gih, kan kamu juga belum mandi,” ucap Youngjae menepuk pelan punggung Jihoon yang masih berada di pangkuannya.
“Hhhhh… mager,” ucap Jihoon sambil merebahkan dirinya di paha Youngjae.
“Nggak mandi, nggak boleh naik kasur aku,” ucap Youngjae tegas.
“Tolong bangunin…” ucap Jihoon manja meminta Hanjin menarik tangannya.
Hanjin yang masih berdiri dekat sofa menghampiri Jihoon lalu membantunya bangun, sementara Youngjae ikut mendorong pelan punggung Jihoon agar berdiri dari pahanya.
