Actions

Work Header

Pawsitive Summer

Summary:

Cara mendinginkan diri menghadapi lonjakan suhu di musim panas.

Notes:

-Cerita ini menggunakan worldbuilding hybrid (manusia yang bisa berubah wujud menjadi hewan). Perubahan wujud terjadi secara alami dan refleks, terutama saat mencari rasa aman, mengekspresikan emosi berlebih, atau saat ingin bersantai/mendinginkan diri.

-Panggilan sayang yang konsisten:
Hanjin -> Jihoon (babe)
Hanjin -> Youngjae (baobao)
Jihoon -> Youngjae (kakak)
Jihoon -> Hanjin (jinnie)
Youngjae -> Hanjin (sweetheart)
Youngjae -> Jihoon (sunshine)

Work Text:

Cuaca di puncak musim panas sangat membakar kulit. Udara yang begitu terik membuat siapa pun tidak bisa lepas dari kipas angin ataupun AC. 

Setelah libur panjang, semester baru akan segera dimulai. Namun karena suhu udara melonjak drastis, kegiatan belajar-mengajar ditunda seminggu dari rencana akademik. Meski begitu, sebagai dosen Jihoon tetap harus ke kampus untuk mengikuti rapat urgent dan menata jadwal akademik agar pengajaran di semester baru tetap terlaksana sesuai rencana.

Beruntung, Jihoon hanya diharuskan datang selama tiga hari pertama dan bisa pulang sekitar jam tiga atau empat sore. 

Saat ini waktu menunjukkan jam setengah lima sore. Jihoon sudah berada di rumah dan sedang duduk di sofa ruang tamu. AC dinyalakan di 18 derajat, udara panas dari luar membuat kulitnya terasa lengket sehingga ia perlu mendinginkan diri. Sebelumnya Jihoon sudah mengabari Youngjae dan Hanjin di grup bahwa ia sudah tiba di rumah.

[Sunshine] jinnie, kakak… aku udah di rumah🤗
[Sweetheart] Oke, babe. Tapi aku paling cepet pulang jam 6 😔
[Kakak] Oke, sunshine. Aku di ruang kerja atas kok, tapi masih ada kerjaan. Naik aja sini ke atas.
[Sunshine] iya nanti, aku lagi tiduran di sofa bawah

Pesan singkat itu sudah tidak berlanjut lagi. Masing-masing kembali disibukkan dengan kesibukan masing-masing. Jihoon yang semula tiduran di sofa berangsur turun ke lantai karena kegerahan. Ia mengambil bantal panjang sofa lalu tidur telentang dan berubah ke wujud anjing Border Collie-nya.

Tidak tahu sudah berapa lama Jihoon tertidur di sana. Tidurnya yang nyenyak mulai terganggu oleh suara panggilan. 

“Babe, baobao… aku pulang!”
“Sunshine, kamu di mana?” panggil Hanjin dan Youngjae hampir serentak.

Jihoon mendengar panggilan mereka, tetapi masih terlalu ngantuk untuk menyahut. Sebenarnya ia tahu, tindakannya tidur di lantai pasti akan mendapat teguran dari kedua kekasihnya. Namun ia tetap tidak bergeming dan pasrah dengan konsekuensinya, tiduran di lantai dingin maupun tidak menyahut panggilan mereka.

“Astaga,” ucap Youngjae yang pertama kali menemukan Jihoon.
“Ampun dah, babe,” ucap Hanjin menyusul.

Reaksi Youngjae dan Hanjin ternyata di luar dugaan. Bukannya marah, mereka justru mendekati Jihoon. Youngjae mengangkat sedikit tubuh anjing Jihoon dan menyesuaikannya agar pas di bantal panjang sofa sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang bersentuhan langsung dengan lantai. Setelahnya, Hanjin mengelus lembut bagian perut Jihoon.

Anjing Border Collie dalam mode tidur terlihat sangat tenang dan menggemaskan sehingga Youngjae dan Hanjin tidak tega mengganggunya. Mereka akhirnya ikut duduk bersisian di lantai dengan sofa sebagai sandaran.

“Kayaknya nggak jadi berenang ya, baobao?” tanya Hanjin.
”Iya, nggak jadi. Kemaleman juga, nanti yang ada masuk angin,” jawab Youngjae.
“Hhhhh… maaf ya,” ucap Hanjin merasa bersalah.
“Nggak apa-apa. Kita ngerti kerjaan kamu hari ini lagi banyak,” ucap Youngjae lembut sambil mengubah posisi duduknya agar menghadap Hanjin untuk mengelus lembut puncak kepalanya.

Tiba-tiba, ada suara yang menginterupsi.

“Mau peluk…” rengek Jihoon manja. 

“Aaaaaa!” Youngjae dan Hanjin teriak kaget bersamaan.

Entah sejak kapan Jihoon sudah terbangun dan kembali ke wujud manusianya. Karena lama mendapat respons, raut wajah Jihoon hampir berubah sedih. Peka dengan perubahan wajah kekasihnya, Hanjin segera sadar dari keterkejutannya dan buru-buru memeluk Jihoon. Youngjae pun menyusul memeluk keduanya dari samping sambil mengelus punggung Jihoon untuk menenangkannya. 

Jihoon masih belum puas hanya dipeluk. Ia terlebih dahulu melonggarkan pelukan, menarik tangan Hanjin ke perutnya untuk memberi isyarat meminta dielus. Sebelum Jihoon menidurkan kembali tubuhnya di lantai, tak lupa ia mengambil tangan Youngjae ke kepalanya, memberi isyarat yang sama agar diusap.

Youngjae dan Hanjin yang paham hanya menuruti kemauan Jihoon sambil terkekeh pelan.

“Gemes banget, babe. Tadi nggak terasa ya pas dielus perutnya waktu masih tidur?” tanya Hanjin.

Jihoon tidak menjawab pertanyaan Hanjin dan memilih menikmati perlakuan kedua kekasihnya sebelum kembali membuka suara.

“Kita nggak jadi berenang?” tanya Jihoon.    
“Nggak jadi, Sunshine. Dingin, udah kemaleman,” jawab Youngjae.
“Maaf ya, babe. Aku lama pulangnya, kamu nungguin sampai ketiduran,” ucap Hanjin.   
“Nggak apa-apa. Kalau besok, gimana? Bisa nggak?” tanya Jihoon memelas.

Hanjin tampak berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Bisa, aku usahain,” ucap Hanjin menjeda sebentar.
“Gimana kalau besok kita berenangnya pagi-pagi? Jadi habis berenang aku bisa langsung berangkat ke kantor.” tambah Hanjin memberi penawaran.
“Yeyyyy, mau!” ucap Jihoon heboh lalu beranjak bangun untuk memeluk erat Hanjin dan Youngjae secara bergantian.
“Sweetheart, kalau kamu bisa pulang cepet besok, kita makan malam di Haidilao, gimana?” tawar Youngjae.
“Uwahhhh mauuuu! Aku usahain besok cepet kelar kerjaannya,” jawab Hanjin semangat.

Hanjin dan Jihoon langsung menubrukkan badan mereka ke arah Youngjae dan memeluknya erat. Youngjae yang mendapat serangan mendadak itu hanya tersenyum lebar.

Series this work belongs to: