Work Text:
Suasana di dalam record store sore ini cukup ramai. Bukan hanya karena sedang weekend, tetapi tempat ini memang menjadi salah satu hot spot favorit anak-anak muda untuk berkumpul dan hangout. Termasuk Marcell dan teman-temannya yang sudah janjian untuk bertemu dan jalan-jalan di record store yang sejak seminggu terakhir sudah Marcell impikan untuk didatangi.
Mind you, Marcell is such a music nerd. Semua itu gara-gara ketularan bokapnya yang juga punya hobi dan ketertarikan besar pada musik, especially rock bands. Nggak cuma Marcell, Jesse—who is also into rock bands—kadang sengaja manas-manasin Marcell setiap kali menemukan vinyl atau kaset album yang sedang dia cari di record store terdekat.
Begitu memasuki record store, Marcell dan teman-temannya langsung berpencar. Masing-masing mulai menyusuri rak demi rak untuk mencari kaset yang sejak tadi diincar Marcell. Sesekali, Marcell bersenggolan atau berpapasan dengan Jesse, Juno, Keanu, maupun Sagara di sela-sela rak kaset yang cukup padat.
Pada saat Marcell lagi sibuk milih antara dua kaset yang ada di tangannya, tiba-tiba dia dipanggil Juno dari kejauhan. Tapi anehnya, Juno udah ketawa duluan bahkan sebelum Marcell sempat nyamperin.
“Cell, sumpah sini dulu deh” panggil Juno sambil cekikikan.
“Apa cuy? lu kenapa dah, udah cekikikan gitu?” Marcell langsung bingung, soalnya Juno matanya udah merah nahan ketawa, tapi dia sendiri juga nggak ngerti ini bakal dibawa kemana.
“Udah sini dulu, gua nemu sesuatu yang… unik,” ucap Juno sambil narik lengan Marcell ke arah pojok rak toko.
Sesampainya di pojokan, ternyata Jesse, Keanu, dan Sagara udah ada di sana duluan, dan mereka semua lagi ketawa nggak berhenti-berhenti sambil nunjukin satu kaset.Marcell langsung melongo sebentar, sebelum akhirnya ikut lihat cover album yang dimaksud… dan detik berikutnya dia langsung ngakak juga.
“Anjir apaan ini cok?!” Marcell akhirnya ikut ketawa sampai hampir jatuh berlutut di lantai, diikuti Juno yang dari tadi emang udah nggak bisa berhenti ketawa sama sekali.
Kegiatan mereka berlima itu cukup menarik perhatian beberapa pengunjung lain di record store. Karena dirasa terlalu heboh sendiri, akhirnya mereka pelan-pelan menyudahi sesi cekikikan itu dan mulai berpencar lagi, kembali ke tujuan masing-masing.
Kecuali Marcell dan Juno yang masih bertahan berdua di pojokan toko, masih sesekali nyengir sendiri setiap kali ingat cover kaset barusan.
“Cell, gua sama Sagara mau nyari di lantai atas ya. Bang Jes lu ikut ga? katanya lu mau nyari kaset Celine Dion buat hadiah ultah nyokap lu...” ucap Keanu.
“Lah iya ya anjir, untung lu ingetin gua Nu,” jawab Jesse sambil langsung nyusul Keanu dan Sagara yang sudah melangkah duluan meninggalkan Marcell dan Juno.
“Cell, No, kalian ga ikut?” tanya Jesse sebelum benar-benar pergi.
“Ga deh Bang, gua masih mau nyari-nyari dulu di lantai bawah,” jawab Marcell yang dari tadi masih memegang dua kaset di tangannya.
“Gua juga Bang, lagian di atas rame banget, gua ga betah kalo rame..” tambah Juno.
Jesse mengangguk singkat, lalu akhirnya meninggalkan Marcell dan Juno di pojokan toko tersebut, sebelum kembali menyusul yang lain ke lantai atas.
-
Marcell kemudian kembali melanjutkan pencariannya. Ia masih menyusuri rak bagian bawah di sekitar pojokan toko tersebut, bahkan sampai duduk di lantai sambil membuka satu per satu box kategori vinyl yang tersusun rapi. Fokusnya benar-benar tertuju pada satu hal: menemukan vinyl Queen yang sejak tadi ia cari.
Juno, yang sejak awal sempat berdiri membelakangi Marcell saat melihat rak kaset, akhirnya berbalik. Ia memperhatikan Marcell yang masih sibuk menelusuri rak, lalu tanpa banyak pikir ikut duduk di sampingnya, penasaran.
“Cell, lu nyari vinyl apa dah? Sampe bawah-bawah gitu nyarinya,” ucap Juno sambil ikut mengamati gerakan tangan Marcell yang terus membuka box satu per satu.
“Gua lagi nyari vinyl Queen, No. Buset susah banget nyarinya ini,” jawab Marcell, tapi matanya tetap fokus menyisir rak di depannya.
“Kenapa nggak nanya staff aja sih, Cell? Kan mereka juga udah tau letak vinyl sesuai kategorinya,” balas Juno.
“Gua males nanya dah, hahaha. Gapapa, gua pengen nyari sendiri, No,” jawab Marcell santai.
“Oh yaudah…” Juno mengangguk pelan.
Hening sejenak di antara mereka berdua. Juno yang dari tadi mulai bosan karena belum menemukan apa pun yang menarik perhatiannya, akhirnya hanya duduk menemani Marcell. Tapi di tengah keheningan itu, perhatiannya justru bergeser.
“…Cell, punggung lu bidang banget jir. Kayaknya enak jadi sandaran,” celetuk Juno tiba-tiba.
Marcell sontak terkejut. Ia menoleh cepat ke arah Juno, bingung sekaligus mencoba memproses kalimat yang baru saja keluar dari mulut temannya itu yang memang terkenal sering out of the box.
“Masa sih? Perasaan punggung gua nggak se-bidang itu deh…” jawab Marcell sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
“Bohong banget, bidang banget ini jir. Gara-gara lu keseringan nge-gym bareng Sagara deh,” balas Juno tanpa ragu.
Marcell yang dari tadi fokus langsung terdiam. Respon Juno barusan jujur bikin situasi jadi agak… #janggal di kepalanya. Ia menoleh ke arah Juno dengan tatapan bingung, sambil tertawa kecil yang terdengar agak gelisah.
Juno sendiri menghela nafas pelan melihat ekspresi Marcell yang kebingungan… yang entah kenapa justru terlihat lucu di matanya.
Suasana sempat kembali canggung sejenak sampai akhirnya Marcell berbicara lagi.
“Hahaha… kayaknya deh. Kalo iya, nyender aja sini. Lu kecapekan ya nungguin gua nyari vinyl?” ucap Marcell, nadanya santai tapi ada sedikit ragu yang nyempil di ujung kalimatnya.
Juno sontak ikut terkejut dengan celetukan Marcell yang berani ini. Awalnya ia hanya ingin memuji badan Marcell yang makin hari makin bagus di matanya sejak Marcell sering diajak Sagara gym bareng tiga bulan terakhir. Bukannya ucapan terima kasih yang ia dapat, malah tawaran lebih dari Marcell—yang bikin Juno jujur kelimpungan sendiri.
“Bener ya? Yaudah gua nyender ya, Cell,” jawab Juno akhirnya, sembari menjatuhkan badannya perlahan ke punggung Marcell dengan wajah tersipu yang untungnya tidak disadari Marcell.
Juno bersandar di punggung Marcell sambil memperhatikan Marcell yang kembali sibuk mencari vinyl tadi.
Selang beberapa menit, Marcell mulai jenuh karena belum juga menemukan vinyl yang ia cari. Ia memutuskan untuk berhenti dan beralih ke kaset lain saja. Saat ia hendak bangkit dari posisi duduknya di lantai, ia baru sadar Juno masih bersandar di punggungnya.
Dan kali ini… Juno malah tertidur pulas.
Marcell sempat ingin menepuk pundaknya untuk membangunkan, tapi gerakannya terhenti. Entah kenapa pada saat Marcell melihat Juno, Juno terlihat begitu tenang… bahkan, cantik.
Gulp…
Refleks Marcell menelan ludahnya sendiri, bingung apakah itu hanya reaksi biasa atau sesuatu yang lain yang ia sendiri belum siap untuk mengakuinya.
“Juno…?” lirih Marcell sambil menepuk pelan pundaknya, refleks membangunkan Juno yang ternyata sudah tertidur bersandar di punggungnya.
“Eh.. sorry Cell, malah ketiduran gua” ucap Juno canggung begitu terbangun, langsung duduk tegak dan mengusap wajahnya.
Marcell tidak langsung menjawab. Ia hanya diam, menatap Juno yang masih terlihat sedikit linglung. Tapi entah kenapa, pandangannya justru tertahan lebih lama dari biasanya.
Baru saat itu Marcell menyadari sesuatu.
Wajah Juno… memang cantik. Dan entah sejak kapan, hal itu mulai terasa mengganggu pikirannya.
Sekilas, Marcell teringat kembali bagaimana semuanya bermula. Sudah lebih dari setahun ia menyimpan perasaan ini sejak Keanu memperkenalkan Juno di kantin sekolah. Saat itu, rasanya seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan sampai sekarang, perasaan itu tidak benar-benar pergi, hanya… semakin membingungkan.
Marcell tidak langsung menjawab. Ia hanya diam, terlalu lama untuk sekadar dianggap biasa. Tatapannya tertahan di Juno, lebih lama dari yang seharusnya, sampai suasana di antara mereka terasa sedikit berubah, lebih sunyi, lebih aneh, dan entah kenapa… lebih berat.
Dan di saat itulah, intrusive thoughts yang selama ini hanya lewat sekilas di kepala Marcell, tiba-tiba muncul lebih jelas dari biasanya.
“No… gua mau nanya sesuatu deh,” ucap Marcell akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya.
“Kenapa, Cell?” Juno mengernyit, masih kebingungan dengan perubahan sikap Marcell yang tiba-tiba serius.
Marcell ragu sebentar. Tangannya sempat berhenti di atas box vinyl yang tadi ia pegang, sebelum akhirnya ia menoleh lagi ke Juno.
“Lu… tau rasanya ciuman ga?”
Juno langsung mengernyit lebih dalam. Matanya bahkan sempat membelalak, seperti tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia sampai mengusap matanya pelan, refleks, seolah berharap ini cuma salah dengar atau mimpi siang bolong.
Tapi saat ia melirik sekitar—rak kaset, orang-orang yang lalu-lalang, suara musik pelan dari speaker toko—semuanya terlalu nyata.
Babe… this is THE reality.
“Engga tuh, Cell…” jawab Juno akhirnya, suaranya sedikit lebih kecil dari biasanya. “Gua bahkan nggak pernah ciuman seumur hidup gua…”
Jantung Juno berdegup lebih kencang setelah kalimat itu keluar dari mulutnya sendiri. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa tiba-tiba jadi jujur begitu. Harusnya dia bisa bercanda, mengalihkan, atau setidaknya bikin suasana nggak canggung. Tapi entah kenapa, otaknya kosong.
Marcell mengangguk pelan, seperti mencerna jawaban itu.
“Gua juga belom pernah sih,” ucapnya kemudian, lebih pelan. “Jujur… penasaran deh gimana rasanya.”
Juno langsung diam dan untuk pertama kalinya hari itu, dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa lagi.
Juno yang masih berusaha mencerna ucapan Marcell akhirnya terkekeh kecil, berusaha mengembalikan suasana seperti biasanya. Ia menatap Marcell dengan ekspresi jahil yang perlahan mulai muncul di wajahnya.
“Kok tumben lu penasaran banget, Cell?” tanya Juno, mencoba mencairkan suasana canggung tadi. “Emang lu pengen ciuman sama siapa dah?”
Marcell tidak langsung menjawab.
Tatapannya yang semula tertuju pada box vinyl perlahan naik kembali ke mata Juno. Ada jeda beberapa detik sebelum Marcell bergerak sedikit lebih dekat, membuat Juno yang tadinya santai langsung terlihat bingung.
Juno refleks mundur sedikit, berusaha memberi jarak sambil menatap Marcell dengan kening berkerut.
Marcell hanya tersenyum tipis.
“Elu, No…”
Juno makin terdiam dan jantungnya berdegup bukan main.
Marcell masih menatapnya, lalu melanjutkan dengan nada santai seolah baru saja mengatakan sesuatu yang biasa saja.
“…kalo lu penasaran juga sih.”
Juno sempat terdiam sepersekian detik, lalu tiba-tiba terkekeh pelan, seolah baru saja menemukan cara paling aman untuk membalas situasi aneh ini.
“Yaudah kalo gitu…” Juno mengangkat alis, senyum jahilnya muncul lagi. “Ayo deh, gua juga penasaran.”
Kalimat itu sebenarnya jelas bercanda, tapi di telinga Marcell, entah kenapa terdengar seperti tantangan.
Ekspresi Marcell berubah sedikit. Senyum tipisnya tidak hilang, justru makin terlihat yakin. Ia melangkah lebih dekat tanpa ragu, membuat Juno semakin terdorong hingga terbentur pelan ke belakang rak kaset pojokan.
“Eh, Cell… gua bercand—”
Kini jarak mereka benar-benar tinggal seujung napas. Suara di record store seakan menjauh, kalah oleh detik-detik yang terasa terlalu pelan.
Juno membeku.
Matanya masih menatap Marcell, tapi tubuhnya sudah tidak benar-benar bereaksi dan di saat itu, Marcell berhenti tepat di depan wajahnya.
Marcell tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertahan pada Juno, seolah sedang memastikan apakah ucapan barusan benar-benar serius atau hanya sekadar candaan.
Perlahan, ia bergeser mendekat.
Satu lengannya bertumpu pada rak tepat di belakang Juno, membuat jarak di antara mereka semakin menyempit. Marcell bahkan sedikit memiringkan kepalanya, sementara Juno hanya bisa menatap dengan ekspresi bingung.
Juno semakin tidak tahu harus melakukan apa. Mundur rasanya sudah tidak mungkin, sementara untuk mengatakan sesuatu pun lidahnya terasa kelu. Pada akhirnya, ia hanya menarik nafas pelan dan memejamkan mata, memilih untuk mengambil risiko atas apapun yang akan terjadi beberapa detik kemudian.
Lalu,
Dalam jarak yang sudah terlalu dekat untuk disebut aman, Marcell akhirnya bergerak sedikit lebih pasti, seolah keputusan itu sudah tidak lagi bisa ditahan.
Sebuah kecupan singkat menyentuh bibir Juno.
Ragu sebentar di awal, seperti Marcell sendiri masih memastikan apakah ini benar atau tidak. Tapi tetap terjadi, tetap terasa, dan cukup membuat waktu seolah berhenti di antara mereka berdua.
Hanya sebentar. Sangat singkat—bahkan mungkin tidak sampai lima detik—namun cukup untuk meninggalkan jejak yang tidak langsung hilang begitu saja.
Namun cukup untuk membuat Juno langsung membuka mata dengan wajah yang sulit menyembunyikan keterkejutannya. Entah kenapa, bukannya semakin ingin menjauh, ada sesuatu dari momen singkat itu yang justru membuat pertahanannya perlahan runtuh.
Marcell pun segera menarik diri.
Keduanya sama-sama terdiam.
Tidak ada yang langsung berani menatap terlalu lama. Jantung mereka berdua berdetak lebih cepat dari biasanya, sama-sama gugup dan sama-sama tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah apa yang baru saja terjadi.
Untuk beberapa saat, satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan hanyalah saling diam, seolah baru saja menyadari bahwa candaan kecil beberapa menit lalu ternyata membawa mereka ke situasi yang sama sekali tidak mereka duga.
Kemudian, sudut bibir Marcell terangkat membentuk senyum tipis. Ada sedikit kesan puas di wajahnya, seolah ia baru saja berhasil membuktikan rasa penasarannya sendiri.
Sementara di sisi lain, Juno masih membelalak dengan wajah yang mulai terasa hangat. Tangannya bahkan sempat terangkat menyentuh bibirnya sendiri secara refleks, seakan masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
“Anjir…” gumamnya lirih.
Marcell hanya terkekeh kecil melihat reaksinya.
“Kenapa, No?” tanyanya santai, seolah tidak baru saja membuat Juno kehilangan kata-kata.
“Lu…” Juno menatapnya tidak percaya. “Gila, Cell.”
Dan entah kenapa, melihat Juno yang masih salah tingkah justru membuat senyum tipis Marcell semakin sulit disembunyikan. Marcell hanya terkekeh pelan, suara rendahnya terdengar santai seolah ia benar-benar menikmati reaksi Juno yang masih kacau.
“Gila apanya?” balasnya ringan, masih dengan senyum tipis yang tidak juga hilang.
Namun sebelum Marcell sempat menambahkan kata lain, Juno tiba-tiba bergerak.
Dengan gerakan yang sedikit ragu tapi tetap berani, Juno meraih bagian depan pakaian Marcell, menariknya pelan mendekat. Marcell sempat terdiam, alisnya sedikit terangkat karena terkejut, tapi ia tidak menolak.
“Jun—”
Kalimatnya terputus.
Juno sudah lebih dulu menutup jarak di antara mereka, kali ini bukan sekadar kecupan singkat seperti sebelumnya. Ciuman itu terasa lebih lama, lebih tenang, tapi juga lebih jelas, seolah Juno sedang mencoba memastikan sesuatu yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami. Marcell sempat kaku di detik pertama, namun tidak lama kemudian ia justru menghela napas pelan dan membalas dengan lebih stabil, tangannya bergerak perlahan, tidak terburu-buru, seakan memberi ruang bagi Juno untuk tidak mundur.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Juno yang lebih dulu menarik diri, tangannya bertumpu pada pundak Marcell sembari mengatur napasnya yang sedikit tidak beraturan. Keduanya kembali saling menatap dalam jarak yang sangat dekat dan lagi-lagi, tidak ada satupun dari mereka yang langsung bisa berkata-kata.
Marcell kembali menunjukkan senyuman tipisnya, seakan merasa puas dengan aksi yang Juno lakukan barusan. Sementara di lain sisi, Juno masih membelalak matanya dan wajahnya sudah hangat dengan aksi singkat tadi.
“Ternyata lu yang lebih gila ya, No,” celetuk Marcell yang masih ikut mengatur nafasnya, sambil memandang wajah Juno yang sudah memerah bak udang yang baru direbus.
“Diem deh, Cell. Lu yang kurang ajar,” balas Juno cepat, suaranya masih terdengar panik dan malu.
“Lah? Lu kan nantang gue duluan tadi,” Marcell kembali terkekeh melihat respon salah tingkah Juno.
Juno langsung mengalihkan pandangan, semakin tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.
“Bahkan kita ciuman sampai dua kali loh. Seenak itu ya rasanya, No?” lanjut Marcell, nada suaranya sengaja dibuat santai, tapi jelas ada nada menggoda di dalamnya.
“Cell udah diem dulu deh…” Juno akhirnya tidak tahan. Ia mendorong Marcell pelan menjauh, lalu langsung mengusap wajahnya sendiri, berusaha menenangkan diri yang sudah benar-benar berantakan.
Marcell hanya tertawa kecil melihatnya, tidak benar-benar menjauh, hanya membiarkan jarak di antara mereka sedikit kembali normal. Sementara Juno masih berdiri di tempatnya, mencoba mengatur nafas dan pikirannya yang sama-sama tidak mau tenang setelah kejadian barusan.
Belum sempat Marcell kembali menggoda Juno, Kean dan Sagara tiba-tiba sudah menghampiri mereka berdua.
“Lah, masih di sini aja dari tadi kalian berdua? Ngapain, dah?” tanya Sagara sambil melirik curiga ke arah mereka.
Juno yang masih kikuk langsung berusaha bersikap santai, meski jelas ekspresinya belum sepenuhnya kembali normal. Ia mengalihkan pandangan, pura-pura fokus pada rak di samping mereka, seolah ada sesuatu yang jauh lebih menarik di sana daripada situasi yang baru saja terjadi.
“Gua lagi nyari vinyl Queen tadi tapi kagak nemu-nemu coy, makanya lama gua disini,” ujar Marcell cepat, mencoba mencairkan suasana dengan nada santai.
“Selama itu, Cell? Gua bahkan keliling di atas sampe 20 menitan kayaknya ada deh, tapi lu masih disini aja sama Juno?” jawab Keanu, alisnya terangkat curiga.
Juno langsung menegang. Begitu juga Marcell.
“Ah.. iya, tadi emang agak susah nyarinya,” Juno cepat-cepat menimpali, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya, jelas berusaha menutupi kepanikan.
Sagara menatap mereka bergantian, sementara Keanu tetap diam memperhatikan, seperti sedang menilai ada sesuatu yang tidak diucapkan.
"Terus ketemu kagak?” tanya Sagara.
“Kagak jir hahaha gua nyerah nyari nya. Akhirnya gua beli vinyl nya Nirvana aja deh,” ucap Marcell sembari tangannya dengan cepat meraih vinyl Nirvana yang kebetulan tepat ada di sampingnya.
“Lah kocak,” celetuk Keanu.
Marcell kembali terkekeh, begitupun Juno yang ikut tertawa kecil meski masih terlihat canggung.
“Eh lu pada udah apa belom? gua laper nih pengen jajan,” ucap Jesse yang baru saja menyusul setelah membayar album kaset yang ia beli.
Suasana yang semula canggung perlahan kembali cair, seolah tidak ada apa-apa yang benar-benar terjadi beberapa menit sebelumnya, meski Juno dan Marcell sama-sama tahu, ada sesuatu yang sudah berubah di antara mereka.
“Gua sih udah, Bang. Tinggal bayar aja,” ucap Sagara sambil mengangkat beberapa kaset yang sudah dipilihnya, lalu berjalan lebih dulu menuju kasir.
“Eh, gua ikut, plis. Mau bayar juga. Gua juga ikutan laper nih,” sahut Keanu, langsung menyusul Sagara ke arah kasir.
Jesse yang sebelumnya sudah selesai memilih barang ikut berjalan bersama mereka. Ketiganya pun akhirnya lebih dulu meninggalkan Marcell dan Juno yang masih berdiri berdua di pojokan rak tersebut.
Marcell sempat memperhatikan mereka yang mulai menjauh. Ia pun berniat menyusul, tetapi sebelum benar-benar melangkah, ia berhenti dan menoleh kembali ke arah Juno.
“Ayo, Juno.”
Tatapan Marcell kali ini terasa berbeda dari beberapa menit pertama mereka memasuki toko. Ada sesuatu yang lebih ringan di sana, sekaligus menyimpan senyum tipis yang membuat Juno kembali teringat pada kejadian barusan.
Juno masih terdiam.
Belum sempat menjawab, tangan Marcell sudah lebih dulu meraih tangannya dan menggenggamnya pelan, mengajaknya mengikuti langkah menuju kasir. Juno hanya menatap tangannya yang bertaut dengan tangan Marcell selama beberapa detik.
Entah kenapa, setelah semua yang terjadi tadi, genggaman sederhana itu justru terasa jauh lebih membuatnya salah tingkah.
Akhirnya, Juno hanya menghela napas kecil dan mengikuti langkah Marcell.
“Lu jangan aneh-aneh lagi, Cell,” gumamnya pelan.
Marcell hanya terkekeh.
“Gua nggak ngapa-ngapain loh, Juno.”
The End.
