Actions

Work Header

makrab kok udah kelonan?

Summary:

kelakukan remaja yang ada-ada aja deh

Notes:

*inspired by cortis yt content (23/08/2026)

ed as marcell
jju as juno
jami as jesse
hyeon as sagara
keon as keanu

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Hari pertama makrab satu angkatan SMA COTL selalu punya cara sendiri untuk mengubah puluhan siswa yang biasanya hanya bertemu di dalam kelas menjadi satu keluarga besar, keluarga yang berisik, susah diatur, dan entah bagaimana bisa tetap kompak kalau sudah waktunya bersenang-senang. 

Sejak sore, halaman villa tempat mereka menginap sudah dipenuhi puluhan siswa dari satu angkatan. Bus yang membawa rombongan baru saja berhenti di depan gerbang, dan dalam hitungan menit, suasana yang tadinya tenang langsung berubah riuh. Ada yang sibuk menurunkan barang dari bagasi bus, ada yang asyik menikmati sekaligus memotret pemandangan sekitar villa, ada yang buru-buru masuk ke dalam untuk mengamankan kamar, bahkan ada pula yang sudah kabur ke warung dekat gerbang demi membeli jajanan sebelum acara benar-benar dimulai.

Di tengah semua keributan itu, Jesse hanya bisa berdiri memandangi teman-teman satu angkatannya dengan tatapan lelah. Sebagai ketua makrab, sepertinya tugas pertamanya bukan memastikan acara berjalan lancar, melainkan memastikan puluhan manusia ini tidak membuat villa tempat mereka menginap berubah menjadi medan perang.

“Udahlah, Bang. Mending masuk aja dulu ke villanya. Nanti baru ngatur tuh anak-anak lainnya,” ucap Sagara sembari menepuk pundak Jesse yang sudah terlihat lemas setelah perjalanan jauh.

“Lagian siapa sih yang ngide makrab satu angkatan gini di villa yang bahkan nggak cukup buat nampung banyak orang?” keluh Jesse sembari memijat dahinya yang sudah terasa berdenyut. Entah karena lelah atau pusing melihat tingkah teman-teman satu angkatannya yang sama sekali belum bisa diatur.

“Yaelah, lagian budget kita cuma segitu, Bang. Syukuri aja,” sahut Keanu yang baru datang dari arah warung sambil menenteng es cekek dan beberapa bungkus jajanan.

“Ih, jajan kaga ngajak-ngajak. Lu kurang ajar banget jadi temen,” protes Sagara, tidak terima melihat Keanu membawa beberapa jajanan kesukaannya tanpa sedikit pun berniat berbagi.

“Biarin wlee. Emang gue pikirin?” ejek Keanu sambil menjulurkan lidah. Ekspresi tengilnya sukses membuat Sagara langsung naik pitam. Tidak butuh waktu lama sampai keduanya mulai beradu mulut dan berakhir saling dorong seperti biasa.

Sementara Sagara dan Keanu sibuk berkejaran seperti biasa, Marcell masih berada di dekat bus. Ia sibuk menurunkan barang-barangnya sendiri sekaligus membantu beberapa teman lain membawa koper dan tas mereka masuk ke dalam villa. Sesekali ia harus berhenti karena ada saja yang meminta bantuannya membawa barang.

“Cell, tolong titip ini sekalian, ya!”

“Cell, yang ini taruh depan kamar, ya!”

“Cell, tolong bawain yang itu juga!”

Marcell hanya bisa mengangguk sambil tertawa kecil. Entah sejak kapan dirinya berubah menjadi bagian dari tim logistik dadakan.

Berbeda dengan yang lain, Juno sejak tadi hanya duduk sendirian di kursi taman yang menghadap langsung ke perbukitan di sekitar villa. Earphone terpasang di kedua telinganya, alunan lagu R&B kesukaannya terdengar samar, sementara tatapannya sibuk menerawang ke kejauhan. Cuaca sore yang sejuk, langit yang mulai berubah warna, dan pemandangan perbukitan di hadapannya terasa terlalu mendukung untuk sekadar duduk diam.

 

***

 

Setelah kegaduhan sekilas tadi, akhirnya Jesse mengambil alih keadaan. Dengan bantuan beberapa panitia lainnya, ia meminta seluruh teman-teman satu angkatan untuk segera masuk ke dalam villa dan membereskan barang-barang masing-masing sebelum matahari benar-benar tenggelam.

“Yang masih di luar, ayo masuk! Barang-barangnya dibawa sekalian. Jangan ada yang ditinggal di bus!” teriak Jesse dari depan halaman.

Satu per satu siswa mulai bergegas mengambil barang bawaan mereka. Koper diseret, tas di panggul, kardus makanan diangkat, dan beberapa barang yang terlalu banyak terpaksa dibawa bersama-sama. Dalam waktu beberapa menit, halaman villa yang sebelumnya penuh dengan siswa mulai sedikit lebih lengang.

Puluhan siswa memenuhi ruangan sambil mencari tempat untuk meletakkan barang masing-masing. Ada yang sibuk membuka koper, ada yang langsung memilih sudut ruangan untuk menaruh tas, ada yang sudah mulai berganti pakaian, dan tentu saja ada beberapa orang yang malah duduk santai sambil mengobrol seolah tugas membereskan barang bukan bagian dari agenda hari itu.

Jesse yang melihat pemandangan tersebut kembali mengambil pengeras suara.

“Teman-teman semua, dengerin sebentar!”

Suara Jesse yang terdengar melalui pengeras suara sontak membuat sebagian besar siswa menoleh.

“Gua udah share link PDF daftar kelompok beserta anggotanya di grup angkatan. Nanti kelompok itu bakal jadi kelompok kalian selama permainan, sekaligus menentukan teman sekamar masing-masing.”

Beberapa siswa langsung merogoh saku untuk mengambil HP. Suara notifikasi grup angkatan terdengar bersahutan ketika mereka mulai membuka daftar yang dikirim Jesse.

“Tolong teliti waktu cari nama kalian masing-masing. Jangan cuma lihat nama sendiri, tapi cek juga siapa aja yang satu kelompok dan satu kamar,” lanjut Jesse.

Ia berhenti sebentar, memastikan semua orang memperhatikannya.

“Dan gua ingetin dari sekarang, gua nggak menerima keluhan soal tukar-menukar teman sekamar. Jumlah kamar di villa ini terbatas, jadi pembagiannya udah disesuaikan dan merupakan keputusan final dari panitia. Tolong pengertiannya, ya. Jangan nanti malam-malam baru protes gara-gara nggak sekamar sama orang yang kalian mau.”

Beberapa siswa langsung bersorak tidak puas dengan keputusan Jesse. Jesse hanya menghela napas, sudah bisa menebak bahwa keputusan tersebut pasti akan menimbulkan protes.

“Udah, udah. Protesnya nanti aja. Sekarang cari kamar masing-masing!” sahut Jesse.

Sebagian besar siswa akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. Ada yang terlihat senang karena mendapat teman sekamar yang diinginkan, tetapi tidak sedikit pula yang memasang wajah kecewa karena harus satu kamar dengan orang yang jarang mereka ajak bicara. Namun, berbeda dengan yang lain, penghuni kamar nomor 18 tampaknya sudah mendapatkan susunan yang cukup ideal.

Jesse, Marcell, Juno, Sagara, dan Keanu.

Lima orang tersebut memang merupakan teman tongkrongan Jesse sejak awal bersekolah. Bahkan, kalau boleh jujur, pembagian kamar nomor 18 itu bukan sepenuhnya kebetulan. Jesse sendiri yang diam-diam sudah memploting nama-nama tersebut sejak sebelum daftar kamar dibagikan. (Ekhem #privilege jadi ketua. Jangan ditiru, ya)

Setelah seluruh barang berhasil diturunkan dan pembagian kamar selesai, para panitia kembali mengarahkan seluruh siswa untuk berkumpul di halaman villa. Matahari perlahan mulai turun di balik perbukitan, meninggalkan semburat jingga yang membuat udara sore terasa semakin sejuk.

 

***

 

Rangkaian acara makrab pun resmi dimulai.

Beberapa permainan kelompok sudah disiapkan oleh panitia dengan tujuan sederhana: membuat siswa dari kelas yang berbeda saling mengenal dan tidak hanya bergaul dengan teman sekelas masing-masing. Awalnya, suasana masih terasa canggung. Beberapa siswa tetap berdiri berkelompok dengan teman sekelasnya. Ada yang sibuk memainkan ponsel, ada yang hanya tersenyum ketika diajak berbicara, dan ada pula yang terlihat malu-malu ketika diminta memperkenalkan diri di depan anggota kelompok yang baru mereka kenal beberapa menit.

Namun, kecanggungan itu tidak bertahan lama. Permainan pertama berhasil membuat beberapa orang yang sebelumnya bahkan tidak pernah saling menyapa mulai berinteraksi. Yang awalnya hanya saling memperkenalkan nama, perlahan mulai saling menggoda dan mengejek ketika permainan berlangsung. Permainan kedua bahkan berubah menjadi ajang adu gengsi antar kelompok.

“WOI, CURANG!”

“HALAH KALIAN AJA YANG NGGAK BISA MAIN!”

“ULANG! ULANG! TADI GUA BELUM SIAP!”

Teriakan dan tawa mulai memenuhi halaman villa.

Ketika sesi perkenalan dimulai, suasana sudah jauh lebih cair. Siswa yang sebelumnya duduk diam mulai ikut bercanda. Beberapa kelompok bahkan sudah terlihat seperti berteman sejak lama meskipun baru beberapa jam saling mengenal.

Tak terasa, langit semakin gelap.

Lampu-lampu di sekitar halaman mulai dinyalakan satu per satu, menerangi area villa yang kini dipenuhi suara obrolan dan tawa. Udara malam semakin dingin, tetapi tidak ada yang benar-benar ingin masuk ke dalam.

Di tengah halaman, panitia menyalakan api unggun. Seluruh siswa kemudian duduk melingkar mengelilinginya. Cahaya api menjadi satu-satunya penerangan utama di tengah lingkaran, sesekali diselingi cahaya lampu dan layar ponsel dari beberapa siswa yang sibuk mengabadikan momen. 

Beberapa orang mulai menyanyi bersama. Sebagian sibuk merekam video untuk dibagikan ke sosmed dan yang lainnya memilih duduk santai sambil mengobrol dengan teman-teman baru yang beberapa jam sebelumnya bahkan tidak mereka kenal. 

Suara tawa sesekali pecah ketika ada yang mulai bercerita atau membuat lelucon. Tidak ada lagi batas antara kelas satu dan kelas lainnya. Tidak ada lagi kelompok-kelompok kecil yang hanya berkumpul dengan orang yang mereka kenal. Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk SMA COTL, puluhan siswa yang biasanya hanya bertemu di kelas itu benar-benar terasa seperti satu angkatan.

 

***

 

Waktu sudah memasuki tengah malam dan hawa dingin mulai terasa menusuk, satu per satu siswa akhirnya masuk ke kamar masing-masing sesuai pembagian yang sudah ditentukan sejak awal. Suara tawa dan obrolan yang sejak sore memenuhi villa perlahan menghilang. Pintu-pintu kamar mulai tertutup, langkah kaki semakin jarang terdengar, hingga seluruh villa yang sebelumnya riuh perlahan berubah menjadi sunyi. Hampir semua orang sudah bersiap untuk tidur, seperti isi penghuni kamar 18.

Di kamar nomor 18, kelima penghuninya justru masih sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang sedang merapikan barang bawaan, mengganti pakaian, mandi membersihkan diri atau rebahan sambil memainkan konsol game. Namun, di antara semua kesibukan itu, ada satu masalah yang belum juga menemukan jalan keluar, yaitu kasur untuk tidur malam ini. Kamar nomor 18 hanya memiliki satu tempat tidur susun dengan dua kasur, sementara penghuninya ada lima orang. Artinya, tiga orang sisanya harus rela tidur di lantai.

Sagara menatap tempat tidur susun di hadapannya dengan ekspresi tidak percaya. Ia bahkan sempat menghitung ulang jumlah kasur yang tersedia, seolah berharap tiba-tiba muncul tiga kasur tambahan.

“Anjir, yang bener aja. Kasur cuma dua, cok,” keluhnya sambil menggaruk kepala. “Nah, kalau gini mah ayo hompimpa dulu. Siapa yang menang, dapet kasur.”

Marcell yang sedang membereskan tasnya hanya melirik sekilas. “Ogah. Gua lebih suka tidur di lantai.” ucap Marcell.

Jesse yang sudah selesai berganti pakaian ikut menyahut dari tempatnya. “Sama. Gua oke-oke aja tidur di lantai juga.”

Sagara menatap keduanya dengan ekspresi tidak habis pikir.

“Yaelah, kok pada nggak seru gini, sih?” ejek Sagara. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Juno yang sedang mengeluarkan baju ganti dari dalam tas.

“Juno, lu mau tidur di mana?”

Juno berhenti sebentar, kemudian melihat ke arah kasur susun sebelum menjawab dengan nada ragu.

“Ehm... gua di kasur boleh nggak? Gua nggak tahan dingin soalnya.” Sagara langsung mengangguk.

“Boleh aja. Nah, sekarang tinggal lu, Nu.”

Ia menunjuk Keanu yang sejak tadi justru malah sibuk sendiri memainkan game konsol milik Marcell, seolah persoalan kasur bukan urusannya.

“Gunting batu kertas sama gua.” tantang Sagara.

Keanu yang merasa ditantang langsung menghentikan permainannya.

“Ayo. Wah, nantangin gua lu?” Game konsol milik Marcell diletakkannya sembarangan di atas lantai. Keanu kemudian duduk bersila di hadapan Sagara, siap mempertaruhkan hak tidur di kasur malam itu.

“Siap?”

“Siap.”

Keduanya mengepalkan tangan.

“Gunting, batu, kertas!”

Ronde pertama dimenangkan Sagara.

Ronde kedua kembali dimenangkan Sagara.

Ronde ketiga pun hasilnya masih sama.

Sagara menatap tangannya sendiri dengan wajah puas, sementara Keanu hanya bisa menatap kosong seolah baru saja mengalami kekalahan paling menyakitkan dalam hidupnya.

“Yes! Akhirnya tidur di kasur gua!”

Sagara langsung berdiri dan naik ke kasur dengan wajah penuh kemenangan.

“Ah, elah. Males banget gua tidur di lantai gini,” gerutu Keanu.

Sagara yang sudah nyaman di kasur tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengungkit kejadian sore tadi.

“Makan tuh. Salah siapa tadi nggak ngajak gua jajan? Malah beli telur gulung sendiri. Parah lu.”

Keanu mendengus. “Ck. Iye, iye. Nanti gua ajak lu. Gampang banget ngambeknya.”

“Dih? Sok iye banget lu, Nu,” balas Sagara kesal.

Perdebatan kecil itu sebenarnya masih bisa berlanjut kalau saja Jesse tidak segera kehilangan kesabarannya.

“Udah nggak?! ribut lagi, gua keluarin kalian berdua dari kamar,” ancamnya. “Dari tadi sore, sampai sekarang tetep aja ribut. Nggak ada capek-capeknya apa?”

Suara Jesse yang cukup keras membuat Keanu dan Sagara langsung terdiam. Jesse sudah berada di kasur lipat tipis nya sambil menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia sudah terlalu lelah untuk menghadapi keributan mereka.

Keanu dan Sagara saling pandang sementra Jesse menghela nafas panjang sebelum kembali melanjutkan.

“Salah banget gua masukin kalian berdua sekamar sama gua.” keluh Jesse sambil bergumam.

Marcell dan Juno yang sejak tadi hanya menjadi penonton akhirnya terkekeh kecil mendengar keluhan Jesse.

Keanu dan Sagara pun langsung menciut. Keduanya tidak berani membalas lagi karena tahu kalau Jesse sudah bicara dengan nada seperti itu, lebih baik tidak mencari masalah tambahan. Keanu mengambil bantal dan selimutnya, lalu mencari tempat kosong di lantai. Sagara juga segera merapikan tempat tidur nya. Keduanya mulai menyiapkan tempat tidur masing-masing dengan wajah masam. Tidak ada lagi adu mulut seperti beberapa menit sebelumnya, tetapi dari gerakan mereka yang sengaja dibuat sedikit kasar dan gumaman yang tidak jelas, jelas terlihat bahwa mereka masih saling mengomel dalam diam.

Marcell hanya menggeleng sambil menahan tawa. Sementara itu, Jesse memejamkan mata, berharap dua orang tersebut di kamar nomor 18 akhirnya benar-benar bisa tidur. 

Malam pertama makrab mereka pun ditutup dengan cara yang sederhana. Dua orang tidur di kasur dan tiga orang tidur di lantai serta satu hal yang sudah bisa dipastikan, kamar nomor 18 tidak akan pernah benar-benar tenang selama Sagara dan Keanu masih berada di dalamnya.

 

***

 

Waktu di jam dinding kamar sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Suasana kamar nomor 18 mulai temaram, hanya diterangi cahaya redup dari lampu kecil di sudut ruangan. Perlahan, kelima penghuni kamar itu akhirnya tertidur lelap.

Keanu, Marcell, dan Jesse tidur di lantai beralaskan kasur lipat yang ketebalannya hanya setebal kesabaran Jesse dalam menghadapi Keanu dan Sagara kalau sedang ribut. Sementara itu, Sagara dan Juno menempati tempat tidur susun, dengan Juno di bagian atas dan Sagara di bagian bawah.

Cuaca di villa memang cukup dingin. Tidak sedikit siswa yang tidur dengan dua lapis selimut atau tetap mengenakan jaket yang lebih tebal agar tidak kedinginan. Di kamar nomor 18 pun, selimut-selimut tebal menutupi hampir seluruh tubuh mereka. Bahkan Keanu yang sebelumnya banyak mengeluh kini sudah meringkuk di atas kasur lipatnya, tidak lagi memperdulikan siapa yang menang atau kalah dalam permainan tadi.

Beberapa saat kemudian, Juno terbangun karena rasa ingin buang air kecil yang sudah tidak bisa ditahan. Suhu malam yang semakin dingin membuatnya mau tak mau turun dari tempat tidur. Dengan mata yang masih setengah terpejam, Juno berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Beberapa kali langkahnya nyaris salah arah, bahkan hampir menginjak Jesse yang tidur pulas di lantai.

Setelah selesai dari kamar mandi, Juno berdiri di depan tempat tidur susunnya. Pandangannya masih berat karena kantuk. Ia menatap tangga kecil menuju kasur atas beberapa detik, lalu menghela napas panjang.

 

“Duh... males,” gumamnya lirih.

 

Mengingat dirinya tadi hampir kehilangan keseimbangan saat turun, Juno akhirnya mengurungkan niat untuk kembali ke atas. Pandangannya kemudian beralih ke kasur lipat di lantai. Di sana, Jesse dan Marcell masih tertidur dengan posisi masing-masing. Juno mengamati celah di antara keduanya.

 

“Di sini aja kali, ya...”

 

Tanpa berpikir panjang, Juno berjalan mendekat lalu merebahkan tubuhnya di celah kosong tersebut. Ia mengambil posisi tengkurap, menarik selimut yang ada di dekatnya, lalu kembali memejamkan mata.

Sementara itu, Marcell yang baru saja terlelap tiba-tiba merasa ruang di sebelah kirinya menjadi lebih sempit. Ada sesuatu yang menyenggol lengannya. Awalnya ia mengira Jesse yang bergeser saat tidur. Namun, ketika membuka mata perlahan, Marcell justru mendapati sosok lain sudah berada di sebelahnya.

Dalam kondisi masih mengantuk, Marcell sempat mengira dirinya sedang bermimpi. Sosok di sampingnya terlihat samar karena pencahayaan kamar yang minim. Ia pun memberanikan diri menyenggolnya pelan dengan lengan kiri.

Begitu sosok itu bergerak sedikit, barulah Marcell menyadari siapa orangnya.

 

“Juno...?” panggil Marcell pelan, berusaha agar suaranya tidak membangunkan penghuni kamar lainnya.

 

Juno membuka mata perlahan dan menoleh ke arah Marcell. Ekspresinya masih menunjukkan rasa kantuk yang berat.

 

“Kok lu tiba-tiba di sini? Bukannya lu nggak tahan dingin, ya?” tanya Marcell dengan suara berbisik.

 

“Gua males naik ke kasur gua lagi, Cell,” jawab Juno dengan gumaman yang nyaris tak terdengar.

 

Ia berhenti sejenak, kemudian menambahkan dengan suara lebih pelan.

 

“Gua... juga kedinginan, Cell.”

 

“Mau jaket gua nggak? Gua ada jaket yang lebih tebal. Biar lu nggak kedinginan,” tawar Marcell.

 

Juno hanya menggeleng. Ia kemudian mengubah posisi tidurnya menjadi miring, menghadap Marcell.

 

“Terus? Bukannya lebih enak di kasur lu? Kan lebih anget di situ,” ujar Marcell, masih berusaha memahami keputusan Juno.

 

Juno tidak langsung menjawab. Kelopak matanya kembali turun, seolah percakapan singkat itu sudah cukup menguras sisa kesadarannya. Wajahnya tampak tenang, tetapi nafasnya masih terdengar pelan dan tidak teratur karena tubuhnya belum sepenuhnya menemukan posisi yang nyaman.

Marcell mengira Juno benar-benar akan kembali tidur. Ia pun perlahan mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar, berusaha mengabaikan rasa canggung yang sejak tadi mengganjal. Namun, beberapa detik kemudian, ia merasakan sesuatu bergerak di dekat tubuhnya.

Tangan Juno yang semula tergeletak di atas kasur mulai bergeser perlahan. Gerakannya lambat dan tidak terarah, seperti orang yang masih setengah sadar. Jari-jari Juno menyentuh selimut, lalu bergerak lagi hingga tanpa sengaja menyenggol tangan Marcell.

Marcell menahan napas.

Ia sempat berpikir untuk menarik tangannya menjauh, tetapi sebelum sempat melakukan apa pun, Juno sudah menemukan lengan kirinya. Dengan gerakan yang masih dipengaruhi rasa kantuk, Juno meraih lengan tersebut dan menariknya mendekat ke tubuhnya.

Marcell langsung menegang.

Juno kemudian memeluk lengan Marcell dengan kedua tangannya. Pipinya menempel pada bahu Marcell, sementara tubuhnya merapat seolah lengan itu adalah satu-satunya sumber kehangatan yang bisa ia temukan malam itu.

Untuk beberapa saat, Marcell hanya diam. Ia bahkan lupa bagaimana cara bernapas dengan normal. Seluruh tubuhnya terasa kaku, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ingin ia pikirkan.

Ia menunduk sedikit, memperhatikan Juno yang masih memejamkan mata. Tidak ada tanda-tanda bahwa Juno sadar dengan apa yang sedang dilakukannya. Wajahnya tetap tenang, bahkan terlihat jauh lebih nyaman dibandingkan beberapa saat sebelumnya.

Marcell menelan ludahnya kasar. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Juno hanya kedinginan dan sedang mencari posisi tidur yang lebih nyaman. Tidak mungkin ada maksud lain. Namun, semakin ia mencoba berpikir logis, semakin jelas pula ia menyadari bahwa posisi mereka saat ini terasa terlalu dekat.

 

“Juno?!” bisiknya kaget.

 

Suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia inginkan, tetapi cukup untuk membuat tubuh Juno bergerak sedikit. Marcell langsung menahan napas, takut suara itu benar-benar membangunkan Juno dan membuat keadaan menjadi semakin canggung.

 

Juno hanya menggumam pelan. “Gua... kedinginan, Cell.”

Ia merapatkan selimut sedikit, kemudian berkata dengan suara lirih.

 

“Boleh, ya… gua meluk lu?”

 

Marcell menatap wajah Juno beberapa saat. Ia masih bisa saja menarik lengannya, menyuruh Juno kembali ke tempat tidur susun nya. Namun, melihat Juno yang tampak benar-benar kedinginan dan setengah sadar, Marcell akhirnya menghembuskan napas pelan.

 

“Ya udah,” jawabnya lirih. “Tapi jangan lama-lama. Gua takut ada yang liat, No..”

 

Juno tidak menjawab. Pelukannya justru sedikit mengerat, seolah jawaban Marcell sudah cukup untuk membuatnya tenang.

Marcell awalnya masih dengan posisi terlentang dan kaku. Namun, setelah beberapa saat, ia mulai menyadari bahwa Juno tidak berniat melakukan apa pun selain mencari kehangatan. Perlahan, ia membiarkan tubuhnya rileks. Ia bahkan menarik selimut agar menutupi tubuh Juno dengan lebih baik.

Beberapa menit berlalu. Napas Juno mulai teratur, tetapi ia masih memeluk lengan Marcell. Posisi mereka perlahan berubah ketika Juno bergeser mendekat. Ia berbalik menghadap Marcell, sementara Marcell ikut menyesuaikan posisi hingga keduanya saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Salah satu lengan Marcell masih berada dalam pelukan Juno, sedangkan tangan kanan Marcell kini berada di lengan Juno seperti membalas pelukan Juno.

Marcell kembali menegang ketika menyadari kedekatan mereka. Wajah Juno berada tepat di depannya, hanya berjarak beberapa sentimeter. Napas mereka terasa hangat dan saling beradu, sementara setiap tarikan nafas membuat tubuh mereka bergerak hampir bersamaan. Ia tidak berani bergerak terlalu banyak. Takut Juno terbangun dan juga takut apabila Jesse terbangun di sebelah Juno.

Namun, setelah beberapa saat, Marcell akhirnya membiarkan dagunya menyentuh ringan bagian atas kepala Juno. Tangannya tetap berada di tempat semula, tidak bergerak lebih jauh. Ia hanya memastikan selimut menutupi bahu Juno dengan baik.

Juno menghela napas kecil, lalu bergumam dalam keadaan setengah sadar.

 

“Anget...”

Marcell tersenyum tipis tanpa sadar.

 

“Udah, tidur No. Besok bangun pagi.” bisiknya.

 

Juno benar-benar kembali tertidur. Marcell pun mulai merasa kantuknya datang lagi. Ia hampir memejamkan mata ketika Juno tiba-tiba bergerak sedikit dan berbalik menghadapnya.

Gerakan itu membuat wajah mereka menjadi sangat dekat.

Marcell membuka mata. Juno juga perlahan membuka matanya, meskipun tatapannya masih samar karena kantuk. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap dalam cahaya redup kamar.

 

“Cell...” panggil Juno pelan.

 

“Hm?”

 

“Lu masih bangun?”

 

“Mau tidur sih, kenapa No?”

 

Juno tidak langsung menjawab. Pandangannya turun sebentar, lalu kembali menatap mata Marcell. Wajahnya terlihat ragu, seolah baru menyadari posisi mereka.

 

“Maaf ya gua jadi ganggu tidur lu.” katanya lirih. 

 

“Udah gapapa, No. Aman aja” jawab Marcell cepat.

 

“Beneran?”

 

Marcell mengangguk.

Juno masih menatapnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Marcell bisa merasakan embusan napas Juno di wajahnya. Suasana kamar tetap sunyi. Keanu, Jesse, dan Sagara masih tertidur tanpa mengetahui apa pun.

 

“Cell…” panggil Juno lagi.

 

“Apa?”

 

“Kalau gua...” Juno berhenti sejenak, tampak ragu. “Kalau gua ngelakuin sesuatu, lu bakal marah nggak?”

 

Marcell menatapnya dengan bingung.

 

“Mau ngapain lu, No?”

 

Juno tidak menjawab. Ia hanya bergerak mendekat, lalu berhenti ketika jarak di antara mereka tinggal beberapa sentimeter. Marcell sebenarnya bisa saja menjauh, tetapi ia tidak melakukannya. Ia hanya menatap Juno dalam diam, seolah memberinya ruang untuk menentukan apa yang ingin dilakukannya.

Tanpa banyak pertimbangan, Juno akhirnya mendekat dan menyentuhkan bibirnya pada bibir Marcell.

Ciuman itu singkat dan lembut, lebih menyerupai sentuhan yang dipenuhi keraguan daripada sesuatu yang terburu-buru. Begitu menyadari apa yang baru saja dilakukannya, Juno segera menarik diri sedikit.

Marcell kembali terdiam. Untuk kedua kalinya malam itu, ia dibuat membeku oleh keberanian Juno yang sama sekali tidak diduganya.

 

“Gua kangen... sama kejadian di pojokan toko kaset waktu itu, Cell. Sorry, gua lancang...” ucap Juno lirih.

 

Marcell masih tertegun mendengar pengakuan itu. Kejadian mereka di pojokan toko kaset memang belum pernah benar-benar hilang dari ingatannya. Bahkan, diam-diam, ia tidak pernah ingin melupakan kenangan yang menurutnya terlalu manis untuk sekadar dianggap sebagai sebuah kebetulan.

Juno menunduk sejenak. Jantungnya masih berdebar, sementara pikirannya terasa kacau oleh keberanian yang baru saja ia kumpulkan. Ciuman tadi memang singkat, tetapi cukup untuk membuat napasnya tertahan. Namun, ketika ia kembali menatap Marcell dan menyadari bahwa laki-laki di hadapannya itu tidak menjauh, kegugupan yang semula memenuhi dirinya perlahan berubah menjadi rasa tenang.

Alih-alih membiarkan suasana kembali canggung, Marcell justru mendekat lagi dan membalas ciuman Juno dengan lembut. Kali ini, tidak ada keraguan yang sama seperti sebelumnya. Ciuman itu lebih lama sedikit dan tenang, tetapi cukup untuk menyampaikan sesuatu yang tidak mampu mereka ungkapkan lewat kata-kata.

Ketika mereka kembali saling menatap, tidak ada satupun dari keduanya yang segera berbicara. Hanya ada keheningan yang terasa berbeda dari sebelumnya. Bukan canggung, melainkan penuh dengan perasaan yang perlahan mulai mereka pahami.

Juno akhirnya tersenyum kecil. Ia masih gugup, tetapi untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak merasa perlu menyembunyikannya. Marcell pun hanya membalas tatapannya, seolah ingin mengatakan bahwa apa yang baru saja terjadi bukan sesuatu yang perlu disesali.

 

***

 

Fajar telah menyambut. Perlahan, para siswa mulai terbangun, meski beberapa di antaranya masih terlelap dan enggan beranjak dari tempat tidur. Pagi itu, Jesse bersama panitia lainnya telah menyiapkan agenda senam pagi sebelum akhirnya acara makrab resmi ditutup.

Tak lama kemudian, seluruh siswa berkumpul di halaman villa dan mengikuti senam pagi bersama. Suasana yang semula dipenuhi kantuk perlahan berubah menjadi lebih ramai dan ceria. Beberapa siswa bahkan masih terlihat menguap di sela-sela gerakan senam.

Setelah senam pagi selesai, seluruh siswa kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri sekaligus merapikan barang-barang sebelum meninggalkan villa.

Juno sudah selesai membersihkan diri. Kini, giliran Jesse yang masuk ke kamar mandi. Karena masih merasa lelah setelah senam, Juno akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke tempat yang sama seperti semalam—spot tempat ia dan Marcell sempat cuddling. Ia baru saja mengatur posisi senyaman mungkin ketika suara Sagara terdengar dari arah kasur.

 

“No, lu semalem tidur di bawah, ya?” celetuk Sagara sambil menikmati camilan di atas kasurnya.

 

Juno sontak menoleh. “Hah? Enggak, tuh. Kan gua tidur di atas lu, Sag,” jawabnya santai.

 

Sagara mengernyitkan dahi, lalu menunjuk ke arah tempat Juno sedang berbaring.

 

“Masa sih? Gua semalem liat di bawah ada empat orang yang tidur, deh.”

 

Juno langsung terdiam.

 

Di sisi lain, tak jauh dari tempat Sagara dan Juno berada, Marcell yang sedang menikmati camilan bersama Keanu ikut mendengar percakapan tersebut. Tangannya yang semula hendak mengambil camilan mendadak berhenti di udara. Ia menoleh ke arah Juno dengan ekspresi yang mulai terlihat panik.

 

“Sag, lu yang bener aja kalau ngomong, jir. Masa iya Juno tiba-tiba tidur di bawah? Orang jelas-jelas dia tidur di atas lu,” sanggah Keanu.

 

Sagara masih terlihat yakin dengan ingatannya. Bahkan, ia menghitung dengan jarinya sambil menyebutkan satu per satu.

 

“Sumpah, Nu. Gua liat Juno beneran tidur di situ. Jadi Bang Jesse, Juno, Marcell, terus elu, cok.”

 

Kamar mendadak terasa hening.

 

Juno menatap Sagara dengan wajah kaku. Sementara itu, Marcell perlahan menurunkan camilan yang masih dipegangnya. Keduanya saling pandang selama beberapa detik, sama-sama menyadari satu hal yang cukup mengkhawatirkan.

Kalau Sagara benar-benar melihat mereka semalam, berarti rahasia kecil yang mereka kira aman-aman saja mungkin tidak sesederhana yang mereka bayangkan.

 

“Jangan ngaco deh lu, Sag. Lu liat setan kali semalem,” sahut Marcell dengan nada suara yang terdengar tak biasa.

 

“Tau tuh, masih mimpi kali lu, Sag. Makanya ngiranya gua di sini semalem,” timpal Juno, berusaha terdengar santai.

 

Namun, respons Marcell dan Juno justru membuat kecurigaan Sagara terhadap keduanya semakin menjadi-jadi. Ia menyipitkan mata, memperhatikan mereka secara bergantian seolah sedang mencari celah dari jawaban yang baru saja diberikan.

 

“Lah, dikira ngarang gua, jir. Tapi bener, cok. Gua liat Juno turun dari kasur, terus gua liat lagi udah di bawah, pas di sebelah lu, Cell,” jawab Sagara menggebu-gebu, seolah tidak terima karena penjelasannya terus disanggah oleh Marcell, Juno, dan Keanu.

 

Marcell terdiam. Juno pun hanya bisa menelan ludah, sementara Keanu mulai memandang keduanya dengan tatapan penuh tanda tanya.

 

“Ngarang lu makin ke mana-mana deh, Sag. Ketawa gua. Ngigo, ya, elu?” ujar Keanu, berusaha mencairkan suasana.

 

Di sisi lain, Juno masih bertahan dalam posisi tengkurapnya. Wajahnya sengaja diarahkan ke bantal agar tidak ada yang bisa melihat ekspresi paniknya. Ia pura-pura sibuk memainkan ujung selimut, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal, telapak tangannya mulai terasa dingin dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Sesekali, Juno melirik ke arah Marcell dari sudut matanya. Marcell pun melakukan hal yang sama. Keduanya tidak mengatakan apa-apa, tetapi tatapan singkat itu sudah cukup untuk menyampaikan kekhawatiran yang sama.

 

Jangan-jangan Sagara benar-benar melihat mereka semalam?

 

Pikiran itu membuat Juno semakin tidak tenang. Ia ingin segera membicarakannya dengan Marcell, tetapi keberadaan Sagara dan Keanu membuatnya tidak bisa berbuat banyak. Bahkan, untuk sekedar mengubah posisi tidur pun ia merasa harus berhati-hati agar tidak terlihat mencurigakan.

Tidak lama kemudian, Bang Jesse keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya dengan handuk. Uap hangat masih terlihat samar-samar keluar dari kamar mandi ketika ia membuka pintu. Wajahnya tampak lebih segar, meskipun matanya masih menyisakan sedikit kantuk.

Ia langsung memperhatikan keadaan kamar yang masih berantakan. Beberapa tas belum tertutup, pakaian berserakan di atas kasur, dan bungkus camilan memenuhi salah satu sudut ruangan. Jesse menghela napas kecil sebelum akhirnya memperingatkan yang lain agar segera bergantian mandi.

 

“Yang belum mandi, buruan. Jangan kelamaan, nanti kita keburu berangkat,” katanya sambil menunjuk ke arah kamar mandi.

 

Suaranya berhasil memecah keheningan yang sebelumnya menggantung di antara mereka. Sagara yang sejak tadi masih berusaha meyakinkan semua orang tentang apa yang dilihatnya segera bangkit dari kasur.

 

“Ya udah, gua mandi dulu,” ujarnya, masih sempat melirik curiga ke arah Juno dan Marcell.

 

Sagara berjalan menuju kamar mandi dengan langkah santai. Namun, sebelum benar-benar masuk, ia sempat berhenti di ambang pintu dan menoleh sekali lagi.

 

“Pokoknya gua nggak ngarang, ya,” katanya.

 

“Udah, mandi sana. Bau,” balas Keanu sambil melempar bungkus camilan kosong ke arahnya.

 

Marcell tertawa kecil, lalu Sagara masuk ke kamar mandi dan menutup pintu. Beberapa detik kemudian, suara keran air mulai terdengar. Suara itu perlahan menutupi percakapan kecil yang kembali muncul di dalam kamar.

Keanu, yang sejak tadi hanya sibuk bergelut dengan camilan, akhirnya berdiri. Ia memeriksa isi kantong plastik di tangannya, lalu menggeleng karena merasa jajanan yang dimilikinya masih kurang.

 

“Gua keluar bentar, ah. Mau beli beberapa jajanan lagi. Ada yang nitip?” tanyanya.

 

“Gua nitip minum ya, Nu” jawab Jesse sambil memasukkan beberapa barang ke dalam tas.

 

Jesse masih sibuk merapikan barang-barangnya. Ia melipat beberapa pakaian yang masih berserakan, memasukkan charger ke dalam tas, lalu memeriksa bagian bawah kasur untuk memastikan tidak ada barang miliknya yang tertinggal. Sesekali, ia menghela napas panjang karena menemukan benda-benda kecil yang entah bagaimana bisa terselip di tempat yang tidak seharusnya.

Sementara itu, Marcell dan Juno kembali bertukar pandangan canggung.

Juno merubah posisi nya menjadi duduk di tepi kasur dengan kedua tangan bertumpu di atas lutut. Wajahnya terlihat berusaha tenang, tetapi gerakan jarinya yang terus mengetuk-ngetuk di atas lengannya menunjukkan bahwa ia sedang gugup. Di sampingnya, Marcell berdiri mengemasi barangnya juga sambil memegang salah satu kaus yang belum sempat dimasukkan ke dalam tas. Kaus itu sudah berada di tangannya sejak beberapa saat lalu, tetapi ia belum juga memasukkannya.

Keduanya sama-sama ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada satu pun yang berani memulai.

Juno sempat membuka mulut, lalu mengurungkan niatnya. Marcell pun beberapa kali melirik ke arah Jesse, seolah sedang mencoba menebak apakah dia benar-benar mengetahui kejadian semalam juga.

Jesse yang sejak tadi membelakangi mereka tiba-tiba berhenti merapikan barang. Tangannya masih memegang sebuah jaket, tetapi gerakannya terhenti di tengah jalan. Ia menundukkan kepala sebentar, lalu tersenyum kecil seperti seseorang yang baru saja mengingat sesuatu.

 

“Gua tau kok kalian habis ngapain semalem,” ucap Jesse.

 

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi efeknya langsung membuat Marcell dan Juno membeku.

Juno yang semula menunduk perlahan mengangkat wajah. Matanya membesar, sementara Marcell hampir saja menjatuhkan kaus yang masih berada di tangannya. Keduanya menatap Jesse dengan ekspresi terkejut, seolah-olah baru saja mendengar sesuatu yang sama sekali tidak mereka duga.

 

“B-Bang, gua—eh, kita ga bermaksud yang aneh-aneh, loh sumpah,” ucap Marcell terbata-bata.

 

Juno langsung menoleh ke arah Marcell dengan tatapan panik. Ia ingin menyela, tetapi pikirannya terlalu penuh untuk menyusun alasan yang masuk akal. Semua pembelaan yang muncul di kepalanya terdengar semakin mencurigakan jika diucapkan keras-keras.

 

“Bang, itu bukan kayak yang abang pikirin,” tambah Juno cepat.

 

Jesse menoleh ke arah mereka. Wajahnya terlihat datar selama beberapa detik, membuat Marcell dan Juno semakin tegang. Namun, tak lama kemudian, Jesse justru tertawa kecil. Ia menggelengkan kepala sambil kembali melipat jaketnya.

 

“Udah, kalo sama gua aman aja. Asal tau tempat dong...” ujar Jesse santai.

 

Marcell dan Juno masih diam. Keduanya tampak belum sepenuhnya lega karena belum tahu ke mana arah pembicaraan Jesse.

 

“Gua semalem sempit banget sampe nempel tembok gara-gara lu, No,” keluh Jesse.

 

Juno langsung terdiam. Ia menatap tempat tidur yang semalam mereka gunakan, lalu perlahan mengingat kembali posisi tubuhnya. Saat itu, ia memang sempat merasa nyaman dan tidak terlalu memperhatikan keadaan sekitar. Ia hanya tahu bahwa dirinya berada di tempat yang hangat dan cukup nyaman untuk tidur. Namun, ia sama sekali tidak menyadari bahwa tubuhnya telah bergeser terlalu jauh hingga mengganggu posisi tidur Jesse.

Juno pun hanya bisa menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Gerakannya tampak canggung, seolah-olah ia sedang berusaha mencari cara untuk menghindari tatapan orang-orang di dalam kamar. Di sampingnya, Marcell juga melakukan hal yang sama. Wajahnya terlihat kaku, sementara matanya sesekali melirik ke arah Juno dengan panik.

Keduanya sama-sama tahu bahwa mereka tidak mungkin terus berpura-pura tidak mengerti. Namun, di saat yang sama, mereka juga belum siap jika rahasia kecil yang selama ini mereka simpan tiba-tiba terbongkar begitu saja di hadapan teman-teman mereka.

 

“Hehehe, maaf ya, Bang… gua nggak nyadar kalau sampai kayak gitu,” ucap Juno akhirnya.

 

Senyumnya terlihat dipaksakan. Ia bahkan sempat menundukkan kepala, berharap dengan begitu rasa gugup yang mulai memenuhi dadanya tidak terlalu terlihat. Namun, sikapnya justru membuat suasana semakin mencurigakan.

Marcell menoleh cepat ke arah Juno. Ada sedikit rasa kesal di matanya, seolah ingin menyuruh Juno berhenti bicara sebelum keadaan menjadi lebih buruk. Sayangnya, semuanya sudah terlambat.

 

“Lagian kalian aneh banget… status belum jelas kok udah berani kelonan aja?”

 

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Jesse.

 

Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun yang bergerak.

 

Juno membeku di tempat. Matanya membulat, sementara mulutnya sedikit terbuka karena terlalu terkejut. Marcell pun tidak kalah kaget. Wajahnya yang semula hanya terlihat gugup kini berubah menjadi panik. Ia menatap Jesse seolah baru saja mendengar sesuatu yang sama sekali tidak seharusnya diucapkan dengan suara keras.

Marcell menelan ludah dengan susah payah. Tangannya yang semula berada di sisi tubuh perlahan mengepal, bukan karena marah, melainkan karena gugup. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa Jesse salah paham, tetapi tidak ada satupun alasan yang terdengar masuk akal di kepalanya.

Sementara itu, Jesse tampak santai setelah mengucapkan kalimat tersebut. Ia bahkan tidak menyadari bahwa perkataannya baru saja membuat dua orang di depannya hampir kehilangan kemampuan untuk berbicara.

Keanu yang baru saja kembali membeli camilan berhenti tepat di ambang pintu. Di tangannya terdapat beberapa bungkus makanan, tetapi semuanya hampir terlepas ketika ia mendengar ucapan Jesse. Pada saat yang hampir bersamaan, Sagara juga baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya dengan handuk kecil.

 

Keduanya sontak menoleh ke arah Jesse.

 

“HAH? KELONAN?”

 

The End :p

Notes:

hi... (bermaksud menyapa) sy kembali mmbawa #marcelljuno lagi yang katanya sebelumnya oneshot doang ternyata #boong aowkaowk (me when i lie :p) anyways hope you guys like it and feedbacks would be appreciated in the comments!

hit me up on x @818eds

with love,
lily.

Series this work belongs to: