Actions

Work Header

penawar bara dalam riuh yang sunyi

Summary:

tetaplah di sisiku meski dunia terus bergemuruh menolak rasa cinta yang kita miliki ya, sayang.

Notes:

ed as marcell
jju as juno

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Gemuruh kericuhan siswa terdengar dari lapangan basket sekolah setelah diketahui adanya insiden perkelahian antar siswa. Tidak sedikit siswa yang mencoba melerai, tetapi lebih banyak yang justru menyoraki dan memanas-manasi perkelahian tersebut.

Beberapa kali pukulan mendarat keras di wajah salah satu siswa. Sebelum situasi semakin parah, seorang guru segera menarik salah satu siswa untuk menjauhkannya dari pusat perkelahian. Beberapa guru lainnya menyusul untuk mengamankan keadaan, membubarkan kerumunan siswa, dan mensterilkan area lapangan. Kedua siswa yang terlibat kemudian segera diarahkan menuju UKS untuk mendapatkan pertolongan. Salah satunya mengalami pembengkakan dan memar pada pipi, sementara bagian alis dan dagunya mengalami luka hingga mengeluarkan darah.

Juno, yang kebetulan sedang berjaga di UKS sebagai sukarelawan Palang Merah Remaja pada hari itu, sontak dibuat kaget oleh kedatangan beberapa guru bersama kedua siswa tersebut. Namun, keterkejutannya berubah menjadi kepanikan ketika menyadari bahwa salah satu siswa yang dibopong oleh guru adalah Marcell.

Melihat Marcell yang sudah babak belur dan terkulai lemas di atas ranjang UKS yang ringkih membuat Juno semakin kalang kabut. Entah apa yang ada di kepala Marcell sampai-sampai ia nekat terlibat perkelahian di sekolah. Sementara siswa yang terlibat perkelahian dengannya dibawa ke ruang guru untuk dimintai keterangan, Marcell tetap berada di UKS untuk mendapatkan perawatan sementara.

“Marcell? Kamu kenapa sampai babak belur begini?” tanya Juno, khawatir bukan main. Tangannya perlahan mengelus sisi wajah Marcell yang sudah membengkak.

“Aku... tadi berantem sama anak kelas sebelah...” jawab Marcell lirih. Ia berusaha menahan rasa nyeri yang kembali terasa di pipinya setiap kali mengeluarkan suara.

“Ngapain? Lagian aneh-aneh aja, nyari ribut di sekolah,” ujar Juno kesal sembari mengambil kotak P3K di sampingnya. Ia mulai mencari kain kasa dan botol Betadine untuk membersihkan luka-luka di wajah Marcell.

“Dia duluan tadi yang ngajak ribut, Juno. Aku nggak terima dikata-katain, apalagi dia juga—”

Marcell tiba-tiba menghentikan kalimatnya.

“Apa, Cell...?” tanya Juno sembari menatap netra Marcell yang masih sekilas merah akan amarah, menunggu kelanjutan ucapannya.

“Dia... juga ngata-ngatain kamu.” Marcell menarik napas pelan sebelum melanjutkan. “Jadi aku nggak terima. Aku ajak berantem dia.”

Tatapan Marcell perlahan turun, seolah merasa bersalah melihat Juno yang kini harus mengkhawatirkannya.

“Maaf ya, Juno,” ucapnya lirih.

Tangannya kemudian meraih pergelangan tangan Juno dan mengelusnya perlahan, lembut, seolah ingin menenangkan Juno meskipun dirinya sendiri masih menahan rasa sakit.

Juno mengalihkan pandangannya, berusaha untuk tidak menatap wajah Marcell untuk sesaat. Pengakuan itu membuat dadanya terasa sesak. Bukan hanya karena khawatir, tetapi juga karena sedih mengetahui Marcell sampai harus terlibat perkelahian hanya karena membelanya.

Belakangan ini, Juno memang semakin sering dijadikan bahan ejekan oleh beberapa siswa. Ia bahkan tak jarang dipermalukan setiap kali berada di area publik sekolah, terutama sejak kedekatannya dengan Marcell mulai menjadi perhatian banyak orang. Berbagai perkataan buruk mulai bermunculan. Ada yang menganggap keberadaan mereka sebagai ancaman bagi lingkungan sekolah, seolah kedekatan keduanya dapat membawa pengaruh buruk dan menyebarkan pandangan yang tidak mereka setujui tentang ketertarikan terhadap sesama jenis.

Bagi Juno, semua itu sudah cukup melelahkan. Ia dan Marcell berkali-kali menjadi sasaran cemoohan hanya karena memilih untuk tetap dekat satu sama lain. Mereka dipaksa berhadapan dengan kebencian dari orang-orang yang merasa memiliki hak untuk menghakimi hanya karena perbedaan yang mereka lihat sebagai sesuatu yang salah.

Dan yang paling membuat Juno sedih adalah kenyataan bahwa Marcell sampai rela menerima pukulan demi dirinya.

 

“Cell...” panggil Juno lirih sebelum kembali menatap wajah Marcell.

 

“Mungkin untuk sekarang kamu boleh marah. Kamu juga berhak nggak terima sama apa yang mereka bilang tentang kita.” Juno menarik napas sejenak, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. “Tapi tolong, jangan sampai amarahmu bikin kamu jadi sama seperti mereka, Cell. Kita nggak akan menyelesaikan apa-apa kalau terus melawan dengan cara yang sama. Yang ada, kita malah semakin jadi sasaran mereka.”

“Masalahnya, itu nggak adil, Juno.” Marcell mengubah posisinya menjadi duduk, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding UKS. Nada suaranya mulai meninggi, emosinya perlahan tak lagi bisa ia sembunyikan. “Mau sampai kapan kita harus sembunyi-sembunyi kayak gini?” tanyanya. Tatapannya tampak gelisah, seolah ia sendiri sudah lelah dengan keadaan yang terus memaksa mereka untuk berhati-hati.

Juno terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab. “Memang nggak ada waktu yang pasti, Marcell...” ucapnya pelan.

Juno menundukkan pandangan, lalu menghela nafas panjang.

“Karena kita hidup di negara yang belum sepenuhnya bisa menerima rasa sayang kita seperti mereka yang dianggap ‘normal’, Marcell.”

Marcell semakin menundukkan kepalanya dan menghela nafas panjang. Dadanya terasa semakin sesak setiap kali mengingat kenyataan yang baru saja disampaikan Juno. Dunia seolah begitu kejam kepada mereka, hanya karena keduanya ingin merasakan dan membagikan perasaan yang sama seperti orang lain.

Ironisnya, sesuatu yang bagi mereka terasa begitu sederhana dan manusiawi justru dianggap sebagai ancaman oleh sebagian orang. Perasaan yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan malah menjadi alasan bagi mereka untuk menerima cemoohan, kebencian, bahkan doa-doa buruk agar hidup mereka semakin sengsara dan kelak mendapatkan hukuman di tempat yang dianggap paling mengerikan.

“Tapi untuk sekarang—” Juno kembali melanjutkan kalimatnya sembari mengangkat wajah Marcell. Tangannya mendorong pelan dagu Marcell ke atas agar pemuda itu kembali menatapnya. “—biar aku sembuhin dulu luka dan amarah kamu, oke?” sambungnya, sebelum kembali membersihkan luka di dagu dan pelipis Marcell.

Tak sekali dua kali Marcell menahan rasa perih hingga meringis setiap kali kapas yang telah dibasahi Betadine menyentuh luka di wajahnya. Juno hanya bisa berkali-kali berbisik, “Tahan...” untuk menenangkan Marcell.

Setelah selesai membersihkan seluruh luka, Juno menempelkan beberapa potong kain kasa yang telah dibasahi Betadine pada bagian wajah Marcell yang membutuhkan perawatan. Luka-luka yang sebelumnya masih terlihat cukup jelas kini sudah tertutup dengan rapi, membuat wajah Marcell perlahan tampak lebih bersih.

“Sudah selesai.” Juno meletakkan kembali peralatan P3K yang telah digunakannya, lalu merapikannya seperti semula. Setelah itu, ia kembali menatap Marcell.

“Jadi kelihatan deh wajah ganteng Marcell yang sebenarnya,” godanya sembari merapikan poni Marcell yang berantakan agar kembali tertata. Marcell hanya mampu membalasnya dengan senyum tipis.

Juno hendak beranjak untuk mengembalikan kotak P3K ke tempatnya, tetapi tiba-tiba tangannya ditahan oleh Marcell.

“Kenapa, Cell?” tanya Juno sembari menoleh. “Aku mau naruh kotak ini di lemari.”

“Jangan kemana-mana dulu...” pinta Marcell lirih.

Juno akhirnya mengurungkan niatnya. Ia meletakkan kotak P3K tersebut di atas nakas di samping ranjang, lalu kembali duduk di samping ranjang Marcell.

“Emangnya kamu mau apa lagi, Marcell?” tanyanya lembut.

“Tadi... katanya mau nyembuhin luka sama... amarahku, kan?” tanya Marcell.

Juno mengernyit bingung. “Iya, betul. Kan lukanya udah aku obatin.” Ia menunjuk beberapa bagian wajah Marcell yang kini sudah tertutup perban.

Seketika, tangan Juno diraih oleh Marcell. Ia menariknya perlahan mendekat ke wajahnya.

“Kalau yang ini...” Marcell berhenti sejenak, lalu mengarahkan telunjuk Juno ke bibirnya. “...belum kamu sembuhin.”

Juno sontak terkejut. “Emang bibir kamu juga kena, Cell?” tanyanya polos. Ia mendekat untuk memperhatikan sudut bibir Marcell. “Keliatannya oke-oke  aja. Nggak ada luka kok.”

Melihat jarak Juno yang semakin dekat, Marcell makin menarik pergelangan tangan Juno. Jarak di antara mereka kian menipis sampai-sampai Juno bisa merasakan hembusan nafas Marcell.

Marcell melepas pergelangan tangan Juno lalu menangkup wajahnya, hingga akhirnya bibir mereka bertemu. Marcell memejamkan mata, sementara Juno membalasnya tanpa terburu-buru seolah keduanya ingin menghentikan waktu untuk beberapa saat. Berawal dari kecupan singkat beruntun, pagutan itu perlahan berubah menjadi lumatan-lumatan beritme lembut. Suara kecupan halus menggema di ruangan UKS, diiringi harapan samar agar tak ada satu orang pun yang memergoki mereka.

Juno menarik wajahnya mundur perlahan, lalu membuka matanya pelan sembari mengatur napas. Jarak mereka masih teramat dekat. Marcell hanya tersenyum tipis melihat raut wajah Juno yang sudah memerah bagaikan udang rebus.

“Maaf ya, jadi lancang, Sayang,” ucap Marcell sambil mengusap lembut pipi Juno.

Juno terkekeh pelan. “Ada-ada aja deh modusmu itu, Cell,” ucap Juno, lalu membalasnya dengan kecupan singkat di pucuk hidung tegas Marcell.

Perlakuan manis Juno sukses membuat Marcell makin salah tingkah. Tanpa ragu, ia segera merengkuh Juno ke dalam pelukannya dan sesekali kembali mencuri kecupan di bibir manis itu.

“Sekarang gimana? Udah sembuh, Cell?” tanya Juno sambil menikmati rengkuhan singkat Marcell.

“Sudah, Sayang. Bibir aku jadi nggak sakit lagi,” jawab Marcell dengan nada menggoda dan seringai tipis di wajahnya.

Juno kembali terkekeh mendengar jawaban Marcell. Untuk sesaat, rasanya dunia berhenti berputar. Keduanya hanya menikmati waktu berdua di ruangan UKS yang tenang, ditemani cahaya matahari sore yang menyelinap melalui jendela dan hembusan angin yang perlahan masuk ke dalam ruangan.

“Janji jangan bikin ribut lagi, ya, Cell,” ucap Juno.

Marcell terdiam sejenak sebelum menjawab singkat, “Nggak janji.”

Juno langsung menoleh ke arahnya dengan wajah bingung. “Hah?”

Marcell hanya tersenyum tipis. Tangannya kembali terangkat untuk mengusap wajah Juno dengan lembut.

“…kalau kamu belum panggil aku ‘Sayang’,” lanjutnya santai.

Juno terkekeh pelan sembari membuang pandangannya singkat. “Janji jangan bikin keributan lagi, ya, Sayang-ku Marcell,” ucapnya, lalu mencolek hidung Marcell dengan gemas.

Marcell kembali tersenyum. “Iya, Sayang. Aku janji.”

Ia kemudian mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Juno, mengunci janji sederhana itu di antara mereka.

“Kalau seterusnya sama aku, janji nggak?” tanya Juno.

Marcell tersenyum tipis, “I’ll keep that promise until the day I die, Cantik-ku.”

 

The End.



Notes:

HELAUUUR SEMUANYAA SAYA #KEMBALI MEMPERSEMBAHKAN #MARCELLJUNO LAGI (udh ditagih mulu sy mngaku tertekan #canda) anyways hope you guys like it and feedbacks would be appreciated in the comments!

hit me up on x @818eds

with love,
lily.

Series this work belongs to: