Actions

Work Header

I Love Your Attention

Summary:

Lima macam cerita dimana Caelus memberikan semua perhatian dan kasih sayangnya kepada Dan Heng meskipun tak pernah dibalas langsung olehnya. Dan satu kali Caelus tak memberikannya perhatian justru membuat Dan Heng bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apakah Caelus sudah lelah? Ataukah ini semua karena ada sesuatu yang salah dari Dan Heng?

Notes:

Cerita 5+1 tentang lima kali Caelus memberikan segala perhatiannya untuk Dan Heng dan satu kali dia tak melakukan itu semua. Giliran Caelus berhenti memberikannya perhatian, di situlah Dan Heng merasa ada sesuatu yang salah.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Caelus itu orangnya manja. Dia suka sekali menggelendot orang-orang yang disukainya seperti sahabatnya March, kembarannya Stelle, dan apalagi pacarnya sendiri yaitu Dan Heng. Dia itu tipe yang suka memberikan afeksi kepada orang lain dengan memberikan mereka sentuhan seperti pegangan tangan, merangkul bahu, menyuapkan makanan, dan sebagainya. Bagi mereka itu ciri khas yang melekat pada Caelus. 

 

Dan Heng yang notabene pacarnya sendiri pun sering menjadi sasaran empuk tempat menggelendot Caelus. Dimana pun tempatnya dan kapan pun waktunya, Caelus tanpa disadari pasti suka melekat pada Dan Heng bagaikan roti dan mentega. Orang-orang sampai bertanya-tanya kenapa Dan Heng bisa-bisanya tahan ditempeli begitu terus menerus. Apakah dia nggak risih?



 





 

 

1.

Siang itu keadaan perpustakaan sedang ramai-ramainya oleh mahasiswa yang sedang mempersiapkan ujian semester. Perpustakaan yang hari-hari biasanya lebih sepi, mendadak menjadi sangat ramai akibat banyak mahasiswa yang belajar di sini. 

 

Di sudut ruangan dekat rak-rak besar, Dan Heng duduk di depan laptopnya dengan pandangan yang sangat fokus. Dia tidak sendirian di sana. Di seberangnya ada Stelle dan March yang sedang berdiskusi tentang materi mereka dengan berbisik-bisik. Di sebelah kiri Dan Heng ada Sunday yang terlihat menulis sesuatu di buku catatannya dengan alis berkerut dalam. Sepertinya dia sedang membuat ringkasan materi kuliahnya untuk ujian nanti. Semuanya terlihat sangat fokus dengan pekerjaan masing-masing sampai—

 

“HAI SEMUANYAA!!” 

 

Suara seruan laki-laki membuyarkan fokus mereka. Bahkan sampai mengejutkan meja lainnya di sekitar mereka. Stelle melihat kembarannya itu muncul tiba-tiba dari arah belakang Dan Heng pun langsung memelototinya tajam. 

 

“Sstt! Jangan berisik!” serunya setengah berbisik. 

 

Caelus hanya terkekeh pelan. “Ehehe… maaf maaf.” Seusai mengucapkan itu bukannya duduk di kursi kosong di sebelah Dan Heng, dia malah memilih berdiri di belakang pacarnya itu lalu melingkarkan lengannya ke bahu Dan Heng dari belakang. 

 

“Belajar apa tuh? Serius amat.” ucapnya sambil menyandarkan dagunya ke bahu Dan Heng. 

 

“Oh, aku cuma mengecek sebentar proposal penelitianku.” balasnya singkat tanpa menolehkan pandangannya dari layar laptopnya. “Ujianmu sudah selesai, Cae?” 

 

Caelus mengangguk-angguk di bahu Dan Heng. Dia malah semakin mengeratkan pelukannya di leher Dan Heng. 

 

“Susah ujiannya?” tanya Dan Heng lagi. 

 

“Susaaah! Makanya aku capek banget!” sahut Caelus sambil memanyunkan bibirnya. 

 

Dan Heng tersenyum kecil. “Makanya kamu jangan kebanyakan main game mulu.” 

 

Mendengar itu Caelus semakin memanyunkan bibirnya. Dia merengek-rengek di bahu Dan Heng sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dan Heng. 

 

“Eeww… kalian berdua! Get a room, please! Kita sedang belajar di sini!” seru March tiba-tiba. 

 

“Memangnya kenapa? Kamu sama Stelle juga emangnya lagi belajar tuh?” kata Caelus dengan muka songongnya. 

 

“Stelle lagi ngajarin aku materi yang nggak aku pahami ya!” sahut March lagi. “Iya kan, Stelle?” 

 

“Iya tuh! Nggak kayak kamu, Cae, malah gelendotin Dan Heng tiba-tiba begitu.” kali ini Stelle ikut menyahut. 

 

“Iihh emang kenapa sih?! Aku kan kangen sama Dan Heng!” Setelah mengucapkan itu, Caelus menempelkan pipinya ke Dan Heng dan memeluknya dengan gemas. Sedangkan Dan Heng terlihat tak bergeming. Matanya masih fokus melihat ke arah layar laptopnya seolah tak terganggu dengan perdebatan teman-temannya itu.

 

“Hei, jangan ribut-ribut. Kita lagi di perpustakaan loh. Nanti kita malah diusir sama penjaganya.” Kata Sunday setelah dia cukup lama berdiam diri. 

 

Mereka pikir Sunday hanya menggertak saja. Namun pemuda bersurai biru pastel itu menunjuk ke arah depan. Di sana sang penjaga perpustakaan yang merupakan seorang wanita tua ternyata sedang melotot tajam ke arah meja mereka. Terutama ke arah Caelus dan Dan Heng. 

 

Caelus mengangguk-angguk kepada petugas itu dengan cengiran di wajahnya. Kemudian dia melepas pelukannya di leher Dan Heng dan memutuskan untuk duduk di kursi kosong di sebelah kanan Dan Heng. 




 

 

2.

Ketika dia sampai ke dalam kafetaria, matanya segera bergulir ke sana kemari mencari sosok rambut abu-abu itu. Kafetaria terlihat sangat ramai. Hampir semua kursi sudah terisi penuh oleh mahasiswa-mahasiswa yang ingin makan siang di sini.

 

“Dan Heeenggg!!” 

 

Dia mendengar suara pacarnya memanggil di kejauhan. Ketika dia memicingkan matanya ke bangku panjang dekat jendela, dia melihat Caelus melambai-lambaikan tangannya tinggi-tinggi. Dan Heng pun segera bergegas jalan ke meja itu. Ternyata di sana sudah ada Caelus dan kedua teman perempuannya yaitu Guinaifen dan Sushang.

 

“Baru selesai kelas ya?” tanya Caelus begitu Dan Heng mengambil tempat di sebelahnya. “Hari ini kafetaria padat banget. Untung Gui dan Sushang mau memberi kita tempat.”

 

“Hm.” balas Dan Heng singkat. “Kamu juga baru selesai kelas?”

 

“Sudah dari tadi pagi malah.”

 

“Terus kamu ngapain aja di sini sampai jam segini?”

 

Caelus menumpukan dagunya dengan tangannya di atas meja. Bibirnya tampak manyun ke depan. “Bosan tahu di apartemen mulu! Stelle seharian ini kelas terus dari pagi sampai sore nanti. Aku ada kelas lagi nanti jam 2. Jadi mending di sini aja sekalian cari makan siang.”

 

Dan Heng hanya mengangguk-angguk mendengar alasan Caelus itu. 

 

“Tadi kita lihat dia keluyuran nggak jelas di kampus. Jadinya aku dan Sushang ajakin aja buat streaming video terbaruku.” sahut Guinaifen. 

 

“Emang kalian streaming apa lagi kali ini?”

 

“Nggak tahu tuh. Katanya mau bikin konten di area kampus aja gitu.” tukas Caelus.

 

“Kalau mau besok kamu boleh ikutan kita bikin konten loh, Dan Heng.” kata Sushang sambil melirik jahil ke arah Caelus. “Siapa tahu view kami naik drastis kalau ada pasangan paling fenomenal di kampus kita.”

 

“Nggak deh. Makasih! Dan Heng dan aku nggak mau numpang tenar di video orang.” cibir Caelus.

 

“Dih, sombongnya!” kata Guinaifen. Yang mana itu disambut gelak tawa oleh Sushang. Dan Heng yang di sebelah Caelus diam-diam terkekeh. 

 

Mereka pun mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Guinaifen dan Sushang sedang berdiskusi sambil mengedit video di laptop Guinaifen, Caelus sedang bermain game di ponselnya, dan Dan Heng yang kembali mengerjakan tugas kuliahnya itu. Semuanya tampak sibuk sendiri-sendiri sampai Caelus tiba-tiba bersuara.

 

“Kalian lapar nggak sih? Aku sudah lapar banget nih!”

 

“Aku dan Sushang mau makan di luar sih nanti. Kita cuma beli camilan di sini.”

 

Caelus mendengus pelan. Tiba-tiba binar wajahnya berubah menjadi cerah. Dia teringat dengan sekotak cheesecake yang dia beli di salah satu stand makanan di sini. 

 

“Aku beli ini loh tadi!” serunya dengan riang sambil menunjukkan cheesecake itu ke Dan Heng. “Dan Heng mau?”

 

“Buat kamu saja. Itu kan punyamu.” 

 

“Nggak apa-apa! Aku suapin ya!” ucap Caelus. Dia mengeluarkan sendok yang tadi dipakainya, lalu menyendok cheesecake-nya. Setelah itu sendoknya dia arahkan ke depan wajah Dan Heng. “Ayo buka mulutnya! Aaaa~”

 

Dan Heng menatap suapan itu dan Caelus bergantian untuk beberapa detik. Caelus terlihat kukuh ingin menyuapi Dan Heng sendiri. Melihat binar di wajah Caelus itu, Dan Heng pun akhirnya menyerah dan menerima suapan cheesecake itu ke dalam mulutnya.

 

“Enak kan?” 

 

Dan Heng mengangguk kecil.

 

Caelus kembali memberikan suapan kedua, ketiga, dan seterusnya kepada Dan Heng selagi pacarnya itu masih mengetikkan sesuatu di laptopnya. Sementara itu, Guinaifen dan Sushang diam-diam terus memerhatikan interaksi manis kedua sejoli itu. 

 

“Aduh… manis banget disuapin deh!” sahut Sushang. 

 

“Iya! Jadi mau deh!” kata Guinaifen menambahkan.

 

“Hush hush… kalau kalian makan sendiri saja deh!” kata Caelus sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Guinaifen dan Sushang pun mencibir bersamaan. 




 

 

3.

Dan Heng sudah menunggu di tangga kampus sejak tiga puluh menit yang lalu. Sore ini dia berencana pulang bersama Caelus. Tapi pacarnya itu mendadak bilang ada urusan sebentar dengan dosennya sehingga Dan Heng harus menunggu agak lama di sana.

 

Dia sedang menggulir layar ponselnya ketika merasakan pelukan erat dari belakangnya. Ketika dia menoleh, dia melihat Caelus menyengir ke arahnya. 

 

“Sudah lama nunggu aku ya?” tanya Caelus sambil melepas rangkulannya dan berdiri di sebelah Dan Heng. 

 

“Um… nggak juga kok.” balasnya sambil memasukkan kembali ponselnya ke saku jaketnya. “Urusanmu sudah selesai?”

 

Caelus mengangguk semangat. “Fiyuuh… aku kira aku bakal kena masalah. Ternyata dosenku cuma ingin mengoreksi nilaiku yang salah kemarin.”

 

Dan Heng hanya tersenyum kecil mendengar itu. Dia tahu kalau lelaki bersurai abu-abu ini kadang suka membuat masalah di kelas. Caelus bukan anak nakal kok. Dia hanya punya sifat yang agak nyentrik dibanding teman-temannya yang lain.

 

“Kalau begitu mau pulang sekarang?” tanya Dan Heng.

 

“Ayo!” seru Caelus.

 

Saat Dan Heng hendak berjalan menuruni tangga, tiba-tiba dia merasakan tangan kirinya diraih. Dia melirik ke bawah dan melihat tangannya yang digenggam erat oleh Caelus. Pandangannya pun terangkat ke wajah Caelus yang tersenyum lebar itu.

 

“Kamu mau dengerin ceritaku nggak pas di kelas tadi?” kata Caelus, mengabaikan tatapan bengong Dan Heng itu dari tangannya. 

 

“Hm. Silakan.” balasnya kalem. 

 

Setelah itu Caelus mulai menceritakan hal-hal yang terjadi ketika di kelas tadi. Dia bercerita dengan semangatnya seperti seorang stand up comedian yang menceritakan cerita-cerita lucu kepada audiensnya. Tak lupa tangannya yang mengayun-ayunkan tangan Dan Heng digenggamannya sampai Dan Heng tersentak beberapa kali ke sana kemari.

 

Namun Dan Heng tak protes sama sekali. Dia hanya mendengarkan semua cerita Caelus itu dan sesekali membalasnya dengan kalem. 




 

 

4.

Suara sorak-sorak pendukung terdengar di sepenjuru gedung olahraga itu. Terdengar bunyi genderang drum dan teriakan para penonton dari arah tribun. Di bawah sana dua tim basket sedang bertanding dengan sengitnya memperebutkan poin.

 

Caelus pun tak kalah semangatnya meneriakkan nama kekasihnya itu bersama Stelle dan March. Sementara itu Sunday hanya menggerak-gerakkan stick pom-pomnya dengan semangat tanpa ikut berteriak seperti teman-temannya.

 

“DAN HENG!! DAN HENG!! DAN HENG!!” seru Caelus tanpa memedulikan suaranya bakal serak atau tidak nantinya.

 

Hari ini merupakan pertandingan basket antar jurusan untuk memeriahkan acara festival kampus. Setiap jurusan akan mengirimkan perwakilan tim untuk saling bertanding dalam beberapa cabang olahraga dan Dan Heng merupakan salah satu perwakilan yang dikirimkan oleh teman-teman jurusannya dalam acara ini. 

 

Caelus berteriak keras-keras di tribun tempat teman-teman sejurusan Dan Heng itu. Tak hanya dia yang meneriakkan nama Dan Heng di sana. Beberapa penggemar Dan Heng pun turut memberikan semangat mereka kepada pujaan hati mereka yang sedang bertanding dengan sengit di sana.

 

Pertandingan pun sebentar lagi berakhir. Poin kedua tim ternyata seimbang. Hanya salah satu tim yang akan menjadi juara setelah diadakannya waktu tambahan. Kedua tim itu bertanding semakin sengit, begitu pula dengan sorakan-sorakan penonton yang semakin memanas.

 

Kemudian sorakan itu berubah menjadi semakin keras lagi tatkala Dan Heng berhasil melakukan three-point shot dengan mulusnya. Tembakan bolanya akhirnya berhasil membawa timnya menjadi pemenang di pertandingan ini.

 

“DAN HENG KAMU KEREN BANGEEETTT!!!” seru Caelus keras-keras, berharap pacarnya itu mendengarnya. 

 

Di bawah sana Dan Heng mendapat pelukan dan tepukan di punggungnya dari timnya. Mereka berselebrasi dengan riangnya di sana. Setelah itu Dan Heng memandang ke arah tribun. Dia mengedarkan pandangannya ke sana mencari sosok rambut abu-abu di sana. Ketika dia melihat Caelus yang berdiri sambil melambai-lambaikan pom-pomnya dengan semangat, senyum terpancar di wajahnya. Dia pun ikut membalas lambaian tangan Caelus.

 

Caelus segera pergi turun dari tribun menuju tempat Dan Heng berada di sana–diikuti oleh Stelle, March, dan Sunday. Dan Heng masih berbincang-bincang dengan timnya di sana, ketika tiba-tiba Caelus menubrukkan tubuhnya dari belakang dengan pelukan erat.

 

“Eh, Cae–”

 

“SELAMAT YA, DAN HENG!!” seru Caelus.

 

Tiba-tiba dia menempelkan bibirnya ke pipi Dan Heng dalam-dalam. Hal itu membuat Dan Heng seketika terdiam dan mematung di tempatnya dengan kaku. 

 

“Iihh! Caelus jorok! Dan Heng masih keringetan gitu tahu!” seru March dengan raut seperti menahan rasa jijik di wajahnya. 

 

“Suka suka aku dong! Wleee!” sahut Caelus sambil menjulurkan lidahnya ke arah March. 

 

Dan Heng masih berdiri kaku di tempatnya dengan Caelus yang bergelayut manja di bahunya. Anggota tim Dan Heng di hadapannya bersiul-siul keras menggodai kedua sejoli itu. Mendengar godaan-godaan itu lantas membuat wajah Dan Heng merona tipis. 

 

Caelus bukannya merasa malu atau kapok, dia malah kembali mencium pipi Dan Heng dalam-dalam. “Tadi kamu keren banget loh! Aku dan yang lainnya teriak-teriak namamu terus!”

 

“Oh… um…” gumam Dan Heng tak tahu harus merespon apa. Dia menarik napasnya guna mengontrol ritme jantungnya yang berdegup sangat kencang. “M-Makasih…”

 

“Kalau begitu ayo kita rayakan kemenangan Dan Heng nanti dengan makan-makan enak. Setuju?!” seru Stelle. Kemudian disetujui oleh March, Caelus, dan Sunday dengan sorakan keras.



 

 

 

5.

Hampir semua mahasiswa di ruang kuliah itu sudah meninggalkan ruangan begitu dosen mengakhiri kuliah. Namun pemuda berambut hitam itu masih memilih untuk tinggal lebih lama karena harus mencatat tulisan-tulisan di papan tulis depan sana. 

 

“Dan Heng.”

 

Pandangannya seketika terangkat begitu mendengar suara Caelus yang tak jauh di depannya. Terlihat Caelus yang sedang berjalan menaiki tangga menuju kursi Dan Heng yang posisinya agak di atas. 

 

“Loh, kamu kenapa malah ke sini?” tanya Dan Heng.

 

Caelus mendudukkan dirinya di kursi kosong sebelah Dan Heng. Dia melirik sejenak ke buku catatan di depan Dan Heng, lalu menatap kekasihnya itu. Ketika tatapan keduanya bertemu, entah mengapa Dan Heng seperti melihat ada guratan sendu di wajahnya.

 

“Memangnya aku nggak boleh menghampiri pacarku sendiri?” kini Caelus malah balas bertanya.

 

“Oh. Boleh sih…”

 

Tiba-tiba Caelus menyandarkan kepalanya ke bahu Dan Heng. Dan Heng melihat Caelus yang seperti kelelahan itu pun membiarkan pacarnya beristirahat di bahunya itu. Tak tahu kenapa tapi Dan Heng merasa seperti ada sesuatu yang salah dengan Caelus saat ini.

 

“Kamu… ada masalah kah?” 

 

Terdengar helaan napas berat dari pemuda bersurai abu-abu itu. Dia terdiam sejenak sebelum menjawab dengan suara pelan.

 

“Um… nggak ada apa-apa sih. Tadi aku sempat diomelin sama Profesor Anaxa.”

 

Dan Heng masih kukuh menatap Caelus itu. Catatannya terbengkalai di depannya dan dia tidak peduli lagi kalau tulisan-tulisan di papan tulis depan sana mendadak dihapus oleh dosennya tadi. 

 

Dia merasa masalah Caelus tidak sesimpel itu. Dia terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi Dan Heng tak bisa memaksa Caelus bercerita karena dia tidak terbiasa memaksa orang lain berbicara. Meskipun begitu, dia tetap merasa khawatir dengan keadaan Caelus.

 

Akhirnya dia biarkan Caelus tidur sebentar di bahunya. Sambil menyelesaikan kembali catatannya, sesekali Dan Heng akan membetulkan posisi bahunya agar Caelus merasa lebih nyaman bersandar di sana. 




 

 


 

 

 

 

 

+1

Dan Heng merasa ada yang aneh dengan Caelus sejak kemarin. Sudah tiga hari ini dia merasa Caelus seperti menjauhinya. Tidak, bukan dalam artian dia tidak ingin bertemu dengan Dan Heng. Dia dan Dan Heng masih bertemu setiap harinya seperti hari-hari biasanya. Tapi sudah tiga hari ini dia merasa ada yang berbeda.

 

Dia merasa Caelus seperti sedang menahan dirinya. Tidak ada rangkulan, pelukan, ciuman, dan gandengan tangan seperti hari-hari biasanya. 

 

Misalnya seperti saat ini. Ketika Dan Heng dan ketiga temannya yang lain duduk di perpustakaan. Caelus biasanya datang paling akhir karena harus melakukan sesuatu. Tapi hari ini ketika dia datang, dia berjalan biasa saja ke meja mereka dan menyapa mereka dengan sapaan biasa. Stelle dan March terlihat tak masalah dengan itu, begitu pula dengan Sunday yang sedang fokus dengan tugas kuliahnya. Tapi tidak dengan Dan Heng. 

 

Biasanya Caelus akan datang dengan menerjangnya dari belakang dengan pelukan erat. Tapi hari ini Caelus muncul dengan normalnya dan sapaan yang ceria. Hanya saja kebiasaan unik Caelus itu tidak muncul hari ini. 

 

Caelus yang merasa dirinya ditatap intens oleh Dan Heng pun menoleh. Dan Heng menatap lekat-lekat ke arahnya dengan tatapan sulit diartikan. 

 

“Um… Dan Heng? Ada apa nih?” tanya Caelus. 

 

Dan Heng berkedip-kedip sejenak. Mulutnya hendak mengatakan sesuatu tapi tak keluar kata-kata apa pun. 

 

“O-Oh, nggak apa-apa.” tukasnya. “Gimana kelasmu hari ini?”

 

“Aku diomelin sama Profesor Anaxa lagi!” sahutnya dengan bibir manyun ke depan.

 

“Tuh kan! Kamu manggilnya aja nggak benar begitu, ya jelas diomelin lah!” kata Stelle.

 

Caelus menatap kesal ke arah saudari kembarnya itu. Kemudian dia menangkupkan kepalanya ke lipatan tangannya di atas meja. 

 

“Aku capek banget…” keluhnya dengan suara teredam di lipatan lengannya.

 

“Kamu istirahat dulu aja kalau begitu, Cae.” ucap Sunday. 

 

Dan Heng masih memandangi pacarnya itu. Ucapan Caelus tidak terdengar janggal sama sekali. Sudah biasa mereka mendengar Caelus mengeluh capek seperti itu.

 

Namun gerak geriknya tak luput dari pandangan Dan Heng. Dia tetap merasa seperti ada sesuatu yang tidak beres dengan pacarnya itu.




 

 

Kejanggalan itu tidak berhenti sampai di situ. Ketika mereka berlima memutuskan untuk pergi ke kafetaria untuk makan dan menikmati makanan masing-masing, di situ Dan Heng kembali merasa adanya keanehan.

 

Di depannya Caelus sedang menikmati sekotak kue coklat dengan tenangnya. Biasanya Caelus suka menawari Dan Heng makanannya sendiri karena Caelus suka sekali menyuapi dirinya. Namun hari ini (dan sejak kemarin) Caelus tak menawarkan makanan apa pun kepadanya. Dia nikmati sendiri kue coklat itu sendirian. 

 

“Umm… Caelus?” panggil Dan Heng. 

 

Caelus mengangkat pandangannya dan tatapan keduanya bertemu. Sendok yang hendak disuapkan ke mulutnya sendiri mendadak terhenti.

 

“Kue coklatnya… apakah itu enak?” 

 

Lelaki bersurai abu-abu itu terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia melihat ke kue coklatnya sendiri lalu kepada Dan Heng. 

 

“Enak! Mau coba?”

 

Dan Heng mengangguk kecil. 

 

Caelus terlihat ragu sebentar. Dan Heng masih menunggu Caelus mengarahkan sendoknya ke mulutnya. Namun tak terjadi apa-apa. Akhirnya pacarnya itu malah menyodorkan sekotak kue coklat itu ke hadapan Dan Heng sekaligus dengan sendoknya yang kembali dia letakkan ke atas kuenya.

 

Di situlah Dan Heng tahu kalau memang ada yang janggal dengan Caelus. Biasanya Caelus tanpa basa-basi akan menyuapkan makanannya kepada Dan Heng. Tapi kali ini dia malah menyodorkan makanannya agar Dan Heng bisa memakannya sendiri.

 

Dan Heng mengulum bibirnya sesaat. Mendadak dadanya merasa sesak karena tak mendapat perlakuan manis dari pacarnya itu. Tapi dia tak bisa protes. Akhirnya Dan Heng menyendokkan sendiri makanannya ke dalam mulutnya.

 

“Enak kan?” tanya Caelus.

 

“Hmm…” gumam Dan Heng sambil mengangguk-angguk. 

 

Senyum cerah terpancar di wajah Caelus. “Aku beli di toko kue depan apartemen. Kalau kamu suka aku akan belikan buat kamu besok.”

 

Dan Heng hanya mengangguk kecil lagi sambil menyodorkan kembali kuenya kepada Caelus. Tatapannya masih melekat pada pemuda manis di hadapannya itu. 





 

Hal itu terjadi sampai hari berikutnya. Kejanggalan itu malah semakin diperparah dengan Caelus yang terlihat enggan bersentuhan dengan Dan Heng. Biasanya Caelus tanpa malunya memberikan perhatian kepada Dan Heng dimana pun dan kapan pun. Tapi sejak empat hari lalu hingga hari ini, Caelus seperti menjaga jarak dengan Dan Heng.

 

Dan Heng mulai berpikir apa yang salah dengan dirinya. Apakah dia punya salah dengan Caelus? Apakah dia sempat mengatakan sesuatu yang membuat Caelus sedih? Ataukah ada perbuatannya yang membuat Caelus menjadi seperti ini?

 

Padahal sekitar satu minggu yang lalu mereka masih berhubungan seperti biasanya. Caelus masih suka menggelayut manja padanya, masih suka curi kecupan di pipi dan bibirnya, masih suka menyuapkan makanan kepadanya–

 

Tunggu, satu minggu yang lalu?

 

Dan Heng ingat mereka sempat tidak bertemu selama dua hari karena Caelus mendadak sibuk akan suatu hal. Caelus baru benar-benar menghindari kontak fisik dengan Dan Heng sejak empat hari belakangan ini. Apakah seminggu lalu ada sesuatu yang terjadi pada Caelus?

 

Hari ini mereka berdua bertemu di working space di fakultasnya Caelus. Keduanya sedang duduk selonjor di atas karpet sambil bersandar pada bean bag. Mereka sedang menunggu kelas berikutnya dengan bersantai-santai di sini bersama dengan beberapa mahasiswa lainnya.

 

Kali ini Dan Heng memilih untuk membaca buku sebagai bentuk mengisi waktu luang. Biasanya dia hanya fokus pada pekerjaan di laptopnya. Tapi untuk hari ini dia hanya ingin bermalas-malasan dengan pacarnya di sini. Caelus di sebelahnya pun tampak sedang bermain game di ponselnya.

 

“Yah, kalah lagi!” umpat Caelus lirih kepada game di ponselnya. Merasa kesal, akhirnya Caelus meletakkan ponselnya ke atas karpet dan memejamkan matanya. Diam-diam Dan Heng memerhatikan semua gerak-gerik Caelus itu. Dia sudah terbiasa dengan Caelus yang mengumpat akibat game-nya. Namun kali ini entah mengapa terasa berbeda. Caelus terdengar seperti frustasi dengan hal lainnya.

 

Dan Heng mencoba mengabaikan perasaan mengganjal itu. Mungkin saja dia memang benar-benar sedang capek, pikirnya. 

 

Cukup lama keduanya tak berbicara apa pun. Dan Heng masih fokus membaca bukunya dan Caelus yang kini tertidur di atas bean bag. Tapi tak berselang lama kemudian, Dan Heng merasakan adanya beban di atas bahunya. Ketika dia menengok ke bawah, dia lihat kepala Caelus merosot ke atas bahunya. Dia benar-benar tertidur pulas kali ini. 

 

Dan Heng terpaku di tempatnya. Dia tak berani bergerak sedikit pun karena takut akan membangunkan Caelus. Apalagi ini sudah hari keempat Caelus tidak melakukan kontak fisik dengannya. Momen seperti ini tentunya sangat berharga untuknya.

 

Perlahan-lahan dia ikut menggeser posisi kepalanya sendiri agar menyentuh ubun-ubun Caelus. Dia juga sedikit menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Caelus. Dia dekatkan hidungnya ke puncak kepala Caelus dan menghirup aroma samponya yang seperti bau mint itu. Rambut abu-abu itu tampak sangat halus dan indah. Kalau terkena cahaya matahari rambutnya seolah memantulkan sinar matahari itu. Rasanya sungguh menenangkan dan membuatnya rindu. Dia rindu bersentuhan dengan Caelus, tapi Dan Heng terlalu pengecut untuk memulai semuanya.

 

Dia mulai berpikir apakah ini semua salah dirinya yang tidak pernah peka terhadap tindakan Caelus? Atau dirinya kah yang terlalu kaku dalam menjalani hubungan mereka sehingga Caelus akhirnya merasa lelah untuk memulai semua sentuhan fisik mereka? 

 

Dan Heng ingin momen ini berlangsung sangat lama. Dia tak peduli kalau ada beberapa pasang mata yang mengawasi mereka di sini. Dia tidak peduli kalau telat masuk ke kelas berikutnya. Dia hanya ingin di sini, dengan posisi seperti ini bersama Caelus selamanya.

 

Tapi sialnya momen intim itu dihancurkan dengan dering dari ponselnya Caelus. Caelus berjengit kaget dari tidurnya. Dia berkedip-kedip sebentar sambil melihat sekitarnya. Kemudian dia tersadar bahwa dirinya sudah tertidur di atas bahu Dan Heng. 

 

“Eh… Maaf, Dan Heng…” gumamnya sambil bangkit dari rebahannya. 

 

“Hm. Tak apa-apa.”

 

Caelus mengambil ponselnya yang ada di atas karpet. Dia lihat siapa yang telepon itu dan ternyata itu teman satu kelasnya nanti. Setelah dia mengangkat panggilan itu, wajahnya seketika berubah menjadi kaget.

 

“Oh iya! Kelas berikutnya!” seru Caelus. Dia langsung meraih tasnya yang menyandar di dinding lalu bangkit berdiri sambil berbicara sesuatu di telepon. Setelahnya panggilan itu terputus. 

 

“Aduh! Maaf ya, Dan Heng! Aku lupa ada kelas jam segini!” kata Caelus. “Aku duluan ya!”

 

Saat Caelus hendak berlari keluar dari working space, Dan Heng memanggilnya. Membuat Caelus seketika terhenti di depan pintu ruangan itu.

 

“Nanti pulang bareng ya.” ucap Dan Heng. 

 

Caelus terlihat melongo sejenak. Tapi dia teringat kalau dia harus segera masuk kelas sekarang. Caelus pun mengangguk singkat, kemudian langsung berlari lagi keluar menuju ruang kelasnya.




 

 

Sore harinya Dan Heng menunggu di tangga seperti biasanya. Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat tapi Caelus belum kunjung menampakkan batang hidungnya. Dan Heng berpikir apakah kelas terakhir Caelus berakhir sesore ini. Biasanya tidak sampai jam segini mereka keluar kelas terakhir.

 

“Maaf, kamu menunggu lama ya?”

 

Kepalanya seketika menoleh ke sumber suara dari atas tangga sana. Caelus berjalan ke arahnya dengan cengiran di wajahnya. 

 

“Nggak lama kok. Aku juga barusan selesai.” ucapnya berbohong. Padahal dia sudah menunggu di sini hampir satu jam lamanya.

 

Caelus berhenti di hadapan Dan Heng. Mereka saling bertatapan untuk sepuluh detik lamanya. Dari kontak mata itu Dan Heng bisa melihat ada kejanggalan dari ekspresi Caelus. Seakan-akan Caelus sedang menahan dirinya untuk melakukan sesuatu. 

 

“Apa… ada masalah, Caelus?” 

 

Caelus cepat-cepat menggeleng. “Nggak ada kok, hehe. A-Aku cuma kecapekan kayaknya.” ucapnya. Namun dia terlihat sedikit menggigit bibirnya. “Ayo kita pulang sekarang!”

 

Dan Heng menunggu Caelus meraih tangannya seperti biasanya. Tapi sampai beberapa detik lamanya tak ada reaksi. Caelus malah tiba-tiba berjalan mendahuluinya. Meninggalkan Dan Heng yang tertegun di tempatnya.

 

“Dan Heng?” 

 

“O-Oh iya…”

 

Mereka pun berjalan bersisian menuju keluar area kampus. Tak ada yang berbicara di sepanjang jalan itu. Caelus terlihat menatap kosong ke depan, seolah dia larut dalam pikirannya. Dan Heng yang berjalan di sebelahnya tak bisa berhenti khawatir. Biasanya Caelus akan mengoceh tentang kegiatannya seharian ini kepada Dan Heng. 

 

Mereka terus berjalan dalam kesunyian sampai akhirnya berada di persimpangan tempat biasa mereka berpisah. Caelus akan pergi ke belok kanan, menuju halte bus karena letak apartemennya cukup jauh dari kampus. Sedangkan Dan Heng akan pergi menyeberang ke kiri, dimana letak apartemennya yang dekat dengan kampus. 

 

“Um… sampai ketemu besok lagi, Dan Heng. Aku harus segera menunggu bus di halte sana.” pamit Caelus. Tapi dia terlihat tidak segera bergerak menuju ke arah halte. Dia malah berdiri dan bergerak-gerak gelisah di tempatnya. 

 

“Hm. Sampai ketemu besok lagi, Caelius.” 

 

Dan Heng menunggu kebiasaan Caelus yang terakhir ini. Biasanya Caelus akan memberikan kecupan di pipinya sebelum dirinya berlari ke arah halte. Tapi satu menit sudah berlalu dan Caelus malah terlihat semakin murung. 

 

“K-Kalau begitu… aku pergi dulu ya.” ucap Caelus, hendak berjalan ke arah halte bus. 

 

Namun belum sempat dia menggerakkan kakinya, tiba-tiba tubuhnya tersentak kembali ke tempatnya. Dia lihat pergelangan tangannya yang dipegang erat oleh Dan Heng. Kemudian ketika dia mengangkat pandangannya, Dan Heng ternyata menatapnya dengan alis berkerut dalam. 

 

“A-Ada apa, Dan Heng–”

 

“Menginaplah di tempatku malam ini.” katanya cepat. 

 

“Hah?”

 

“Besok semua kelas libur. Jadi, menginaplah di apartemenku malam ini.” katanya. Dia menjeda sesaat sebelum kembali melanjutkan. “Kumohon…”

 

Caelus mematung di tempatnya. Ini pertama kalinya dia mendengar Dan Heng mengiba padanya seperti itu. Dan Heng tak pernah menunjukkan sisi rapuhnya seperti ini bahkan sampai memohon-mohon. 

 

Dia menunduk ke arah pergelangan tangannya yang digenggam erat Dan Heng. Perasaan bersalah mendadak menggerogoti hatinya setelah hampir satu minggu ini dia seolah-olah menjauhi Dan Heng. Akhirnya Caelus pun mengangguk kecil.

 

Melihat respon Caelus itu lantas Dan Heng langsung menariknya ke seberang jalan. Langkahnya terkesan tergesa-gesa sampai membuat Caelus kewalahan mengimbangi langkah cepat Dan Heng di depannya.

 

“Dan Heng, pelan-pelan dong!” 

 

Pemuda bersurai hitam itu tak mengacuhkan protesan Caelus. Dia tetap berjalan cepat menuju apartemennya sambil menyeret tangan Caelus. Ketika mereka sampai di depan apartemennya, dia cepat-cepat berjalan menuju kamarnya di lantai empat dengan menggunakan elevator.

 

Tak butuh waktu lama keduanya akhirnya sampai di depan pintu kamar sewanya. Dan Heng langsung memasukkan kata sandi di gagang pintu. Begitu bunyi klik dari sandi yang terbuka, dia langsung membuka pintu dan membawa Caelus masuk ke dalam. Kemudian dia kembali menutup pintu kamarnya rapat-rapat.

 

“Kenapa buru-buru amat sih–”

 

Ucapannya terhenti tatkala Dan Heng mendorong Caelus ke dinding di sebelah rak sepatu. Caelus terkejut bukan main. Ditambah tatapan Dan Heng yang terlihat tajam itu membuat bulu kuduk Caelus meremang.

 

“Katakan padaku, Caelus.” ucapnya tajam. Tatapan matanya semakin keras. Namun Caelus seperti melihat ada guratan kesedihan dari mata abu-abu itu. “Katakan apa salahku, Caelus.”

 

“Hah?”

 

“Caelus…” kali ini nadanya terdengar lebih lembut. Dan Heng memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam, merasa dirinya sepertinya terlalu keras terhadap Caelus. Saat matanya terbuka kembali, tatapannya berubah menjadi seratus persen sendu. Dia tidak terlihat seperti sedang menghakimi Caelus lagi. “Kalau aku ada salah padamu, aku minta maaf. Apa pun itu. Tapi tolong jangan–”

 

“Eh, tunggu tunggu! Kenapa malah minta maaf?!”

 

Dan Heng tampak tertegun. “Kamu… seperti ini karena aku kan?” 

 

“Hah?! Bukaaan!”

 

Dan Heng tersentak sedikit ke belakang mendengar teriakan Caelus itu. Dilihatnya wajah Caelus yang berubah menjadi merah itu. Kekasihnya itu kini tak berani menatap matanya.

 

“Lalu… lalu karena apa, Caelus? Sudah seminggu ini kamu kayak menjauhi aku terus. Kalau bukan salahku, lalu kenapa?” 

 

“Bukan… ini bukan salahmu.” katanya lirih. “I-Ini… ini karena aku–”

Caelus kembali terdiam. Dia mengiggiti bibirnya dan matanya bergulir ke sana kemari. Dia terlihat sedang menelan ludahnya agak kesusahan. 

 

Dan Heng tak tahu harus melakukan apa agar Caelus berbicara padanya. Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa Dan Heng tak tahu caranya memaksa orang bicara. Tapi kalau dia begini terus, maka Caelus tak akan pernah berterus terang padanya. 

 

“Caelus, tenanglah.” ucapnya kalem. “Ceritakan saja padaku. Aku… aku nggak akan marah.” 

 

Keduanya saling bertukar pandang tanpa berkata-kata lagi. Tak butuh waktu lama Caelus akhirnya bisa kembali tenang. Dia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dalam satu hembusan panjang. 

 

“Aku… aku nggak sengaja menguping penggemarmu kemarin.” 

 

Mendengarnya sontak alis Dan Heng kembali berkerut. “Penggemarku?”

 

Caelus mengangguk pelan. “Jadi begini…”






 

“Kalian kasihan nggak sih sama Dan Heng?”

 

Caelus yang hendak berbelok menuju kelasnya Dan Heng mendadak terhenti. Dia melongokkan kepalanya dari balik dinding. Dilihatnya ada sekelompok perempuan berdiri di depan ruang kuliah tempat Dan Heng berada. 

 

“Kasihan kenapa? Emang Dan Heng sedang menderita?” tanya salah satu perempuan di sana kepada perempuan berambut hitam panjang. 

 

Gadis berambut hitam panjang itu tampak menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Satu tangannya memelintir rambut di bahunya. “Bukan menderita yang begitu sih. Tapi, kalian merasa nggak sih Dan Heng itu kayak nggak suka ditempelin sama Caelus?”

 

Perkataan gadis itu membuat cewek-cewek yang ada di kelompok itu tertegun. Tapi salah satu di antara mereka dengan cepat menyanggah.

 

“Memangnya apa salahnya kalau Caelus kayak begitu? Bukankah dia pacarnya Dan Heng?” 

 

“Iihh! Kalian emang nggak lihat gimana reaksinya Dan Heng?!” sahut gadis berambut panjang itu. “Emang kalian pernah lihat dia merespon balik semua sifat manja Caelus?” 

 

Kali ini cewek-cewek itu terbungkam. Begitu pula dengan Caelus. Tanpa dia sadari dia malah berdiri di sana mendengarkan semua gosip cewek-cewek itu. 

 

“Aku nggak pernah lihat Dan Heng membalas semua afeksinya Caelus…” kata gadis lainnya. 

 

Gadis berambut panjang itu menjentikkan jarinya. “Tuh kan! Apa kubilang! Kayaknya Dan Heng risih deh digituin sama Caelus!”

 

“Ah, masa sih? Kamu doang kali yang berpikiran aneh-aneh.”

 

“Nggak mungkin! Aku yakin Dan Heng pasti risih! Kalian emangnya pernah lihat kalau Dan Heng pernah membalas semua perhatian Caelus? Apa kalian pernah lihat dia memeluk Caelus, menggandeng Caelus, atau bahkan mencium Caelus?”

 

Lagi-lagi terjadi keheningan. Gadis berambut hitam itu tersenyum puas.

 

“Benar kan perkataanku? Mungkin selama ini Dan Heng kasihan pada Caelus.”

 

“Tapi… rasanya nggak mungkin deh…” kata gadis yang lainnya lagi. 

 

“Tidak. Caelus aja yang nggak tahu tempat. Sudah tahu pacarnya risih digituin dia masih saja bersikap manja pada Dan Heng. Apa dia nggak pernah memikirkan gimana perasaan Dan Heng? Apa dia nggak pernah mikir kalau pacarnya itu sebenarnya risih? Sudah tahu dia selalu dicuekin tapi masih saja haus perhatian Dan Heng.” 

 

Deg! 

 

Caelus merasa jantungnya berhenti berdetak. Perkataan gadis berambut hitam panjang itu terasa seperti menohok ulu hatinya. Seakan-akan Caelus tersadar akan satu hal. 

 

“Sudahlah. Kita sebaiknya segera pergi sebelum Dan Heng mendengar percakapan ini.” kata seorang gadis yang lainnya. Yang mana itu langsung disetujui oleh kelompok itu. Mereka pun segera berlalu dari sana ke arah yang berlawanan dari Caelus. 

 

Caelus masih mematung di tikungan koridor itu. Tubuhnya menyandar di dinding dengan lemas. Dia merenungkan hubungan mereka selama ini. 

 

‘Apakah perkataan cewek-cewek itu benar ya? Kalau aku ini orang yang egois…’ 






 

 

“Mereka mengatakan itu semua? Sebagai penggemarku?” ucap Dan Heng dengan intonasi agak meninggi. Merasa tidak percaya dia memiliki basis penggemar di kampus. 

 

Caelus mengangguk pelan. Dia menundukkan pandangannya, takut melihat raut Dan Heng yang seperti terlihat hampir marah itu. 

 

“Aku bahkan nggak tahu punya penggemar di kampus.” gumam Dan Heng. Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Hampir saja dia terbawa emosi mendengar gosip yang dibicarakan Caelus itu. 

 

“Maaf, Dan Heng, aku… aku hanya merasa perkataan mereka—”

 

“Tidak. Mereka sama sekali nggak benar.” sela Dan Heng cepat. Ucapannya itu membuat Caelus seketika mengangkat pandangannya. Mata mereka bertemu dan Dan Heng kini sedang menatapnya lurus-lurus. 

 

“Mereka bukan penggemarku. Aku nggak pernah punya penggemar.” 

 

“Tapi, Dan Heng—”

 

“Caelus.” ucapnya tajam. Dia memegang kedua bahu Caelus erat-erat. “Jangan pernah percaya perkataan mereka. Kalau mereka sungguhan penggemar, mereka seharusnya mendukung apa yang aku lakukan. Bukan malah menghakimiku. Apalagi kamu.”

 

Caelus menatap netra abu-abu di hadapannya itu. Tatapan mata Dan Heng terasa seperti sedang menyelami Caelus sampai ke dalam-dalamnya. 

 

“Entah mereka itu penggemarmu atau bukan, tapi aku merasa apa yang mereka katakan itu ada benarnya.”

 

“Caelus, jangan dengarkan mereka—”

 

“Sebentar, Dan Heng. Biarkan aku bicara.” 

 

Dan Heng pun bungkam. Meskipun begitu rasanya gatal sekali dia ingin mengatakan pada Caelus untuk tidak memercayai apa pun perkataan para gadis itu. 

 

“M-Maksudku adalah… bukan tentang apa yang mereka katakan itu benar atau tidak. Tapi setelah kupikir-pikir mungkin aku terkadang sudah kelewatan dalam memberikan perhatianku padamu di publik.” 

 

Caelus melihat Dan Heng yang hendak membuka mulutnya. Tapi dia langsung meletakkan telapaknya ke bibir Dan Heng dan menggeleng pelan. 

 

“A-Aku selama ini nggak pernah berpikir apakah kamu menyukainya atau tidak. Aku hanya suka melakukannya. Itu kayak semacam reflek dariku kepada orang-orang yang aku sukai. Jadi kupikir mungkin kamu nggak keberatan kalau aku perlakukan begitu juga.” 

 

Caelus mengulum bibirnya sebentar sebelum kembali melanjutkan penjelasannya. “Makanya aku ingin dengar langsung darimu apakah kamu suka aku perlakukan begitu… atau tidak. Kalau kamu tak menyukainya, aku bisa berhenti–”

 

Dan Heng menyentak tangan Caelus di mulutnya. “Aku menyukainya.”

 

Tatapan keduanya bertemu lagi. Kali ini Dan Heng menatap lurus-lurus iris amber yang sangat indah itu. Caelus tampak tertegun mendengar jawaban Dan Heng itu.

 

“Aku suka semua perbuatanmu, Caelus. Apa aku pernah terlihat risih atau keberatan, begitu?”

 

Caleus yang masih tertegun itu pun menggeleng pelan. Melihat itu seulas senyum lembut muncul di wajah Dan Heng.

 

“Kalau begitu jangan pernah berhenti memberikan aku perhatianmu itu.” ucapnya dengan tulus. Lalu terdengar helaan napas yang cukup berat. “Aku juga sedang belajar bagaimana cara mengekspresikan diriku lebih baik lagi agar kamu nggak salah paham denganku.”

 

“Dan Heng…”

 

Setelah mengucapkan itu, Dan Heng melingkarkan kedua lengannya ke tubuh Caelus dan menenggelamkan wajahnya ke leher Caelus. “Jadi, tolong jangan berhenti ya, Cae. Aku butuh semua perhatianmu itu. Aku juga berjanji akan lebih sering merespon semua bentuk kasih sayangmu.”

 

Caelus mematung di pelukan Dan Heng itu. Dia mulai merasakan Dan Heng semakin mengeratkan rengkuhannya di tubuh Caelus. Melihat Dan Heng yang terlihat rapuh itu akhirnya Caelus membalas pelukannya tak kalah erat. 

 

Sekitar lima menit keduanya hanya berdiam dengan posisi itu. Dan Heng melepas pelukannya di pinggang Caelus, lalu menatap kedua mata berwarna emas itu. Setelah itu dia menempelkan kedua dahi dan ujung hidung mereka. Caelus yang terhimpit antara tubuh Dan Heng dan dinding di belakangnya pun sampai menahan napas.

 

“Untuk terakhir kalinya jangan pernah dengarkan apa kata orang. Apalagi mereka yang mengaku penggemarku.” ucapnya di depan bibir Caelus, lalu dia semakin memangkas jarak di antara mereka. “Aku nggak pernah punya penggemar. Penggemarku itu cuma kamu.”

 

Caleus terkekeh pelan. Dia juga ikut memangkas jarak di antara keduanya. “Kalau begitu aku akan jadi penggemar nomor satumu, Dan Heng.”

 

Setelah mengucapkan itu kedua bibir mereka akhirnya bersentuhan. Ciuman itu diawali dengan sentuhan-sentuhan ringan sampai akhirnya Dan Heng memperdalam ciuman mereka dengan lumatan di bibir Caelus.

 

Sembari berciuman itu Dan Heng berjanji pada dirinya sendiri akan lebih sering membalas semua perhatian Caelus itu baik di publik maupun ketika hanya berdua saja. Dia tak mau membuat pemuda manis dalam rengkuhannya itu menjadi salah paham lagi.

Notes:

Cuap cuap penulis!

Aku bikin fanfic Dancae lagi!

Nggak tahu kenapa sih pengen nulis fanfic Caelus kali2 ngerasa kayak insecure gitu loh. Tadinya aku gak mau nulis +1 sepanjang itu dan sesedih itu tapi pas ngetik kok ya malah bablas wkwkwk. Sama tadinya aku gak mau nulis lebih dari 2000 kata tapi kok malah jadi banyak banget.

Anyway, semoga kalian suka dengan fanfic ini!