Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of BOYNEXTDOOR
Stats:
Published:
2026-09-14
Words:
1,087
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
20
Bookmarks:
1
Hits:
361

please? -Taeswoon

Summary:

intinya theo (ts) begging buat dapatin maaf dari willo (wh)

Notes:

taeswoon gabut.. ini sakai dari x sakaiii
karena akun masih kena sb, jadi aku mencurahkan tetun di sini, happy reading all 😲😲
btw ini terinspirasi dr lagu 'Go Away -Weezer'

Work Text:

Hening menyelimuti kamar Willo yang terasa gelap karena malam dan pencahayaan yang begitu temaram. Satu-satunya sumber terang berasal dari cahaya ponsel milik Willo—menampilkan foto yang dikirimkan oleh temannya. Di sana, di sudut kafe yang remang, Theo tengah duduk berduaan dengan Beya, mimik muka yang nampak begitu serius namun masih terbesit tawa lebar Theo yang membuat dada Willo sesak.

Padahal baru kemarin percakapan antara mereka terbentuk, di mana Theo berjanji kepadanya soal hubungannya dengan Beya. "I'm done with her, Will. I won't go out with Beya anymore, now it's just you and me, promise."

Willo terkekeh sinis, rasa kecewanya meletup sudah sampai ke tulang. Tangannya yang dingin mengetik satu kalimat singkat yang mungkin saja sanggup untuk menghancurkan dunia seseorang di ujung sana.

Willo; 'Udahlah, kita putus aja, kak. Nggak usah cari aku lagi."

Setelah menekan tombol send, Willo mematikan ponselnya, menaruhnya dengan keras di nakas lalu membenamkan wajah di bantal. Willo membiarkan air matanya jatuh tanpa suara, ia lelah, Theo rasanya selalu mengingkari janji besar diantara hubungan mereka berdua. Enough is enough.

-

Theo baru saja menutup pintu mobilnya saat notifikasi itu muncul. Ia terdiam terkejut, dalam waktu sebentar ia merasa dunianya runtuh seketika, jantungnya berdegup kencang, oksigen di sekitarnya seolah dengan perlahan menipis.

Tanpa pikir panjang, dia kembali masuk ke mobil, mengabaikan lampu merah juga umpatan pengendara lain, dengan berani Theo memacu kendaraannya cepat menuju rumah Willo seperti orang kesetanan. Persetan dengan rasa lelah, Willo lah yang utama.

Sesampainya di depan rumah Willo, Theo tidak peduli jika tetangga terbangun karena ketukan pada pintu begitu keras dan menuntut. Dia menggedor pintu rumah Willo dengan kalap disertai tangan yang gemetar. "Willo! Sayang please open up.. Aku tahu kamu ada di dalam!" teriak Theo, suaranya mulai pecah akan rasa panik yang luar biasa. "Willo.. please.. can we talk? Just five minutes, please.."

Pintu tak langsung terbuka, namun Theo tak menyerah, ia berkali-kali membujuk Willo. Mengatakan ini-itu hanya agar Willo membuka pintunya.

Hingga akhirnya pintu terbuka perlahan, menampilkan Willo yang tengah berdiri di sana dengan tatapan kosong. Matanya memerah tanda habis menangis, namun wajahnya datar—hal itu lebih menakutkan bagi Theo dibanding ekspresi marah Willo.

"Mau apa lagi, Kak? Everything is clear, we're done. Kamu pergi sama Beya setelah semua janji yang kamu omongin waktu itu? You lied to my face, again. Aku capek sama janji manis kamu yang nggak pernah ada habisnya." Willo terkekeh geli, lalu berniat untuk menutup pintu sebelum ditahan oleh Theo.

Theo menahan pintu itu supaya tidak ditutup, dirinya langsung jatuh berlutut di teras rumah Willo, persetan dengan harga dirinya. Dia memegang ujung kaos yang Willo kenakan dengan tangan gemetar. "I'm so sorry, baby.. tadi Beya bilang ada masalah penting.. dan aku.. aku pikir cuman sebentar yang mungkin bakal langsung dilupain dan nggak ketahuan. I was so stupid, i thought, i could handle it without hurting you. I know i messed up, i lied, but please.. don't leave me."

Willo menarik kakinya menjauh, membuat Theo hampir tersungkur ke lantai. Ia membuang mukanya menolak untuk menatap Theo, berusaha keras menahan air matanya sendiri. "Masalahnya bukan soal Beya, Kak. Masalahnya adalah kamu nggak bisa jujur, bahkan tadi apa? Dilupain dan nggak ketahuan? Kamu emang udah ada niat, kamu nggak bisa jujur, kamu lebih milih bohong daripada bilang yang sebenernya ke aku. How can I trust you again?"

Theo merangkak maju, meraih tangan Willo dan menciuminya dengan gemetar. Air matanya membasahi jemari Willo, ia menatap Willo dengan putus asa. "Please don't leave me.. i'm begging you. Aku beneran nggak bisa bayangin hidup aku nanti kalau kamu pergi.. you're the only person who understands me, aku rela lakuin apa aja, Sayang—"

"Bangun, Kak. Pulang." Willo berusaha melepas paksa cekalan tangan Theo dari tangannya. "Apa tadi?" Willo terkekeh sinis, "you can't live without me? Basi, semua orang kalau lagi putus asa bakal bilang gitu, ujungnya lagi-lagi diulang, capek tau."

"Sayang.. please.. aku nggak kayak gitu—"

"Kamu bohong."

"Aku rela ngelakuin apa aja buat kamu mertahanin hal ini, tolong.. hapus semua akun yang ada di ponsel aku, aku bakal laporan tiap detiknya aku ke kamu, anything! Just don't say we're over.. please.." suara Theo serak disertai isakan kecil.

"Mau kamu mohon segimanapun, aku nggak bakal maafin. Trust is earned, Kak—and you just burned it."

"Willo.. babe.. please look at me.. I know, i know i'm a mess. I'm a loser for hurting the best things i ever had. Tapi tolong.. kasih aku satu kesempatan buat benerin ini, don't give up on us yet, baby. I'll prove it to you.."

Melihat Theo yang biasanya ceria, penuh rasa tengil dan candaan, kini hancur lebur di bawah kakinya menangis sesenggukan dalam posisi berlutut dengan badan yang sedikit gemetar membuat pertahanan Willo yang tadinya keras, perlahan mulai runtuh. Dia membenci bagaimana dirinya benar-benar tidak pernah bisa membenci Theo.

Willo menghela napasnya panjang, lalu berjongkok. Dia memegang kedua pipi Theo yang basah dan memaksa pria itu untuk menatap matanya. "Look at me. And stop crying, you look like a mess," bisik Willo.

Theo menatap Willo dengan pandangan kabur karena air matanya yang sedari tadi turun. "Willo.. are you still leaving me..? please don't.." mohon Theo.

"Ini yang terakhir, Kak. Aku nggak akan menerima kebohongan lain setelah ini. Kalau kamu bohong lagi, sekecil apapun itu, aku nggak akan pernah buka pintu ini lagi buat kamu. One more lie, and i'm gone for real."

Theo langsung mengangguk cepat, menghambur ke dalam pelukan erat yang hangat milik Willo. "I'm promise, i swear on my life i'll be the best version of me just for you. Thank you for staying, Willo.. Thank you.." isak tangis kembali Willo hadapi, namun saat ini ia sepertinya melihat Theo tengah melimpahkan rasa kelegaan yang melanda.

Theo masih sesenggukan di ceruk leher Willo, menghirup aroma yang selalu menjadi rumahnya, ia dengan erat memeluk Willo di sana. "You're my everything, you're the prettiest soul i've ever meet, and i'm so lucky you chose to forgive a crybaby like me.. aku bakal buktiin kalau aku layak buat kamu.. and i was stupid to almost lose you. I'll cherish you like you're the only star in my sky and i love you more than words can say."

Willo tersenyum tipis, mengusap punggung Theo dengan lembut. Dalam keadaan begini pun, perkataan manis Theo tidak pernah ketinggalan. "Udah, berhenti nangisnya. Malu kalau dilihat orang lewat."

Theo tetap diam, tak memperdulikan perkataan Willo, ia malah makin mempererat pelukannya pada Willo, Theo tak ingin Willo pergi lagi.

Malam itu ditutup dengan Theo yang enggan melepaskan pelukannya dari Willo. He's not letting go, not today, not tomorrow, not ever. He's home and he's staying.

Series this work belongs to: