Work Text:
Pintu bahkan belum dibuka lebih dari sedetik, tapi Neuvillette sudah menemukan dirinya di dalam pelukan Wriothesley yang kokoh, yang hangat dan juga penyayang. Terdapat hitam di bawah matanya, layaknya malam tanpa hamparan bintang. Terdapat luka baru di dekat rahangnya, merah muda layaknya belahan buah jambu. Namun terdapat pula rembulan dalam iris esnya, senada dengan lilin yang tersulut di atas meja.
Wajahnya begitu dekat dengan Neuvillette, hanya terpisahkan oleh helaan nafas. Akan sangat mudah bagi Wriothesley untuk menghujani Neuvillette dengan kecupan yang selalu suka dia tinggalkan di sudut bibirnya maupun keningnya tiap pagi.
Bibir Wriothesley tertarik ke atas, dan sekilas sebuah taring tajam mengintip. "Selamat malam, Chief Justice Neuvillette. Sang Administrator Benteng Meropide telah hadir untuk menemani malam Anda."
Mendengarnya, Neuvillette tertawa kecil. Mungkin inilah setetes euphoria bagi jiwa yang lelah oleh menara kertas kasus, dan rasa di lidahnya cukup untuk menumbuhkan keinginan menjahili sang sipir.
"Saya senang melihat Anda malam ini, Yang Mulia, tapi maaf jika saya sedikit bingung oleh kehadiran Anda."
"Loh, bukankah saya telah memberitahu Anda mengenai kedatangan saya?"
"Tapi saya pikir yang datang mengunjungi saya adalah suami saya, bukannya sang Sipir Benteng Meropide."
Wriothesley spontan tertawa, ekspresi cerahnya mengembang seperti kelopak bunga di musim semi. Hangatnya lilin pun kalah dengan kedua lengannya yang melingkar di tubuh Neuvillette. "Saya nggak nyangka Anda bisa bercanda begitu, amour. Siapa yang ajarin? Madame Furina?"
"Menurutmu?" Neuvillette membalas lembut, dan mulai melangkah mundur menuju mejanya tanpa melihat ke belakang. Wriothesley taat mengikuti—sosok yang selalu setia dengan isi hatinya. Dialah jangkar yang paling bisa Neuvillette andalkan di tengah laut racun kejahatan manusia.
"Menurut saya, Anda harus sering sering senyum kayak gini. Biar makin cakep."
Belakang paha Neuvillette sudah mengenai sisi meja, dan bahkan angin sudah tak bisa lagi mengisi jarak di antara tubuh mereka. Dapatkah Neuvillette mengaku bahwa dirinya terjebak jika dia rela berada di dekapan Wriothesley selamanya?
"Sayangnya pekerjaanku tidak memungkinkan ekspresi yang begitu damai untuk hadir dalam persidangan."
"Tapi bagaimana untuk saat ini?" Tiap suku kata yang meninggalkan mulut Wriothesley turut mengecup bibir Neuvillette, membuat rona merah merayap mewarnai pipi yang pucat. "Untuk saat ini, dengan hadirnya diri saya disini, bolehkah saya melihat senyum Anda?"
Kedua tangan Neuvillette naik untuk menangkup wajah Wriothesley, ibu jari bermain pelan dengan kulit yang ikut disinari emas dan jingga dari lilin di sudut meja. Wajah di dekapan tangannya ini adalah seorang petarung, seorang penegak hukum, seorang penjaga benteng, tapi ini juga merupakan wajah dari pria yang dia sayangi, dan Neuvillette sangat mencintainya.
"Tentu saja," bisik Neuvillette pelan, seakan-akan momen ini adalah mosaik rapuh yang dapat pecah kapan saja. "Kau tidak perlu meminta izin atas sesuatu yang sudah merupakan milikmu, Wriothesley."
Tawa sang suami menjadi kawan untuk senyum Neuvillette, dan kehangatan ini terus menemani hingga fajar membumbung tinggi di cakrawala jauh. Mentari selalu ramah untuk menyinari dua sosok yang sedang terlelap di sofa di sisi lain ruangan, sekaligus menyinari cincin emas yang melingkari jari manis mereka.
Mentari pun tau tidaklah bijak untuk membangunkan dua sosok tersebut yang telah bekerja semalaman demi negara. Setidaknya, sampai sang Archon datang menggedor pintu kantor, mentari akan membiarkan mereka tidur lebih lama lagi.
