Actions

Work Header

Emas Tak Bertuan, Cinta Tak Bernyawa

Summary:

Lidahnya membentuk nama yang begitu familiar, kerap kali dia kejar baik di percakapan hangat maupun gulitanya malam. Pemilik nama itu adalah tempat Neuvillette bersandar ketika hujan menggebu-gebu dan hati melarat. Tubuh pemilik nama itu adalah bukti kekejaman manusia, tapi senyum pemilik nama itu adalah bukti kebaikan manusia.

Neuvillette tak bisa kehilangannya.

Namun pemandangan yang menyambutnya di hadapan gerbang besi menghancurkan segala doa yang dia punya.

Hari itu, rintik hujan yang turun sarat akan duka.

Notes:

Jujur, setelah nonton cutscene 4.1 yang itu, kepikiran terus gimana jadinya kalau Wrio gak selamat...

Maka jadilah drabble ini. :>

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Ekspresi berkaca-kaca sang Pengembara dan jeritan Paimon menghantui tiap entakan kaki Neuvillette ke dasar Benteng Meropide. Dirinya yang telah diberi nyawa dan raga selama ratusan tahun belum pernah sekalipun memanjatkan doa kepada para penjajah di atas sana, tapi saat ini, bibir Neuvillette senantiasa mengulangi sebuah nama seolah-olah sedang memohon ampunan—memohon penyelamatan.

Lidahnya membentuk nama yang begitu familiar, kerap kali dia kejar baik di percakapan hangat maupun gulitanya malam. Pemilik nama itu adalah tempat Neuvillette bersandar ketika hujan menggebu-gebu dan hati melarat. Tubuh pemilik nama itu adalah bukti kekejaman manusia, tapi senyum pemilik nama itu adalah bukti kebaikan manusia. 

Neuvillette tak bisa kehilangannya.

Namun pemandangan yang menyambutnya di hadapan gerbang besi menghancurkan segala doa yang dia punya. Disana berdirilah sang Champion Duelist, seorang diri, tanpa raja dari benteng besi ini di sisinya.

"C- Chief Justice—" Untuk pertama kalinya, suara Clorinde terdengar lebih rapuh daripada daun di tengah badai. Neuvillette menyadari keberadaan air mata yang mengalir deras di pipi wanita tersebut. "K- Kami salah perhitungan. Wriothesley, dia—"

Ucapannya terpotong oleh erangan besi yang mulai menyerah, diikuti oleh gema ombak penuh amarah yang terus-menerus melancarkan tinjunya.

Neuvillette berhasil meloloskan satu perintah terakhir bagi Clorinde untuk lari sebelum gerbangnya hancur.

 


 

"Monsieur, apakah di antara spesies naga ada yang namanya pernikahan?"

Hujan kembali memberi sapa di Fontaine dengan rintik sekental darah. Banyak rumor sibuk memenuhi jalanan, terutama setelah insiden siang lalu dimana terjadi gempa di dasar Benteng Meropide yang menyebar ke seluruh negara. Semua pihak yang terlibat telah bersumpah untuk tutup mulut, bahkan jurnalis paling berbakat Steambird tak bisa menguak cerita yang terbenam di bawah air.

Di dalam Palais Mermonia, pena bulu Neuvillette lanjut melukis kalimat demi kalimat di atas kertas laporan, sebagaimana kewajibannya sebagai sang Iudex.

"Sejauh yang kuketahui, tidak. Sedikit sekali naga di Teyvat yang bisa mengambil wujud manusia, dan mahluk seperti kami memiliki tradisi tersendiri untuk menyatakan kesetiaan kami terhadap pasangan hidup."

"Oh, seperti gigitan di leher saya contohnya?"

Kepala Neuvillette tertunduk, tersipu malu oleh tindakannya sendiri. Dia rela bersumpah di atas undang-undang bahwa giginya seperti memiliki pikiran sendiri kala itu—seperti memahami dambaan hatinya untuk bisa memiliki sosok pria di sampingnya ini yang telah mengajarinya pasang surut cinta. 

Sang Iudex mempunyai tugas untuk mencatat setiap kasus yang meramaikan Opera Epiclese. Terkadang, Administrator dari Benteng Meropide ikut menyesakkan rak bukunya dengan laporan bulanan, tapi Neuvillette tidak keberatan. Bagaimana tidak, selama itu berarti sang Administrator akan hadir di kantornya seperti matahari yang membelah awan hujan?

Dengan ketiadaan sang Administrator, pengawasan benteng sekarang jatuh ke tangan Neuvillette. 

"Monsieur, tak perlu malu-malu begitu dong. Nanti gantian saya yang gigit Anda lho."

"Wriothesley."

Tawa Wriothesley di pagi itu tinggallah memori. Setetes air jatuh ke atas kertas, tepat di samping kalimat Kasualitas, yang asalnya juga sedang menuruni pipi Neuvillette. Isakan lirih dari bibirnya datang bersamaan dengan guntur di tengah langit, tapi tak sekalipun penanya berhenti menoreh kalimat demi kalimat.

"Meskipun begitu, saya serius dalam hubungan kita, Monsieur." Bibir Wriothesley mulai mendaratkan kecupan di tiap buku tangan Neuvillette. Tatapan di iris es tersebut seolah-olah sedang melantunkan sumpah suci. "Karena Anda telah mengklaim saya dengan tradisi para naga, maka izinkan saya untuk mengklaim Anda dengan tradisi kami para manusia."

Di atas kertas, tertulis sebagai berikut:
Administrator dari Benteng Meropide, Duke Wriothesley, terkonfirmasi tidak selamat dalam insiden hancurnya segel Primordial Sea di dasar Benteng Meropide. Setelah segel berhasil diperbarui, ditemukan peninggalan Duke Wriothesley berupa—

Pena Neuvillette terhenti sesaat.

Kertas laporan di atas meja turut dihujani oleh air mata penuh duka dan tinta sebelum Neuvillette menangis sejadi-jadinya, ratapannya bertemu cincin emas tanpa hangat yang melingkari jari manisnya.

—berupa pakaiannya, sebuah Cryo Vision yang telah redup, dan sebuah cincin emas.

"Saya sendiri yang mengukir cincin kita, Neuvillette. Bagus kan? Anda suka?"

Neuvillette pikir tak ada yang bisa menyaingi hangatnya kasih Wriothesley, tapi lingkaran emas yang memeluk jarinya saat ini menyimpan kehangatan melebihi bahkan mentari pagi, dan tangisnya seketika pecah.

"Terima kasih, Wriothesley. Terima kasih karena telah mencintaiku. Terima kasih karena telah hadir di dunia ini."

Wriothesley tersenyum lebar dengan air mata menghiasi wajahnya, sebelum dia menyatukan bibir mereka layaknya penegasan akan janji suci mereka.

"Sampai kematian memisahkan kita, amour."

Notes:

Tweet aslinya disini!

Tenang, Monsieur, persediaan angst untuk Anda masih banyak kok. :D