Actions

Work Header

Dikenang, Bahkan oleh Kematian

Summary:

Sungguh, dia terlalu nekat tadi. Monster-monster itu seharusnya dihadapi oleh puluhan Vision holder dan bukannya seorang diri, tapi dapatkah Wriothesley berbalik pergi untuk mencari bantuan sementara monster itu sudah memasuki rumah? Tentu saja tidak.

Tiga telur ini adalah anak-anaknya. Wriothesley tidak mungkin membiarkan anak-anaknya direnggut darinya.

Namun hari ini, tampaknya Wriothesley harus mengingkari janji.

Hari itu, hangatnya cinta Wriothesley berupa nyawanya yang menipis.

Notes:

Ah, hari-hari user seventhgiver ngasih angst berat ke wriolette...

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Ketika kaki Wriothesley akhirnya menyerah menopang raga, darah telah menghangatkan tanah di bawahnya.

Kerikil lembab berbau anyir menyambut sisi wajahnya yang pertama berbentur dengan Bumi. Nafas Wriothesley terburu di dadanya, kedua mata sayu, belah bibir pucat pasi. Dia tak lagi menghitung berapa banyak luka yang menganga di tubuhnya, tak lagi menghitung berapa banyak detik lagi yang dia punya sebelum dunianya menghitam.

Yang penting baginya hanyalah tiga telur di dekapannya—tiga nyawa yang sudah pasti hilang jika bukan karena Wriothesley yang tiba di rumah tepat waktu sebelum monster Abyss itu dapat membunuh mereka.

Sungguh, dia terlalu nekat tadi. Monster-monster itu seharusnya dihadapi oleh puluhan Vision holder dan bukannya seorang diri, tapi dapatkah Wriothesley berbalik pergi untuk mencari bantuan sementara monster itu sudah memasuki rumah? Tentu saja tidak.

Tiga telur ini adalah anak-anaknya. Wriothesley, yang selama berbulan-bulan ini rajin berbisik ke permukaan cangkang tentang betapa tak sabarnya dia untuk segera memanjakan mereka dengan segala kasih, tidak mungkin membiarkan anak-anaknya direnggut darinya.

Namun hari ini, tampaknya Wriothesley harus mengingkari janji. Dia tak akan bisa menyayangi anak-anaknya sebagaimana dulu dia seharusnya disayang. Pemikiran itu menorehkan luka yang lebih dalam daripada serangan monster apapun.

"Maafkan aku." Suara yang keluar tidaklah lebih lantang dari detak jantungnya yang melemah. "Maafkan aku yang akan pergi... Tolong jangan benci aku setelah ini ya...? Aku hanya... ingin kalian selamat—"

Krak.

Wriothesley berkedip. Sejak kapan di penghujung kematian ada suara kaca retak?

Krak. Krak.

Tidak, itu bukan kaca, itu adalah—

Serentak, tiga naga sepanjang lengannya tergelincir jatuh dari cangkang telur yang rontok. Bahkan dengan mata beraliran darah, Wriothesley dapat melihat perpaduan indah dari sisik biru laut dan putih salju—benar-benar menyerupai sang terkasih. Tubuh mereka masih diselimuti lendir, mencegah kelopak mata mereka dari terbuka, dan Wriothesley bersyukur bahwa mereka tidak akan bisa melihat kondisinya yang mengenaskan. Ketika salah satu mulai menggeliat tak nyaman di atas lautan merah, hati Wriothesley terasa seperti diinjak-injak.

Anak-anak seharusnya mencari kehangatan di dalam gendongan orang tua, bukannya di kolam darah ayah mereka sendiri.

Tidak, Wriothesley tidak bisa pergi sekarang—belum bisa. Dia melingkarkan satu lengan di sekitar anak-anaknya, kemudian dengan lembut menarik mereka ke pelukannya, menawarkan meski hanya sekilas kehangatannya yang tersisa. 

Desis tipis muncul bersama lidah kecil yang bercabang, sepasang surai biru di kepala mereka bergerak-gerak penasaran. Apakah mereka tau bahwa pria bermandikan darah yang mendekap mereka saat ini adalah ayah mereka? Pertanyaan Wriothesley terjawab saat mereka merapat ke dalam pelukannya alih-alih menjauh, dan lanjut mengusapkan moncong mungil mereka ke pipinya. 

Tangis Wriothesley seketika pecah.

"Papa sayang kalian," isaknya, bibir bertemu dengan hamparan sisik mulus lagi sejuk. Sisa nyawa yang dia miliki dia habiskan untuk menghujani anak-anaknya dengan kecupan di pucuk kepala mereka, layaknya ucapan selamat malam sebelum tidur. "Dulu, sekarang, selamanya... Papa akan terus menyayangi kalian..."

Lengan Wriothesley jatuh dari tubuh licin mereka, begitupula kedua kelopak matanya.

"Terima kasih... telah lahir di dunia ini... Tolong... jaga ibu kalian baik-baik ya..."

Rintik hujan pertama siang itu turun bersama lengkingan tiga anak naga yang menyadari bahwa kehangatan ayah mereka telah sirna.

 


 

Di sebuah rumah di pinggir laut Fontaine, terdapat tangisan yang memilukan hati dari tiga anak naga yang tengah berduka.

Diketahui bahwa tiga anak naga itu sedang melindungi jenazah Duke Wriothesley di halaman belakang yang tenggelam dalam darahnya. Segala usaha untuk meraih tubuh sang Duke akan dibalas dengan bilah hydro yang muncul entah dari mana, tapi terbukti sangat berbahaya sampai bisa menembus zirah besi sebuah Meka.

Ketika Chief Justice Neuvillette tiba di lokasi setelah menutup portal Abyss yang membelah pusat negara, hujan pun tumpah semakin kejam.

Menyadari keberadaan Neuvillette, tiga anak naga itu menangis semakin kencang. Saat itu, hanya "ibu" mereka memahami apa yang mereka jeritkan.

"Mama, Papa tak bergerak lagi!" Karena Wriothesley sudah mati.

"Mama, kenapa tubuh Papa dingin sekali?!" Karena Wriothesley sudah mati.

"Mama, Papa tak mau membuka matanya!" Karena Wriothesley sudah mati.

Wriothesley sudah mati.

Neuvillette menyembunyikan isak tangisnya di balik sisik anak-anaknya ketika dia membawa mereka menuju pelukannya sendiri. Jika Wriothesley sudah mati, dimana lagikah Neuvillette dan anak-anak mereka harus mencari kehangatan penuh kasih?

Notes:

Tweet aslinya disini!

Entah kenapa aku kebayangnya kalo wriolette punya anak, kebanyakan pasti cewek semua, cowoknya satu atau gak dua doang wkwkwkwk.