Chapter Text
Matahari di QishanWen terasa membakar kulit, namun bagi Wei Wuxian, hawa di sekitarnya tiba-tiba membeku. Di tengah lapangan yang luas, di hadapan ribuan pasang mata dari berbagai klan, suara petir ungu dari Zidian memecah kenyamanan.
"Pergi dari sini, Wei Wuxian! Jangan pernah berani menginjakkan kakimu di Dermaga Teratai lagi!"
Suara Madam Yu menggelegar, tajam dan penuh dengan racun. Di sampingnya, Jiang Cheng berdiri mematung. Wajahnya merah padam, tangannya terkepal hebat hingga gemetar, namun ia tidak mengeluarkan kata pun untuk membela. Ia hanya memalingkan wajah, seolah membenarkan setiap kata hinaan yang keluar dari mulut ibunya.
"Kau hanyalah anak seorang pelayan yang tidak tahu diri! Kau membawa malu pada nama Jiang dengan kelakuan liarmu!" Madam Yu melanjutkan, setiap kata seperti sembilu yang menyayat dada Wei Wuxian. "Mulai detik ini, kau bukan lagi murid YunmengJiang. Kau diusir!"
Wei Wuxian berdiri mematung. Jubah ungu yang ia kenakan—warna yang selama ini ia banggakan sebagai identitas rumahnya—terasa sangat berat dan menyesakkan. Ia menatap Jiang Cheng, berharap setidaknya ada satu tatapan persaudaraan, namun yang ia hanyalah punggung yang dingin.
Bisikan-bisikan dari klan lain mulai terdengar. Tawa sinis, tatapan merendah, dan gumaman tentang "anak pelayan" memenuhi indranya. Wei Wuxian merasa dunianya runtuh. Ia tidak punya apa-apa lagi. Tidak ada rumah, tidak ada keluarga.
Dengan tangan gemetar, ia perlahan melepaskan pita rambut merah yang mengikat rambutnya, simbol yang selama ini ia gunakan di sektenya. Ia meletakkannya di atas tanah yang berdebu, lalu bersujud untuk terakhir kalinya ke arah pemimpin klan Jiang.
"Terima kasih... atas segalanya," bisik Wei Wuxian. Suaranya pecah.
Ia berbalik, berjalan menjauh dengan langkah limbung. Dia tidak tahu harus ke mana. Langit Qishan yang luas terasa begitu sempit bagi seseorang yang baru saja kehilangan segalanya.
Ia terduduk di bawah pohon tua yang jauh dari keramaian lomba, menyembunyikan wajahnya di antara lutut. Saat itulah, sebuah bayangan menutupi sinar matahari yang mengenainya.
"Wei-xiong," panggil Nie Huaisang pelan. Ia sudah duduk di samping Wei Wuxian tanpa suara.
Wei Wuxian tidak mendongak, namun bahunya yang bergetar hebat tidak bisa menyembunyikan tangisnya. Air mata mengalir tanpa disadari, membasahi kain jubahnya yang kusam oleh debu.
“Ikutlah bersamaku ke Qinghe,” lanjut Nie Huaisang, suaranya lembut namun penuh kesungguhan. “Jadilah salah satu dari kami.”
Wei Wuxian tetap tak berani menatap sahabatnya itu. "Aku... tidak pantas untuk ikut bersamamu ke Qinghe, Huaisang... Aku hanya rongsokan yang dibuang."
Suaranya serak, ia mencoba menghapus air matanya dengan kasar menggunakan sapu tangan yang tiba-tiba disodorkan oleh Nie Huaisang di padanya.
"Wei-xiong, jangan berpikir begitu. Kau pantas. Qinghe selalu punya tempat untuk mereka yang berjiwa besar," Nie Huaisang menepuk pelan punggung Wei Wuxian dengan sangat hati-hati, seolah pemuda di depannya adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja.
Wei Wuxian akhirnya menoleh. Raut wajahnya hancur; hidungnya memerah, matanya membengkak, dan binar jenaka yang biasanya ada di sana telah padam sepenuhnya. "A-aku..."
"Wei-xiong..."
Sebelum Wei Wuxian sempat menolak karena rasa rendah dirinya, langkah kaki berat terdengar mendekat. Nie Mingjue berdiri di sana, berdiri tegak dengan jubah hijau tua dan cokelat yang megah, diikuti oleh beberapa murid inti Qinghe Nie.
"Hei, Wei Wuxian," panggil Nie Mingjue tegas, namun tidak ada nada merendahkan dalam suaranya. "Ikutlah dengan kami. Tinggal dan hiduplah di Qinghe bersama Huaisang. Berbahagialah di sana, jangan hiraukan orang-orang yang tidak bisa melihat emas di tengah lumpur."
Wei Wuxian tersentak. Dengan sisa-sisa harga dirinya, ia berdiri dan memberikan hormat dengan tangan yang masih gemetar. "Pemimpin klan Nie..."
"Wei-gongzi," salah seorang murid Qinghe Nie ikut berbicara dengan nada ramah yang tulus. "Jika kau menolak, ke mana kau akan pergi? Dunia luar sangat kejam bagi mereka yang sendirian. Mari pulang bersama kami."
Mendengar kata "pulang", Wei Wuxian kembali membisu. Air matanya jatuh lagi, lebih deras dari sebelumnya. Nie Huaisang kembali mendekat, mengusap air mata di pipi Wei Wuxian dengan hati-hati, seolah-olah setiap tetes air mata itu adalah luka yang harus dibasuh dengan doa.
Di bawah naungan panji klan Nie, Wei Wuxian menyadari satu hal: meski satu pintu baru saja tertutup dengan dentuman keras yang menyakitkan, sebuah gerbang besar di Qinghe baru saja terbuka lebar untuknya.
