Work Text:
Oktober 1989 datang lebih cepat di pegunungan Gangwon.
Udara dingin turun sejak pagi, membawa kabut tipis yang menyelimuti deretan pohon apel di lereng-lereng bukit. Truk pengangkut buah berlalu pelan melewati jalan tanah yang sempit, Sementara para sagwabat ilkkun para pekerja musiman kebun apel—sibuk memindahkan keranjang panen ke gudang penyimpanan.
Bus terakhir berhenti tepat ketika matahari mulai tenggelam.
Satu per satu penumpang turun sambil membawa tas lusuh dan koper kecil mereka. Kebanyakan wajah lama; pekerja yang datang setiap musim panen untuk mencari uang sebelum musim dingin tiba.
Perempuan terakhir yang turun tampak berbeda dari yang lain.
Sepatu putihnya terlalu bersih untuk jalan pegunungan, mantel abu-abunya masih rapi, dan kedua tangannya memeluk tas kain biru seolah takut dirampas seseorang.
“Pekerja baru?” tanya seorang pria tua sambil mengisap rokok.
Perempuan itu mengangguk kecil.
“Kim Yooyeon.”
Pria itu mendecakkan lidah pelan. “Anak kota.”
Beberapa pekerja lain tertawa kecil.
Yooyeon menunduk malu dan buru-buru mengambil kopernya dari bagasi bus, namun sebelum sempat mengangkatnya, seseorang lebih dulu menarik koper itu dari tangannya.
Yooyeon tersentak.
Seorang perempuan berdiri di sampingnya dengan jaket kerja cokelat kusam dan sarung tangan wol hitam yang sudah mulai rusak di bagian jari. Rambutnya pendek berantakan tertiup angin gunung.
Tatapan matanya datar.
“Aku bawakan,” katanya singkat.
Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh suara angin.
“Oh— tidak usah, aku bisa sendiri—”
Perempuan itu sudah berjalan lebih dulu menaiki jalan menanjak menuju asrama pekerja tanpa mendengarkan jawabannya.
Yooyeon hanya bisa berdiri bengong beberapa detik sebelum akhirnya mengejar.
Langkah perempuan itu cepat. Seolah ia sudah hafal setiap batu dan tanjakan di gunung itu. Di sepanjang jalan, deretan pohon apel merah bergoyang pelan diterpa angin malam.
“Pertama kali kerja di sini?” tanya perempuan itu tiba-tiba tanpa menoleh.
“Iya.”
“Hm.”
“Hm” itu terdengar dingin, tapi entah kenapa tidak kasar.
Yooyeon menggenggam tali tasnya lebih erat. “Kalau kamu?”
“Aku datang setiap musim panen.”
“Sudah lama?”
“Sejak umur enam belas.”
Mereka kembali diam.
Hanya ada suara langkah kaki, dedaunan, dan jauh di bawah sana, suara sungai gunung yang samar.
Saat akhirnya mereka tiba di depan asrama kayu tua, perempuan itu meletakkan koper Yooyeon di teras.
“Kamar empat,” katanya. “Sekamar denganku.”
Yooyeon berkedip pelan.
“…Oh.”
Perempuan itu akhirnya menatapnya untuk pertama kali sejak tadi.
“Yoon Seoyeon.”
Napas Yooyeon langsung berubah menjadi asap putih di udara dingin.
Perempuan itu alias Seoyeon berjalan keluar asrama kayu tua tanpa mengucapkan kata apapun, menyisakan Yooyeon sendirian di dalam. Yooyeon perlahan menarik koper kecilnya ke dalam kamar empat, bau apel memenuhi kamar sempit itu.
Tajam dan manis, bercampur bau kayu yang sudah menyerap dingin pegunungan selama bertahun-tahun. Yooyeon berdiri cukup lama di depan ranjang kecil dekat jendela sebelum akhirnya duduk perlahan, meregangkan kakinya yang masih pegal akibat perjalanan dari Seoul.
Dari luar asrama terdengar suara para sagwabat ilkkun yang belum selesai bekerja. Keranjang-keranjang panen diseret melintasi tanah, disusul suara tawa pelan dan radio tua yang memutar lagu trot samar-samar dari kejauhan.
Seoyeon masuk kembali beberapa menit kemudian dengan dua selimut lusuh di pelukannya.
Tanpa banyak bicara, perempuan itu melempar salah satunya ke ranjang Yooyeon lalu duduk di lantai dekat pintu.
Tangannya sibuk membuka sarung tangan wol hitam yang sudah rusak di beberapa bagian.
Baru saat itulah Yooyeon melihat luka-luka kecil memenuhi jemari Seoyeon. Kulit di telapak tangannya memerah dan kasar, jauh berbeda dengan tangannya sendiri.
Seoyeon sudah terbiasa hidup di gunung itu.
Yooyeon bisa melihatnya hanya dari cara perempuan itu bergerak.
Dari cara ia berjalan tanpa takut terpeleset di jalan berbatu. Dari caranya membuka jendela yang macet dengan satu tangan. Dari caranya tetap diam meski udara malam mulai menusuk tulang.
Semua tentang Seoyeon terasa seperti bagian dari pegunungan itu sendiri.
Sementara Yooyeon terasa terlalu bersih.
Terlalu rapi.
Terlalu kota.
Tidak lama kemudian pintu asrama kembali terbuka. Udara dingin langsung masuk bersama sosok lain yang membawa sekeranjang apel merah di tangannya. Gadis yang tampak lebih muda dari mereka memperkenalkan dirinya sebagai Anna. Perempuan berdarah Korea-Jepang, Rambutnya panjang bergelombang dengan pipi kemerahan akibat udara dingin.
Ia sibuk bercerita tentang musim panen tahun sebelumnya sambil membagikan apel kepada dua orang di kamar itu. Yooyeon menerima satu apel merah dari tangannya. Buah itu masih terasa dingin ketika disentuh. Di sisi lain kamar, Seoyeon akhirnya tertidur lebih dulu dengan tubuh setengah terselimuti jaket cokelat kusamnya sendiri. Lambat laun jam dinding menunjukkan sudah pukul 23:00, Anna pamit untuk kembali kamarnya yang berada cukup jauh dari kamar empat, yaitu kamar dua belas.
Lampu kamar dimatikan menjelang tengah malam.
Suara angin gunung terdengar jelas dari celah jendela kayu yang tidak tertutup sempurna.
Yooyeon berbaring diam di ranjangnya sambil menatap langit-langit gelap.
—
Pagi pertama Yooyeon di pegunungan Gangwon dimulai sebelum matahari terbit.
Suara peluit penjang membangunkannya dari tidur yang bahkan belum benar-benar lelap. Udara dingin dini hari menusuk sampai ke tulang begitu ia membuka mata. Di ranjang sebelahnya yang terlihat sudah rapi, Seoyeon sudah tidak terlihat.
Yooyeon buru-buru mengenakan jaket tebalnya sebelum keluar dari kamar. Kabut masih turun rendah menutupi lereng-lereng kebunn apel. Para Sagwabat ilkkun mulai berkumpil di halaman sambil membawa keranjang dan tangga kayu.
Di antara mereka, Seoyeon berdiri paling depan.
Rambut pendeknya sedikit basah terkena embun pagi. Tangannya bergerak cepat memindahkan peti apel ke belakang truk seolah tubuhnya tiedak mengenal rasa lelah.
Yooyeon memperhatikannya cukup lama sampai seseorang menyenggol bahunya pelan.
Anna muncul sambil menguap kecil, lalu menyerahkan sarung tangan wol tua padanya.
“Pakai itu,” katanya singkat. “Kalau enggak, tanganmu bakal berdarah hari ini.”
Yooyeon menunduk pelan sambil menerima sarung tangan itu. Ujungnya sedikit kebesaran di jemarinya.
Beberapa menit kemudia mereka mulai bekerja. Tangga-tangga kayu disandarkan pada batang pohon apel yang tinggi. Udara gunung dipenuhi aroma buah matang dan dedaunan basah. Keranjang panen perlahan terisi merah.
Yooyeon beberapa kali terpeleset di tanah berlumpur, tubuhnya terlalu lambat untuk ritme kerja di gunung itu. Saat ia mencoba mengambil apel di cabang paling tinggi tangga kayu di bawah kakinya tiba-tiba bergeser sedikit. Namun sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, seseorang menahan tangga itu dengan kuat dari bawah.
Seoyeon.
Perempuan itu mendongak tanpa ekspresi sambil memegang sisi tangga dengan kedua tangannya yang penuh luka kecil.
“Pelan-pelan” ucapnya pendek.
Hanya dua kata, tapi entah kenapa suara itu terasa jauh lebih hangat dibanding jaket tebal yang sedang dikenakan Yooyeon pagi itu.
Sejak hari itu, Yooyeon mulai memperhatikan Seoyeon lebih sering dari yang seharusnya. Cara perempuan itu bekerja tanpa banyak mengeluh. Cara ia diam-diam memperbaiki tangga rusak saat pekerja lain tidur. Cara ia selalu menyisihkan apel paling bagus untuk dibawa ke dapur asrama.
Dan setiap malam, ketika seluruh penghuni asrama mulai tertidur, Yooyeon diam-diam masih bisa mendengar suara langkah Seoyeon berjalan sendirian di luar bangunan kayu tua itu.
Seolah gunung tersebut adalah satu-satunya tempat di dunia yang benar-benar mengenal dirinya.
—
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat.
Malam keenam dihabiskan para pekerja dengan berkumpul di dapur asrama sambil menghabiskan sisa teh apel sebelum semua orang pulang ke kota masing-masing esok pagi.
Udara dingin membuat pipi semua orang memerah. Radio tua di sudut ruangan memutar lagu pelan sementara gelas-gelas kecil terus diisi ulang dengan campuran teh apel dan sedikit alkohol murah yang diam-diam dibawa salah satu pekerja senior.
Yooyeon jarang minum.
Baru beberapa gelas saja kepalanya sudah terasa hangat.
Anna tertidur lebih dulu di meja dapur bersama pekerja lain, meninggalkan Yooyeon dan Seoyeon duduk bersebelahan dekat jendela yang mulai dipenuhi embun.
Di luar, hujan kecil turun membasahi lereng kebun apel.
Seoyeon masih diam seperti biasa, namun kali ini bahunya sesekali menyentuh bahu Yooyeon tanpa menjauh lagi. Entah karena mabuk atau lelah, Yooyeon mulai tertawa pelan sendiri.
“Aku rasa… aku bakal kangen tempat ini.”
Seoyeon menoleh.
Tatapannya jatuh terlalu lama ke wajah Yooyeon yang memerah karena alkohol dan udara dingin. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Lalu Yooyeon membungkuk terlalu dekat saat hendak mengambil gelas tehnya kembali.
Dan bibir mereka bertemu begitu saja.
Singkat.
Canggung.
Keduanya langsung terdiam.
Yooyeon bisa merasakan napas hangat Seoyeon bercampur aroma apel manis di udara dingin malam itu.
Namun anehnya, tidak ada satu pun dari mereka yang buru-buru menjauh.
—
Oktober 1990 datang bersama hujan lebih awal
Seoyeon tidak berharap melihat Yooyeon lagi.
Namun ketika bus terakhir berhenti di depan jalan tanah pegunungan sore itu, perempuan pertama yang turun tetap orang yang sama.
Mantel abu-abu.
Tas kain biru.
Dan tatapan gugup yang langsung mencari Seoyeon di antara para sagwabat ilkkun lainnya.
Selama satu tahun penuh, tidak ada satu hari pun Seoyeon berhasil melupakan malam hujan itu. Dan dari cara Yooyeon menggenggam tali tasnya terlalu erat sekarang, mungkin perempuan itu juga sama.
Tidak ada yang mereka katakan ketika akhirnya berdiri berhadapan lagi. Hanya tatapan panjang yang terasa terlalu dalam untuk dua orang yang bahkan belum pernah benar-benar mendefinisikan hubungan mereka.
Suara mesin mobil tiba-tiba terdengar dari bawah lereng.
Beberapa pekerja langsung menoleh ketika sebuah mobil tua berwarna hitam berhenti di depan gudang panen. Pintu penumpang terbuka lebih dulu, memperlihatkan Anna yang turun sambil tertawa kecil.
Rambut panjangnya kini jauh lebih rapi dibanding tahun lalu.
Di sisi lain mobil, seorang pria ikut turun perlahan.
Tubuhnya tinggi dengan bahu lebar tertutup mantel gelap. Rambutnya klimis rapi, sementara kumis tipis samar terlihat di atas bibirnya. Ada sesuatu dari cara pria itu berdiri yang langsung membuat beberapa pekerja perempuan mulai berbisik pelan satu sama lain.
Anna dengan cepat menggandeng lengannya sambil berjalan mendekati mereka.
“Pacarku,” katanya bangga.
Pria itu tersenyum kecil sebelum memperkenalkan dirinya sebagai Dohoon.
Tatapannya sempat berhenti pada Yooyeon beberapa detik lebih lama dibanding yang seharusnya. Namun Yooyeon bahkan tidak benar-benar menyadarinya. Karena sejak tadi, perhatiannya hanya tertuju pada Seoyeon yang berdiri sangat dekat di sampingnya.
Mereka berempat akhirnya duduk bersama di depan gudang penyimpanan sambil meminum teh apel hangat yang dibagikan mandor pada seluruh pekerja.
Anna sibuk bercerita tentang kehidupannya di bawah gunung, sementara Dohoon lebih banyak diam sambil merokok di tangga kayu depan gudang.
Kabut malam perlahan turun di antara mereka. Sesekali lutut Yooyeon tanpa sengaja menyentuh lutut Seoyeon di bawah selimut tipis yang mereka pakai bersama untuk menghalau dingin. Tidak ada yang menjauh.
Yooyeon hampir lupa seperti apa rasanya duduk sedekat ini dengan Seoyeon.
Aroma apel dan asap rokok bercampur di udara malam yang dingin. Dari samping, Seoyeon tampak lebih santai dibanding tahun lalu. Sesekali perempuan itu ikut menanggapi cerita Anna pelan, bahkan tertawa kecil ketika mendengar keluhan Anna soal perjalanan panjang naik gunung.
Menjelang malam, Dohoon akhirnya pamit untuk turun gunung sebelum jalan semakin gelap.
Anna mengantarnya sampai dekat mobil dan memberi sedikit kecupan manis di pipinya.
Sebelum masuk ke kursi pengemudi, Dohoon sempat melirik sekali lagi ke arah Yooyeon.
Yooyeon yang sedang tertawa bahkan tidak menyadarinya.
Pemandangan kecil itu entah kenapa tertinggal cukup lama di kepala Dohoon malam itu.
Untuk pertama kalinya setelah satu tahun penuh, mereka kembali tidur dalam kamar yang sama, dengan Anna sebagai penghuni baru kamar nomor empat.
Seperti tahun sebelumnya, udara pegunungan Gangwon tetap terlalu dingin untuk dua perempuan yang diam-diam saling merindukan satu sama lain.
Hari-hari berikutnya berjalan lebih tenang dibanding tahun lalu.
Yooyeon mulai terbiasa bekerja di kebun apel. Tangannya tidak lagi semudah itu terluka, dan langkahnya sudah cukup hafal melewati jalan-jalan sempit di lereng gunung.
Sementara Seoyeon perlahan berubah menjadi jauh lebih terbuka saat berada di dekat Yooyeon, kadang perempuan itu menarik lengan Yooyeon agar tidak terpeleset di tanah basah, kadang diam-diam menyisihkan apel paling merah untuknya saat waktu makan siang. dan kadang, ketika malam mulai terlalu dingin, Seoyeon akan duduk sedikit lebih dekat di samping Yooyeon tanpa mengatakan apa pun.
Anna sering mengeluh karena mereka berdua terlalu sulit diajak bicara.
Namun anehnya, Yooyeon justru menyukai semua keheningan kecil itu.
Dohoon sendiri sesekali datang naik gunung membawa makanan atau rokok untuk Anna. Hubungannya dengan Yooyeon masih sebatas basa-basi singkat dan obrolan ringan di depan gudang panen.
Tidak lebih.
Setidaknya belum.
Malam terakhir musim panen datang terlalu cepat.
Sebagian pekerja sibuk membereskan koper dan keranjang mereka di dalam asrama. Dari kejauhan terdengar suara radio tua bercampur tawa pelan beberapa sagwabat ilkkun yang masih belum ingin tidur.
Kabut turun semakin tebal malam itu.
Yooyeon duduk sendirian di belakang asrama sambil memeluk lututnya. Udara dingin membuat ujung hidung dan pipinya memerah. Langkah kaki pelan terdengar mendekat tidak lama kemudian, Seoyeon datang membawa dua gelas teh apel hangat di tangannya sebelum duduk di samping Yooyeon tanpa banyak bicara.
Aroma apel manis langsung memenuhi udara di antara mereka.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya memandangi lereng kebun apel yang gelap di depan sana.
Besok pagi semuanya selesai lagi.
Dan entah kenapa, pikiran itu terasa jauh lebih menyakitkan dibanding tahun lalu.
“Aku bakal balik tahun depan.” Suara Yooyeon terdengar pelan di tengah dinginnya malam.
Seoyeon menoleh sebentar. Rambut pendek perempuan itu sedikit basah terkena embun malam. “Aku sempat mikir kamu gak bakal datang lagi.”
Yooyeon tersenyum kecil. “Aku juga sempat mikir begitu,” “Tapi kamu tetep datang.”
Tatapan mereka bertemu pelan di tengah kabut tipis pegunungan Gangwon.
“Karena ada kamu di sini,” jawab Yooyeon lirih.
Hening.
Napas mereka berubah menjadi asap putih tipis di udara dingin.
Seoyeon menunduk kecil sambil tertawa gugup untuk pertama kalinya sejak Yooyeon mengenalnya. “Aku gak ngerti harus ngomongnya gimana,” gumamnya pelan. “Tapi… aku rasa aku suka sama kamu.”
Dada Yooyeon langsung terasa sesak.
Tidak ada suara apa pun selama beberapa detik selain angin malam yang bergerak pelan di antara pohon-pohon apel.
Lalu perlahan, Yooyeon mendekat dan memeluk Seoyeon erat. Tubuh perempuan itu terasa dingin akibat udara gunung.
Namun di malam terakhir musim panen tahun 1990 itu, untuk pertama kalinya, tidak ada satu pun dari mereka yang merasa sendirian lagi.
—
Musim gugur tahun 1991 datang tanpa pegunungan Gangwon. Badai besar yang terjadi beberapa bulan sebelumnya menghancurkan sebagian kebun apel di lereng gunung, membuat pemilik perkebunan menghentikan sementara perekrutan sagwabat ilkkun sampai waktu yang tidak jelas. Tidak ada surat panggilan kerja. Tidak ada bus terakhir menuju asrama kayu tua tempat mereka biasa tinggal selama musim panen.
Untuk pertama kalinya sejak 1989, Seoyeon dan Yooyeon tidak bertemu ketika Oktober datang.
Awalnya Yooyeon masih menunggu. Ia beberapa kali memeriksa papan lowongan kerja dekat terminal Seoul berharap menemukan nama perkebunan itu lagi, namun tahun demi tahun berlalu tanpa kabar apa pun. Kehidupannya perlahan kembali sibuk di kota. Yooyeon mulai bekerja tetap di sebuah toko pakaian kecil milik kenalan keluarganya, sementara Anna yang kini tinggal di bawah gunung semakin sering mengajaknya pergi bersama.
Dari situlah Yooyeon mulai mengenal Dohoon lebih dekat.
Awalnya hanya karena Anna selalu membawa pacarnya ke mana-mana. Dohoon kadang mengantar mereka pulang ketika hari sudah terlalu malam, kadang muncul di toko Yooyeon saat sedang patroli, atau sekadar berhenti membeli kopi sebelum kembali bekerja. Hubungan mereka berjalan ringan dan biasa saja. Yooyeon bahkan tidak pernah benar-benar memikirkan Dohoon lebih dari teman Anna sendiri.
Namun semakin lama, Anna mulai sadar kalau Dohoon terlalu sering mencari alasan untuk menemui Yooyeon.
Sementara itu di Gangwon, kehidupan Seoyeon hampir tidak berubah. Setelah perkebunan tutup sementara, ia membantu warga desa memperbaiki kebun yang rusak dan sesekali bekerja serabutan di pasar bawah gunung. Hari-harinya berjalan lambat dan sepi, terutama setiap musim gugur datang kembali. Kadang saat udara mulai dingin, Seoyeon masih tanpa sadar melihat ke arah jalan tempat bus terakhir biasa berhenti, meskipun ia tahu tidak akan ada siapa pun yang turun dari sana lagi.
Dan selama tiga tahun itu, tanpa pernah benar-benar mengatakannya pada siapa pun, baik Seoyeon maupun Yooyeon tetap hidup dengan kenangan musim gugur yang sama.
—
Musim gugur tahun 1994 datang bersama kabar yang tidak pernah benar-benar mereka harapkan lagi.
Perkebunan apel di pegunungan Gangwon akhirnya dibuka kembali setelah bertahun-tahun ditinggalkan akibat badai dan kerusakan lereng. Nama tempat itu kembali muncul di papan lowongan kerja lama dekat terminal Seoul, nyaris terkubur di antara pengumuman-pengumuman baru.
Yooyeon menemukannya secara tidak sengaja sepulang kerja.
Dan seperti seseorang yang kembali menyentuh luka lama, dadanya langsung terasa sesak hanya karena membaca nama pegunungan itu lagi setelah tiga tahun. Banyak hal berubah sejak musim gugur terakhir mereka di sana.
Anna dan Dohoon sudah lama putus. Tidak ada yang benar-benar tahu kapan hubungan mereka mulai hancur, namun orang-orang di sekitar mereka perlahan terbiasa melihat Anna menangis sendirian di depan rumahnya sementara Dohoon memilih menghabiskan lebih banyak waktu bekerja dibanding pulang menemuinya.
Beberapa bulan setelah perpisahan itu, kabar pertunangan Yooyeon dan Dohoon mulai terdengar.
Bahkan Yooyeon sendiri tidak pernah benar-benar tahu kapan semuanya berubah menjadi sejauh itu. Mungkin karena Dohoon selalu ada di saat hidupnya terasa terlalu sepi. Mungkin karena keluarganya menyukai pria itu. Atau mungkin karena setelah bertahun-tahun mencoba melupakan seseorang, Yooyeon mulai lelah hidup dengan kenangan yang tidak pernah bisa ia miliki kembali.
Sementara itu di Gangwon, Seoyeon menjalani hidup yang sama sekali berbeda.
Ia menikah dengan Sungho dua tahun sebelumnya melalui perjodohan keluarga kecil di desa bawah gunung. Sungho terlalu baik untuk dibenci. Ia sabar, lembut, dan menerima semua sisi diam Seoyeon tanpa pernah memaksanya berubah menjadi istri yang sempurna.
Bahkan ketika akhirnya menyadari bahwa sebagian hati Seoyeon mungkin masih tertinggal di tempat lain, pria itu tetap memilih tinggal.
Kini mereka memiliki seorang anak perempuan kecil bernama Kya yang baru berusia tiga tahun. Anak itu mewarisi mata Seoyeon dan kebiasaan Sungho yang selalu tertawa kecil saat gugup.
Bus terakhir musim panen kembali berhenti di depan jalan tanah pegunungan Gangwon pada Oktober 1994. Suasana yang terasa berbeda dari sebelumnya. Yooyeon memutuskan untuk kembali bekerja di tempat itu sekedar untuk melepas rindu dan memutuskan untuk resign sebentar dari tempat kerja sebelumnya.
Yooyeon turun dari sana sekali lagi.
Kabut tipis menyelimuti pegunungan Gangwon ketika Yooyeon turun dari bus terakhir sore itu. Udara dingin langsung menusuk wajahnya begitu ia menginjak jalan tanah yang masih basah karena hujan semalam. Banyak hal berubah sejak terakhir kali ia datang ke tempat itu tiga tahun lalu. Gudang penyimpanan terlihat lebih tua, beberapa bagian asrama kayu sudah diganti, dan sebagian lereng kebun apel tampak kosong akibat longsor yang dulu sempat menghancurkan perkebunan tersebut.
Yooyeon berjalan pelan sambil membawa tasnya naik ke arah asrama. Beberapa pekerja lama masih mengenalinya dan menyapa singkat, meski sebagian tampak terkejut melihatnya kembali lagi setelah sekian lama. Yooyeon hanya membalas seperlunya. Sejak tadi matanya sibuk mencari satu orang yang sama.
Suara tawa anak kecil membuat langkahnya berhenti.
Seorang anak perempuan sedang berlari kecil di dekat gudang sambil membawa dua apel merah di pelukannya. Jaket rajut kuning yang dipakainya terlihat kebesaran. Di belakang anak itu, seorang perempuan berjalan sambil membawa keranjang kosong.
Yooyeon langsung mengenalinya bahkan sebelum perempuan itu mengangkat wajah.
Seoyeon.
Rambutnya sedikit lebih panjang sekarang. Tubuhnya tampak lebih kurus dibanding dulu, namun wajahnya terlihat jauh lebih tenang. Sweater cokelat lusuh yang dipakainya dipenuhi noda tanah kecil di bagian lengan.
“Kya, jangan lari,” ucap Seoyeon sambil tertawa kecil.
Anak kecil tadi akhirnya berhenti sebelum bersembunyi di belakang kaki Seoyeon. Baru setelah itu Seoyeon mengangkat kepala dan menyadari siapa yang berdiri beberapa meter di depannya.
Ekspresinya langsung berubah.
Keranjang di tangannya perlahan turun ke tanah sementara ia hanya menatap Yooyeon tanpa bicara apa pun selama beberapa detik.
“Kamu balik?” tanyanya pelan.
Yooyeon mengangguk kecil. “Aku lihat perkebunannya buka lagi.”
Hening sebentar muncul di antara mereka. Rasanya aneh melihat Seoyeon lagi setelah tiga tahun. Bahkan lebih aneh lagi ketika Yooyeon menyadari ada cincin pernikahan di jari tangan kiri perempuan itu.
Tatapan Yooyeon perlahan berpindah ke anak kecil di belakang Seoyeon.
“Anakmu?”
Seoyeon mengangguk. Tangannya mengusap pelan kepala anak itu. “Namanya Kya.”
Anak kecil itu mengintip malu-malu ke arah Yooyeon sebelum akhirnya membungkuk kecil.
Yooyeon tersenyum tipis, tanpa sadar air matanya mulai menetes dari kelopak matanya, dadanya terasa tidak nyaman.
Ia tidak pernah benar-benar membayangkan seperti apa kehidupan Seoyeon setelah mereka kehilangan kontak selama tiga tahun terakhir. Namun melihat perempuan itu berdiri di sana bersama anaknya membuat semuanya terasa jauh lebih nyata dari yang Yooyeon kira. Seoyeon hanya membalas tangisan itu dengan pelukan singkat sebelum ia berpamitan dengannya.
“Aku mau antar Kya ke asrama dulu ya” Katanya pelan sambil menggandeng Kya berjalan kearah asrama.
Kya berjalan kecil sambil menoleh ragu ke arah Yooyeon, lalu melambaikan tangan kecilnya sebelum bayangannya hilang di antara jalan menuju asrama.
Yooyeon berdiri di bawah pohon apel sembari menunggu kedatangan wanita yang sudah ia rindukan selama tiga tahun terakhir, bohong jika dikata ia tidak merindukan sosoknya.
Setelah lima belas menit menunggu, Seoyeon kembali sendirian.
Langkah terasa lebih santai sekarang, tidak buru-buru seperti sebelumnya. Mereka saling bertatap mata seperkian detik seperti dahulu tidak pernah akrab. Suasana hening mulai terlihat di antara mereka. Sebelum akhirnya Seoyeon memulai topik pembicaraan.
“Aku pikir kamu sudah pulang.”
Yooyeon menggeleng kecil. “Aku nungguin kamu”
Seoyeon hanya terdiam.
“Sebentar lagi aku harus kembali ke rumah mertuaku di kota.” Ucap Seoyeon.
Hening kembali turun. Yooyeon pikir ia akan menghabiskan waktu lebih lama bersamanya.
Seoyeon akhirnya menatap Yooyeon lagi. Lebih lama dari sebelumnya. “Aku gak tahu kamu balik cuma buat kerja atau apa,” katanya pelan, “tapi… semoga pernikahanmu dengan Dohoon bisa berjalan lancar.” Aku sudah mendengarnya dari senior di sini.
Yooyeon tersenyum kecil, tapi kali ini tidak sampai ke matanya. “Makasih.”
Seoyeon mengangguk pelan, lalu berbalik.
Dan untuk kedua kalinya hari ini, Yooyeon melihat punggung perempuan yang dulu ia pikir akan selalu punya waktu lebih lama dalam hidupnya.
Malamnya, kabut turun lebih tebal dari biasanya.
Dohoon datang ke area gudang saat sebagian pekerja sudah mulai pulang. Seragamnya masih rapi, tapi wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya. Dia berhenti saat melihat Yooyeon masih di sana, duduk sendirian di tangga kayu depan gudang.
“Masih kerja?” tanya Dohoon.
“Udah selesai,” jawab Yooyeon singkat.
Dohoon duduk di satu anak tangga di bawahnya. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak jauh.
Beberapa detik mereka diam.
“Aku lihat kamu tadi sama dia,” kata Dohoon akhirnya.
Yooyeon tidak langsung menjawab. Tangannya masih memegang ujung lengan jaketnya sendiri.
“Seoyeon,” lanjut Dohoon, lebih pelan.
Yooyeon mengangguk kecil. “Iya.”
Dohoon menghela napas, tapi tidak terdengar marah. Lebih seperti menahan sesuatu yang sudah lama dipendam. “Kamu gak bilang kamu bakal ketemu dia.”
“Aku juga gak tahu dia masih di sini.” Itu setengah jujur. Setengah tidak.
Dohoon menatap ke arah kebun apel di bawah sana. Kabut membuat semuanya terlihat samar.
“Anna pernah bilang,” katanya pelan, “kalau ada sesuatu dari masa lalu yang gak selesai, dia bakal selalu balik ke tempat yang sama.”
Yooyeon menoleh sedikit.
Nama Anna membuat suasana jadi lebih dingin.
“Dia masih ngomong gitu?” tanya Yooyeon.
Dohoon tidak menjawab langsung. “Dia banyak berubah.”
Hening lagi.
Lalu Dohoon menambahkan, lebih pelan dari sebelumnya, “Aku cuma gak mau kamu kebawa lagi ke sesuatu yang udah lewat.”
Yooyeon tersenyum kecil, tapi kali ini tidak ada hangatnya. “Aku juga gak mau.”
Tapi dia tidak yakin kalimat itu benar.
Di sisi lain pegunungan, Seoyeon sedang menidurkan Kya.
Anak itu sudah tidur setengah sadar, memegang ujung selimutnya erat-erat.
Seoyeon duduk lama di sampingnya, tanpa benar-benar bergerak.
Dan untuk sesaat, Seoyeon menutup matanya.
Bukan karena lelah.
Tapi karena ada nama yang tidak pernah benar-benar pergi dari kepalanya, bahkan setelah semua hal yang ia bangun dari nol.
—
Keesokan harinya mata Yooyeon terbuka lebih cepat dari biasanya, jam masih menunjukkan pukul 4:41 dini hari. Yooyeon bergegas bersiap siap menyiapkan sarapan untuk dibawa Dohoon sebelum dirinya pergi bekerja patroli jalur desa seperti biasanya.
Suasana kebun hari ini terasa berbeda, Yooyeon tidak lagi bekerja bersama Seoyeon dan Anna yang sudah sibuk dengan kehidupan dan keluarganya masing-masing. Ditambah cuaca yang terasa lebih terik dibanding sebelumnya.
Dohoon yang sering mengelilingi area jalur desa hingga pegunungan Gangwon beberapa kali melihat Seoyeon dengan anak dan suaminya berada di dekat perkebunan tempat Yooyeon bekerja. Aneh rasanya, karena hal ini terlalu sering. Apa rahasia yang selama 6 tahun Yooyeon Dan Seoyeon sembunyikan? Apakah kata-kata yang diucapkan Anna berhubungan dengan mereka semua? pertanyaan itu terus mengelilingi kepala Dohoon setiap melihat kedua wanita itu berdekatan. Bagai perangko dan surat yang tak terpisahkan.
Dohoon yang sedang menyeruput segelas kopi di meja depan minimarket tak sengaja mendengar dua orang wanita paruh baya menyembut naman Yooyeon dan Seoyeon. Dari percakapan itu, ia menangkap kabar lama—bahwa keduanya pernah memiliki hubungan di masa lalu. Hubungan yang lebih dari sekedar rekan kerja ataupun sahabat dekat.
Suara dua perempuan paruh baya itu masih terdengar samar di belakangnya, bercampur dengan bunyi sendok di cangkir kopi. Tapi kalimat itu sudah terlanjut menempel di kepalanya. Nama Seoyeon dan Yooyeon terus berputar di kepalanya.
Setelah hari ini, sikap Dohoon mulai berubah. Perhatiannya mulai memudar dan ia lebih diam dari biasanya. Matanya beberapa kali melirik ke arah kebun apel, seolah ada sesuatu yang baru saja ia sadari tapi belum di akui.
Malamnya, Dohoon berhenti di dekat area perkebunan. Menatapnya sebentar, lalu pulang tanpa alasan yang jelas.
Besoknya, ia mulai memperhatikan setiap langkap kecil yang diambil Yooyeon. Seperti cara Yooyeon diam-diam bertemu dengan Seoyeon, cara Seoyeon selalu menghindar tapi tetap sadar akan keberadaannya.
Setelah itu Dohoon jadi lebih sering diam dan memperhatikan Yooyeon tanpa banyak bicara. Tatapannya mulai berubah, terutama setiap kali melihat Yooyeon berinteraksi atau sekadar berdiri dekat dengan Seoyeon.
Anna mulai ikut masuk pelan-pelan, menyebut hal-hal kecil tentang masa lalu Seoyeon dan Yooyeon ke orang sekitar, bikin rumor lama mulai kebuka lagi.
Yooyeon sendiri mulai ngerasa situasi jadi gak nyaman, tapi masih sepenuhnya paham kenapa.
—
Di suatu sore, Dohoon menerima sebuah surat,
Bukan surat resmi. Bukan laporan kerja. Hanya lipatan kertas sederhana tanpa nama pengirim.
Isinya bukan panjang, tapi cukup untuk membuat semuanya terasa runtuh pelan.
Bukan surat cinta seperti yang sempat jadi gosip di desa itu—tapi potongan cerita, kalimat-kalimat yang tidak pernah ia dengar langsung dari Yooyeon, dan sesuatu tentang masa lalu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia pahami.
Tentang Seoyeon.
Tentang Yooyeon.
Tentang sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai, tapi juga tidak pernah benar-benar hilang.
Dohoon tidak langsung bereaksi.
Tapi malam itu ia pergi mencari Yooyeon.
Dan untuk pertama kalinya, percakapan mereka tidak lagi berada di batas tenang seperti sebelumnya.
Nama Seoyeon disebut.
Lalu disebut lagi.
Sampai akhirnya tidak ada lagi ruang untuk diam yang aman di antara mereka.
—
Pagi berikutnya, kabut turun lebih rendah dari biasanya, menutup jalan-jalan kecil di pegunungan Gangwon sejak dini hari.
Seoyeon pergi keluar rumah sebelum matahari terbit. Sungho sempat mendengar suara pintu depan dibuka pelan, tapi mengira istrinya hanya pergi sebentar seperti biasanya.
Namun sampai siang tiba, Seoyeon tidak kembali.
Awalnya Sungho tidak terlalu khawatir. Seoyeon sering berjalan sendiri ke jalur lama dekat kebun apel saat pikirannya sedang penuh. Tapi semakin lama waktu berjalan, perasaan tidak tenang mulai muncul.
Kya terus bertanya kapan ibunya pulang.
Dan ketika kabut semakin tebal menjelang sore, Sungho akhirnya turun mencari Seoyeon ke area pegunungan belakang kebun apel.
Beberapa warga ikut membantu.
Jalur tanah di sana masih licin akibat hujan malam sebelumnya. Kabut membuat jarak pandang semakin pendek, sementara suara orang-orang yang saling memanggil nama Seoyeon perlahan hilang ditelan gunung.
Sampai akhirnya seseorang menemukan syal milik Seoyeon di dekat lereng berbatu.
Setelah itu, semuanya berubah jadi lebih sunyi.
Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi pagi itu. Ada yang bilang Seoyeon terpeleset karena jalan licin. Ada juga yang bilang ia terlihat menangis malam sebelumnya.
Tapi apa pun penyebabnya, Seoyeon tidak pernah pulang lagi ke rumahnya hari itu.
—
Kabar itu menyebar cepat ke seluruh Gangwon sebelum malam tiba.
Yooyeon datang terlambat.
Saat ia sampai di depan rumah Sungho, halaman sudah dipenuhi beberapa warga desa dan pekerja lama perkebunan apel. Tidak ada suara keras. Tidak ada tangisan histeris. Justru kesunyian itu terasa jauh lebih menyesakkan.
Sungho duduk diam di teras rumah sambil memeluk Kya yang tertidur di bahunya karena kelelahan menangis seharian. Wajah pria itu kosong, seolah semua emosinya berhenti bekerja sejak pagi tadi.
Yooyeon tidak berani mendekat pada awalnya.
Sampai akhirnya Sungho mengangkat kepala dan melihatnya berdiri di depan pagar.
Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling diam.
Lalu Sungho berkata pelan, “Dia sempat nyebut namamu tadi malam.”
Kalimat itu langsung menghancurkan sesuatu di dalam diri Yooyeon. Napasnya mendadak terasa sesak. Air matanya jatuh begitu saja sebelum ia sempat menahannya.
Sungho menunduk lagi menatap Kya. “Aku pikir… mungkin kalau dulu keadaan berbeda, dia bakal lebih bahagia.”
Yooyeon tidak bisa menjawab apa pun.
Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia sadar mereka benar-benar sudah kehabisan waktu.
—
Di malam setelah pemakaman Seoyeon, Yooyeon datang ke pos polisi tempat Dohoon berjaga.
Dohoon kaget melihatnya datang dalam keadaan berantakan. Mata Yooyeon sembab dan wajahnya pucat sejak tadi siang. Di meja pos masih ada surat dan beberapa kertas lama yang sebelumnya diberikan Anna padanya.
Awalnya mereka bicara pelan.
Dohoon terus menanyakan hubungan Yooyeon dan Seoyeon. Yooyeon mencoba menjelaskan kalau semuanya sudah lama berakhir dan hidup mereka sudah berbeda sekarang, tapi Dohoon sudah terlalu emosi untuk mendengarkan.
“Aku selama ini apaan buat kamu?” tanya Dohoon.
Yooyeon diam terlalu lama.
Dan itu justru membuat Dohoon makin marah.
Pertengkaran mereka berlangsung cukup lama malam itu. Suara mereka sempat terdengar sampai luar pos, tapi tidak ada warga yang berani ikut campur karena mengira itu hanya pertengkaran pasangan biasa.
Besok paginya, Yooyeon ditemukan meninggal di jalur lama dekat kebun apel.
Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi malam itu selain mereka berdua.
Pemakaman Yooyeon dilangsungkan beberapa hari setelahnya.
Atas permintaan Sungho, makam Yooyeon diletakkan tepat di samping makam Seoyeon. Tidak ada yang menolak keputusan itu. Sebagian warga hanya diam, sementara sisanya memilih berpura-pura tidak tahu apa pun tentang hubungan keduanya semasa hidup.
Hari pemakaman berlangsung mendung.
Sungho datang paling awal sambil menggandeng tangan kecil Kya. Anak itu terus bertanya kenapa semua orang menangis dan kenapa ibunya sekarang punya “tetangga baru” di samping makamnya.
Sungho tidak tahu harus menjawab apa.
Sejak kepergian Seoyeon, pria itu berubah jauh lebih pendiam. Ia tetap tinggal di rumah kecil dekat pegunungan Gangwon dan membesarkan Kya sendirian. Meski tahu perasaan Seoyeon pada Yooyeon tidak pernah benar-benar hilang, Sungho tetap datang membersihkan kedua makam itu setiap musim gugur tiba.
Anna tidak pernah benar-benar kembali ke perkebunan setelah tahun itu.
Ia sempat datang diam-diam beberapa minggu setelah pemakaman, berdiri cukup lama di depan dua makam tersebut sebelum pergi lagi. Sejak saat itu, namanya jarang terdengar di Gangwon. Orang-orang hanya tahu Anna pindah ke kota lain dan memulai hidup baru, meski rasa bersalah dari semua yang terjadi tidak pernah benar-benar meninggalkannya.
Sedangkan Dohoon menghilang tanpa kabar tidak lama setelah kematian Yooyeon.
Ada yang bilang ia dipindahkan dari kawasan Gangwon. Ada juga yang bilang ia pergi atas kemauan sendiri karena tidak sanggup tinggal di tempat yang terus mengingatkannya pada kejadian itu. Tidak ada yang tahu pasti.
Tahun-tahun terus berjalan setelahnya.
Kya tumbuh besar dengan cerita-cerita kecil tentang ibunya yang suka berjalan ke kebun apel saat musim gugur datang. Dan setiap kali anak itu bertanya siapa perempuan yang dimakamkan di samping Seoyeon, Sungho selalu terdiam cukup lama sebelum menjawab pelan,
“Orang yang paling dicintai ibumu.”
Pada akhirnya, Yooyeon dan Seoyeon hanyalah dua perempuan yang sempat saling menemukan di pegunungan Gangwon pada musim gugur 1989—mencintai terlalu dalam di waktu yang salah, lalu menghabiskan sisa hidup mereka dengan terus kembali satu sama lain, meski dunia tidak pernah benar-benar membiarkan mereka bersama.
END
