Work Text:
Wriothesley yakin, sesibuk-sibuknya seseorang, tak ada yang lebih sibuk dibandingkan Neuvillette di pagi hari.
Fajar mungkin baru menyapa di cakrawala, sapuan jingga dan ungu merangkaki langit untuk mengusir gulitanya malam, tapi Neuvillette sudah bangun sejam sebelumnya untuk mandi dan bersiap menjalani hari. Wriothesley sendiri baru menyadari hilangnya sang terkasih saat tangannya meraba-raba kasur dan menyentuh bantal alih-alih sebuah sosok pujaan hati.
"Monsieurrrr," Wriothesley pura-pura merengek walau memang ada satu sisi dalam dirinya yang jengkel ditinggal pergi. Yah, dia tau Neuvillette tak bisa meninggalkan pekerjaannya semudah itu, tapi setidaknya, dia ingin bisa bersama lebih lama lagi, "kalau mau mandi minimal ajak-ajak saya dong. Saya sempat panik gara-gara Anda hilang dari kasur."
"Oh, maafkan aku, Wriothesley. Aku hanya tak ingin menganggu tidurmu." Neuvillette terburu-buru muncul dari kamar mandi yang tersambung ke kamar tidur, mengenakan sebuah kemeja putih polos dan celana pendek selutut. Terdapat pula sebuah handuk putih di pucuk kepalanya, tetesan air mengikuti gulungan rambut basah kuyup sehabis keramas.
Hm. Sebut Wriothesley lelaki labil, karena segala kejengkelannya langsung menguap setelah melihat sang terkasih dengan pakaian sesimpel itu.
"Permintaan maaf diterima." Seringai Wriothesley merayap naik, satu taring sengaja dipamerkan. "Ayo sini, Monsieur, izinkan saya mengeringkan rambut Anda. Saya nggak mau Anda masuk angin."
Neuvillette tertawa kecil, ujung telinga lancipnya merona tipis saat kedua kakinya membawanya menuju sisi kasur dimana Wriothesley telah duduk. "Spesiesku bukanlah spesies yang mudah sakit, mon amour, apalagi terkena masuk angin."
"Eits, sakit itu nggak ada yang tau loh, Monsieur," Wriothesley menasihati seraya meraih handuk putihnya dari kepala Neuvillette. "Saya tau Anda adalah naga berumur ratusan tahun, tapi Anda tetaplah mahluk hidup, dan mahluk hidup apapun bisa sakit. Alam saja bisa sakit jika kita tak menjaganya, maka Anda tentu juga bisa sakit jika saya tak menjaga Anda."
"Oh, Wriothesley, kau sungguhlah Cerberus dari hatiku."
"Dan saya setia akan menjaga hati Anda sampai waktu memanggil saya dari Anda."
"Mm, sampai waktu memanggil." Neuvillette menutup mata saat tangan Wriothesley mulai mengusap-usapkan handuk di kepalanya. Wriothesley, yang sejak dahulu kerap memuji tiap helai selembut sutra itu, tak pernah berhenti dibuat takjub oleh kecantikannya. Handuknya dia bawa hingga ke ujung rambut, gerakannya berhati-hati supaya tidak menjerat dua tanduk biru Neuvillette yang sensitif itu (dia pernah kena cakar sekali karena tak sengaja menariknya. 0/10, tidak direkomendasikan untuk diulang).
"Saya penasaran, Monsieur, Anda pernah capek gak sih merawat rambut sepanjang ini? Bukannya berat banget ya kalau basah?"
"Kuakui bahwa merawatnya memang sulit, tapi rambut ini termasuk identitasku sebagai Chief Justice sejak dahulu. Ditambah lagi, para Melusines senang mengepang rambutku tiap kali mereka melihatku sedang bersedih, sehingga aku tak masalah terus memiliki rambut sepanjang ini."
"Begitu..." Wriothesley mengangguk-angguk. Lucu ya, membayangkan rambut Neuvillette yang biasa diikat pita di ujungnya malah diberi banyak kepangan oleh gadis-gadis itu. Wriothesley jadi ingin lihat deh, pasti cantik banget—bukannya Neuvillette awalnya gak cantik ya, dia mah pasti cantik dari lahir.
"Nah, selesai. Sekarang sudah nggak sebasah tadi." Seraya terkekeh puas, Wriothesley kembali meletakkan handuknya di atas kepala Neuvillette dan—
Huh. Wriothesley berkedip.
Handuk putihnya dibiarkan terbentang, kedua sisinya sampai mengecup pipi Neuvillette. Cahaya mentari mengintip dari balik tirai yang tak sepenuhnya tertutup, memberi semburat emas di wajah ayu Neuvillette. Sepasang iris koral itu diwarnai terangnya bintang kejora, sedikit terhalang oleh bentangan handuk seolah-olah dia sedang memakai tudung pernikahan—
Wriothesley berkedip lagi. Pemandangan indah itu masih berada di depan mata berupa Neuvillette yang tersenyum manis, dengan sabar menunggunya berujar.
Bukannya direm, lidah Wriothesley malah ngegas. "Monsieur, nikah yuk."
Sebuah tawa lolos dari belah bibir ranum Neuvillette. "Wriothesley, kita baru saja menikah bulan lalu."
"Saya mau lagi." Wriothesley melingkarkan kedua lengannya di pinggul Neuvillette dan menariknya mendekat, jarak di antara bibir mereka terkikis hingga hanya sebesar bulu mata. "Saya ingin terus menyatakan cinta sampai Anda tak bisa hidup tanpa mengingat sumpah saya di tiap tarikan nafas Anda. Saya ingin terus menyatakan cinta sampai saya tak bisa hidup tanpa mengukir sumpah saya di tiap detak jantung saya. Saya ingin terus mencintai Anda, Neuvillette, sampai waktu memanggil."
Neuvillette balas menangkup wajah Wriothesley, sentuhannya lembut tapi tegas layaknya naga yang tengah mengagumi harta terindahnya. Desis senang yang keluar dari tenggorokannya, pun, bukanlah milik manusia. "Mari kita sematkan sumpahmu dengan sebuah ciuman, seperti di hari itu?"
"Seperti di hati itu, di pernikahan kita." Wriothesley menyetujui dengan senang hati. Ketika bibir mereka bertemu, segalanya di dunia seolah-olah bebas dari kekang waktu— menyisakan hanya sepasang kasih.
Until time calls, we belong to each other.
