Actions

Work Header

Jantungmu, Nyawamu, Hartaku

Summary:

"Tidak, kau tidak akan pergi meninggalkanku. Aku menolak untuk lanjut hidup dengan titah dari para penjajah itu. Hidupmu bukanlah milik mereka, Wriothesley."

Neuvillette mulai menanami wajah pucatnya dengan kecupan selembut kelopak bunga—sebuah kebohongan semanis nektar—sebelum cakarnya tenggelam di antara tulang rusuk Wriothesley.

Tidak ada yang berhak untuk merebut harta seekor naga, bahkan Langit itu sendiri.

Notes:

*sighs lovingly*
Aku seneng deh tiap kali nulis cerita that borders on lunatic love, rasanya puas banget aja gitu... ( ꈍᴗꈍ)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Seseorang tengah memanggil namanya.

Tidak, "memanggil" itu kurang tepat... Menilai dari bagaimana tiap suku kata dari namanya diteriakkan dengan penuh putus asa, mungkin lebih tepatnya disebut "memohon"? 

Kalau aku masih bisa mendengar, artinya aku belum pergi ke alam sana ya...

Wriothesley akhirnya membuka mata.

Di atasnya, langit menumpahkan segala kebencian, frustasi, ratapan. Ratusan—bukan, ribuan tombak air bebas menerjang tubuh dan mengancam untuk melebarkan renggang pada luka-lukanya. Tanah di bawahnya bahkan memilik konflik tersendiri: hangat oleh darah dan dingin oleh hujan. Wriothesley tak dapat lagi merasa selain mati, hampir seluruh saraf terkoyak dan pembuluh darah banjir dari bawah kulit. 

Jika dia boleh jujur, dia sangat, sangat heran bagaimana bisa dia masih hidup.

"Wriothesley!" Suara itu kembali, begitu jernih seolah-olah lahir dari mata air. Wajah ayu yang tercoreng tangis memenuhi pandangan kabur Wriothesley, diikuti oleh sosok berwujud setengah naga yang melindungi tubuh hancurnya dari kejamnya hujan. 

Wriothesley kenal sosok ini—tidak mungkin dia akan lupakan satu-satunya penghuni di balik jeruji hatinya. "Neuvi...llette..."

Ah, itu benar... Inilah alasan kenapa kematian enggan membawa jiwanya pergi.

Menjadi pasangan sang Hydro Dragon berarti berbagi sebagian dari hidup panjangnya, tapi itu juga berarti menjadikan Wriothesley target utama dari para penguasa surgawi di atas sana yang tak bisa menerima bahwa salah satu penerima Vision mereka sekarang membawa darah dari mahkluk yang pernah mereka musnahkan dahulu, dahulu sekali. 

Perang telah pecah di seluruh penjuru Teyvat. Wriothesley termasuk dari segelintir individual yang menerima amarah langsung dari Celestia, dan bisa apa dia, seorang manusia fana, melawan adikuasa surgawi?

Maka sekarang disinilah dia, terbaring kaku dengan nyawa yang mulai kehilangan jangkarnya, berusaha menyunggingkan senyum untuk sang terkasih yang tangisannya jauh lebih lantang ketimbang detak jantungnya sendiri. Wriothesley pernah berkhayal bahwa dia akan meninggalkan dunia di umur tua, di samping Neuvillette di atas kasur, berbagi satu pelukan terakhir sebelum matanya tak lagi melihat. Tampaknya itu akan tetap menjadi angan-angan belaka ya...

"Maaf... Neuvillette..." Wriothesley berbisik, berharap suaranya dapat mengalahkan derai hujan, "karena harus... meninggalkanmu..."

"Tidak." Rahang Neuvillette saling bergemeletuk, lidah didesak untuk berujar selain nama Wriothesley dan isakan tangis. "Tidak, kau tidak akan pergi meninggalkanku. Aku menolak untuk lanjut hidup dengan titah dari para penjajah itu. Hidupmu bukanlah milik mereka, Wriothesley."

Neuvillette mulai menanami wajah pucatnya dengan kecupan selembut kelopak bunga—sebuah kebohongan semanis nektar—sebelum cakarnya tenggelam di antara tulang rusuk Wriothesley.

Terlepas dari banyaknya darah yang telah hilang, rasa sakit tetap meledak di balik bola matanya, dan Wriothesley menjerit.

"Hidupmu adalah milikku."

Tangan Neuvillette mencabik kulit, otot, daging dan tulang seolah-olah terbuat dari kertas. Tak peduli meski manusia di bawahnya (sang terkasih, sang penjaga hati, separuh jiwanya—) terus meneriakkan permohonan untuk berhenti ke telinganya, fokus Neuvillette hanya ada satu sekarang.

"Milikku seorang."

Menarik satu napas panjang, Neuvillette memaksa tangannya kembali ke permukaan dengan seonggok daging bermandikan darah, hangat dan lunak dan diselimuti oleh anyir—jantung Wriothesley. Pemiliknya sudah tak lagi memiliki suara ataupun gerak, tapi itu tidak masalah. Neuvillette akan bisa melihat sepasang iris es pucat yang begitu dia cintai itu sesaat lagi.

"Hartaku, kasihku, samudraku, Wriothesley."

Sejarah berjalan di atas roda; jika ia pernah ada di atas lingkaran, maka ia akan kembali lagi ke atas, tak peduli berapa lama. Dosa terdahulu Egeria, pun, kembali terulang atas nama cinta dan kasih—untuk bisa saling bertaut tangan dan hangat lagi, sang Hydro Dragon kemudian merobek jantungnya sendiri dari dadanya dan meletakkannya di dalam kawah kosong penuh serpihan tulang milik manusia berharganya.

"Aku mencintaimu."

Semua hidup berasal dari air, dan semua akan kembali pula ke air. Namun napas baru Wriothesley berasal dari darah daging Neuvillette, dan dia akan kembali pula ke dekapan Neuvillette.

Celestia dipersilakan untuk menerjang negeri ini sekali lagi. Neuvillette pastikan mereka akan menyesal pernah turun ke Teyvat.

Notes:

Tweet aslinya disini!

Sepenggal kisah dari Wind Glider: Wings of Merciful, Wrathful Waters.
[... . The beating heart that commanded this primordial sea of blood was the first Hydro Dragon. Each time that heart pulsed, all life would arise and give it praise.]

So... yeah, jadi disini Wrio hidup lagi karena menerima jantung Neuvi. Neuvi sendiri? Jantung Wrio dia letakkan di dadanya sendiri dan dia segera alirkan darahnya kesana agar jantung itu bisa berdetak lagi. 👍

(And yes, I know that defies logic, tapi izinkan aku menghalu disini—)