Work Text:
Pertama kali Wriothesley dibawa menghadap sang Dragon King, Nibelung, yang telah bangkit kembali dengan seluruh ingatan dan kekuasaannya, kepalanya nyaris ditebas dari kedua bilah bahu.
"Rajaku, berhenti!"
Jika bukan karena Neuvillette yang menghalangi serangannya tepat waktu, mungkin saat ini darah daging Wriothesley sudah akan tercerai berai di permukaan tanah yang sama luluh lantaknya. Es segera mekar dan meliar dari tinjunya, hadir sebagai pelindung fisik semata, tapi tatapan merendah dan penuh amarah dari sang naga kuno membuat Wriothesley tak yakin apakah dirinya sudah lolos dari kematian.
"Rajaku, saya mohon kepada Anda untuk tidak menghancurkan negara saya," Neuvillette memeringati, membentangkan satu lengan sarat akan sisik putih di depan Wriothesley. "Saya tidak ingin mencari konflik dengan Anda, terutama jika kita ingin menggulingkan para penjajah dari Langit."
"Maka jelaskan padaku, Leviathan," suara sang raja kemudian menggema—menusuk, mencaci maki, menulikan. Wriothesley hampir tak bisa bernapas, "kenapa kau menyimpan manusia yang telah ditandai oleh penglihatan mereka?"
"Wriothesley mungkin masih memiliki Vision, tapi dia bukanlah milik Celestia," Neuvillette menekankan, dan jauh di balik tulang rusuk Wriothesley, berdetaklah segumpal daging yang setia memompa nyawa yang dahulu pernah bisu. "Jantungnya adalah milik saya, sebagaimana hati saya adalah miliknya."
Tak pernah sekalipun Nibelung melihat manusia itu meninggalkan sisi Leviathan (dia menolak untuk menyebut nama lainnya, begitu pula menyebut nama "pasangannya"). Dataran dimana Leviathan berkuasa sudah tak lagi dihuni manusia—semua sudah dievakuasi ke dasar laut yang para penjajah tak akan bisa sentuh tanpa izin Leviathan.
Semua seharusnya pergi, kecuali manusia itu. Dia sama keras kepalanya seperti Leviathan yang terus menerus mengingatkannya untuk jangan memanggilnya dengan nama sang pendahulu. Nibelung tak habis pikir.
Tak ada kehidupan yang menanti manusia itu di atas permukaan. Para penjajah itu tak pandang bulu dimana serangan mereka akan menghukum daratan dan lautan. Mungkin di perang antara mereka yang abadi dan pendendam ini, dialah segelintir dari kefanaan yang cukup bodoh untuk terlibat.
Nibelung pernah bertanya padanya, sekali, di tengah beku yang memerangkap segala mimpi buruk kiriman Langit. "Apa alasan dibalik kesetiaanmu pada Leviathan? Apakah ini balas budi karena dia telah menghidupkanmu kembali?"
Jantung Leviathan mungkin telah mengubah sebagian dari fisiknya, tapi kilat emosi pada sepasang iris pucat itu tetaplah definisi dari ketulusan manusia.
"Di saat yang abadi menyapu bersih segala yang fana, hanya Neuvillette yang bisa saya jadikan jangkar. Saya berhutang budi padanya, benar, tapi jauh sebelum itu pun, kami sudah terikat oleh sebuah janji suci. Hanya akhir dunia pemisah kami sekarang."
Perang tidaklah asing dengan luka dan kehilangan, Nibelung tau hal ini dengan baik. Di detik-detik bisu dimana Langit berhenti menumpahkan kehancuran walau hanya untuk sesaat, Leviathan akan menggugurkan sisik naganya dan jatuh ke dekapan manusia itu sebagai "Neuvillette".
Alih-alih seluruh tubuh, dia berjalan dengan kedua kaki. Alih-alih rahang bertaring, dia berucap dengan belah bibir. Luka yang hampir mengoyak Leviathan menjadi dua, pun, berdarah merah alih-alih samudra.
"Wahai Nibelung yang Agung, saya paham permintaan saya mungkin akan terdengar lancang, tapi dapatkah Anda berjaga untuk malam ini?"
Nibelung membalas dengan napas penuh cemooh. Deru angin dari moncongnya bahkan sampai menggetarkan bebukitan dari akarnya. "Akan jadi raja apa diriku jika aku berleha-leha sementara saudaraku terluka berat? Seharusnya aku yang memerintahkanmu untuk menjaga Leviathan. Nyawanya jauh lebih berharga dari milikmu yang semata-mata tertunda kematiannya oleh kebaikan hatinya."
Manusia itu tertawa geli, memeluk "Neuvillette" lebih dekat sehingga kepalanya bersandar pada ceruk lehernya. Dari langit, putihnya salju mulai turun seolah-olah penyucian dosa. "Anda tidak perlu khawatir. Walau saya harus mati berulang kali, saya akan melindungi Neuvillette dengan segenap jiwa raga."
Sungguh, Nibelung masih tak habis pikir.
Inikah kesetiaan buta milik mereka yang fana? Atau—
Seringkali, Nibelung merenung.
Di atas langit, dia sering mendengar Leviathan menyahutkan seutas nama sebagai balasan untuk teriakan manusia itu yang berdiri tanpa gentar di mahkota Leviathan, mengusir kedatangan musuh dengan badai es dari tinju-tinjunya.
Wriothesley. Neuvillette.
Dua nama yang Nibelung yakin lebih sering dia dengar ketimbang gemuruh amarah Langit itu sendiri. Tak peduli berapa banyak dari dataran dunia yang rata, tak peduli berapa banyak sisik, darah, dan daging yang hancur dan tumbuh lagi, tak peduli berapa banyak hujan dan salju yang membasuh pedihnya sakit, Wriothesley dan Neuvillette tak pernah sekalipun goyah dalam janji suci mereka, dalam cinta mereka.
Dahulu, mungkin saudara-saudaranya pernah merasakan cinta. Tiap kali jantung Leviathan berdetak, kehidupan pun lahir, dan tiap nyawa begitu berharga untuknya. Itulah definisi harta untuk Leviathan, dan untuk Neuvillette, Wriothesley adalah hartanya.
Ini bukanlah kesetiaan buta yang fana, tidak—inilah perwujudan cinta yang abadi.
Maka untuk pertama kalinya, ketika Leviathan sekali lagi tak rela untuk melepaskan cintanya pada kematian, Nibelung melafalkan nama mereka layaknya sebuah harta tersendiri untuk dia jaga.
"Terima kasih karena selalu melindungi Neuvillette, Wriothesley. Sekarang beristirahatlah sejenak. Serahkan pembalasan dendam kalian kepadaku."
