Actions

Work Header

"Selamat Berpulang, Kasihku."

Summary:

Bertahun-tahun mereka saling mengenal, tapi formalitas bukanlah rasa yang dapat dihapus dari lidah dalam satu hari. Tak peduli meski mereka pernah membisikkan nama sang pujaan hati di tengah hening, semua keberanian seakan-akan ciut ketika Neuvillette menghampiri sang suami di ambang pintu rumah.

Ya, suami. Dia dan Wriothesley akhirnya menjalin sumpah dan kasih setelah usaha tak terhitung sang Duke untuk memadu hati sang naga.

Bagi Neuvillette, rumah adalah tempat dimana Wriothesley berada dan berpulang.

Notes:

Ini salah satu oneshot wriolette kesayanganku (to be fair aku sayang semuanya sih—) karena percampuran fluff dan angst-nya sangat amat umch.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Saya pulang, Monsieur."

"Selamat datang kembali, Yang Mulia."

Bertahun-tahun mereka saling mengenal, tapi formalitas bukanlah rasa yang dapat dihapus dari lidah dalam satu hari. Tak peduli meski mereka pernah membisikkan nama sang pujaan hati di tengah hening, semua keberanian seakan-akan ciut ketika Neuvillette menghampiri sang suami di ambang pintu rumah.

Ya, suami. Dia dan Wriothesley akhirnya menjalin sumpah dan kasih setelah usaha tak terhitung sang Duke untuk memadu hati sang naga. Wriothesley berjanji dia akan mengajarinya segala pasang surut cinta, dan Neuvillette bersedia menerima dingin dari cincin emas, hangat dari dekapan erat, selama pemiliknya adalah Wriothesley.

Tawa kikuk Wriothesley kemudian memecah sunyinya malam, dan dia meraih tangan Neuvillette untuk mengusapkan ibu jarinya di sekujur buku tangannya.

"Tampaknya perlu waktu ya, sampai kita nyaman memanggil nama satu sama lain?"

"Untukmu, Yang Mulia, aku akan selalu punya waktu."

"Kalau begitu, kita pelan-pelan saja ya, Monsieur?" Wriothesley memangkas jarak antar tubuh mereka, belah bibir mengukir hangat di kening Neuvillette. "Kita tak perlu terburu-buru soal cinta."

"Mm," Neuvillette hanya bisa menyuarakan sebelum menyambut kasih Wriothesley dengan bibirnya kali ini.

 


 

"Aku pulang, Wriothesley."

"Ah, selamat datang kembali, Neuvillette!"

Suka cita menghias tiap langkah Neuvillette saat dia beranjak menuju dapur dimana suara sang suami berasal. Wriothesley sedang menyiapkan makan malam mereka, sudah bersenjata lengkap dengan sendok kayu dan botol kecil berisi lada hitam di tangan satunya.

"Anda pasti lelah setelah bekerja seharian, jadi Anda duduk manis saja ya malam ini!"

Neuvillette hendak protes, sungguh, dia telah lama terbiasa dengan hiruk-pikuk pekerjaan di Palais Mermonia, tapi dia dibuat tak berdaya melawan seringai lebar yang terukir di wajah tampan Wriothesley.

Tetap saja... "Walaupun begitu, aku harus bersikeras ingin menyeduh teh untukmu. Teh apa yang kau inginkan, Wriothesley?"

"Neuvillette, tolong, Anda gak usah repot-repot. Urusan dapur malam ini serahkan saja ke saya semuanya."

"Aku ingin melakukannya bukan karena aku suamimu, melainkan karena aku ingin membahagiakanmu sebagaimana kau membahagiakanku. Jadi, teh apa?"

"... Teh melati, kalau begitu. Gak pakai gula, soalnya melihat Anda saja sudah bikin segalanya manis."

Neuvillette menolak membalasnya. Sayangnya, ranum buah pipinya selalu saja mengkhianati raut wajahnya. Wriothesley tertawa puas melihat itu, dan dia memerangkap Neuvillette dalam pelukannya supaya dia bisa mendaratkan satu ciuman gemas di pipinya. 

 


 

"Saya pulang, mon amour."

"Selamat datang kembali, mon trésor."

Tertutupnya pintu depan sukses mengusir gema derai hujan. Napas Neuvillette terburu saat dia melayangkan kedua lengan di tubuh Wriothesley, putus asa untuk melebur hangat dan detak jantung menjadi satu.

Tubuh di pelukannya ini adalah pengingat bahwa dunia ini masih baik terlepas dari semua kekejian yang hadir di hadapan hukum. Tubuh di pelukannya ini adalah pengingat bahwa Neuvillette masih punya jangkar, masih punya rumah, masih punya hati. Wriothesley adalah bukti bahwa dirinya layak jadi tempat berpulang, layak merasa, layak mencinta dan dicintai

Gejolak batinnya lalu dibuat bisu oleh ciuman Wriothesley di ekor matanya, menyapu bulir air yang terjatuh. "Anda tak perlu cerita apapun jika Anda tak ingin. Saya akan terus mendekap Anda bahkan di dasar laut jika Anda yang memintanya."

Dasar laut... Hanya ada Wriothesley dan Neuvillette... Tanpa beban, tanpa tanggung jawab, tanpa nyawa...

Tidak, bukan itu yang dia butuhkan sekarang.

"Buat aku lupa, trésor." Tangisnya pecah, mengalir tanpa ingat diri. "Buat aku lupa kalau masih ada dunia di luar kita. Buat aku lupa kalau dunia ini telah menyakitimu dulu. Tolong, Wriothesley, aku butuh dirimu—"

"Anda akan selalu punya saya," dan Wriothesley setia menulis janji demi janji di bibirnya saat dia membawa mereka ke kamar, "selalu, amour."

 


 

"Aku pulang."

Sayup-sayup rintik hujan masih mengikuti, bahkan setelah Neuvillette menutup pintu depan dan beranjak menuju kamar tidur.

Di atas kasur, suaminya terbaring tanpa pergerakan. Selimut dibentangkan hingga ke bawah dagu, melarang pandangan Neuvillette dari melihat raga yang hancur digerogoti waktu. Barulah ketika Neuvillette duduk di sisi kasur, kelopak mata Wriothesley perlahan membuka, dan Neuvillette tak pernah habis pikir bagaimana Wriothesley selalu bisa menganugerahinya cinta hanya dengan satu tatapan hangat dan tarik bibir yang ringkih lagi penyayang. 

"Maaf ya, aku tak bisa menyambutmu di pintu depan..."

"Bisa pulang kepadamu saja sudah membuatku senang, Wrio. Tolong, janganlah merasa bersalah."

Wriothesley memberi satu anggukan kecil, senyumnya abadi di wajah yang begitu fana. "Neuvi, ayo kita tidur? Aku ingin bangun di sampingmu, seperti biasa."

"Tentu saja," Neuvillette menyetujui terlepas dari retak yang tumbuh dan merajalela di hati. "Tentu saja, Wrio. Mari kita tidur dan bangun bersama, seperti biasa."

Dan ketika fajar tiba, Neuvillette terbangun di samping sosok yang tak akan lagi bisa melihat dunia. Bersama langit yang berduka, Neuvillette mengusap lembut pipi Wriothesley dan memberinya satu sapaan terakhir di belah bibir yang raib akan hangat.

"Selamat pagi, kasihku. Selamat berpulang."

Notes:

Tweet aslinya disini!

Oneshot yang ini juga udah pernah ku-translate ke bahasa Inggris, dan hasil akhirnya (kalau ada yang mau baca, hehe) ngena banget ke hati, aku beneran nangis pas ngetiknya :'''