Chapter Text
FALSE TENDERNESS
(Reader advisory is advised: sexual abuse, child abuse, bullying, stalking, kidnapping, implied suicide)
Chap. 1
“Mika, makasih ya sudah datang! Jangan pingsan di tengah jalan!” Yuka menepuk pundakku saat aku meninggalkan restoran. Aku tersenyum lebar padanya.
“Iya! Ajak aku lagi ya!” Balasku. Aku yakin wajahku sedikit pucat dan mataku merah. Aku sepertinya minum lebih dari 3 gelas sake … Perutku saat ini rasanya sangat tidak nyaman. Aku menyesal sudah mabuk-mabukan. Tidak hanya perut (lambung, tepatnya?), kepalaku juga pusing luar biasa. Mataku makin lama makin memburam dan berair. Sepertinya aku akan pingsan sebentar lagi.
“Ah sial … Uhhh … Harusnya aku ga minum sake sebanyak tadi … Badanku lemas sekali…” Makin lama makin sempoyongan. Akhirnya kuputuskan untuk duduk di jalan (tepatnya di tangga gitu). Kepalaku yang pusing ku sandarkan di tiang. Badanku makin lama makin lemah. Beneran nih? Aku bakalan pingsan di tengah jalan malam-malam?
Awalnya kuputuskan untuk menelpon Bu Mirai, tetangga sebelahku untuk menjemput. Namun aku ragu, mungkin Beliau masih kerja. Kalau aku menelpon takutnya mengganggu… Masalahnya, aku tidak ada kenalan lain yang dapat dihubungi. Aku yakin sekali teman-temanku tadi juga dalam kondisi setengah mabuk, aku tidak mau mengambil resiko.
“Hei … Kamu mabuk parah, ayo pulang.”
“…?”
Sebelum ku tahu siapa yang bicara denganku, aku sudah pingsan.
-
Setidaknya itu yang bisa kuingat. Sekarang sudah pagi di esok harinya, aku terbangun di atas tempat tidurku, dengan piyama kesayanganku. Aku juga ingat sekali kamarku itu seperti kapal pecah, tapi ini malah sangat rapi dan bersih.
“Hm? Apa sudah kubersihkan? Tapi aku sangat jarang beres-beres?” Bener deh. Aku bingung. Apa aku secara tidak sadar membersihkan kamar dalam kondisi mabuk?
“Ah sudahlah, yang penting kamarku lebih nyaman sekarang.” Aku tak bisa membuang waktu untuk memikirkan hal ini. Sekarang sudah pukul 8 pagi, untungnya tidak ada kelas hari ini. Ada banyak hal yang harus kulakukan.
“Aku harus menyelesaikan lukisan itu, selasa dikumpulkan. Lalu jam 12 bertemu dengan Mira … Entah sampai kapan …” Aku bangun dari ranjang dan merapikannya, lalu aku menatap dalam-dalam kanvas di pojok kamar. Lukisan pemandangan Shibuya di malam hari1.
“Aku sarapan dulu deh, tak baik beraktifitas dengan perut kosong~” Aku berencana membuat roti panggang, simpel tapi cukup mengenyangkan. Lagipula aku juga nanti akan belanja bulanan.
-
Jam dinding menunjukkan pukul 11:05, sebentar lagi aku harus bertemu Mira di kafe. Untungnya, aku berhasil menyelesaikan mahakaryaku ini dalam waktu 4 jam saja! Aku cepat-cepat mengambil ponsel pintarku lalu memotretnya dari berbagai macam sisi. Terakhir, ku ambil spidol putih lalu menulis tanda tanganku di pojok bawah.
“Selesai!” Aku berdecak kagum didepan kanvas, bangga dengan apa yang sudah aku usahakan. Sambil menunggu cat kering, saatnya mandi lalu keluar!
Ding! Ponsel pintarku berdering, rupanya notifikasi pesan dari Yuka.
Yuka: 12/12/20XX 11:19 Mika, aku juga ikut bertemu dengan Mira. Tapi aku tampaknya akan sedikit telat, kalau memang telat tolong pesankan aku Osmanthus Honey Tea ya! Kamu dan Mira kan sering kesana, jadi kuyakin kamu tahu yang dimaksud. Tenang saja, nanti ku ganti 2x lipat kok! :3c
Oh, Yuka ada urusan? Segera aku mengetik balasan untuknya.
Mika: 12/12/20XX 11:22 Laksanakan! >_<
Setelah membereskan ini itu, aku bergegas pergi. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hatiku setiap pergi keluar. Mataku selalu tertuju di dekat pintu bagian luar, setiap hari pasti akan makanan dan minuman ringan yang menanti. Siang ini, hal-hal yang kusebutkan tadi sudah ada di depan pintu. Kali ini, 5 kotak susu stroberi, sekotak macaron matcha, sebotol air mineral dan sepucuk surat;
“Pastikan kamu mengganjal perutmu saat beraktivitas ya, Mika ku yang lucu~ Jika ada yang kamu inginkan, tuliskan saja di kertas ini. Hati-hati di jalan. Oh, kalau merasa tidak nyaman pulang saja ya~”
Begitulah isi suratnya. Boleh kuakui tulisan tangannya sangat rapi, tapi aku ketakutan. Ini sudah terjadi sejak lama. Kira-kira sudah lebih dari 3 tahun. Kupikir makanan-makanan ini ada karena salah alamat pengiriman, namun aku sadar, ini memang disengaja. Ada yang sengaja meletakkan ini di depan pintuku. Makin lama makin banyak. Awalnya kudiamkan, tapi semakin lama kudiamkan, ini makin tidak karu-karuan. Jadi kuputuskan untuk dikonsumsi saja.
“Kau ini … siapa sebenarnya?”
-
