Actions

Work Header

if forever exists, i hope that mine is with you

Summary:

Fourth knows how much Gemini loves and cherishes him, and Fourth wants to spend forever with him regardless of everything because Gemini is his everything.

Notes:

hai! semoga suka:D

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:


I don’t understand why they pair Fourth with Gemini.

Fourth literally have someone who understands him better than Gemini.

I swear the company hates to see Fourth happy because they keep making Fourth works with that Gemini boy.

Gemini doesn’t deserve Fourth.

All of you are too blind to see. Fourth is uncomfortable working with Gemini. That's a fact that everyone refuse to see.

Gemini never understands Fourth and is selfish. He only thinks about himself.

“Baby?”

“Huh?” 

Fourth mengalihkan pandangannya dari iPad ke sumber suara dan ada Gemini berdiri tidak jauh dari area foyer dalam merentangkan kedua tangannya ke samping, menyambut Fourth. Ia terdiam sejenak hingga akhirnya ia menyadari bahwa Gemini sudah pulang. Ia langsung menutup aplikasi yang ia buka di iPad, meletakkan iPad-nya di atas sofa lalu berlari ke arah Gemini.

Ia langsung memeluk Gemini erat dan Gemini juga mendekap tubuh Fourth erat. Fourth menarik diri dan tersenyum melihat Gemini.

“Kamu kok pulang gak bersuara sih?” tanya Fourth.

“Aku panggil kamu beberapa kali kok,” jawab Gemini.

“Huh? Iya ya? Kalau gitu, maaf ya, aku gak denger,” balas Fourth dengan dahinya yang berkerut karena mengingat-ingat sebelum akhirnya tersenyum sambil tangannya mengusap rambut halus di tengkuk leher Gemini.

“Gak apa-apa. Kamu lagi liat apa sih di iPad? Serius banget dari tadi aku liatin …” tanya Gemini seraya tangannya mengusap punggung dan pinggang Fourth.

Fourth menelan ludahnya karena ia tidak akan jujur soal apa yang ia baca. Ia tidak mau membuat Gemini bersedih.

“Kontrak kerja.”

“Ooohh. Kontrak kerja apa?”

“Kalau gak salah sih …” Fourth berpikir sejenak. “Sabun mandi.”

Itu adalah jawaban asal.

Gemini mengangguk. “Cocok sih buat kamu. Apalagi kalau sabun mandi bayi,” tutur Gemini antusias sambil tersenyum lebar.

“Kenapa harus sabun mandi bayi?” tanya Fourth.

“Soalnya …” Gemini memutus ucapannya untuk mencium dan menghisap aroma tubuh Fourth melalui area leher Fourth hingga Fourth terkekeh geli. “Kamu emang bau bayi.”

Gemini mulai menggelitiki tubuh Fourth hingga Fourth akhirnya terbebas dari dekapan Gemini dan ia berlari menghindari Gemini yang hendak menggelitiknya. Mereka mengitari area ruang tengah beberapa kali sebelum akhirnya Gemini berhasil menangkap Fourth dan menggelitik kekasihnya itu dengan puas di atas sofa.

Gelak tawa menyeruak di rumah tiga lantai tersebut hingga Fourth mengatakan ‘stop’ sehingga Gemini mulai memelankan kegiatannya itu dan akhirnya berhenti. 

Keduanya bertatap-tatapan dengan senyuman lebar terlukis di wajah keduanya. Mereka mengatur napas setelah sibuk tertawa dan berlari-lari tadi.

“Cantik …”

“Hm?”

“Kamu cantik banget,” tutur Gemini sambil mengusap pipi Fourth.

Perlahan semburat merah muda muncul di pipi Fourth. Warnanya begitu jelas karena warna kulit Fourth yang begitu putih. Fourth memalingkan pandangannya dan menahan senyumannya. Kini Fourth merasa malu karena pujian yang tiba-tiba dilontarkan Gemini.

“Apaan sih, Gem …” balas Fourth.

Gemini hanya terkekeh lalu menghujani wajah Fourth dengan kecupan-kecupan ringan dan mengakhirinya dengan mengecup bibir Fourth yang manis seperti coklat.

“Kamu habis makan makanan manis apa hari ini?” tanya Gemini tiba-tiba sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Fourth, tetapi masih dalam posisi mengukung tubuh Fourth di bawah tubuhnya.

Dahi Fourth berkerut. “Huh? Emang kerasa ya? Kan cuma kecup doang.”

Gemini terkekeh. “Emangnya aku perlu lumat bibir kamu supaya tau kamu habis makan makanan manis?”

“Hehehehe … enggak sih … aku habis makan waffle pake ice cream terus ada marshmellow-nya. Enak banget. Kamu harus cobain. Kapan-kapan kita ke sana bareng ya,” cerita Fourth.

“Sekarang aja bisa gak?” tanya Gemini.

Dahi Fourth kembali berkerut. “Sekarang? Udah tutup kayaknya …”

Gemini tertawa pelan dan dahi Fourth bertambah mengerut karena ia bingung dengan reaksi Gemini. “Kenapa ketawa?”

“Lucu aja.”

“Apanya yang lucu?”

“Kamu.”

“Ishhh … udah dong …” Fourth benar-benar tersipu malu dengan ini semua.

Meskipun mereka sudah saling mengenal selama 7 tahun dan menjadi sepasang kekasih selama 2 tahun, Fourth masih terus merasa tersipu malu setiap Gemini mengucapkan celetukan yang bersifat memuji atau sesuatu hal yang spesial bagi mereka berdua. Ia juga akan membalas celetukan tersebut dan membuat Gemini sama-sama tersipu ketika ia bisa.

“Tapi aku beneran pengen nyobain makanannya hari ini, gimana dong?” tanya Gemini sedikit merengek, menggoda Fourth.

“Ya, gak bisa dong, Sayang …” balas Fourth sambil mengusap pipi Gemini.

“Oh? Aku tau caranya supaya aku bisa coba,” ucap Gemini dengan mata berbinar-binar.

“Gimana?”

Pria kelahiran bulan Juni itu mengikis jarak antara wajah mereka dan mempertemukan bibir keduanya dengan gerakan lembut. Gemini tidak buang-buang waktu dan langsung melumat ranum Fourth secara pelan. Satu tangan Fourth bergerak menuju tengkuk Gemini dan menekannya. Fourth tidak ingin ada jarak yang tersisa di antara mereka. Fourth membalas lumatan Gemini dalam keadaan tubuhnya terasa lemas, terbuai oleh apa yang Gemini perbuat kepadanya.

Gemini melepas lumatannya sejenak dan menempelkan dahinya di dahi Fourth. Mereka bertatapan sangat dekat. Deru napas mereka terasa di satu sama lain.

“Emang kerasa ya?” tanya Fourth.

“Belum.”

Gemini membuka sedikit mulut Fourth dengan ibu jarinya dan kembali mencium Fourth. Kali ini lebih dalam dan membiarkan lidahnya menguasai setiap rongga mulut Fourth.

Fourth merengek pelan ketika ia dapat merasakan gerakan lidah Gemini di dalam mulutnya, yang ikut juga bertaut dengan lidahnya. Fourth tidak tahu sejak kapan Gemini bisa mengajaknya berciuman seperti ini. Saat 2 tahun lalu, mereka pertama kali mengubah status hubungan mereka jadi lebih dari sekadar sahabat, Fourth ingat betul bahwa mereka masih tergolong malu-malu. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, mereka terus menemukan hal baru tentang satu sama lain, kegiatan intim seperti saat ini.

Gemini mengakhiri kegiatan ciumannya dan mereka sama-sama mengambil napas sambil bertatap-tatapan.

“Udah kerasa?” tanya Fourth.

“Enggak sih,” jawab Gemini singkat dan Fourth langsung mendengus pelan diikuti oleh kekehan.

“Jadi, tadi tuh alasan aja ya,” balas Fourth.

Gemini tersenyum. “Enggak juga. Aku penasaran juga soalnya.”

“Padahal bilang aja, kalau emang iya tujuannya itu fokus ke ciuman aja.”

Gemini terkekeh. “Yaudah, maaf ya karena aku pake alasan lain.”

“Iya, aku maafin. Yaudah, aku mau mandi. Jadi, kamu singkirin badan kamu sekarang juga,” pinta Fourth dengan halus.

“Kamu belom mandi?”

Fourth mengangguk.

“Tapi kamu harum kok.”

“Aku udah mandi tadi sore, aku mau mandi lagi.”

“Sejak kapan kamu jadi rajin mandi gini?” tanya Gemini karena ia ingat betul Fourth begitu sulit untuk melakukan kegiatan membersihkan badan itu. Bahkan seringkali, Fourth begitu malas untuk melakukannya.

“Sejak jadi pacar kamu.”

“Kenapa?”

“Ya … aku kan tidur sama kamu … masa aku gak mandi malem …” jelas Fourth.

“Kan dulu-dulu juga tidur sama aku, kamu gak mandi malem, aku biasa aja …” balas Gemini.

“Kan dulu … kita masih temenan … sekarang juga temenan sih, tapi kan statusnya udah berubah …” tutur Fourth.

Gemini mencoba untuk memahami alasan Fourth sampai dahinya berkerut mencoba berpikir hingga akhirnya ia memahami alasan lebih spesifik Fourth mengubah rutinitasnya itu. Gemini langsung tersenyum.

“Ooohh … aku paham. Yaudah, kita mandi bareng aja. Aku bersihin badan kamu. Kamu bersihin badan aku,” usul Gemini.

“Kamu mau mandi aja atau berendam juga?”

“Kamu gimana?”

“Hmm … tadinya aku mau berendam, tapi kamu udah keburu pulang. Jadi, aku pikir ya, yaudah aku mandi aja supaya kamu bisa langsung mandi juga …”

“Yaudah kita berendam bareng aja.”

“Okeh, aku siapin airnya dulu ya. Jadi, kamu singkirin badan kamu dari aku sekarang supaya aku bisa ke kamar mandi.”

“Aku aja yang siapin airnya. Aku sekalian ke atas juga soalnya. Ohiya, kamu udah makan malem?” tanya Gemini.

“Udah. Kamu?”

“Udah. Yaudah, aku ke atas duluan ya. Nanti aku panggil kalau airnya udah siap,” ujar Gemini sambil mengangkat tubuhnya menjadi berdiri sehingga ia tidak lagi mengukung Fourth.

Fourth membenarkan posisinya menjadi duduk dan mengangguk. “Oke.”

Gemini mengusap puncak kepala Fourth lalu ia langsung pergi ke kamarnya untuk menyiapkan air berendam bagi mereka berdua.

 


Air hangat dipenuhi busa menyelimut keduanya yang sama-sama berada di dalam bathtub. Mereka duduk bersebrangan dan sedari tadi hanya terkekeh sambil bertatapan satu sama lain. Perlahan Fourth mulai bermain air dan Gemini membalasnya.

“Sini.” Gemini menyuruh Fourth untuk mendekatinya.

Fourth bergerak mendekati Gemini lalu ia duduk di pangkuan Gemini dengan punggungnya menyandar pada dada Gemini sehingga tubuhnya kini di peluk oleh Gemini. Ia mengistirahatkan tubuhnya di dekapan Gemini dan Gemini memberikan kecupan ringan di pundak Fourth.

Fourth menghela napasnya sambil tersenyum. Ia merasa badannya meleleh dalam rengkuhan Gemini dan ia merasa tenang.

“Aku habis ketemuan sama temen-temen kuliahku …” cerita Fourth.

“Udah pada jarang ketemu ya sekarang?” tanya Gemini.

“Iya. Soalnya lagi pada internship dan semester depan pasti pada sibuk ngurusin tugas akhir,” jelas Fourth.

“Terus kamu ngapain aja?”

“Kita ngobrol, main games … dan soal itu, aku lusa mau nginep di rumah temen aku ya. Mumpung pada bisa ketemuan dan ngumpul,” ucap Fourth.

“Okeh. Kamu mau begadang ya nonton bola,” balas Gemini.

Fourth hanya terkekeh karena Gemini mengetahui tujuan aslinya Fourth akan menginap di rumah teman kuliahnya itu.

“Kalau gitu, aku juga mau ngegolf daripada aku kesepian di rumah,” lanjut Gemini.

“Ide bagus. Kamu udah lama gak ngegolf juga kan,” balas Fourth sambil mengangguk setuju.

“Terakhir kali aku ngegolf, selesainya ada yang nyuruh aku buru-buru pulang. Aku kirain kenapa ternyata karena hormon …” tutur Gemini sambil bercerita tentang sebuah kejadian di masa lampau yang tiba-tiba ia ingat dan membuatnya tertawa gemas.

Fourth yang memahami kejadian itu langsung merasa malu. “Gak usah dibahas dong. Kalau diinget-inget, aku juga malu, tapi bingung juga kenapa hormon aku acting up hari itu …” balas Fourth.

“It’s okay, baby … itu momen lucu aja. Lagipula it’s a normal situation and thankfully, ada aku yang bisa bantu kamu,” ucap Gemini santai lalu kembali mencium bahu Fourth.

“Kali ini, aku gak bakalna nyuruh kamu buru-buru pulang, take your time aja. Puas-puasin aja sampai kamu gumoh,” ujar Fourth lalu mencium pipi Gemini.

Gemini mengangguk. Keduanya kini terdiam dan hanya terdengar suara air dan napas mereka. Keduanya sama-sama memejamkan mata mereka, membiarkan tubuh mereka rileks.

“By the way, Mae Ning kapan pulang dari liburan?” tanya Fourth tiba-tiba.

“Bulan depan.”

“Hah? Lama banget. Bukannya udah 2 minggu ya …” tutur Fourth.

“Ya kan emang dia mau keliling dunia dan dia emang mau bener-bener explore setiap negara. Sayangnya aku gak bisa nemenin selama itu karena aku harus kerja …” balas Gemini.

“Berarti dia pulang sebelum acara wisuda kamu?” tanya Fourth.

“Iya.”

“Nanti pas mama kamu pulang, aku balik lagi ke apartemen aku ya,” ujar Fourth.

“Emang gak bisa ya nginep di rumah aku selamanya?” tanya Gemini.

“Apartemen aku kan deket sama tempat kerja sama kampus. Kalau aku di sini, aku harus ada strategi pergi supaya gak kena macet,” jelas Fourth.

“Terus kapan kamu mau officially pindah ke sini? Kita kan cuman waktu ketemu kadang malem karena pagi siang sore-nya sibuk kerja …” ucap Gemini.

“Bener juga sih. Apalagi kita lagi jarang kerjaan bareng juga ya … tapi aku belum bisa officially pindah … jadi mungkin … intensitas nginepnya gak sebanyak sekarang? Soalnya ada Mae Ning juga. Aku gak enak …” balas Fourth.

“Kenapa gak enak? Mama kan gak masalah. Setelah dipikir-pikir, kamu tuh sering nginep pas mama lagi gak ada ya …” tutur Gemini.

“Iya karena aku mikirnya kamu kesepian terus aku juga gak mau ganggu waktu kamu sama mama kamu,” balas Fourth.

“Tapi gak apa-apa kok kalau sekarang sering-sering nginep di sini walaupun ada mama … dia pasti seneng kamu nginep,” tutur Gemini lembut.

“Nanti aku pikir-pikir dulu deh.”

“Okeh.”

Mereka terdiam lagi hingga tidak lama kemudian Fourth membuka suara.

“Aku udah selesai berendamnya. Kamu udah selesai?” tanya Fourth.

“Udah juga.”

“Yaudah, kamu tutup mata, aku keluar dari bathtub masuk shower dulu,” pinta Fourth.

Gemini mengernyitkan dahinya. “Kenapa aku harus tutup mata?”

“Karena aku telanjang dan aku gak pengen kamu liat?”

“Tapi kan dari tadi juga kamu telanjang. Kita masuk ke bathtub bareng-bareng tuh telanjang … dan di shower juga kamu bakalan telanjang … jadi ngapain aku harus tutup mata …” bela Gemini.

“Karena aku malu. Tinggal tutup mata doang bentar apa susahnya sih. Nanti juga kalau mau liat bisa liat pas mandi. Bentar doang kok,” balas Fourth.

Meskipun Gemini seringkali tidak bisa memahami alasan Fourth, tetapi akan tetap ia lakukan apapun keinginan Fourth sehingga kini ia menutup matanya dan ia dapat mendengar suara air dan ia dapat merasakan tubuh Fourth berdiri dari posisi duduk.

Fourth sendiri langsung keluar dari bathtub dan menuju ke area shower.

“Aku udah di shower!”

Mendengar teriakan Fourth, Gemini langsung membuka matanya dan ia langsung berdiri. Ia membuka saluran air lalu ia keluar dari bathtub dan menyusul Fourth yang sudah mulai membersihkan tubuhnya.

 


“Aku main game dulu ya, kamu kalau udah ngantuk tidur duluan aja,” ujar Gemini seraya mengambil ponselnya lalu memposisikan diri untuk duduk di sofa di kamarnya.

Fourth yang mendengarnya hanya mengangguk sambil berjalan ke tasnya dan mengambil sebuah buku. Ia membawa buku tersebut ke atas ranjang lalu ia duduk disana, menyandar pada kepala ranjang, menyelimut area bawah tubuhnya lalu mulai membaca buku tersebut.

Di kamar Gemini ini mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, Fourth dengan bukunya dan Gemini dengan game-nya. Mereka menyukai ruang seperti ini ketika mereka tetap berada di ruangan yang sama dan saling menghargai ‘ruang’ satu sama lain.

Setelah kurang lebih sejam setelahnya, Gemini mengakhiri kegiatan bermain game-nya dan ia berjalan ke ranjang. Ia meletakkan ponselnya di atas meja samping ranjang lalu ia ikut bergabung dengan Fourth.

Ia mendekati Fourth untuk melihat apa yang Fourth baca.

“Aku sakit kepala bacanya,” komentar Gemini.

Fourth terkekeh sambil menutup bukunya. “Aku juga, tapi harus aku baca.” Fourth meletakkan buku tebal tersebut di atas meja samping ranjang lalu ia menoleh ke arah Gemini dan memegang kedua pipi Gemini, mencubitnya gemas.

Gemini hanya bisa terkekeh dan setelah Fourth selesai mencubit pipinya, ia membenarkan posisinya hingga berbaring dan membiarkan Fourth untuk berbaring erat dekat dengan tubuhnya. Tangan Fourth memeluk tubuh Gemini dan Fourth meletakkan kepalanya dekat dengan bahu Gemini.

“Aku mau ngomong sesuatu,” ungkap Fourth.

“Apa?” Gemini melirik Fourth sejenak lalu memandang ke arah langit-langit kamarnya.

“Dari dulu, aku ngerasa gak ada yang bisa ngertiin aku lebih dari kamu. Kamu juga selalu support aku, selalu bikin aku bahagia. Aku seneng banget sama kamu. Bisa kerja sama kamu, bisa jadi sahabat kamu, bisa jadi pacar kamu. Kalau aku bisa ngulang kembali ke masa lalu, aku bakalan pengen kerja sama kamu lagi untuk pertama kalinya.”

Gemini tersenyum. “Aku gak apa-apa, Fourth.”

“Maksudnya?”

“Aku tahu kamu baca apa tadi. Aku udah baca juga. Kita udah bareng-bareng dari lama. Mungkin … aku yang dulu gak bakalan bisa tahan, tapi aku yang sekarang tau kalau … itu semua cuman noise. Gak harus aku pahami, gak harus aku pedulikan. Pada akhirnya … kamu yang lebih tahu apa yang terbaik untuk kamu, apa yang kamu suka … bukan mereka. Apa yang kamu rasakan itu lebih penting buat aku daripada apa yang mereka keluarkan dari ketikan mereka …”

Gemini melirik Fourth dan mereka bertatap-tatapan. Mata Fourth begitu cantik dan berkilau. Ada emosi sedih terpampang di tatapan itu dan Gemini paham. Ia mengusap lengan Fourth.

“Kalau yang kamu rasakan itu seperti yang kamu bilang tadi, itu yang penting buat aku dan aku bakalan bikin kamu merasa terus seperti itu … dicintai, dipahami, dan nyaman,” lanjut Gemini.

Fourth merapatkan tubuhnya lagi ke tubuh Gemini, memeluknya lebih erat. Gemini ikut memeluk tubuh Fourth erat.

“Gem, maaf ya aku bohong …” tutur Fourth.

“Gak apa-apa, Sayang …” balas Gemini sambil mengusap kepala Fourth.

“Kok kamu tau sih aku baca itu?” tanya Fourth.

“Kamu keliatan serius … terus ada ekspresi khawatir juga … dan mungkin karena kita sehati jadi kita sama-sama tahu apa yang ada di isi kepala satu sama lain,” jelas Gemini.

“Gem, aku sayang banget sama kamu. Aku pengen sama kamu terus. Bisa kan ya?”

Gemini terkekeh. “Hmm … bisa gak ya …”

Fourth mengeratkan pelukannya dan Gemini tertawa pelan. “Ishhh, Gem … jangan ketawain aku …”

“Bisa. Soalnya aku sayang banget sama kamu.”

“YEAYYY!”

“Let’s sleep. Semoga mimpiin aku ya, Cantik. I love you.” Gemini memberikan kecupan di kening Fourth.

“Mimpiin aku juga, Sayang. I love you too.” Fourth mengecup pipi Gemini.

Keduanya perlahan memejamkan mata mereka dengan perasaan bahagia dan tenang.

 

Notes:

jangan lupa kasih kudos & feedback ya:D thank you:D

Series this work belongs to: