Chapter Text
Terjadi gelombang ledakan besar di hutan tempat seorang Dunedain beristirahat. Halbarad segera bergegas menuju lokasi, langkah kakinya cepat namun penuh kehati-hatian, berusaha sebisa mungkin tidak menarik perhatian dari apapun yang menyebabkan gelombang tersebut. Ledakannya sangat besar sampai pohon-pohon pun sempat terombang-ambing, ini tidak mungkin datang dari Orc atau Warg, pastilah sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak dia ketahui dan bisa saja berbahaya.
Halbarad dapat melihat bagaimana tanah di sekitarnya seperti baru saja terkena badai, beberapa rumput terlepas oleh tekanan kuat yang datang dari pusat gelombang. Itu tidak seperti apa yang dia bayangkan, pusat kekuatan besar barusan datang dari seorang lelaki muda yang tergeletak tak berdaya di tengah sana. Dia mungkin akan berpikir anak itu sebagai korban jika saja tanah dan pohon di sekitarnya tidak hancur, semuanya tepat mengelilingi tempat dia tertidur. Ia melangkah semakin berhati-hati, takut jika semua ini hanya jebakan atau sesuatu yang lain. Namun ketika dia melihat bahwa pemuda itu sama sekali tidak mengantongi senjata, Halbarad menurunkan sedikit kewaspadaannya.
Lelaki itu berpakaian aneh. Bukan dalam arti buruk, kainnya terlihat mahal dan memiliki potongan sempurna, seperti pakaian yang akan dikenakan bangsawan, tapi tidak satupun orang kaya yang dia ketahui pernah mengenakan kain serupa. Sesuatu yang bahkan tidak pernah dia lihat dikenakan oleh kaum Elf. Telinganya bundar, hal aneh lain yang ia sadari karena wajahnya terlalu halus untuk standar manusia biasa. Cantik, jika dia boleh jujur, kecantikan yang menyamai para Elf. Tetapi sekali lagi, bahkan Elf yang pernah dia temui tidak ada yang sehalus wajah pemuda ini, kulitnya terawat dengan sempurna seperti matahari tak pernah menyentuhnya. Bibir merah muda itu terlalu lembab di udara mereka yang kering. Bulu matanya panjang, rahangnya tinggi, satu-satunya tanda ketidaksempurnaan yang ia miliki hanya bekas luka unik di dahinya.
Tidak ada luka, hanya sedikit memar akibat benturan. Pemuda itu, atau mungkin remaja, entahlah Halbarad tidak begitu yakin, tampaknya tidak akan sadarkan diri untuk beberapa jam ke depan. Merasa cukup yakin bila ia tak berbahaya, Halbarad memutuskan untuk membawanya ke perkemahan. Tubuh yang lebih kecil di baringkan dengan kepala disangga pada setumpuk kain. Pakaiannya panjang, tapi jelas tak cukup hangat untuk udara malam nanti. Jadi ia melepaskan jubahnya dan merentangkan kain tersebut di atas tubuh yang berbaring.
“Aragorn seharusnya datang sebentar lagi,” dia bergumam. Menatap langit yang perlahan mulai menggelap. Dengan gelombang ledakan sebesar itu, mustahil untuk tidak menarik perhatian makhluk berbahaya lain di hutan. Namun kakinya sedang terluka, tidak memungkinkan untuk pergi lebih jauh, pun, kudanya baru saja diistirahatkan. Jika Aragorn melihat gelombangnya, dia mungkin bisa tiba lebih cepat dan membantu. Halbarad tidak yakin bisa membela diri andaikata Orc datang dan menyerang mereka, terutama dengan seorang pemuda yang pingsan dalam pengawasannya.
Bunyi tapal kuda berhasil membangkitkan Halbarad dari ketidaksadarannya. Astaga, dia baru saja tertidur di keadaan yang beresiko, bersyukur tidak ada tanda-tanda bahaya di sekitar sini. Matanya melirik sekilas pada sosok yang masih tertidur, tampak damai meskipun jika dia menajamkan penglihatannya, kau bisa melihat bekas kelelahan di bagian bawah mata itu.
Ketika Aragorn tiba, pria itu sama sekali tidak berbasa-basi lagi. “Halbarad, gelombang apa itu? Aku merasakannya bahkan dari jauh.”
“Aku juga tidak tahu, tapi anak itu berada tepat di pusat gelombang. Dia sudah pingsan ketika aku menemukannya.”
Di situlah Aragorn menyadari kehadiran sosok lain di antara mereka. Seorang pemuda ramping yang terbaring tak berdaya di bawah pohon. Pakaiannya aneh, jelas bukan pakaian yang digunakan untuk menempuh perjalanan. “Dia yang menimbulkan gelombang itu?”
“Aku tahu kedengarannya tak masuk akal, tapi begitulah yang terjadi.”
“Dia seperti baru berusia 18 tahun,” ujar Aragorn yang disetujui rekannya. Ia mendekati diri, mengulurkan tangan untuk mengelus sisi wajah yang halus dengan punggung jarinya. “Kulitnya seperti Elf, tapi bertelinga bundar.” Kemudian ia menyadari sesuatu, “Apa dia terluka?”
“Tidak, hanya sedikit memar. Aku sudah mengolesi beberapa yang terlihat dengan salep.”
Tanpa balasan lebih lanjut, Aragorn mendudukkan diri di sampingnya. Masih belum bisa memutuskan pandangan dari remaja asing yang mereka temukan. Pemuda ini, tubuhnya memiliki otot namun sangat halus, jelas dia bukan pengguna senjata terlepas dari fakta bahwa memang tidak ada apapun yang ia bawa.
Lalu dia berbalik pada Halbarad. “Kita mungkin harus membawanya ke Rivendell.”
Pernyataan tersebut agaknya membuat sang lawan bicara mengernyitkan alis. “Kenapa? Dia tidak terluka dan jelas bukan Elf.”
“Tapi dia berada di pusat gelombang itu. Lebih baik mencari aman dengan membawanya ke Lord Elrond.“
“Sebaiknya kita tunggu dia bangun, mungkin dia memiliki jawaban atas semua itu.”
“Kau benar.”
Pagi sudah tiba ketika Halbarad terbangun. Kakinya masih berdenyut nyeri meskipun tanaman herbal telah dioleskan sejak semalam, setidaknya sekarang jauh lebih baik, ia bisa kembali melanjuti perjalanan dan berpura-pura tidak memiliki cedera. Lagi pula, luka bagi seorang Ranger sudah seperti makanan sehari-hari, selagi tidak sampai mematahkan bagian tubuh mereka, maka itu tak masalah.
Iris coklatnya menyapu sekitar dengan pandangan tajam, hanya untuk menemukan Aragorn tengah berlutut di samping pemuda yang… bagaimana bisa anak itu sampai di sana? Ia yakin sekali membaringkannya di bawah pohon arah timur, dan sekarang ketika matahari sudah terbit, tubuhnya telah telungkup dengan tidak anggun di arah barat. Dia pun mendekat, mendapati rekannya tengah tersenyum geli memandang sosok yang tidak sadarkan diri di hadapan mereka.
“Dia tidur lebih buruk dari beruang. Aku melihatnya berguling-guling sendiri hingga menabrak pohon.”
Halbarad mendesah. “Dan dia masih belum bangun bahkan dengan tabrakan itu?”
“Begitulah.” Aragorn tidak mampu menahan rasa gelinya dan Halbarad hanya menggelengkan kepala. Sungguh anak yang sangat unik, mereka berdua belum pernah bertemu ras manapun yang memiliki kebiasaan tidur seburuk ini, bahkan kurcaci mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan manusia temuan mereka. “Harus kah kita membangunkannya?”
“Mungkin bisa dicoba.”
Halbarad berlutut di samping, mengulurkan tangan untuk mengguncang pelan bahu yang lebih ramping. Tidak ada respon, jadi dia terpaksa menepuk-nepuk lembut pipi putih itu dan mendapatkan erangan pelan sebagai balasan. Kedua Ranger itu saling menatap, lalu Aragorn ikut mencoba mengguncang tubuh di bawahnya. Sepertinya mereka berhasil, anak itu sekarang tidak lagi bertahan pada posisi seperti korban bencana alam. Dia mulai menguap dan mengusap kelopak matanya. Tidak butuh lama sampai zamrud paling cerah muncul di hadapan keduanya, menarik seluruh perhatian pada pusat permata terindah yang pernah ada di Middle Earth.
Mereka bertiga saling berpandangan dalam diam, atau lebih tepatnya, anak itu menatap kedua pria dewasa di atasnya dengan penuh tanda tanya. Dahinya yang halus berkerut, jelas sedang memproses segala kejadian yang tengah menimpanya sekarang. Aragorn mungkin akan menertawakan itu andai saja mereka berada di situasi yang berbeda. Barulah setelah menit kelima, ia melompat dan sekali lagi menabrak batang pohon yang luar biasa keras dari arah belakang, membuatnya meringis kecil sambil meringkuk ke samping.
Dengan reflek seorang Ranger, Halbarad meletakkan lengannya sebelum anak itu bisa membuat lebih banyak benturan ke tanah. Mereka bisa melihat kedua kuping bundar itu mengeluarkan rona merah yang sangat kontras pada kulit putihnya, membuat Aragorn sekali lagi tersenyum geli. “Kau baik-baik saja?”
Tidak dijawab, namun Halbarad bantu mendudukkan tubuh rampingnya sehingga kini mereka bisa saling memandang dengan lebih nyaman. “Dari mana asalmu, Nak?”
Anak itu, mungkin juga remaja atau pemuda, mereka tidak benar-benar tahu, berkedip bingung pada keduanya. Dia terlihat seperti anak anjing yang sedang tersesat, atau seekor tikus yang baru saja dihadapkan dengan anjing liar. Butuh beberapa saat bagi mereka hingga akhirnya dia mau mengeluarkan suara. Namun bahasa yang dia beri sama sekali di luar prediksi para Ranger.
“A-aku tidak mengerti apa yang kalian katakan.”
Aragon dan Halbarad sekali lagi saling bertatapan. Seolah memberi sinyal satu sama lain, kini dua pasang mata berbeda warna kembali fokus pada zamrud yang tampak putus asa. Mereka tidak mengerti satupun kata yang orang ini keluarkan, itu bukan Westron apalagi Sindarin. Sebagai seseorang yang telah menjelajah dan mengawasi keseimbangan Middle Earth, tak sekalipun dari para Ranger itu yang pernah mendengar bahasa barusan. Sangat asing, seperti mereka tidak berasal dari dunia yang sama.
Akhirnya Aragorn mendesah. “Jika seperti ini, akan sia-sia saja membawanya ke Rivendell.”
“Kau benar. Lalu kita apakan dia?”
“Pilihan terbaik hanya membawanya ke desa terdekat. Dia bisa tinggal di sana sekaligus mempelajari Westron.”
“Lalu bagaimana dengan gelombang itu?”
“Kita bisa mencari tahunya nanti. Percuma saja jika menginterogasinya sekarang di saat kita tidak saling memahami.”
Halbarad mengangguk. Beralih pada pemuda di hadapannya, ia berdiri sambil mengulurkan sebelah tangan, yang diterima setelah beberapa detik mencerna situasi barusan. Sebelum menuntunnya untuk naik ke atas kuda, ia mencoba memperkenalkan diri terlebih dahulu. “Halbarad,” ujarnya dengan menaruh telapak tangan di depan dada. Aragorn yang melihat itu akhirnya melakukan hal yang sama.
Setidaknya orang ini cerdas, dia bisa langsung menangkap bahasa tubuh mereka dan langsung menirukannya dengan menyebut namanya sendiri. “Harry.”
Nama yang aneh, pikir kedua Ranger. Mereka baru mendengar sesuatu seperti itu selama puluhan tahun hidup berkelana. Tapi ini bukan saat yang tepat untuk memikirkannya. Mereka harus segera bergerak sebelum bahaya datang mendekati sumber ledakan. Sambil menuntunnya ke arah kuda, Aragorn memberi isyarakat agar pemuda itu mau ikut dengan mereka, lagi pula dia tidak punya pilihan lain. Meski masih tampak kebingungan, namun ia menurut ketika Aragorn mencoba menaikkannya ke atas kuda.
Rupanya, pemuda itu jelas belum pernah berkuda selama ini. Hal tersebut dapat dilihat oleh siapa saja, dengan bagaimana kikuk dan tegangnya tubuh itu di atas hewan besar yang terus berpacu. Halbarad menyeringai geli dari samping, sementara Aragorn tersenyum sambil terus mengeratkan pegangannya pada tubuh yang lebih kecil. Harry harus selalu ditahan dari belakang, punggungnya ditempelkan pada dada Aragorn agar anak itu tidak jatuh ke depan. Telinganya semakin memerah dari waktu ke waktu.
Mereka terus bepergian selama beberapa hari, dan selama itu pula kedua Ranger tersebut tak henti-hentinya mencoba mengajarkan Harry pada bahasa Westron. Dimulai dari nama-nama benda, tumbuhan, hewan, hingga akhirnya Harry mampu mengucapkan beberapa kalimat pendek sederhana. Itu cukup mengejutkan, Halbarad tidak menyangka dia dapat belajar dengan cepat dan memiliki ingatan yang kuat, sehingga mengajarinya selalu menjadi hal yang menyenangkan.
Suatu hari ketika Aragorn pergi berburu, meninggalkan Halbarad dan Harry berdua untuk menyiapkan perkemahan. Ketika kembali, ia disambut dengan senyum lebar Harry yang memamerkan kosa kata barunya. Dengan wajah berseri-seri ia berkata,
“Aragorn, kau adalah monyet hutan!”
Sang Ranger terdiam, dan Halbarad tertawa terbahak-bahak dari arah belakang. Harry langsung mengernyitkan alisnya begitu melihat Halbarad berguling-guling seperti orang bodoh di depan api unggun, dia kebingungan sendiri. Ketika berbalik menghadap Aragorn, dahinya disentil dengan ibu jari dan jari telunjuk pria itu, tidak begitu sakit namun cukup untuk membuatnya tersentak. Masih dengan ekspresi bingung, kali ini menuntut penjelasan lebih jauh dan membuat Aragorn menghela napas pendek.
“Jangan katakan itu lagi, mengerti?”
Tidak, tentu saja dia tidak mengerti. Apakah dia lupa jika kosa kata Harry sangat terbatas? Tapi dilihat dari gestur jarinya yang menunjuk wajah Harry, sepertinya itu sebuah peringatan. Terlebih lagi sang Ranger langsung melemparkan kelinci buruannya ke wajah Halbarad, tidak lupa memelototinya yang masih tertawa tidak karuan.
Ah, jadi dia baru saja dikerjai?
Wah Sialan.
Sejak hari itu, Harry tidak lagi mendengarkan perkataan Halbarad. Hanya jika dia mendapati konfirmasi langsung dari Aragorn, ia baru akan mempercayainya. Pria itu sama sekali tidak tersinggung atau merasa bersalah, dia selalu menyeringai geli tiap kali Harry memberikannya pandangan meragukan.
Ada kejadian lucu lagi ketika kelompok mereka berhasil menemukan sungai. Harry nyaris melompat dari kuda karena dia benar-benar tidak tahan terus-terusan berada di alam liar tanpa mandi. Aragorn langsung menuntunnya ke sana, memberi kode agar dia bisa melepaskan pakaian dan berendam di dalam air. Tetapi itu tidak berjalan cukup baik karena Harry menggigil setengah mati setelah mencelupkan ujung jari kakinya ke sungai. Merlin, dia tidak tahu air sungai bisa sedingin itu! Rasanya seperti rencana bunuh diri di dalam bongkahan es. Halbarad sekali lagi menahan tawa melihat ekspresi Harry yang jelas sangat terkejut dengan suhunya.
Anak itu terus-terusan ragu, sampai Aragorn harus meyakinkannya bahwa air di sana tidak akan membunuhnya. Tetapi Harry tidak dapat fokus pada perkataan mereka karena— oh astaga, apakah mereka harus bertelanjang di alam bebas? Dia belum melepaskan celana dalamnya karena tidak yakin dengan ide tersebut. Tapi pemandangan Aragorn dan Halbarad yang berjalan santai di sungai tanpa sehelai benang pun, benar-benar membuat Harry takut untuk melihat ke depan. Dia berusaha bersikap normal, sebisa mungkin melirik ke mana saja asal bukan penis besar sialan yang masih bisa dilihat dari luar air. Tidak membantu dengan fakta bahwa penis tersebut cukup keras, mungkin efek suhu air.
Harry mulai berpikir, apakah normal untuk memiliki penis sebesar itu? Dia tahu bahwa manusia di zaman dulu memiliki tubuh yang jauh lebih besar dibanding manusia modern, namun tetap saja ketika kau melihatnya secara langsung itu akan menjadi pengalaman yang berbeda. Harry sendiri tingginya 175 cm, namun di hadapan kedua pria itu dia hanya mampu mencapai bawah dagu mereka, tidak lebih. Benar-benar memalukan. Penisnya kini tampak seperti lovebird di antara para elang, sial.
Sekali lagi, apakah semua tubuh pria di zaman ini begitu kekar? Dengan otot perut, otot dada, bisep, dan bahkan otot paha yang sangat kencang. Harry jarang melihat pria bertubuh kekar seperti itu, penyihir adalah ras yang sangat dimanjai oleh sihir, tidak banyak dari mereka yang benar-benar tertarik untuk membentuk tubuh. Namun kedua Ranger ini sama sekali tidak merencanakannya, tubuh mereka adalah hasil bertahan hidup selama puluhan tahun, dididik keras oleh alam dan sama sekali tidak memiliki fasilitas yang memanjakan.
Harry tidak pernah benar-benar melihat tubuh pria selain mantan kekasihnya, dan dia hanya pernah berpacaran satu kali demi Tuhan. Selama bersekolah di Hogwarts pun, mereka semua tetap menjaga privasi masing-masing karena setiap kamar memiliki setidaknya dua sampai tiga kamar mandi. Tidak seperti sekolah asrama Muggle yang sering kali terbiasa dengan budaya berbagi kamar mandi, tidak, mereka tidak pernah melakukannya kecuali keadaan terdesak.
Jadi sambil bergerak canggung, ia perlahan melepaskan sisa kain celananya dan berjalan mendekati mereka. Memeluk kedua sisi tubuhnya sendiri karena suhu air ini benar-benar luar biasa dingin, dia tidak mengerti bagaimana caranya kedua pria itu bertindak seolah mereka tengah berendam di jacuzzi . Ketika sudah cukup dekat dengan keduanya, ia bersandar pada batu besar sambil mengoleskan sabun batang kecil yang baru saja dilempar Aragorn. Mereka berdua berbincang santai sambil mencuci pakaian masing-masing, yang untungnya tidak perlu dilakukan Harry karena ia hanya memiliki satu setel pakaian. Lagi pula, selama ini dia diam-diam telah melemparkan mantra pembersih ke pakaiannya, yang membuat kedua Ranger terkadang menatap Harry bingung karena kain tersebut tidak pernah kotor.
“Harry, kemari,” Aragorn memanggil. Mungkin menyadari bagaimana rekan kecilnya kesusahan memegang sabun batang. Dia terbiasa menggunakan sabun cair selama hidup di dunia lama. Batangan putih itu sering kali terlepas dari telapaknya dan nyaris terbawa arus.
Dengan pandangan bertanya, Harry mendapati dirinya ditundukkan oleh pria yang lebih besar. Sabun diambil alih dari tangannya, dan dengan cekatan digosok-gosokkan pada kepala Harry setelah ia mencelupkannya ke dalam air sampai semua permukaan rambut itu basah. Meskipun tidak senyaman pijatan pekerja salon, namun Aragorn membuat gerakannya selembut mungkin agar Harry tidak merasa terjambak. Sabun itu tidak mengeluarkan banyak busa, bahkan nyaris tidak berbusa, tetapi jauh lebih baik daripada tidak menggunakannya sama sekali.
Halbarad juga membantu menggosok punggung belakangnya dengan kain bertekstur kasar yang mereka bawa dari tas. Sebagai gantinya Harry juga akan menggosok punggung Halbarad dan Aragorn. Mereka mengatakan sesuatu tentang tinggi badannya, mungkin kedua pria itu berpikir lebih mudah bagi Harry untuk menggosok mereka karena dia jelas lebih pendek. Wah, itu agak menyinggung, sayang sekali dia tidak memiliki cukup kosa kata untuk membalas perkataan mereka. Jadi satu-satunya hal yang bisa dia lakui adalah menyemprot Halbarad dengan air sungai, yang sialnya lagi, dibalas dengan gelombang air yang jauh lebih besar. Aragorn mengatakan sesuatu tentang kejenakaan mereka berdua, namun Harry tidak peduli dan terus menyerang Halbarad.
Diapit oleh dua pria bertubuh raksasa membuat perbandingan mereka terlihat sangat kontras. Para Ranger memiliki kulit kecoklatan dan banyak bekas luka, sementara Harry berkulit putih pucat tanpa noda. Ia menduga seluruh bekas lukanya telah disembuhkan oleh Lady Magic sebelum mendarat di dunia ini, kecuali tanda petir yang masih terpampang nyata di dahinya. Semua ini membuat dia sedikit malu jujur saja, dia tampak seperti korban penculikan dengan betapa rampingnya tubuh yang dia miliki dibandingkan Aragorn dan Halbarad. Hal tersebut semakin jelas ketika Halbarad terang-terangan mengejek Harry dengan gestur tubuhnya setelah melihat Harry nyaris terbawa arus sungai.
Selain suhu yang menyebalkan, ternyata arus sungai yang deras itu juga bisa sangat brengsek.
