Chapter Text
.
.
.
★☆☆☆☆
"Hei Neppy, apakah makanannya sdh siap?"
"Ya! Tunggu sebentar lagi!!"
Pria berambut biru itu membalikkan masakannya untuk yg terakhir kali sblm ia memindahkannya keatas piring. Mematikan kompor, dia bergegas menghiasi piring itu dgn berbagai macam hidangan kecil. Tomat, asparagus, dan saus tomat sebagai penambah rasa nikmat. Maka, makan malam pun sdh siap.
Tak butuh waktu lama untuk Neptune meletakkan piring itu diatas meja. Aroma omelette yg khas membuat siapapun tergoda ingin mencicipi nya. Wanita yg ternyata sdh duduk disana sedari tadi memasang wajah terpukau.
"Waw ini sangat hebat! Bagaimana kau bisa melakukan ini??" Pujian itu membuat Neptune menepuk kedua tangannya didepan dada dan tersenyum lebar, menunjukkan kegirangan.
Merasa sangat bangga pd dirinya sendiri, dia segera duduk di hadapan wanita itu. "Aku melihat resepnya di internet. Dan kukira kau akan menyukainya!"
"Kau bercanda? Aku benar2 menyukainya!!"
Mata Neptune bergemilang, kalimat itu memotivasi dirinya untuk memasak makanan yg enak lagi. Agar cewe itu lebih bangga pdnya, dia suka pujian.
Bersepakat menyantap omelette tersebut, suapan pertama pun dilakukan oleh gadis berambut pink. Dia mengeluarkan suara kenikmatan, "Mmm! Aku suka ini! Kau sangat berbakat!" Neptune bisa merasakan pipinya memerah, senyuman itu masih tertanam di bibirnya.
Neptune masih tak percaya dia mencapai di titik ini. Sudah berapa lama mereka menjalin hubungan? Ah tdk perlu dipikirkan, dia senang mendapatkan org yg tepat. Neptune gk keberatan klo gadis itu selalu ada di sisinya, dia malahan gembira bisa menemukan kenyamanan dlm pasangannya.
Sepanjang malam mereka habiskan berbincang, mengatakan apapun yg ada di pikiran mereka. Namun, entah knp di tengah2 obrolan Neptune salah fokus dgn apa yg ada di belakang gadis itu. Suara lawan bicaranya jdi remang, sampai Neptune berhenti menanggapi dan membiarkannya berbicara sendiri.
Neptune terus menatapi benda itu dgn perasaan yg mengganjal. Ada yg salah, tpi ia tak sepenuhnya tau apa itu. Yg ada dlm pikiran Neptune hanyalah satu pertanyaan, "Kenapa lampunya terlihat aneh?"
Neptune terbangun.
"Hei Nep, kau tdk apa2?"
"... Apa?"
"Wajahmu keliatan syok, ada masalah?"
... Tempat ini terlalu terang, drimana cahaya itu berasal? Dan, apa suara buzz yg keras itu? Telinganya berdengung, spt bangun dri sebuah koma yg panjang. Butuh waktu lama untuk Neptune kembali pulih dgn kesadaran sepenuhnya.
"Uhm mate, apa kau sakit? Kita bisa membatalkan rencana kita hari ini."
Rencana? Rencana apa? Neptune tdk merencanakan apapun dgn gadis itu. Apakah ini sebuah kejutan? "A-aku..." Neptune mencoba bersuara, tpi hanya ada beberapa huruf yg keluar.
Dia kebingungan. Ini bukan ruang makan. Sejak kapan dia dipindahkan ke kamar? Seprei biru bercorak bintang. oh, kamarnya. Yg duduk di tepi kasurnya bukanlah gadis berambut pink, namun biru muda. Kenapa org itu tiba2 menyentuh dahinya?
"Hm kau tdk panas.. Oh tunggu, aku lupa," pria itu terlihat menyodorkan Neptune sesuatu. "Kacamata mu." Secara insting, Neptune mengambil benda itu dan otomatis lngsg memakainya. Pendangannya jdi makin jelas, dia ingat tempat ini skrg.
Jendelanya terbuka lebar, itu yg menyebabkan cahaya masuk. Dan suara itu, ternyata kipas angin yg menyala di atas Neptune stlh ia mendongak. Beralih pandangan pd org itu lagi, Neptune mengenali sepupunya. "Uranus!" Dgn senang ia mendorong tubuhnya untuk memeluk kerabatnya itu.
Yg dipeluk hanya tersenyum canggung, "Oof, haha yeah. Aku Uranus, ada apa dgnmu, mate? Kau terlihat spt... hilang, tadi." Neptune akhirnya melepaskan pelukan itu, terdiam sejenak sblm menjawab. "Oh aku selalu pergi! Menghilang kesana, kemari, dan dimana-mana!" Matanya berkedip bagaikan katak, satu persatu.
Uranus yg terbiasa akan kelakuan aneh itu secepatnya mengalihkan topik. "Baiklah klo begitu, apakah kau mw gabung makan sarapan dgn kita? Saturn sdh menyiapkan makanan nya."
Senyuman Neptune memudar, "Siapa Sat-Urn?"
"Uhhh planet yg ada cincin nya." Jawaban Uranus lebih terdengar spt pertanyaan dibanding pernyataan.
"Tapi kita semua punya cincin!" Dan, ujung bibir planet biru itu naik lagi. Lebih lugu dri yg sblmnya, adalah yg Uranus batin kan.
"Hadeh, ikut ajalah."
"Okey :P"
